
Siang itu usai kelas, Luca segera menuju ke ruang klub-nya berharap bahwa pada akhirnya hari ini akan ada peserta yang akan menantangnya latih tanding.
Namun di tengah jalan ketika melintasi ruang guru,
“Luca!”
Seorang guru memanggilnya.
“Ah, Kak Sasmi.”
Itu guru sastra Luca, Bu Sasmi.
Sorakan Luca dengan tampang polosnya disertai dengan senyumnya yang lebar lantas mendatangkan berbagai prasangka dari para guru lainnya yang juga kebetulan ada di ruang guru tersebut perihal sang ibu guru yang baru saja menginjak usia 39 tahun itu dipanggil dengan sebutan kakak oleh seorang siswa polos berusia 15 tahun.
Kacamata Bu Sasmi seketika menjadi pecah akan kelakuan konslet Luca yang tidak tahu tempat itu. Akan tetapi, sang guru telah terbiasa oleh tingkah absurd dari murid yang terlalu polos itu. Sang guru pun tak mempermasalahkanya atau bisa dibilang lebih tepat sang guru telah menyerah untuk mempermasalahkannya perihal dia juga tahu bahwa tiada niat buruk Luca sama sekali dalam melakukannya.
Semuanya murni karena kepolosannya (kebodohannya) yang teramat sangat itu jika membicarakan soal kemampuan interaksi sosial yang normal.
Namun sedari awal ini adalah kesalahan Bu Sasmi sendiri yang pertama kali menggoda dengan tipuan sang murid lugu yang tidak tahu apa-apa itu sewaktu di kelas sehingga dirinya akhirnya terjebak dalam panggilan kakak olehnya sampai sekarang.
“Ehem. Luca, kalau di ruang guru, tidak boleh memanggilku dengan sebutan Kakak, tetapi harus dengan sebutan hormat, Bu Guru Sasmi.”
“Siap, Bu Guru Sasmi.” Jawab Luca sekali lagi dengan polos.
Namun itu telah terlambat untuk memperbaiki image dari sang guru,
“Eh, jadi kalau di luar boleh memanggilnya dengan sebutan Kakak?”
“Apa yang perawan tua itu lakukan pada murid sepolos dia di belakang?”
“Sssst, sebaiknya kamu jangan terlalu terlibat. Pura-pura tidak tahu saja.”
Bisik-bisik tetangga yang masih bisa terdengar dengan jelas itu pun terdengar di mana-mana.
Namun Bu Sasmi melupakan semua itu.
Bu Sasmi bahagia.
Lantaran senyum polos Luca telah kembali seperti biasanya.
“Kamu mau ke mana? Latihan klub ya?”
“Iya, Bu.”
“Anak muda memang penuh semangat. Bagus. Lanjutkan sana!”
__ADS_1
“Siap, Bu.”
Luca pun pergi meninggalkan ruang guru diiringi oleh lambaian tangan oleh Bu Sasmi.
“Syukurlah, kejadian kemarin tidak menimbulkan luka mental yang parah di benak Luca. Lagian bisa-bisanya ada orang yang tega menyakiti anak yang sepolos itu! Huff!”
Bu Sasmi pun merengut sembari kembali mengambil dan membaca berita di surat kabar yang ada di mejanya.
“Apakah ini yang mungkin disebut karma ya? Sang ayah dipecat karena ketahuan korupsi lalu satu keluarga menghilang entah ke mana karena dikejar-kejar oleh rentenir. Walau dia anak yang jahat, tetapi kuharap di mana pun dia berada, Toriq juga tetap baik-baik saja. Lepas dari itu, haruskah aku bersyukur karena dengan ini keamanan Luca tidak akan lagi terancam oleh keluarga pendendam itu?”
Bu Sasmi mendesahkan nafasnya dengan prihatin.
***
“Ah, halo, Ellen.”
Di pintu masuk, Luca tanpa sengaja berpapasan dengan Ellen. Dia pun menyapa wanita berkacamata itu.
“Ah, hai, Luca.” Balas Ellen disertai dengan senyuman yang ramah.
