The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
172. Lawan yang Tangguh, SMA Mulya Kasih


__ADS_3

Tepat seusai pertandingan kami, kami menonton pertandingan babak penyisihan kedua antara pemenang babak penyisihan pertama kelompok 2 dan kelompok 14. Ya, siapapun di antara kedua tim itu pemenangnya, merekalah yang akan menjadi lawan kami di babak putaran selanjutnya.


Yah, walaupun kebanyakan orang sudah menyimpulkan duluan siapa pemenangnya perihal kesenjangan gap kemampuan di antara kedua tim. Semua penonton tampak mengunggulkan Tim SMA Mulya Kasih di atas Tim SMA Kejar Target.


Namun, itu bukan tanpa alasan.


Di babak kedua ini, tampak mereka mengistirahatkan Viandra dengan digantikan oleh seorang archer cadangan. Walau demikian, itu sama sekali tak mengurangi kesenjangan gap di antara kedua tim.


Kalau dipikir-pikir, strategi mereka benar-benar persis mengikuti kami, seorang shielder dan mage yang menjaga monolith, sementara seorang archer memberikan support serangan dan cleric yang memberikan tim mereka buff.


Apa yang berbeda adalah penyerang utamanya adalah seorang swordsman. Seakan itu mengejekku bahwa seperti inilah formasi tim yang seharusnya. Assassin rendahan sepertiku sama sekali tak layak untuk menjadi penyerang utama. Ya, tentu saja mereka sama sekali tak pernah mengatakan semua itu. Semuanya hanya berasal dari asumsi jahat di hatiku saja yang aku sadar betul itu mungkin salah.


Namun, ini bukanlah sesuatu yang pantas menjadi tontonan. Ini bukan pertandingan, melainkan pembantaian. Tergantung dari perbedaan gap kemampuan kedua tim, permainan bisa menjadi pertandingan yang seru atau hanyalah sekadar adegan pembantaian yang menyayat hati untuk ditonton.


Sang swordsman tampak maju seorang diri dengan santai. Dia sama sekali tak membiarkan tim penyerang musuh untuk maju menyerang monolith. Hanya dalam beberapa tebasan, dua anggota tim lawan tersebut tak lagi dapat berkutik lantas game over di arena.


Apa yang tersisa adalah tiga anggota tim bertahan. Itupun, mereka hanya bagai kertas rapuh di hadapan kekuatan mutlak sang swordsman. Hanya dalam sekali atau dua kali tebasan, mereka lantas kalah tanpa sama sekali bisa memberikan serangan balik. Termasuk sang shielder lawan, yang dengan rapuhnya perisainya itu dihancurkan hanya dengan tebasan pedang santai sang swordsman.


Kemudian dalam sekejap, hanya dalam tebasan ringan pula, monolith lawan itu dihancurkan.


Pertandingan lantas berakhir dengan skor 105 vs 0 hanya dalam waktu 5 menit 59 detik, kurang dari setengah dari waktu yang kami gunakan untuk menyelesaikan babak yang sama.


Semuanya diselesaikan sendirian oleh sang swordsman bahkan tanpa perlu sang archer di belakangnya untuk menyupportnya.


Tidak hanya Viandra, sang swordsman itu juga merupakan ancaman yang nyata bagi tim kami. Tidak, kemungkinan hampir sebagian besar anggota mereka adalah monster.


Ini benar-benar keadaan yang menyulitkan untuk tim kami.


Aku tentu saja suka dengan tantangan. Semakin kuat lawan, maka tentu semakin senang diriku. Tetapi ini bukan saatnya untuk itu. Kami harus menang di sini untuk mengembalikan kepercayaan diri tim kami yang sempat merosot perihal kasus mereka dengan Tim SMA Andalusia tahun lalu.


Tentu saja kau belum ada di tim saat itu, tetapi melihat bagaimana ekspresi sakit Senior Areka hanya dengan mengingatnya, aku kurang lebih bisa memahami gambaran umum situasinya.


Terutama Senior Areka. Aku tak bisa terus-terus membiarkannya terkungkung dalam kepahitan trauma masa lalu itu. Kami harus menang.


.


.

__ADS_1


.


Begitulah waktu berlalu, hingga waktu menunjukkan pukul 3 sore lewat 10 menit. Itu adalah jadwal pertandingan kami di babak penyisihan ketiga.


Setidaknya, situasi di tim tampak baik-baik saja untuk saat ini di mana rasa percaya diri mereka masih berada di taraf yang optimal. Mental mereka sama sekali tidak merosot setelah menyaksikan kehebatan SMA Mulya Kasih barusan. Malahan, terlihat api yang membara di mata mereka yang menunjukkan tekad kuat mereka.


Strategi yang kami gunakan di babak ini sedikit berubah. Untuk tim pertahanan, komposisinya tetap sama, hanya saja ada pergantian personil di mana Kak Yudishar mengisi kembali tempatnya yang sempat digantikan oleh Kak Sabrina.


Adapun kali ini, kami memutuskan untuk tidak menggunakan support jarak jauh, melainkan jarak dekat. Aku tetap sebagai penyerang utama di mana Kak Robby bertindak sebagai asisten penyerang di sampingku.


Jika seandainya mereka menggunakan archer, maka Kak Robby sudah cukup ahli dalam menghalau serangan panah. Sama halnya dengan tim bertahan. Gerakan kombinasi Senior Areka dan Kak Yudishar tidak perlu dipertanyakan lagi.


Untuk babak penyisihan ketiga ini, aturan permainannya sama persis dengan di babak penyisihan yang kedua sebelumnya.


