The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
158. Pertandingan Akhir Penentuan Tim Inti SMA Pelita Harapan (5)


__ADS_3

Dengan kekalahan Kak Alvin melawan Kak Inggar dan kekalahan Kak Raia melawan Kak Rena, pupuslah sudah harapan Diana untuk merangkak naik ke posisi tim inti cadangan.


Namun, untuk Kak Raia sendiri, masih ada harapan. Aku bukannya mendukung Kak Raia atau bagaimana. Terus terang, aku bersikap netral saja. Perihal syarat untuk Kak Raia bisa mencapai posisi tim inti cadangan adalah dengan kejatuhan Kak Danang. Dan bagiku sendiri, Kak Danang adalah senior yang baik yang senantiasa mengayomi para juniornya dengan murah hati.


Yah, kita lihat saja pertarungannya. Kuharap Kak Raia tidak jatuh semangatnya sehabis dikalahkan oleh Kak Rena barusan.


Selanjutnya, pertarungan Kak Raia melawan Kak Danang pun dimulai.


Salah satu kelebihan Kak Danang termasuk di antara sesama kelas archer adalah tembakan panahnya yang hampir tidak meleset dan sangat kuat. Ini tentunya buruk buat Kak Raia yang selalu menghadapi serangan secara langsung.


Aku telah menyampaikan kepada Kak Raia kekuarangannya dan pastinya Kak Raia pun telah sering berhadapan dengan Kak Danang sebelumnya. Kuharap, Kak Raia mampu melakukan usaha terbaiknya perihal ini adalah kesempatan terakhirnya.


Dengan cepat, Kak Danang segera membidik Kak Raia dengan panah super kuatnya dan segera mundur ke belakang, bersembunyi di antara pepohonan pasca menembakkan panahnya itu.


Syukurlah, Kak Raia memilih untuk menghindari serangan itu, perihal jika dia menerimanya langsung seperti cara yang biasa dia gunakan, dia dipastikan akan kalah karena kekuatan impak serangan Kak Raia saat ini belum berada di level yang mampu menghadapi serangan panah dari player berlevel di atas 50-an.


Pertarungan berlanjut dengan Kak Raia berupaya memperpendek jarak dengan Kak Danang di mana Kak Danang dengan sekuat tenaga mencegah hal itu terjadi dengan serangan panah beruntun.


Perburuan Kak Raia berlanjut dan terus berlanjut. Begitu Kak Danang berada di jarak serang Kak Raia, Kak Raia tidak segan-segan akan melayangkan tinjunya ke arah seniornya itu. Sayangnya, semua serangan Kak Raia itu meleset dan malah hanya mengenai dahan pohon tempat Kak Danang awalnya berpijak.


Tetapi, itu bukan berarti serangannya sama sekali tidak berguna.


Pada suatu waktu, ketika Kak Danang menginjakkan kakinya di suatu pepohonan, pepohonan seketika goyang akibat dentuman serangan Kak Raia yang sebelumnya meleset dan malah terkena pohon itu.


Gerakan tak stabil pun mulai ditunjukkan oleh Kak Danang lantas Kak Raia segera menggunakan kesempatan itu untuk mendaratkan tinju mautnya ke arah Kak Danang. Dalam beberapa hantaman melalui guntlet berduri buatanku yang kini menjadi senjata utama Kak Raia itu, Kak Danang gameover di arena.


Luar biasa! Sungguh hasil yang sangat luar biasa! Tak kusangka Kak Raia telah melebarkan sayapnya sampai pada titik di mana dia mampu mengalahkan pemain veteran tingkat tinggi awal.


Skor Kak Raia seketika melampaui jauh skor Diana dan bahkan hanya terpaut dua poin dari skor Kak Sabrina di posisi ke-9. Seandainya, peringkat takkan lagi berubah dan tetap seperti itu adanya, takkan bisa kubayangkan rasa sakit hati Kak Raia akan seperti apa jadinya perihal selisihnya dengan peringkat ke-9 hanya terpaut dua poin saja.


