The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
49. Luca Akhirnya Siap Mengikuti Ujian Pembukaan Kunci Level yang Kedua


__ADS_3

Bertepatan di saat Luca login, Kirana yang saat itu tetap sibuk mencari bakat baru di desa pemula tanpa sengaja melihat kontak di papan game-nya.


“Ah, Luca login?”


Kirana pun segera menghubungi Heisel Trakatov sesuai janjinya sebelumnya.


Begitu Heisel memperoleh info ini, dia tidak dapat menahan lagi gejolak perasaan di hatinya karena saking rindunya dan khawatirnya dia terhadap keponakannya yang telah lama tak dia ketahui keberadaannya itu.


Dengan pontang-panting, Heisel segera berlari ke desa pemula.


Sejak Heisel menemukan informasi keberadaan Luca di desa pemula, dia tidak pernah lagi meninggalkan desa pemula itu dan memilih untuk bermalam di cabang guild assassin yang berada di sana.


Akhirnya, dia pun dapat bertemu kembali dengan keponakannya itu untuk pertama kalinya sejak Luca menghilang akibat ditelan oleh langit.


Melihat sang paman, perasaan Luca juga turut bercampur-baur. Tanpa Luca sadari, dia telah berlari menghampiri pamannya itu. Air mata tumpah di antara mereka berdua dan mereka pun berpelukan dengan diiringi oleh air mata.


“Paman. Hiks hiks.”


“Luca, ke mana saja kamu selama ini? Hiks hiks. Betapa Paman mengkhawatirkanmu. Hiks hiks.”


“Mengapa justru Paman yang menangis lebih histeris dariku? Hiks hiks. Padahal aku yang tersesat selama 5 hari ini. Hiks hiks. Seharusnya akulah yang menangis karena ketakutan akibat tersesat selama ini di tempat yang asing bagiku. Hiks hiks.”


Ekspresi sang paman pun berubah. Sedihnya kini bercampur dengan ekspresi keheranan.


“Lima hari apanya, Luca?! Kamu telah hilang selama 30 hari!”


Luca pun kaget mendengar pernyataan Heisel itu. Setahu Luca, dia tiba di bumi pada hari jumat malam menurut waktu bumi dan kini telah masuk hari rabu berdasarkan waktu bumi tersebut. Mau bagaimana pun Luca menghitung, itu tetaplah 5 hari.


Luca kebingungan, tetapi Heisel tampak tak lagi memperhatikan hal itu karena kini dia senang telah menemukan kembali keponakannya yang hilang itu.


“Yah, apapun itu, syukurlah kamu sudah kembali dan baik-baik saja, Luca.” Ujar Heisel sembari kembali memeluk erat Luca.


“Iya, Paman…”


Namun berselang sekian menit, Heisel belum juga melepaskan pelukannya itu.


“Anu, Paman. Bisa melepaskanku sekarang? Janggut Paman geli.” Ujar Luca dengan tampang yang berubah kesal.


Heisel dan Luca pun berjalan menuju guild assassin cabang desa pemula sembari Heisel bernostalgia apa-apa saja yang terjadi dengan guild selama kepergiannya, termasuk bagaimana bahwa Keporin saat ini masih belum pulang juga dari misinya sehingga mungkin belum menyadari bahwa Luca sempat hilang.

__ADS_1


“Sungguh yang diharapkan dari Kak Keporin. Dia selalu saja mengambil misi jangka panjang karena hobinya yang suka mengembara. Hahahahaha.” Ujar Luca sembari mengeluarkan tawa khasnya yang polos.


“Ngomong-ngomong, Luca, ke mana saja kamu selama ini? Dan itu, apa kamu benar-benar menjadi salah satu wanderer?” Heisel pun masuk ke inti pertanyaan-nya.


“Itu, sebenarnya Paman, aku zzzzzzzzzzzzzzzzzt.” Tiba-tiba suara Luca terdengar seperti robot rusak.


“Hmm?” Mendengar itu, Heisel menjadi keheranan.


“Apa jangan-jangan tenggorokanmu sakit, Luca?”


“Tidak kok Paman apa karena zzzzzt nya yang bermasalah?”


“Apa kamu bilang?”


“Eh, ini aneh. Kok suaraku jadi seperti ini pada saat mau menceritakannya. Jadi sebenarnya, Paman, sewaktu aku menghilang, aku zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzt.” Namun lagi-lagi suara Luca menjadi seperti robot rusak.


Di saat itulah, sistem tiba-tiba mengeluarkan peringatannya.


Peringatan! Peringatan! Pemain mencoba memberikan informasi yang dibatasi kepada NPC. Pemain disarankan untuk mematuhi peraturan game atau penalti sistem akan diberlakukan.


