
“Luca?”
Krimson tampak begitu keheranan melihat Luca yang gameover langsung bisa tersummon kembali ke dalam game.
Luca sama sekali tidak memperoleh penalti game yang mengharuskan player menunggu hingga 24 jam setelah gameover agar bisa log in kembali ke dalam game. Tidak hanya itu saja, levelnya pun tetap apa adanya tanpa mengalami penurunan sebanyak satu tingkat akibat penalti game.
Krimson ingin mendekati Luca, tetapi entah mengapa seluruh bulu kuduknya bergidik. Krimson baru saja merasa terintimidasi oleh hawa membunuh anak yang polos itu.
Luca pun maju menerjang ke arah sang monster bernama Aeghter tersebut.
Sebagai monster bernama, kekuatan Aeghter jelas jauh lebih superior dibandingkan monster-monster tidak bernama yang selama ini pernah dihadapi oleh Luca. Walaupun Luca dapat merasakan dengan jelas bahwa monster bernama kali ini jelas lebih lemah dari monster sapi Dojoron yang sebelumnya pernah dihadapinya, dia tetaplah sangat jauh melampaui level Luca.
Oleh karena itu, peningkatan sebanyak dua kali kemampuan Luca tetap tidak dapat menutupi kesenjangan perbedaan kekuatan itu.
Sang monster Aeghter berhasil mendaratkan serangan cakarnya kepada Luca lalu Luca seketika kembali gameover di arena.
Namun, bahkan belum sempat Krimson menyelesaikan satu siklus nafasnya, Luca lagi-lagi tersummon ke arena tanpa mendapatkan penalti game. Dan begitu kembali, kemampuan Luca meningkat lagi dengan sangat pesat sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya, alias empat kali lipat dari kemampuan awal Luca.
Lagi dan lagi Luca gameover dan setiap gameover itu pula, Luca dengan cepat tersummon ke arena tanpa penalti game dengan peningkatan kemampuan setelah muncul yang jauh lebih signifikan yang mengikuti deret logaritmik.
Hingga pada suatu titik,
“Slash.”
“Wush.”
Begitu sang monster melayangkan serangan cakarnya dengan kecepatan yang sangat cepat bahkan sampai tak sanggup diikuti oleh mata player tingkat tinggi seperti Krimson, Luca kali ini menghindar dengan baik.
Dalam sekejap, pemuda lugu yang dipenuhi amarah itu mampu mengimbangi kecepatan sang monster.
Tidak, tidak hanya kecepatannya saja, tetapi juga kekuatannya.
Dalam waktu sepersekian nanosekon, Luca telah berada di area titik buta sang monster bernama Aeghter dan berhasil mendaratkan serangan belati elemental cahaya-nya.
“Slash slash slash slash slash slash slash slash slash slash.”
Luca berhasil menebas sang monster berkali-kali, tetapi sayangnya belati itu pun patah.
Mengambil kesempatan Luca yang melayang di udara tanpa senjata, Aeghter segera berbalik badan lantas melayangkan cakarnya yang tajam itu ke arah atas tepat di mana Luca berada.
Tetapi Luca tidak tinggal diam. Luca bersalto memanfaatkan punggung tangan musuhnya itu sebagai pijakan untuk segera meloncat demi menjaga jarak darinya.
Luca pun mensummon palu Astaroth yang baru-baru ini didapatkannya dalam sebuah quest.
Dengan palu itu, dia beradu kekuatan dengan cakar tajam Aeghter. Akan tetapi, sang palu pun sama saja, tetap ikut pecah bersama belati elemental kesayangannya.
