
“Dor dor dor dor.”
“Puak puak puak puak.”
Adu tinju dan pistol pun terjadi di antara Leo dan Rottie.
Tidak, itu salah. Peluru-peluru dan hantaman tinju itu tidak saling beradu. Leo dengan lincah memanfaatkan area pepohonan sekeliling untuk berlindung dari tinju maut sang wanita Viking sembari dirinya terus-menerus secara sedikit demi sedikit mendegradasi tubuh wanita Viking itu dengan peluru-pelurunya.
Kulit sang wanita Viking sangatlah keras sehingga peluru tidak dapat menembusnya. Tetapi bagaikan air hujan yang pada akhirnya dapat melapukkan batu, peluru-peluru Leo terus-terusan menyerang di area-area tertentu yang sama tanpa sang Viking wanita sadari sehingga bagian-bagian yang terus-terusan diserang itu akhirnya menunjukkan tanda terluka.
“Akh! Dasar serang-serangga sial!”
Pada akhirnya, sang wanita Viking pun mampu merasakan sakit dan dia pun mengerang.
“Puak puak puak puak.”
Serangan wanita Viking pun semakin intens. Tiap pepohonan yang menjadi sasaran tinjunya, langsung patah dan roboh begitu saja.
Namun Leo sama sekali tidak gentar dengan hal itu. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda di balik tatapan matanya kalau dia gentar terkena tinjuan maut itu.
Akan tetapi Leo masih mampu dengan sigap menghindari tiap serangan brutal itu. Itu karena dengan semakin tingginya tingkat intensitas kemarahan sang wanita Viking, gerakannya pun semakin monoton hingga semakin mudah terbaca.
Sampai pada titik tertentu, sang wanita Viking mulai tampak kehabisan stamina, Leo pun maju ke hadapannya.
Sang wanita Viking berusaha menggapainya dengan tinjuannya. Akan tetapi,
“Sial!” Sang wanita Viking tidak dapat menggapainya. Itu karena Leo dengan sigap mengambil arah titik buka di belakangnya lantas memutar leher secara sadis sang wanita Viking.
“Akh.” Sang wanita Viking pun menjerit kesakitan.
Tetapi itu bukanlah akhir dari serangan Leo. Dia tanpa belas kasihan menembak sang wanita Viking yang terjatuh ke tanah itu di bagian lunak pada tubuhnya.
Ya, sekeras apapun kulitnya, tetap ada bagian lunak pada tubuh seseorang. Itulah daerah kedua bola matanya.
“Dor dor.” Leo menembaki kedua bola mata sang wanita Viking itu.
“Akkkkkkkh!” Jeritan sadis pun terdengar menggema dari mulut sang wanita Viking.
Tetapi Leo sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia melanjutkan serangan hujaman peluru kepada targetnya tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Dor dor dor dor.” Lima puluh, tidak, mungkin lebih dari seratus peluru dihujamkannya kepada sang wanita Viking tanpa sang wanita Viking bisa membalas di tengah direnggutnya penglihatannya serta kemampuan operasional tangan dan kakinya.
__ADS_1
Pada akhirnya, sang wanita Viking tidak kuasa lagi menahan terpaan yang ada lantas dia pun gameover dari pertandingan.
***
“Rottie!” Di sisi lain di bagian barat arena, Antonio berteriak penuh kesedihan dengan gugurnya Rottie.
Antonio marah karena semuanya tak berjalan sesuai dengan rencananya.
“Padahal mereka hanya tikus-tikus sial yang merangkak. Berani-beraninya mereka membunuh anak-anak buahku satu-persatu.” Ujar Antonio penuh amarah.
Dia kesal, terlebih dua pemain yang saat ini dihadapinya dengan lihai seperti tikus menghindari tiap kali serangan fatal akan diluncurkan kepada mereka sembari mereka terus-terusan mengganggu ketenangannya dengan rudal dan hujaman peluru yang mereka tembakkan.
“Hiyaaaaaaat!” Antonio pun memutuskan untuk serius menghadapi para tikus itu.
Jurus yang sebenarnya belum mau dia tunjukkan sampai pertarungan akhir karena begitu memakan banyak tenaga dalam sekali penggunaannya, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Kini sisa dia saja yang tersisa di timnya. Dia harus segera mengakhiri pertarungan tidak berguna dengan para tikus itu.
Dowald menyadari ada yang aneh soal perubahan tiba-tiba aliran energi dari Antonio. Oleh karena itu dia waspada. Dia menghentikan pace serangannya sembari mempercayakan rekan setimnya untuk melanjutkan gencaran peluru-pelurunya kepada Antonio sementara dirinya sendiri mempersiapkan rudal yang hanya bisa ditembakkannya dua per tiga puluh detik itu untuk sesuatu yang di luar skenario.
Itu karena walau bazooka-nya lambat menyiapkan amunisi, serangannya jauh lebih kuat dan fatal sehingga satu serangan saja yang kena akan memberikan impak yang besar. Ini cukup untuk memfollow-up suatu gerakan tiba-tiba jikalau Antonio berbuat sesuatu yang di luar dugaan.
Namun Dowald sama sekali tidak menyangkanya. Antonio dalam kecepatan supersonik tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya sembari merebut dan menghancurkan kedua bazooka-nya itu dengan tangan kosongnya.
