The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
162. Asario dan Rasa Malunya


__ADS_3

[POV Asario]


Di ronde ketiga, aku berniat mengagetkan bocah itu dengan skill andalanku ‘tebasan lintas dimensi’ demi menyusutkan nyalinya agar lebih mudah bagiku untuk membulinya di ronde-ronde selanjutnya.


Yah, walaupun pastinya dia telah menonton aku menggunakan skill-ku ini di babak final pertandingan e-sport vrmmorpg profesional Indonesia serta di juga babak tingkat dunia, tetapi pasti rasanya akan beda dari hanya sekadar menontonnya saja dengan merasakannya langsung di arena.


Demikianlah aku memutuskan untuk menggunakan skill-ku itu. Ketika aba-aba pertandingan ronde ketiga dimulai, kulihat bocah itu berlari dengan percaya diri ke hadapanku tanpa sadar aku telah mengaktifkan skill tebasan lintas dimensi-ku yang siap menyergapnya dari arah belakang.


Tetapi apa ini? Aku sejenak bisa merasakan pandangan bocah itu terdistorsi seakan bisa merasakan skill epic-ku itu tepat sebelum akan mengenainya.


Namun, bocah itu pada akhirnya terkena telak seranganku tersebut dan gameover di arena.


Jadi apakah tadi hanya halusinasi belaka bahwa aku melihat bocah itu walau sekilas bisa melihat ke dalam serangan ultimate terhebatku yang memiliki kecepatan serang hanya sekian milisekon itu?


Sayangnya, ternyata itu bukanlah hanya sekadar halusinasiku belaka. Bocah itu rupanya memang benar-benar bisa melihatnya.


Ketika kami keluar kembali dari game, bocah sialan itu tidak henti-hentinya menanyakan dengan antusias, “Wah, Senior sangat luar biasa! Bagaimana Senior bisa menggunakan skill seperti itu dengan sangat cepat? Terlebih, Senior bisa menggerakkannya membelah dimensi secara melengkung. Ajari aku ya, Senior. Aku mohon.”


Demikianlah ujar bocah sialan itu dengan pandangan polos layaknya hewan peliharaan imut.


‘Hmm. Kau bertanya seakan bocah rendahan sepertimu itu bisa menggunakan ultimate skill luar biasa seperti itu!’ Umpatku dalam hati.


Tampaknya, bocah itu masih menganggap bahwa aku belum tahu triknya. Itu semua dia ucapkan dengan maksud membuatku lengah dan hanya mempermainkanku saja. Padahal dalam hati, dia begitu menghujat diriku yang takkan pernah dilampauinya itu.


Baiklah, kalau kau sampai segitunya hendak meminta saran dari Senior hebat ini, aku akan dengan murah hati memberikannya. Tetapi kuyakin bocah rendahan seerti kau mana mungkin memahaminya perihal takkan ada peluang bagimu untuk akan pernah bisa menggunakan skill yang sama berapa pun lamanya kamu berlatih.


“Kunci pada tebasan cepat, ada pada gerak pedangnya yang juga harus cepat. Keluwesan sendi pergelangan tanganmu adalah kuncinya.”


“Hmm. Kalau Senior bilang seperti itu… berat pedang dan dagger pada awalnya adalah tidak sama. Pedang yang berat, titik beratnya jauh lebih ke atas, sementara dagger memiliki titik berat yang lebih dekat ke gagangnya. Jadi, kalau harus disinkronkan dengan gerak rotasi cepat pergelangan tangan… hmm…. Mungkin gerakan ideal adalah seperti ini.”


Kulihat si bocah sialan itu bergumam sesuatu sembari menggerak-gerakkan tangannya seakan sedang memegang sesuatu yang abstrak. Ya sudahlah, kegilaannya bukanlah urusanku.


Tetapi dia tiba-tiba lagi bertanya kepadaku, “Tapi Senior, untuk menggerakkan sendi pergelangan tangan yang cepat, tepatnya bagaimana? Berapa sudut ideal pergerakannya? Berapa perbandingan kecepatan semunya dan kecepatan geraknya terhadap arah rotasi dengan melihatnya dari posisi gerakan menekuk lengan?”


Bocah sialan itu pertanyaannya begitu merepotkan. Karena aku tak bisa memberikan jawaban yang akurat dengan angka-angka fisika, aku pun malah turut mempraktikan seakan memegang pedang abstrak di tanganku, menunjukkan bagaimana caraku biasanya menebas dengan pedangku.


“Mungkin seperti ini.” Kulihat betapa bocah itu sangat serius dengan aktingnya sampai-sampai terlihat memperhatikanku dengan begitu antusias.


“Lantas, Senior, bagaimana bisa membuat serangan tebasan lintas dimensi Senior itu melengkung? Harusnya kan itu hanya bisa dibuat jalur lurus saja?”