Namun di kala itulah, kancing esensi kenyataan di dalam dada Luca bereaksi dengan menanamkan palu Astaroth ke dalam belati elemental cahaya Luca yang hanya tersisa gagang itu hingga berevolusilah menjadi senjata yang baru,
\=\=\=
__ADS_1
Nama: Pedang Suci Astaroth
Deskripsi: palu Astaroth yang selama ini terkontaminasi energi kegelapan, telah dimurnikan oelh kancing esensi kenyataan dan bersedia meleburkan jiwanya di jalan keadilan
Elemen: light
Rank: SSR
Durabilitas: 12000
Strength: 160
Efek: menetralisir death dan dark energy, 50 % kemungkinan mengangkat kutukan necromancy dan iblis, efek serangan meningkat secara drastis jika bertemu dengan musuh abadinya, makhluk ber-dark energy
\=\=\=
Itu adalah sejenis pedang one hand yang dapat digerakkan dengan mudah oleh seorang assassin seperti Luca. Pandangan Luca juga tampak sedikit terdistorsi karena keheranan terhadap perkembangan situasi itu. Tetapi dia segera mengabaikannya perihal musuh berbahaya sedang berada di hadapannya.
Luca pun segera kembali menjaga jarak dari musuhnya.
Luca lantas sekali lagi maju menyerang Aeghter. Dengan pedang suci Astaroth di tangan kanannya serta tali penjerat di tangan kirinya, Luca mengombinasikan keduanya dengan sangat baik untuk menyerang.
\=\=\=
Nama item: Tali penjerat spesifikasi khusus Luca
Efek: lawan yang terjerat akan memiliki penurunan dexterity sebesar 80 % secara sementara dan HP berkurang secara berkala tergantung vitality lawan
\=\=\=
Luca memanfaatkan dengan baik area pepohonan sekitar untuk memadukan senjata tali penjeratnya untuk mengurangi agility Aeghter yang brilian itu.
Tentu saja tali-tali itu tak mampu untuk mengekang sang monster bernama yang overpower tersebut, akan tetapi itu telah cukup dengan sangat baik untuk mengganggu pergerakannya.
“Slash slash slash.”
Luca berhasil melayangkan tebasan cepatnya kepada Aeghter berkali-kali berkat tali-tali penjeratnya menghambat laju gerak tangan monster yang bercakar tajam itu dengan baik.
Melihat sang monster terfokus perhatiannya pada Luca, Krimson di belakang pun mengambil kesempatan itu untuk melemparkan semacam jarum dengan tengahan yang terlihat cukup tebal. Jarum itu pun berhasil dilemparkannya hingga tertancap dengan baik di kulit sang monster.
Lalu sepersekian detik kemudian,
“Duar duar duar duar.”
Jarum-jarum itu meledak, tetapi anehnya, impak ledakan justru mengarah ke arah dalam tubuh sang monster sehingga tak turut melukai Luca yang ada di dekatnya. Tampaknya, itu adalah salah satu invasi baru dari sang player alchemist gila dari Indonesia itu sejak kekalahannya di ajang kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional.
Tidak mau kalah, Chika juga melayangkan ramuan pembekuannya yang merupakan inovasi terbarunya sejak diberikan dana oleh sekolah dengan berbahankan akar tumbuhan jarum es yang dia temui kemarin.
“Shak shak shak shak.”
__ADS_1
Ternyata ramuan dari player level menengah itu juga berhasil mengoyak kulit monster bernama itu dengan duri-duri es yang seketika terbentuk dari dalam lapisan epidermis sang monster. Prinspinya terlihat cukup mirip dengan sihir Silua kecuali Chika menerapkannya dengan ramuan dan bukan sihir langsung.
Chika tidak kalah kreatif dari Krimson dalam hal ramuan, kecuali kelemahannya dalam masalah finansial. Tentu saja masih banyak yang harus Chika pelajari dari player berjam terbang tinggi itu.
Berkat support dari duo alchemist rekannya, Luca lebih banyak peluang menyerang sang monster. Dengan penuh semangat, Luca menebas-nebas sang monster dengan pedang suci Astaroth-nya berkali-kali.
Dengan putus asa, sang monster berhasil mendaratkan kembali serangan cakarnya kepada Luca. Berkat level Luca yang rendah, walau dalam keadaan yang sekarat itu, cakar Aeghter tetap mampu mengungguli vitality-nya sehingga sekali lagi Luca gameover.