Rekan Dowald yang melihat peningkatan kemampuan Antonio yang tiba-tiba itu pun jadi panik, tetapi dia hanya dapat menembak secara membabi-buta peluru-pelurunya tanpa ada lagi support rudal dari Dowald. Lalu dalam sekejap, Antonio pun sudah berada di hadapannya, melayangkan tinjunya dan membabat habis bagian atas tubuhnya hingga tak bisa dikenali lagi.
Rekan Dowald itu pun turut gugur dalam pertarungan di tangan Antonio.
“Ck, sial! Seharusnya sejak dari tadi saja aku tidak menghemat tenagaku seperti ini. Tidak kusangka aku harus menggunakan kekuatan kebangkitanku ini hanya untuk melawan para tikus itu. Ck. Mereka ternyata lebih hebat dari yang kuperkirakan.” Gumam Antonio dengan penyesalan.
“Senior, tampaknya dua rekan kita yang lain sudah gugur.” Ujar Treco kepada Donovan.
“Tinggal dua musuh lagi yang tersisa. Leo, ayo! Kita selesaikan pertempuran ini.” Ujar Donovan seraya berdiri dengan dipapah oleh Treco.
Leo pun berbalik ke arah mereka dan hendak mengonfirmasi ajakan itu dengan anggukan dalam diam. Akan tetapi, mata Leo seketika terbelalak.
“Tidak, Donovan!”
Tapi itu sudah terlambat. Di belakangnya, Krein yang tiba-tiba muncul di sana dengan skill warp-nya sudah melayangkan skill area tebasan matahari-nya.
Dengan kedua matanya sendiri, Leo menyaksikan Donovan dan Treco terbelah menjadi dua secara horisontal oleh skill sang swordsmen itu.
“Kau, kau b@-ji ng@n!” Leo menatap penuh amarah kepada orang yang bertanggung jawab atas gameover-nya kedua kerannya itu.
__ADS_1
Akan tetapi sosok yang ditatap oleh Leo itu justru tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahahahaha. Jangan marah seperti itu, Bro. Game-nya memang seperti itu. Sama sepertimu yang berjuang demi tim-mu, aku juga melakukan itu demi kemenangan timku.” Jawab Krein dengan tanpa penyesalan.
“Oh, begitu. Baiklah, itu masuk akal. Kalau begitu, sampai jumpa.” Ujar Leo kepada Krein yang walau ucapannya terlihat tanpa emosi, tatapannya penuh kebencian.
“Hmm. Good luck Bro! Kuharap timmu mendapatkan hasil yang terbaik juga.”
Krein pun berujar di kala tubuhnya tak mampu lagi digerakkannya begitu mana-nya benar-benar telah terkuras habis setelah menggunakan dua kali skill tebasan matahari bersamaan satu kali skill warp-nya. Dia pun pasrah pada pistol yang dimoncongkan ke kepalanya itu.
“Dor.” Dalam satu kali tembakan, Krein turut gameover dalam pertarungan.
Namun walaupun dia gameover, Krein tersenyum puas.
Hal itu karena dengan dua poin terakhir yang diperolehnya, sudah bisa dipastikan bahwa timnya akan melaju ke babak selanjutnya sebagai peraih poin terbanyak mengalahkan lawan, entah itu Leo dari Tim Max Squeeze atau Antonio dari Tim Bougha yang akan memenangkan pertempuran terakhir.
Sementara itu di dunia nyata, para penonton mulai bersorak riuh akan perkembangan yang tidak diduga-duga itu. Tim Shadow Park yang awalnya dikira tak ada harapan lagi untuk melaju ke babak selanjutnya setelah gugurnya dua pemain favorit mereka, Krimson dan Ferdi, justru keluar sebagai tim yang pertama kali dipastikan melaju ke babak selanjutnya berkat tindakan heroik nan pengecut yang dilakukan oleh Krein.
Jikalau Leo dari Tim Max Squeeze yang memenangkan pertempuran terakhir, poin korban Tim Bougha hanya ada 6 poin saja sehingga tidak cukup untuk mengalahkan rekor Tim Shadow Park yang sebanyak 7.
Dan walaupun Antonio dari Tim Bougha yang memenangkannya dan poin korbannya menjadi 7, tim Bougha otomatis menjadi pemenang sebagai tim yang bertahan paling akhir sehingga dikeluarkan dalam hitungan dan tetap Tim Shadow Park-lah yang terhitung sebagai tim dengan poin korban terbanyak di antara ketiga tim lainnya yang tidak bisa bertahan sampai akhir.
Justru pertarungan terakhir akan menjadi penentu tentang siapa di antara Tim Max Squeeze atau Tim Bougha yang akan menemani Tim Shadow Park melangkah ke babak selanjutnya.
\=\=\=
Hasil pertandingan sementara ruang virtual B sesi kedua
Shadow Park, jumlah korban \= 7, jumlah pemain tersisa \= 0
Bougha, jumlah korban \= 6, jumlah pemain tersisa \= 1
Max Squeeze, jumlah korban \= 4, jumlah pemain tersisa \= 1
Almbolescence, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 0
\=\=\=
__ADS_1