Namun ada yang aneh dengan wanita itu. Tangannya gemetaran.
Dan ketika Luca telah berbalik, matanya justru menatap punggung Luca dengan pandangan terdistorsi seakan terlihat marah.
***
Senior Areka melambung dengan cepat ke posisi ketiga, begitu pula dengan Egi yang baru saja masuk 9 besar setelah berhasil mengalahkan para senior dengan kemenangan sembilan kali beruntun.
Sayangnya untuk Kak Raia, masih tertahan di peringkat ke-15 dan untuk Kak Nina di peringkat ke-19. Chika dan Diana juga telah berjuang dengan baik. Diana telah mengalahkan rangking Kak Nina di posisi ke-18, sementara Chika masih terjebak di posisi ke-22.
Tetapi satu yang tetap menjengkelkan hari ini, lagi-lagi tidak ada yang menantangku untuk latih tanding. Setelah kupikir sebelumnya, Senior Areka yang terlihat begitu semangat dengan kemenangan sembilan kali beruntunnya akhirnya akan menantangku, dia hanya menantang Kak Yudishar di posisi kedua saja dengan mengabaikan aku.
Ah, andai saja posisi atas juga bisa menantang posisi bawah, pasti sudah banyak kesenangan pertarungan yang akan aku rasakan.
Karena lagi-lagi tidak ada kerjaan di klub, aku pun menuju ke kediaman Kak Silvia setelah sebelumnya aku pulang ke rumah yang berjarak cukup dekat dengan sekolah untuk ganti baju. Di sana, aku lagi-lagi masih menjalankan rutinitas bermeditasi yang kata Kak Silvia agar aku bisa menyatukan tiap butir mana merasuk ke dalam darahku.
Pukul 6 sore, aku pun bergegas pulang ke rumah, lalu dua jam kemudian, tibalah saat-saat yang kunantikan, petualangan bersama party alchemist Kak Krimson dan Chika.
Di alun-alun desa pemula itu, rupanya Kak Krimson dan Chika telah tiba duluan sehingga begitu aku sampai di sana, kami segera berangkat menjalankan quest yang diterima oleh Kak Krimson.
Oh iya, untuk pelatihan Diana, masih di bawah naungan Tante Deborah, begitu pula Kak Nina dan Kak Raia, masih latih tanding dengan tambahan partner Lia dan Kak Andra, jadi aku rasa aman-aman saja di sisi mereka. Aku juga masih sementara menempatkan Aura di Ibukota Kekaisaran Lalania untuk mengawasi pergerakan para zombie.
“Jadi, detail quest-nya seperti apa, Kak?” Aku memulai pembicaraanku dengan Kak Krimson.
Tanpa sengaja aku melirik ke arah Chika. Entah mengapa mukanya merah matang begitu. Tapi tidak mungkin juga Kak Krimson melakukan sesuatu padanya. Atau apa dia sakit? Tapi apakah tubuh avatar juga bisa demam? Aku tidak bisa tidak bertanya-tanya apa yang terjadi padanya dalam hati, namun karena tampaknya bukan hal yang parah, jadi kuputuskan untuk kuabaikan saja.
__ADS_1
“Oh, questnya sederhana. Hanya mengantarkan ramuan alkimia yang telah dibuat oleh profesor ke Kerajaan Doremi.”
“Ramuan seperti apa, Kak?” Tanyaku balik dengan bertambah penasaran.
“Bukan ramuan yang istimewa, hanya ramuan pembunuh kutu yang efektif, juga pencegah infeksi kulit karena bulu, dan sejenisnya. Hahahahahaha. Tahu sendiri kan kalau Kerajaan Doremi itu diperintah oleh beastman.”
“Oh, begitu rupanya.”
Namun pertanyaan untuk Kak Krimson tidak selesai sampai di situ saja. Kini giliran Chika yang bertanya,
“Lantas, apakah kita ke sana untuk misi pengawalan, Kak?”
Chika bertanya tampak berusaha baik-baik saja, tetapi tetap saja mukanya memerah. Setelah kuperhatikan, apakah penyebabnya benar-benar Kak Krimson? Tapi kenapa? Kak Krimson sama sekali tidak berbuat sesuatu padanya kan?