Seandainya ada peluang Kak Raia menghadapi Kak Sabrina langsung, sayangnya, kini tinggal tersisa 3 pertandingan, dan penentuan siapa yang akan masuk ke tim inti cadangan antara Kak Raia atau Kak Danang, tergantung dari hasil pertandingan yang selanjutnya ini, pertandingan antara Kak Rena melawan Kak Danang.


Jika Kak Danang menang, maka posisi tim inti cadangan akan dimenangkan olehnya, dan jika kalah, Kak Danang akan segera tersingkir dan posisinya akan digantikan oleh Kak Raia.


Dan pertandingan itu pun terjadi.


Kak Danang sebagai archer seperti biasanya segera menjaga jarak dari pemain lawan. Tetapi tentu saja sang kucing hitam kita yang bertaring panjang dan lincah itu tidak akan membiarkannya terjadi.


Pushy, begitulah Kak Rena memanggil beast-nya itu, dengan lincah bergerak mengejar Kak Danang. Tampaknya, Kak Rena juga ingin menerapkan cara yang sama kepada Kak Danang bagaimana sebelumnya dia mengalahkan Kak Raia.


Namun di luar dugaan, Kak Danang bermanuver dengan cantik di antara pepohonan, menghindari taring racun sang pushy, lantas berhasil mendaratkan ultimate skill-nya dengan sangat elegan ke arah Kak Rena.


Sejak awal Kak Rena salah. Taktik serangan dadakan itu mana mungkin akan berhasil untuk petarung jarak jauh yang lebih waspada, terlebih, dia sudah memperlihatkan skill-nyas itu sebelumnya.


Alhasil, Kak Danang justru mengalahkan Kak Rena. Sungguh disayangkan setelah Kak Rena mampu mengalahkan Kak Raia dan Kak Raia mampu mengalahkan Kak Danang, rupanya tidak seperti rumus implikasi matematika karena rupanya Kak Danang-lah yang justru memenangkan duel tersebut.


Dengan demikian, pupus sudahlah pula harapan Kak Raia menembus tim inti cadangan klub untuk mewakili sekolah di perlombaan e-sport vrmmorpg tingkat SMA itu.


Dua pertarungan tersisa, tetapi itu tidak penting lagi. apapun hasil pertandingannya, komposisi pemain telah ditentukan.


Itu adalah pertandingan tantangan yang diajukan masing-masing oleh Kak Rena dan Kak Inggar untuk melawan Kak Robby.


Dan seperti yang kalian duga, walau di luar Kak Robby tampak seperti pengecut yang selalu ingin menghindari pertarungan, dia sejatinya adalah lawan yang kuat, yah walaupun bahkan sepersepuluh kemampuan game Senior Asario belum dicapainya.


Namun, itu telah cukup untuk membungkam kedua juniornya itu yang selalu saja meremehkannya.


Dengan berakhirnya ke-31 pertandingan hari ini, maka resmilah babak seleksi penentuan posisi anggota tim ditutup. Tampaknya, begitu pula hasil seleksi di pihak pemain pendukung cleric yang hanya berjumlah 3 orang tersebut.

__ADS_1


Lalu, beginilah hasil akhir susunan timnya.


\=\=\=


HASIL AKHIR PENENTUAN POSISI ANGGOTA KLUB E-SPORT VRMMORPG SMA PELITA HARAPAN


TIM INTI UTAMA



Luca 163840 poin (assassin)


Areka 64907 poin (shielder)


Yudishar 40960 poin (mage)


Robby 31220 poin (swordsman)


5. Yurika (Cleric)


TIM INTI CADANGAN


Egi 3422 poin (archer)


Danang 3147 poin (archer)


Rena 3063 poin (tamer)


Inggar 3023 poin (fighter)


TIM CADANGAN UTAMA


Raia 2889 poin (fighter)


Diana 2354 poin (scout)


Ikki 1600 poin (swordsman)


Zeno 1550 poin (shielder)


Alvin 1417 poin (shielder)


Chika 654 poin (alchemist)


Nina 391 poin (tamer)