Namun, sekali lagi itu pula Luca segera tersummon ke arena dan kini, itu tampak telah sangat mengganggu sang monster.
“Uyisidalwa esiphezulu esidelelekile! Ngolunye usuku ukungafi kwakho kuyoshabalala!”
Sang monster terlihat berbicara yang tak mungkin dilakukan oleh monster-monster berlevel rendah.
Tetapi walau dengan kemampuan penerjemahan otomatis para player itu oleh kemampuan sistem, tidak hanya Luca, tetapi juga untuk Krimson dan Chika, mereka tetap tidak bisa memahami bahasa itu.
Hanya satu kemungkinan. Itu adalah bahasa kuno dari dunia lain yang tidak pernah ada sejarahnya di Gardenia.
Tanpa mempedulikan ucapan omong kosong sang monster, Luca menebas berkali-kali dan berkali-kali sang monster yang telah hampir kehilangan seluruh vitality-nya itu.
Tetapi sekali lagi karena perbedaan level yang terlampau besar, sang monster tampak masih hidup dan masih kuat melayangkan cakarnya kepada Luca yang membuat pemuda itu gameover, tetapi segera muncul kembali ke arena.
Mungkin karena merasa tak memiliki peluang untuk menang melawan makhluk yang bisa dikatakan abadi itu, sang monster pun bersusah payah mengepakkan sayapnya hingga bisa terlepas dari jeratan tali penjerat Luca berniat kabur.
Luca ingin menggapainya dengan tali penjeratnya, tetapi walau dengan luka-luka itu dan efek gelar Luca, sang monster masih memiliki vitality dan dexterity yang cukup tinggi untuk mampu menghindar.
Sang monster bernama itu pun segera pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Namun sebelum meninggalkan lokasi, sang monster kembali berucap dengan bahasa yang aneh itu,
“Linda impindiselo yami wena sidalwa esingcwele!”
Luca tidak tahu apa artinya, tetapi dari raut wajah sang monster, dengan cepat dia bisa menebak bahwa itu adalah suatu kalimat hinaan.
Luca pun menunjukkan raut wajah merasa bersalah yang tampak jelas di wajahnya karena dia telah membiarkan sang monster kabur dan gagal membalaskan dendam nyawa pejuang yang telah tewas di tangan monster tersebut.
Itu semua karena kekurangcakapan Luca perihal kemalasannya dalam berlatih, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh pemuda yang bersangkutan di dalam hatinya.
Namun terlepas dari segala kemelut di hati pemuda lugu itu, para mercenary NPC yang telah diselamatkan nyawanya oleh Luca itu, bersorak dengan penuh kemenangan, walau pada akhirnya sang monster berhasil melarikan diri.
Akan tetapi, ketika mereka kembali kepada kenyataan, sebanyak hampir sepertiga tentara mercenary gugur dalam pertempuran, mereka pun tak kuasa membendung air mata mereka, menangisi kepergian rekan seperjuangan mereka.
Tetapi mereka tentunya sama sekali tak menyalahkan Luca, seperti apa yang ada di pikiran Luca, perihal berkat Luca, setidaknya dua pertiga lebih dari mereka masih dapat diselamatkan nyawanya walau hampir dari mereka semua luka-luka.
Krimson segera menyadari ada yang salah dari ekspresi Luca. Dia pun mendekati junior kenalannya lewat game online itu. Akan tetapi belum sempat Krimson mendekat padanya, Luca tiba-tiba meledak dalam artian yang sebenarnya.
Walaupun itu hanyalah terjadi di dalam game, tetapi cara log out Luca yang tidak biasa itu mau tidak mau membuat baik Krimson maupun Chika menjadi sangat khawatir.
Mereka berdua pun segera turut log out dari dalam game demi sekadar memastikan bahwa keadaan Luca baik-baik saja. Akan tetapi, pemuda itu mendadak sama sekali tidak bisa dihubungi di dunia nyata. Hal itu pun lantas membuat hati mereka berdua semakin bertambah cemas tak terkendali.
__ADS_1