__ADS_1


Namun mengapa aku merasakan bahwa bocah sialan itu benar-benar memahami jurusku? Seperti yang dikatakannya, sewaktu masih noob, kita hanya dapat mengaplikasikan jurus itu secara lurus perihal lebih mudah membelah dimensi dalam suatu garis lurus.


Tetapi begitu kita memahami konsepnya dengan lebih mendalam melalui pelatihan tiada henti, kita dengan sendirinya dapat memahami bahwa dalam suatu garis lurus, dengan sendirinya dapat menyesuaikan pola bengkok melalui distorsi statis dari turut campur tangannya aura dari pedang.


Aku pun menjelaskan konsep itu kepada bocah sok tahu itu. Yah, walaupun aku yakin seratus persen bahwa bocah itu tak akan mampu sama sekali memahaminya bagaimana pun dia terlihat mengangguk-angguk dengan antusias.


Dan demikianlah, ronde keempat pun dimulai setelah percakapan yang jauh lebih panjang dari yang dilakukan bocah sialan itu pasca ronde pertama sebelumnya. Tidak salah lagi, itu semua untuk menguras energi mentalku untuk membuatku lengah di pertandingan.


Tetapi takkan kubiarkan strategimu itu berhasil, Bocah Sialan. Mana mungkin pemain profesional hebat sepertiku ini jatuh dalam trik murahan seperti itu.


Tetapi apa ini? Bocah sialan itu benar-benar mampu menggunakan skill lintas dimensi juga? Apa itu karena penjelasanku barusan? Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Itu adalah skill yang sangat sulit untuk dipelajari bahkan untuk player tingkat tinggi sekalipun.


Dan tidak mungkin skill hebat seperti itu bisa diperoleh dari hadiah quest untuk pemain level veteran tingkat menengah. [Catatan: Itu salah Asario, Luca bahkan sudah memperoleh skill itu lewat quest-nya pada saat masih level newbie].


Bu Riska Angela saja sampai dengan susah payah mencari investasi agar seorang player pro yang secara beruntung memperoleh quest itu setelah mengalahkan naga hitam dimensi mengajarkanku skill itu. Dan bahkan aku yang waktu itu memang sudah berstatus player tingkat tinggi baru bisa menerapkannya dengan sempurna setelah berlatih selama empat bulan.


Namun, bagaimana bocah ini bisa menerapkan skill itu secara instan? Bahkan dengan kecepatan yang hampir mendekatiku? Yah, walaupun serangannya terlihat masih sangat kikuk sehingga itu masih dapat dengan mudah dihindari selama kita tahu arah datangnya serangan yang akan selalu datang dari arah belakang.


Hah?


Dari arah samping?!


Ini?


“Hahahaha. Persis seperti apa yang Senior ajarkan. Memang agak sulit, tetapi jurus ini benar-benar efektif. Terima kasih, Senior, atas ilmunya.”


Terima kasih my ***, Bocah Sialan! Skill yang kuasah selama 4 bulan itu, bisa kau kuasai dalam sekejap?! Tidak, ini tidak mungkin!


Karena termakan oleh kepanikan, lagi-lagi aku pun lengah dan akhirnya kalah dari bocah sialan itu.


Di ronde kelima, enam, tujuh, sampai di ronde kesepuluh, bocah itu semakin menunjukkan perkembangan yang siginifikan seakan telah memahami betul gerakanku sehingga aku pun semakin sulit menjangkaunya.


Tidak, sial! Dia bahkan semakin cepat dan dengan gerakan yang lebih bervariasi sehingga aku bahkan tak mampu lagi mengikuti pergerakannya dan dipaksa untk melakukan posisi defensif.


Aku Asario yang hebat ini dalam game sampai dipojokkan seperti ini?! Tidak, mau ditaruh di mana harga diriku!


Namun, bahkan dalam posisi defensifku itu, bocah sialan itu dengan mudah menembus pertahananku dan mengalahkanku dengan tidak henti-hentinya menyerangku menggunakan skill tebasan lintas dimensi itu yang semakin cepat dan bahkan tidak mampu lagi aku prediksi arah datangnya serangannya.


Aku benar-benar dipermalukan olehnya. Aku malu mengakuinya, tetapi bocah sialan itu memang berbakat. Tiada trik sama sekali yang digunakannya.

__ADS_1


Tapi aku masih sangsi apa dia benar-benar berkembang melalui pengamatan terhadap diriku selama pertarungan kami? Tapi untuk mengatakan semua ini adalah bagian dari rencananya untuk menipuku dengan menutupi keahlian aslinya yang sedikit demi sedikit dia buka untuk mempermalukanku, perubahannya terlalu halus.


Hanya ada satu penjelasan, ini sedari awal bukanlah akting, tetapi memang bakat dari bocah itu yang bisa berkembang dengan cepat melalui pertarungan.