“Tidak. Sama sekali tidak. Petualang level tinggi dan beberapa NPC kuat telah disewa sendiri untuk pengawalan. Tugas kita hanya untuk memastikan ramuannya tetap berada pada kondisi tertentu sehingga tidak rusak selama di perjalanan.”
Melupakan ekspresi Chika, jawaban dari Kak Krimson itu seketika meruntuhkan semangatku.
“Kalau begitu, aku tidak berguna dong, Kak Krimson, soalnya aku assassin.” Aku pun segera menambahkan dengan ekspresi kecewa begitu aku tersadar rupanya yang dibutuhkan oleh Kak Krimson adalah keahlian pemain alchemist saja sehingga mutlak pemain assassin sepertiku tidak dibutuhkan.
“Hahahahaha.” Namun terhadap pernyataan yang aku utarakan dengan sungguh-sungguh itu, Kak Krimson malah tertawa terbahak-bahak.
“Apa yang kamu katakan, Luca. Justru keberadaanmu yang paling penting di sini, sejak sebagai assassin, instingmu merasakan bahaya sedikit lebih tajam dariku sehingga kita lebih bisa melindungi obatnya dari berbagai niat-niat jahat terselubung.”
“Syukurlah kalau begitu, Kak.” Aku pun menjawab sembari tersenyum.
Tetapi dalam hati aku mengumpat apa yang dikatakan orang ini. Sejak jelas pada quest terakhir kami berdua, aku menyaksikan sendiri bahwa insting Kak Krimson justru jauh lebih tajam dariku terlepas dari kelasnya yang alchemist.
Tidak lama berjalan dari portal Negeri Akademi Pedang dan Sihir Nostalgia, kami pun tiba di pusat keramaian. Benar-benar seluruh tempat dipenuhi oleh para NPC yang berbaur sedikit dengan para player VIP.
Dan terlebih daripada itu, tempat ini benar-benar menakjubkan. Segala jenis barang dagangan yang menjual berbagai barang mulai dari makanan, minuman, sampai pada senjata dan ramuan tertata rapi di sepanjang jalan pasar. Benar-benar pemandangan yang indah. Ditambah senyuman penuh kebahagiaan dari para warganya yang menandakan tempat ini sangat aman dari serangan para monster, menambah kesejukan tempat ini.
Andai saja sewaktu tinggal di sini, aku tinggal di Nostalgia saja alih-alih di Gardenia. Yah, tentu saja rumahku yang sekarang adalah yang terbaik. Tiada yang bisa mengalahkan damainya dunia nyata.
Kak Krimson pun mengajak kami ke dalam bangunan akademi yang terletak di pinggir kota.
Kak Krimson lantas menjelaskan bahwa kekuasaan pemerintahan Negeri Nostalgia dipegang langsung oleh akademi, bagian utara untuk Akademi Pedang Nostalgia dan bagian utara untuk Akademi Sihir Nostalgia. Alchemist sendiri adalah salah satu cabang ilmu dari akademi sihir sehingga tempat yang akan kami tuju sekarang adalah bangunan akademi yang terletak di selatan negeri.
Begitu aku sampai di sana, Kak Krimson segera membawa aku dan Chika ke suatu ruangan yang terletak paling di atas. Di dalam ruangan itu, seorang kakek tua berambut putih dengan rambut bagian atas yang terlihat cukup tipis telah berada di sana terlebih dahulu lantas menyambut kami.
“Oh, Nak Krimson. Kamu sudah tiba rupanya.”
“Ah, apa kabar, Profesor Bruntall. Senang bertemu Anda kembali. Oh perkenalkan, ini Luca dan Chika, yang akan membantuku menjaga ramuan selama dalam proses transportasi.”
“Hohohohohoho. Mohon bantuannya…”
__ADS_1
“Bukan apa-apa, Profesor…”
Rupanya kakek tua di hadapan kami inilah sang profesor pembuat ramuan perawatan kulit dan bulu buat para beastman, klien dari quest yang diterima oleh Kak Krimson.