
“Trang, trang, trang.”
Di aula terbuka itu, suara pedang terdengar beradu dengan irama yang statis.
“Ayo, Bocah. Apa sampai di sini saja kemampuanmu? Tunjukkan padaku lebih baik lagi!”
“Paman, gini-gini biar aku kecil, aku sudah menginjak usia 15 tahun.”
Rupanya, yang sedang bertarung adalah Luca melawan Hendric, kapten pasukan pelindung sang kaisar. Luca tengah latihan persiapan di hari-hari terakhir menjelang turnamennya.
“Begitukah? Maaf aku tidak menyadarinya karena tenagamu seperti bayi yang baru lahir saja. Oh iya, ngomong-ngomong, aku ini bukan Paman, tapi Kakak. Perbedaan usia kita kan tidak lebih dari 10 tahun.”
“Begitukah? Maaf, aku tidak menyadarinya, Paman, ah, maksudku Kakak, soalnya Kakak terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.”
“Bocah kurang ajar.”
Tentu saja sang protagonis kita sama sekali tidak punya niatan buruk dalam mengatakan hal itu. Namun, bagaimana pun kalimat itu diterjemahkan ke dalam bahasa modern, mana ada yang akan mempercayai bahwa itu bukanlah ejekan. Rupanya, mulut tajam Luca belum berubah sama sekali.
“Ah, aku lelah. Padahal aku sangat percaya diri pada fisikku sendiri, tetapi rupanya sampai di sini saja batasku untuk saat ini. Andai ini tubuh asliku, pasti akan lebih baik lagi.”
“Hmm? Kamu mengatakan sesuatu, Bocah?”
“Sudah kubilang panggil aku Luca… Ya, sudahlah. Untuk Kakak, akan aku berikan pengecualian. Tapi ngomong-ngomong…”
Luca tidak berbicara lagi. dia hanya menatap ke dalam diri Hendric Albatarma itu.
\=\=\=
Nama: HENDRIC ALBATARMA (Lv. 78)
Race: Manusia
Umur: 24 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Okupasi: Swordsman
\=\=\=
“Sudah kuduga, level tubuh asliku unggul 3 level dari Kak Hendric. Hmm. Jika itu tubuh asliku, pasti aku akan menang mudah darinya.”
Luca tanpa sadar senyum-senyum sendiri tampak blagu di hadapan Hendric. Hendric dengan cepat merasakan keanehan dan sedikit tersinggung dengan sikap Luca itu. Dia pun lantas dengan setengah bercanda, bertanya langsung kepada Luca.
“Kamu yakin tidak mengatakan sesuatu, Bocah? Atau jangan-jangan kamu sedang mengumpatku di belakang ya?”
__ADS_1
Mendengar perkataan Hendric yang sebenarnya tampak hanya candaan itu, entah mengapa Luca meresponnya dengan sensitif lantas membentak, “Bagaimana mungkin seperti itu, Kak. Aku tidak mungkin melakukan perbuatan tercela yang dilarang oleh Ibu itu. Sebaiknya, kita lanjutkan saja kembali latih tandingnya. Tubuhku sudah agak baikan.”
“Bagus jika seorang anak muda bersemangat, Dik Luca. Tetapi istirahat juga tidak kalah pentingnya. Ayo kita minum teh bersama dulu.”
Bukan Hendric, melainkan Kaisar Cecilia-lah yang mengatakan hal itu kepada Luca yang tiba-tiba saja datang ke tempat latihan para prajurit tersebut.
“Begitukah? Baiklah. Perkataan Kak Kaisar ada benarnya juga. Uuuukh! Di luar dugaan, punggungku cukup tegang juga.”
“Ya kan? Apa yang akan terjadi kalau Kakak tidak mengingatkanmu. Latihan itu penting, tapi overwork juga tidak baik. Sini, gabung sama Kakak dulu sebentar.”
Luca pun ikut bergabung bersama Cecilia mengikutinya ke area tempat minum teh itu. Hendric serta beberapa anak buahnya pun turut mengikuti mereka dari belakang.
“Ngomong-ngomong, Kak Kaisar, kapan aku bisa libur bareng sehari untuk mengawasi daerah perbatasan utara?”
“Itu, tampaknya sulit, Dik Luca. Apalagi di masa-masa kritis sekarang ini.”
“Tapi aku juga butuh meningkatkan kemampuanku.”
“Bukankah kamu selalu saja pergi dengan meninggalkan naga muda itu menjalankan tugasmu?”
“Aku bisa saja pergi sendiri. Tapi bagaimana pun kucari, aku tetap tidak bisa menemukan apa yang aku inginkan. Satu-satunya cara adalah ikut membawa Aura bersamaku untuk mencarinya bersama-sama.”
“Kakak tidak tahu detilnya tentang apa yang ingin Dik Luca lakukan, tetapi saya harap Dik Luca bisa bersabar sedikit lebih lama lagi sampai keadaan perbatasan utara sedikit lebih tenang.”
“Tapi… Aku juga butuh meningkatkan levelku. Kalau begini terus, aku takkan pernah mencapai level veteran tingkat tinggi.”
Akan tetapi, bahkan belum sempat Luca duduk dan meminum teh yang diseduh langsung oleh sang kaisar itu, tanah tiba-tiba saja bergemuruh.
“Master, ini gawat. Serangan zombie skala besar baru saja terjadi. Ada beberapa yang mampu bergerak cukup cepat. Aku tampaknya butuh bantuan Master di sini.”
“Baiklah, aku paham, Aura. Aku akan segera ke sana.”
Demikianlah, Luca pun gagal menerima kebaikan hati Kaisar Cecilia itu lantas bergegas menuju ke medan perang.