Jika demikian, bocah sialan itu benar-benar seorang monster.


Aku memang pernah mendengarnya. Dulu ada player yang juga seperti itu yang mampu masuk ke ranah zone dengan mudah, meningkatkan kemampuan konsentrasi kelima inderanya untuk mempelajari pemain yang lebih tinggi kemampuannya yang sedang dihadapinya.


Kemudian dalam waktu singkat mengcopy cat skill lawannya itu dan menjadikannya miliknya sendiri yang bahkan lebih hebat lantas mengalahkan lawannya tersebut dari skill hasil copian jurusnya sendiri. Sungguh benar-benar kemampuan yang mengerikan!


Jangan bilang bocah itu juga memiliki skill yang sama? Itukah sebabnya dia bisa mengalahkan Ecila sang penjinak naga kembar? Dan aku begitu bodoh tertipu untuk melawannya dalam pertandingan tidak resmi sehingga dia mampu mengcopy cat skill-skillku secara gratis!


Tidak, aku tidak akan menerima ini semua. Aku akan berlatih lebih keras lagi dan membangun skill yang bahkan bocah sialan itu takkan dapat tiru. Dan kali itu, aku sendiri yang akan menantangnya untuk latih tanding dan membuat bocah sialan itu babak belur.


“Senior, bagaimana kalau Senior kali ini menggunakan skill pedang Senior? Aku dengar dari Lia bahwa pedang Senior itu bisa mengubah energi kegelapan menjadi cahaya. Terus terang aku sangat tertarik untuk melihatnya.”


Seketika aku pun melirik ke arah Lia, “Kau?! Bagaimana bisa kau mengungkapkan informasi yang sangat rahasia seperti itu kepada orang lain, Lia?! Aku bahkan belum pernah menggunakannya di pertandingan resmi mana pun?!”


“Eh, tapi itu kan sudah menjadi rahasia umum. Lihat saja bagaimana komentator pertandingan luar negeri baru-baru ini membicarakannya sewaktu pertandingan Senior di sana. Dan juga, asal Senior tahu saja, Luca juga punya senjata yang keahliannya sangat mirip dengan senjata Senior itu.”


“Apa?” Mulutku seketika ternganga dengan pernyataan Lia tersebut.


Bagaimana tidak? Setelah upaya sekuat tenagaku meraih 1 buah senjata yang katanya hanya ada 9 pasang di dalam game the AD series ini. Sembilan pasang senjata yang saling berlawanan, hitam bertopeng terang dan putih bertopeng gelap.


Aku bahkan memperoleh senjata ini sewaktu masih di series game the twelfth Sriconia, pedang iblis berselimut cahaya, Makedonia. Dan waktu itu jelas dikabarkan bahwa senjata hitam bertopeng terang telah muncul semuanya, sementara yang putih bertopeng gelap baru ada delapan buah. Yang berarti punya bocah itu adalah…


“Jadi tidak boleh, Senior?” Perkataan dari bocah sialan itu tiba-tiba membuyarkan aku dari lamunanku.


“Jelaslah tidak boleh, dasar Bocah ******!” Tanpa sadar umpatan kasar pun keluar lewat mulutku.


Ah, aku kena batunya. Aku yang dari awal ingin membuat Luca malu, justru berakhir membuat diriku malu sendiri di hadapan junior-juniorku itu.


Senior Asario yang terkenal akan pembawaannya yang berdedikasi malah mengumpat kasar dengan kata-kata tidak senonoh usai kalah telak dari seorang bocah newbie, setidaknya berita seperti itulah yang pastinya akan mencuat di kalangan junior-juniorku dalam waktu dekat ini.


“Ehem. Maafkan aku, Luca. Skill itu tidak bisa diperlihatkan secara sembarangan kepada orang lain karena ada aturan manajemen tim yang melarang untuk itu. Sungguh disayangkan, padahal aku sebenarnya juga ingin sekali bertarung melawanmu dengan skill itu.”


Aku pun berupaya tersenyum manis di hadapan bocah sialan itu demi menutupi kesalahanku barusan di hadapan para adik juniorku tersebut. Semoga ini benar-benar bekerja meringankan efek rumor yang akan berkembang.


“Cih, sayang sekali. Tapi tidak apa. Aku akan segera membentuk tim dan melawan Senior dalam pertandingan resmi. Di saat itu, tolong lawan aku dengan segenap kemampuanmu, Senior. Karena aku juga akan mengalahkanmu di saat itu.”

__ADS_1


Ucapan omong kosong apa lagi yang dilanturkan oleh bocah sialan itu?


Walau tak kulihat, bisa kurasakan kalau urat syaraf di pelipisku sudah di ambang batasnya akibat ucapan sombong bocah sialan itu yang terlihat begitu meremehkanku. Tetapi dengan sekuat tenaga, akhirnya kuredam amarahku tersebut.


__ADS_2