
[POV Malik]
“Tidak! Tidak, ini bohong! Leon tidak mungkin meninggal! Dia pasti masih hidup! Leon!”
Aku tiba-tiba terbangun dari tidurku. Ketika aku merasakan sekujur tubuhku, aku telah dipenuhi oleh keringat. Sudah sejak lama aku tidak memimpikan kenangan buruk ini lagi.
Kenangan di mana alih-alih prestasi membanggakan yang dibawanya pulang setelah memasuki Akademi Pahlawan, justru mayat Leon-lah dalam kondisi yang sangat tragis yang kembali.
Betapa aku sangat sedih dengan kematiannya. Bagiku, Leon sudah seperti keluargaku sendiri semenjak kami berdua sama-sama meninggalkan panti untuk mencari nafkah di jalan e-sport vrmmorpg sejak Klub White Star menemukan bakat kami.
Perlahan, seiring berjalannya waktu, aku mulai mampu mengikhlaskan kepergian sahabatku itu. Tetapi entah mengapa belakangan ini, mimpi buruk itu kembali datang.
Apakah ini sebagai pertanda bahwa Leon di alam sana marah padaku karena perlahan telah melupakannya?
Tidak, itu tidak mungkin. Jika itu Leon, kuyakin justru dia akan dengan tersenyum sembari bercanda, “Ah, Man. Menjijikkan bagiku jika ada seorang pria yang memikirkanku sampai segitunya.” Lalu mungkin dia akan melanjutkan ngalor-ngidulnya semisal berkata, “Kenapa kau mengkhawatirkanku? Hidup bahagia sendiri saja sana.”
Begitulah Leon. Dia adalah pemuda yang slenge’an, tetapi di luar itu dia benar-benar adalah pemuda yang berhati baik. Dia adalah sahabatku yang berharga.
“Hiks… Hiks…”
Tanpa sadar, air mata membasahi pipiku. Aku rindu pada sahabatku itu.
Andai hari itu aku dapat mencegah kepergiannya ke Akademi Pahlawan, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi dan sahabatku itu pasti masih akan tetap hidup sampai sekarang.
Tujuh tahun yang lalu di saat kami masih berusia 15 tahun, aku dan Leon sama-sama memasuki Klub White Star. Dengan bakatku sebagai swordsman es dan bakatnya sebagai swordsman api, kami tak terkalahkan. Kami mampu memenangkan kompetisi nasional dengan mudah lantas membawa tim kami sampai ke tingkat internasional.
Yah, walaupun di tingkat internasional itu, tim kami hanya dapat bertahan sampai 16 besar, tetapi menurutku itu sudah merupakan prestasi yang cukup membanggakan. Terlebih, baik aku maupun Leon dapat terpilih menjadi 32 pemain yang dapat mengikuti kompetisi individu di antara ratusan pemain yang ada pada saat itu.
__ADS_1
Awal kejadian buruk menimpa kami ketika tawaran itu datang kepada kami berdua.
Itu adalah suatu tawaran untuk memasuki suatu akademi yang disebut sebagai Akademi Pahlawan.
Aku dan Leon awalnya menertawai tawaran absurd itu terutama ketika mereka menceritakan bahwa tugas lulusan Akademi Pahlawan adalah untuk berurusan dengan para monster yang menyerbu dari celah dimensi.
Tentu saja aku akan tertawa mendengarnya. Mana mungkin sesuatu yang seabsurd monster seperti halnya di dalam game atau manga benar-benar ada di dunia nyata ini. Walau ada semacam desas-desus yang pernah berkembang di masyarakat bahwa sekitar tahun 2053 – 2059, dunia pernah diserang oleh monster, yah itu pastinya hanyalah mitos sesat sejak tak ada yang mampu mengklarifikasi kebenarannya.
Tetapi seketika itu, ingatanku seakan terpelintir. Memori yang selama ini tidak dapat aku ingat terbuka kembali. Itu adalah memori di mana aku dan Leon pernah diserang oleh monster yang berasal dari celah dimensi seperti yang baru saja diceritakan oleh orang-orang yang mencurigakan barusan.
Aku pun segera mencengkeram kerah baju orang-orang yang mencurigakan itu dengan marah karena berpikir bahwa semua memori aneh di pikiranku saat ini adalah buah hasil perbuatan mereka.
Namun, jawaban mereka begitu tak terduga,
“Itu adalah mula-mula memang ingatan kalian. Tetapi demi alasan untuk tidak membuat warga umum panik, kami menghapus ingatan semua saksi mata yang pernah melihat monster, termasuk ingatan kalian berdua. Apa yang kami lakukan saat ini, hanyalah memulihkan kembali ingatan kalian yang sempat terhapus itu.”
Seketika semua badanku menggigil ketakutan.
Aku yang tak ingin lagi mengenang memori yang penuh traumatis itu, tentu saja menolak tawaran untuk masuk ke akademi itu. Bagaimana bisa mereka dengan santainya melatih dan menyuruh anak-anak muda yang masih polos seperti kami untuk melenyapkan monster-monster yang seberbahaya seperti itu?! Aku pun mengumpat dalam hati.
