The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
64. Akhir dari Ujian Assasinasi


__ADS_3

“Luca! Luca! Luca!” Heisel menggoncang-goncangkan tubuh Luca sehingga kesadarannya pun kembali.


Secara samar, Luca dapat menyaksikan wajah dari kedua sosok yang sangat mengkhawatirkannya itu.


“Makanya sudah kubilang, kamu harus melatih tubuhmu agar kebal racun. Tetapi kamu selalu beralasan ramuan pelatihannya tidak enak inilah, tidak enak itulah. Lihat dirimu sekarang! Pokoknya, pas kembali ke guild, Paman akan melatih daya tahanmu terhadap racun lagi…”


Heisel yang tengah mengoceh terdengar seperti lullaby di telinga Luca, tetapi dia lega, itu berarti pertarungan mereka telah usai yang berakhir dengan kemenangan…


“Trang, trang, trang.”


Atau setidaknya itu yang dipikirkan Luca sebab pertarungan pasangan Dimitri-Areka serta Keporin-Raia masih tengah berlanjut.


“Ukh, Paman!” Luca merintih di kala kesadarannya sudah mulai pulih.


“Ini minum dulu ramuannya supaya kamu bisa pulih.” Ujar Heisel sembari menyodorkan ramuan berwarna hijau yang berbau sangat menyengat itu.


“Ekh! Baunya tidak enak, Paman.” Tetapi Luca segera menutup hidungnya sembari berusaha menjauhkan ramuan itu dari jangkauannya.


“Serahkan padaku.” Lia pun maju lantas mengalirkan kekuatan sucinya kepada Luca untuk memulihkannya. Tetapi tampaknya luka akibat racun yang diakibatkan oleh monster berlevel 999 itu jauh dari jangkauan penyembuhan Lia. Luca mampu bertahan sejauh ini tanpa gameover, terima kasih berkat stat luck-nya yang sangat tinggi.


Namun di situlah, suatu sosok makhluk yang tak diharap kemunculannya, tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


“Serahkan penyembuhan Master padaku.” Ujar makhluk itu.


Sontak pandangan Heisel, Lia, dan juga Andra menunjukkan ekspresi kekagetan yang luar biasa.


“Ap.. ap.. apa yang dilakukan makhluk divine di sini?! Bu… bu… bukankah keberadaan mereka telah lama punah?!” Ujar Heisel tergagap begitu mendapati keberadaan sosok makhluk yang legendaris itu.


Dialah gold dragon, pet Luca yang masih dalam wujud level 1-nya, tetapi dengan bentuk sayap serta tanduknya yang khas, semua orang akan segera mengenali bahwa itu adalah naga seperti yang ada di mitos.

__ADS_1


Meninggalkan ekspresi mereka bertiga yang terkejut, gold dragon mendekati Luca lantas mulai mengalirkan divine energinya. Luka Luca pun perlahan sembuh oleh divine energi milik sang gold dragon. Meski baru berlevel 1, sesuai harapan dari kekuatan penyembuhan sang dragon yang bertipe divine itu, Luca dapat kembali ke kondisinya yang semula, bahkan bisa dibilang lebih baik lagi.


“Trang, trang, trang.”


Suara gaduh pertarungan kembali membuat mereka berfokus pada anggota party yang masih sedang bertarung.


Areka menahan dengan perisainya tinjuan sang troll lantas Dimitri melompat dan bersalto lalu memotong tangan kanan sang troll yang melayangkan tinjuan itu. Tetapi lagi-lagi, tubuh sang troll yang terpotong segera beregenerasi dengan cepat.


“Tuan Dimitri, Nona Keporin, serang bagian orb di dalam tubuhnya!” Melihat kebuntuan jalur pertarungan itu, Andra segera memberikan clue bagaimana mengalahkan sang monster.


Dimitri dan Keporin pun mengonsentrasikan pikiran mereka untuk mencari di mana orb yang dimaksud di dalam tubuh masing-masing troll yang dihadapi oleh mereka. Sementara para DPS sibuk berkonsentrasi, masing-masing tanker pun menjalankan peran mereka untuk menjadi tameng anggota party-nya.


Atau setidaknya itu yang dipikirkan oleh Andra. Raia sama sekali tidak fokus lantas terus saja menyerang secara membabi-buta sang monster dengan perisainya, seolah perisainya itu adalah senjata dan bukannya tameng. Akibatnya, celah pertahanan Keporin pun terbuka lebar dan sang monster memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerangnya.


“Ck.” Andra mendecakkan lidahnya lantas mengeluarkan skill ‘neuron disturbing’ miliknya untuk mengganggu pergerakan monster sementara.