Dan demikianlah pertandingan dimulai.


Sesuai dugaan, di babak ini mereka kembali menurunkan Viandra, sang fighter. Namun di luar dugaan, mereka sama sekali tidak menggunakan archer. Lagi-lagi, komposisi timnya mirip dengan kami, kecuali untuk penyerang utama yang merupakan seorang fighter.


Akan tetapi, rupanya dugaanku itu salah. Seakan hendak menghina kami, mereka hanya menurunkan Viandra sebagai penyerang di mana keempat tim sisanya stand by di belakang sebagai tim bertahan.


Dengan cekatan, Viandra melompatiku dan Kak Robby. Aku tidak butuh untuk menghalaunya karena aku yakin akan kemampuan anggota tim-ku di belakang. Yang harus aku lakukan bersama Kak Robby sekarang adalah meghancurkan tim bertahan lawan beserta monolith mereka.


Aku jadi mengingat masa-masa duluku di Gardenia. Jika kembali menelisik ke ingatan itu, aku kebanyakan menyelesaikan misi secara individu. Hanya sesekali saja aku menyelesaikan misi bersama tim dan walau dibilang itu tim, itu hanyalah party yang terdiri dari dua orang saja, aku dan Kak Keporin.


Seketika aku menyadari bahwa aku tidaklah begitu pandai tentang masalah tim. Di timku saat ini juga, aku pada hakikatnya tidaklah bekerja sama dengan mereka. Mereka-lah yang dengan bijak menyamakan pace mereka terhadap gerakanku yang egoistik. Mengapa aku baru menyadari semua itu? Terus terang, aku merasa malu dan bersalah kepada mereka.


Sang swordsman lawan dengan licik memancingku menjauh dari Kak Robby lantas hal itu dimanfaatkan oleh rekan mage dan shielder-nya untuk bekerjasama mengeliminasi Kak Robby dari arena.


Hanya dalam sekejap, aku kehilangan rekan tim berhargaku tepat di depan mataku sendiri.


‘Sial!’


Ketika aku berharap bahwa keadaan akan membaik, Viandra berhasil menembus pertahanan Senior Areka lantas turut mengeliminasi Kak Yudishar dan Kak Yurika di arena serta menghancurkan monolith kami.


‘Sial! Mengapa aku bisa begitu lengah?!’


Akan tetapi, di saat aku merasakan frustasi, sebuah suara pun datang menggapaiku,

__ADS_1


“Luca, jangan menyerah! Masih terlalu dini untuk menyerah! Masih ada waktu 20 menit lebih untuk membalikkan keadaan!”


Seketika aku tersadar oleh kebodohanku sendiri. Benar perkataan Senior Areka. Kami belum tereliminasi di sini. Jelas masih ada peluang untuk membalikkan keadaan seberapa pun tidak menguntungkannya posisi kami saat ini.


Kami hanya harus balik mengeliminasi lawan lebih banyak lagi serta turut menghancurkan monolith mereka.


Dengan semangat itu pun aku bangkit. Tidak peduli bagaimana mereka berempat mengeroyok aku, aku takkan pernah mau kalah.


Kulihat sang cleric lawan fokus memberikan buff-nya kepada sang swordsman, alih-alih menyebarkannya kepada setiap anggota tim. Hal itu lantas membuat sang swordsman leveling up kemampuan dengan sangat luar biasa drastis.


Sang swordsman yang menerima buff itu bertindak sebagai penyerang utama yang menyerang tubuhku. Dan setiap kali aku hendak membalas serangannya, sang shielder lawan menggangguku dengan menghalangi seranganku lewat perisainya.


Sang mage tidak kalah menyebalkannya. Dia terus-terusan saja menembaki-ku dengan bola-bola apinya di kala sang swordsman berada pada masa cooldown serangan-nya atau ada kesempatan empuk untuk melakukannya.


Dikeroyok dengan empat lawan seperti ini benar-benar menyebalkan.


Tetapi, tentu saja kalian lupa bahwa aku seorang assassin.


Aku hanya sengaja bertindak bodoh seperti tadi dengan menerima serangan secara kikuk untuk mencuci otak mereka akan keberadaan Senior Areka yang masih sementara menghadapi Viandra.


Jika musuh merasa berada di atas awan seperti itu, biasanya mereka takkan lagi fokus pada sekelilingnya dan hanya akan fokus membuli lawan yang telah sekarat.


Setelah musuh tampak memiliki vibe yang kuinginkan seperti itu, aku pun mulai mengaktifkan skill stealth dan langkah bayanganku dan seketika menghilang dari hadapan mereka.


Sesuai dugaanku, alih-alih membagi formasi untuk membantu Viandra mengalahkan Senior Areka, mereka tetap masih fokus akan keberadaanku yang menghilang di tengah-tengah mereka.


Entah itu karena mereka terlalu percaya kepada Viandra, atau seperti yang kusebutkan barusan tadi, yang jelas, keempat anggota tim Viandra itu telah kehilangan fokus mereka atas pertarungan sisa antara Viandra yang sementara melawan Senior Areka.


Bisa gawat kalau mereka akan berpikir untuk duluan mengalahkan Senior Areka baru menyelesaikanku secara bersama-sama, maka itu akan menggagalkan strategiku yang telah aku rancang ini.


\=\=\=


Skor Sementara Babak Penyisihan Ketiga


SMA Mulya Kasih: 103


SMA Pelita Harapan: 0

__ADS_1


\=\=\=


__ADS_2