Tetapi berbeda dari keputusanku, Leon menerima tawaran mereka.
“Leon, hentikan! Monster-monster itu berbahaya! Bagaimana orang-orang seperti kita sanggup untuk menghadapi hal-hal yang semengerikan itu.”
“Bukankah itulah sebabnya diadakan akademi, Malik? Agar kita dapat melatih diri kita untuk menjadi lebih kuat agar mampu berhadapan melawan monster-monster yang mengancam kedamaian dunia tersebut.”
Aku tak bisa membantah perkataan Leon tersebut. Apa yang dikatakannya benar. Justru, akulah yang terlalu pengecut yang malah merangkak ke balik selimut begitu mengetahui kenyataan kelam di balik kebenaran dunia itu. Aku terlalu takut untuk bergerak maju untuk melawan.
__ADS_1
Jadilah, aku melepaskan kepergian Leon kala itu.
Kini, betapa aku menyesali keputusanku saat itu. Seandainya saja aku melarangnya pergi dengan lebih keras, mungkin saja Leon benar-benar akan membatalkan niatnya pergi ke akademi itu. Jika demikian, dia tentunya tidak akan pernah terlibat dalam kecelakaan monster di sana yang pada akhirnya merenggut nyawanya.
Tidak, itu salah. Pada dasarnya, akulah yang salah karena terlalu pengecut. Jika saja aku sedikit saja lebih memberanikan diriku dan turut menerima tawaran menjadi siswa di akademi itu, mungkin aku bisa membantu Leon di sana dan melindunginya dari marabahaya serangan monster sehingga dia tidak akan harus menjadi salah satu korban yang meninggal secara tragis seperti itu.
Aku yang baru setelah kehilangan sahabatku itu, menyesali semua keputusan pengecut yang aku buat di masa lalu. Namun, itu semua sudah terlambat. Leon tidak ada lagi di dunia ini.
Aku pun mulai melatih kemampuanku di dalam game setelah mengetahui adanya efek sinkronisasi yang mampu membawa kekuatanmu yang berada di dalam game itu ke dunia nyata.
Setelah latihan dengan mengerahkan segenap keringat dan darahku, aku akhirnya berhasil mencapai ke titik saat ini di mana aku mampu dengan baik menerapkan kemampuan bertarungku di dalam game ke dunia nyata.
Aku pun mulai melakukan penelusuran terkait informasi keberadaan monster-monster yang berasal dari celah dimensi itu. Tetapi bagaimana pun aku mencarinya, aku sama sekali tak dapat memperoleh petunjuk apapun sampai sekarang.
Tampaknya organisasi pemerintah yang bekerja di bidang itu benar-benar telah menutupi setiap kejadian yang melibatkan monster yang ada dengan sangat baik dan menanganinya bahkan sebelum warga sekitar di tempat kejadian itu menyadari bahwa telah ada monster di lingkungan mereka.
‘Jika demikian, mengapa kalian tidak datang lebih awal sebelum aku dan Leon sempat mengenali keberadaan monster-monster itu?!’
Betapa aku mengumpat marah di saat aku mengingat kembali peristiwa itu. Aku tentunya tidak menyalahkan mereka karena berkat merekalah aku dan Leon bisa selamat waktu itu dari cengkeraman monster.
Hanya saja, jika seandainya mereka dapat datang lebih awal dan mencegah kami melihat keberadaan sang monster, mungkin Leon tidak akan terpengaruh kejadian itu yang menjadi awal mula baginya berjalan ke arah jalan kematiannya yang tragis tersebut.
Aku tahu bahwa percuma menyalahkan hal-hal yang telah terlanjur terjadi. Namun, rasa sakit di hatiku perihal monster-monster itu telah merenggut Leon dari sisiku takkan pernah kumaafkan. Aku pasti akan bertambah kuat dan menemukan jalan untuk membasmi tiap ekor dari mereka.
Oh iya, berbicara soal kejadian pertama kali aku dan Leon bertemu monster-monster itu, kalau tidak salah itu bertepatan pada malam hari di mana pertandingan debut kami berdua diselenggarakan.
Leon mengajakku berkeliling ke suatu pasar tradisional yang di dalamnya ada warnet jadul yang cukup menarik perhatian. Pas pulang dari warnet itulah, kami terlibat dalam masalah retakan dimensi dan monster-monster.
__ADS_1
Kalau tidak salah juga saat itu, ada seorang anak gadis berusia sekitar 10 tahun yang mengikuti kami secara diam-diam setelah menyaksikan penampilan debut kami di pertandingan e-sport vrmmorpg profesional yang akhirnya juga ikut terlibat dalam kekacauan monster di sana. Dan gadis itu adalah Nina. Kalau dipikir-pikir, mungkin di situlah awal di mana aku dan Nina menjadi dekat.
Setelah aku memikirkannya, syukurlah, Nina tidak mesti ikut mengingat kejadian traumatis itu dan kini telah menjadi streamer yang populer. Aku berharap bahwa Nina takkan pernah lagi mengingat kejadian itu dan bisa terus hidup bahagia selamanya tanpa turut mengetahui akan kebenaran itu.