‘Ini aneh, bukan demon, tapi zombie-lah yang tiba-tiba saja melakukan serangan skala besar-besaran? Ini kan bukan di dekat tanah kematian? Darimana para necromancer itu memperoleh energi yang cukup untuk memanggil horde zombie? Tidak, bukan itu. Sejak awal, apa ada masih banyak necromancer jahat yang tersisa di kelompok itu? Padahal rasanya aku sudah cukup banyak menghabisi mereka.’
Dengan berbagai pikiran, Luca pun mempercepat langkahnya dan beberapa saat kemudian akhirnya sampai di perbatasan daerah utara itu.
“Master!”
“Aura.”
“Aku serahkan bagian belakang pada Master ya.”
“Cih, ini lebih banyak daripada yang aku bayangkan.”
__ADS_1
Luca terlihat panik. Namun, dia tidak membiarkan kepanikannya itu mengurangi ketenangannya. Dengan segera, dia kembali menyusun perasaannya lantas mengeluarkan senjata sabit bulan-nya itu lalu menghadapi serbuan horde zombie.
“Luca!” Tidak lama kemudian, Lia, Andra, Raia, Chika, Diana, Areka, Egi, Silvia, Kirana, serta trio senior pemalas turut tiba di lokasi kejadian.
Luca mengumpulkan semua orang yang bisa dia hubungi saat itu untuk membantunya dalam menjaga pertahanan benteng utara Kekaisaran Lalania saking sulitnya keadaan saat itu yang dipenuhi oleh horde zombie.
Berkat tambahan tenaga itu, benteng pertahanan utara Kekaisaran Lalania pun dapat dipertahankan.
Namun, ekspresi Luca tetap mengerut. Dia merasa masih ada yang salah.
‘Ini benar-benar aneh. Bagaimana pun dipikirkan, tindakan mereka kali ini sangat tidak efisien. Biasanya mereka hanya tiba dalam jumlah sedikit untuk memanen energi kematian di tanah utara ini. Bahkan energi kematian saat ini belum cukup untuk berkumpul, tapi mereka men-summon banyak zombie sekaligus yang menghabiskan banyak energi kematian mereka.'
'Entahlah kalau itu di perbatasan tanah kematian, tempat panen energi kematian yang layak. Tetapi di sini, mereka tidak akan dapat apa-apa. Walaupun banyak warga kota yang akan meninggal dan menyumbangkan energi kematian, tetapi ini dekat dengan persatuan suci. Energi kematian itu, hanya akan ternetralisir saja sehingga hasilnya sama saja akan mendekati nol.'
'Apa yang mereka tuju? Apapun itu, untuk saat ini, kita hanya dapat bertahan. Terima kasih berkat rekan-rekanku dan juga para prajurit dari istana kekaisaran, horde zombie ini tampaknya sebentar lagi akan bisa segera dihentikan. Tunggu dulu…'
'Jika para prajurit hampir dikerahkan semuanya ke daerah perbatasan karena mengikuti instruksi manual pertahanan ibukota, berarti saat ini yang melindungi Kak Kaisar di ibukota, hanyalah tersisa Kak Hendric beserta anak buahnya saja…'
'Tidak, aku memiliki firasat yang buruk. Aku harus segera memastikannya bahwa Kak Kaisar baik-baik saja.'
Luca segera berlari menuju ke istana kekaisaran dengan mempercayakan horde zombie itu kepada teman-temannya. Perasaannya begitu tidak enak.
Dia mengingat sekelumit pembicaraannya dengan Phineas, sang pimpinan para necromancer jahat itu beberapa waktu lalu.
Kala itu, Luca menyimpulkan bahwa Phineas datang menemuinya perihal dia berhasil mengungkap kejahatan Duke Trashio, sekutu penting Phineas yang menyebabkan rencana pentingnya terhambat.
Luca walaupun polos, dia sebenarnya sangat sensitif merasakan aura kebencian seseorang. Dan dia bisa merasakan betul bahwa apa objek kebencian Phineas saat itu adalah keluarga kekaisaran.
Oleh karenanya, dia tak dapat menahan rasa khawatirnya akan Kaisar Cecilia yang hanya dijaga oleh Hendric dan beberapa anak buahnya saja saat ini di istana.
Luca harap-harap cemas bahwa semoga apa yang dipikirkannya saat ini hanyalah delusinya semata. Begitu dia sampai, pemandangan Kak Kaisar-nya yang tercinta yang sedang minum teh di rumah kaca-lah yang akan didapatinya.
Namun, baru memasuki pintu gerbang istana saja, harapannya itu telah dikhianati. Kedua penjaga yang menjaga gerbang telah meregang nyawa.
Insting Luca segera menuding bahwa Phineas-lah pelaku di balik semua kejadian itu. Dia pun mempertajam inderanya untuk segera menangkap bau keberadaan Phineas yang di luar dugaannya dulu sangat mirip dengannya itu, kecuali untuk aura kematiannya yang menjijikkan.
Dan bingo.
Hawa keberadaan Phineas benar-benar terdeteksi berada di dekat tempat tersebut. Tepatnya, di atap istana.
Tanpa pikir panjang, Luca segera berlari dan melompat menuju ke sana.
“Sialan! Rupanya benar-benar kau ya pelakunya, Phineas!”
Di hadapan Luca, tampak Kaisar Cecilia yang tengah pingsan, digendong bak putri oleh sang pimpinan necromancer jahat, Phineas.
__ADS_1
“Yo, Luca. Lama tidak bertemu.” Sapanya kepada bocah berambut hitam yang ada di hadapannya yang telah memancarkan warna mata heterokromia itu. Terlihat rambut halus emas kehitam-hitaman sang pimpinan necromancer itu berkibas-kibas karena diterpa angin semilir dari atap istana.