Di saat membaca pemberitahuan sistem itu, sudut mulut Luca pun berputar menahan kesal dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Jadi informasi seperti ini tidak masalah bagi sistem untuk kuberikan ya? Tampaknya peringatan hanya akan muncul jika aku hendak membahas soal dunia dalam game saja. Yah, itu wajar saja sih. Jika dipikir-pikir, semua orang yang tinggal di dunia ini pasti akan shok jika mengetahui kebenarannya bahwa dunia yang mereka tinggali selama ini hanyalah dunia permainan saja.


Luca bergumam dalam hati.


“Apa itu berarti kamu sekarang juga abadi seperti mereka?” Pertanyaan selanjutnya dari Heisel itu lantas membuyarkan Luca dari lamunannya.


“Ya? Oh, kurang lebih seperti itu, Paman.”


“Apa-apaan jawaban yang tidak jelas itu.”


Heisel mencibir lantas Luca terdiam sejenak sebelum kembali menanggapi ucapan pamannya itu.


“Daripada abadi, ini lebih seperti aku mengzzzzzzzzzzt.” Lagi-lagi omongan Luca mengusut tepat di kala dia akan mengatakan soal tubuh pengganti virtual. Luca dengan cepat menyadari bahwa hal itu pun adalah informasi yang terlarang bagi para NPC.


“Kamu sakit, Luca? Maafkan Paman banyak menanyaimu padahal kondisimu kurang sehat.” Melihat Luca berkali-kali berucap dengan kusut, Heisel mengerutkan keningnya dengan rasa bersalah. “Kalau begitu, mari kita istirahat di guild dulu saja.” Heisel pun lantas lebih berhati-hati dalam membimbing Luca yang berjalan itu.


.

__ADS_1


.


.


Suasana lama dalam keheningan. Suara langkah kaki keduanya pun bahkan tak terdengar di telinga orang normal. Sungguh sesuatu bagi kelas job assassin itu.


“Hehehehehehehe.” Namun kemudian, suara tawa Luca tiba-tiba sekali lagi memecah kesunyian.


“Ada apa, Luca?” Melihat hal itu, Heisel yang penasaran mau tidak mau bertanya.


“Aku hanya bersyukur ternyata benar bahwa Paman Heisel yang ada di sini adalah Paman Heisel yang kukenal. Aku sempat mengira ini hanyalah dunia lain yang mirip saja ketika Paman Heisel tidak menerima request mentorku.”


Mendengar itu, Heisel mengerutkan keningnya.


“Oh, soal itu, ada sedikit miskomunikasi saja di guild. Tampaknya aku tidak mengontrol dengan baik guild belakangan ini.”


Sembari mengatakan itu, hanya satu hal yang tertanam kuat di pikiran Heisel saat itu, “Awas saja kau Shubanz! Ketika aku pulang, aku akan segera membuat perhitungan denganmu atas sikapmu yang melampaui batas.” Heisel mengutuk sikap Shubanz yang telah mengganti informasi request mentor Luca secara sepihak.


“Oh iya, bagaimana kalau mulai sekarang, aku yang menjadi mentor-mu, Luca.”


Terhadap pertanyaan terakhir pamannya, Heisel, itu, wajah Luca tampak kusut.


“Maaf, Paman. Sekarang aku sudah level 10.”


“Hmm?” NPC tidak mengenal konsep level. Sejatinya, jika ada pesan-pesan NPC di dalam layar game yang membicarakan soal level, game, dan sebagainya, itu adalah karena sistem yang menerjemahkannya kepada pemain seperti itu untuk mempermudah pemahaman pemain.


Maka Luca menjelaskan kembali dengan kata-kata yang lebih mudah dipahami untuk seorang NPC, “Aku telah menerima cukup anugerah alam sehingga kini aku sudah akan memasuki tahap ujian pendewasaan.”


Ujian pendewasaan. Ujian yang mesti diikuti oleh setiap apprentice agar dianggap dewasa oleh seluruh anggota guild, terutama para NPC. Atau dalam istilah player adalah pembukaan kunci level yang kedua karakter pemain di mana pemain baru bisa melewati level di atas 10 ketika selesai melewati ujian itu.


“Ck. Kamu berusaha keras sendirian mengumpulkan anugerah alam di saat mentormu hanya mabuk-mabukan saja kerjanya di guild.” Heisel yang kesal, lantas mengutuk sikap Blanche, sang mentor tidak berguna tersebut.


“Jangan terlalu salahkan dia, Paman. Aku yang sengaja tidak menghubunginya karena menurutku percuma jika itu bukan Paman atau Kak Keporin yang jadi mentorku.”


“Ah, kalau kamu sudah berkata begitu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.”


“Hehehehehe. Yang jelas sekarang, ayo segera masuk guild saja, Paman. Aku ingin segera tahu ujian pendewasaan seperti apa yang akan aku terima.” Ujar Luca sembari menatap pintu cabang guild assassin yang terletak di desa pemula itu.


Tanpa Heisel sadari, rupanya mereka berdua telah sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


__ADS_2