Setela jeda sesaat, Dimitri dan Keporin akhirnya menemukan orb yang dimaksud. Bagi troll berlevel 44 yang dihadapi oleh Dimitri, rupanya itu tersembunyi di balik mata kiri sang troll, adapun bagi troll berlevel 43 yang dihadapi oleh Keporin, tersembunyi di balik mata kanannya.


Dalam gerakan yang hampir bersamaan, Dimitri dan Keporin mengeluarkan skill tusukan mereka di area titik lemah sang monster lalu kedua monster troll itu pun berhasil terkalahkan.


“Ck.”


Terlihat Keporin mendecakkan lidahnya karena ketololan Raia dalam bersinkronisasi di dalam party-nya. Raia yang menyadari hal itu, lantas ciut hatinya dan bersedih. Keporin menatap Raia marah, namun dia tidak ingin tampak buruk di hadapan adik yang dia sangat sayangi itu yang telah menganggap Raia sebagai teman baiknya. Jadi dia pun menutupi amarahnya itu dengan senyuman kecut lantas membiarkan masalah itu berlalu begitu saja.


Namun berbeda dengan Areka. Areka turut menghampiri Raia dengan omelannya yang pedas bagaikan palu menghantam gelas yang sudah akan pecah. Hari itu pun menjadi hari di mana Raia merasa dirinya paling tidak berarti.


***


“Hoaaaam.” Luca menguap ketika bangun tidur.

__ADS_1


Dia teringat akan kejadian semalam di mana ketidak-kebalannya terhadap racun justru menjadi titik fatal kelemahannya dalam pertarungannya yang terakhir.


“Apa aku harus meningkatkan kekebalanku terhadap racun ya?” Gumam Luca mengawali harinya.


Luca jadi teringat akan masa lalunya ketika dia akan melakukan hal-hal yang berbahaya seperti mencicipi jamur atau daun beracun, ibunya akan segera memarahi dirinya. Namun kemudian, segera mendekapnya dengan hangat sambil menangis karena mengkhawatirkan jika sampai terjadi apa-apa pada dirinya itu. Baginya, tekadnya untuk tidak mendekati racun adalah sebagai pengingat mentalnya akan kasih sayang ibunya dulu.


.


.


.


Hari minggu, pukul 8 tepat. Luca tidak menyangka bahwa ujian kenaikan levelnya bisa berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkannya. Oleh karenanya, hari minggu itu pun Luca sama sekali tidak punya kegiatan.


Nina masih di rumah sakit dan baru akan pulang sebentar malam, sementara Judith masih seperti biasa menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya selama 7x24 jam seminggu. Adapun Rowin, dia saat ini masih ada di rumah, namun sebentar lagi akan pergi lagi untuk bermain golf bersama dengan kolega-kolega kerjanya.


Luca juga bukannya bisa pergi keluar sendiri mengingat dia belum terlalu mengenal dengan baik dunia barunya itu. Luca sebenarnya sangat ingin berkunjung ke minimarket saat ini untuk membeli cola favoritnya, tetapi dia ingat betul ucapan Nina yang melarangnya dengan tegas belanja sendirian di minimarket


Bukannya Luca juga bisa perihal dia tidak punya uang. Dia punya sangat banyak uang di rekeningnya saat ini, tetapi dia sama sekali tidak punya uang tunai untuk dibelanjakannya. Semua uang jajannya yang diberikan oleh Rowin padanya sebagai jatah jajannya selama seminggu itu telah habis gara-gara Egi merampok dompetnya untuk ikut patungan terakhir kali mereka jalan-jalan bersama.


“Aaaaaah! Badanku terasa pegal! Apa karena selama tiba di dunia ini aku jarang menggerakkan lagi tubuh asliku ya karena kebanyakan main game.”


Luca pun merenung sejenak, lalu kemudian, dia pun memantapkan keputusannya,


“Bagaimana kalau hari ini aku latihan loncat tebing saja ya. Kebetulan banyak atap-atap rumah lantai dua sekitar sini yang bagus dijadikan area latihan.”


Dengan demikian, Luca pun di jam 8 pagi itu, di tengah orang-orang ramai-ramainya jogging pagi, di kala semuanya adalah warga sipil biasa, melakukan latihan loncat-loncat antaratap rumah yang satu ke atap rumah yang lain atau antartiang listrik yang satu ke tiang listrik yang lain sembari melakukan gerakan-gerakan lincah ala assassinnya.


Pagi itu pula, media sosial pun digemparkan oleh penampakan seorang spiderman berambut pirang di sekitar perumahan di mana Nina tinggal. Satu masalah lagi diperbuat oleh Luca begitu Luca luput sejenak dari pengawasan Nina.

__ADS_1


__ADS_2