Joshua 240 poin (mage)


Asti 161 poin (fighter)


20. Shea (cleric)


TIM CADANGAN PENDAMPING


Zevan 150 poin (mage)


Evan 147 poin (mage)

__ADS_1


Ula 54 poin (fighter)


Isman 21 poin (swordsman)


Yuda 20 poin (swordsman)


Zen 10 poin (swordsman)


Martin 5 poin (swordsman)


David 3 poin (shielder)


Jacob 3 poin (swordsman)


30. Ellen (cleric)


\=\=\=


Setelah itu, selama 2 pekan berikutnya, kami berlatih intens di bawah bimbingan Pak Syarifuddin sesuai dengan pembagian kelas tim yang ada. Karena suatu alasan, pelatihan tim inti utama dan tim inti cadangan digabungkan kelasnya, sementara dua yang lainnya tetap dipisah.


Awalnya, aku cukup puas dengan latihan yang ada. Ada Egi, Kak Inggar, dan terlebih Senior Areka yang bisa menjadi lawan yang andal buatku. Namun, di hari kedua pelatihan itu, entah mengapa aku merasa bosan. Gerakan-gerakan mereka tidak lagi merasa menantang buatku.


Terlebih, dari 101 pertandingan melawan mereka, tiada satu kali pun mereka mengalahkanku.


Ini tidak baik. Kalau begini terus, semangatku bisa kendor dan aku bisa kehilangan motivasi untuk lomba.


Aku pun seketika teringat dengan Kak Silvia. Walaupun membosankan, setidaknya pelatihan itu betul-betul bermanfaat secara langsung buatku. Itu bisa meningkatkan kemampuan spiritualku dan Kak Silvia juga pernah mengatakan jika levelku meningkat, maka aku akan bisa menggunakan mana. Tentu saja itu bukan saja cerita soal di game, tetapi juga buat tubuh asliku.


Dan entah mengapa pula, sejak berlatih kemampuan spiritual bersama Kak Silvia, baik HP, MP, dan terlebih SP-ku meningkat drastis padahal levelku tetap sama seperti adanya sehingga seolah-olah kelasku adalah swordsman dan bukan lagi assassin yang ber-HP, MP, serta SP rendah.


Aku pun berupaya meyakinkan Pelatih untuk menggunakan waktu berhargaku ketimbang berlatih dengan tim yang levelnya masih jauh di bawahku, aku lebih memilih untuk mengembangkan kemampuanku di luar yang terbukti jauh lebih efektif.


Tetapi ini bukan berarti aku meremehkan tim-timku saat ini yang masih berkemampuan rata-rata, errrr, bagaimana mengatakannya ya, kuharap saja kalian paham maksudku.


Tampak Kak Robby meragukan ucapanku dan berpikir aku hanya ingin hendak bolos saja, tetapi kulihat Senior Areka segera membelaku dengan mengatakan mana mungkin aku memiliki karakter sampah seperti itu.


Hehehehehe.


Senang rasanya ada yang membelaku meskipun itu hanya Senior Areka. Itulah gunanya kita harus selalu bersikap baik agar pandangan orang-orang juga positif terhadap kita.


Alhasil, berkat bantuan pertimbangan dari Senior Areka, Pak Pelatih pun menyetujui proposalku itu.


Aku pun sejak hari kedua itu, tidak pernah lagi datang ke klub dan melanjutkan pelatihanku dengan berlatih bersama Kak Silvia.


Pada saat pertama kali bertemu kembali dengannya, Kak Silvia menanyakan mengapa aku baru lagi menemuinya. Aku pun menjawab jujur soal kecelakaan game itu. Kak Silvia seketika panik dan menanyakan keadaanku apakah sudah baik-baik saja sekarang. Aku lantas menjawab dengan optimis bahwa aku baik-baik saja. Di saat itulah, Kak Silvia baru bernafas lega kembali.


Kulihat Kak Silvia menggunakan semacam alat pengukur suhu tubuh, tetapi entah mengapa diarahkan tepat ke dadaku. Tampaknya Kak Silvia masih ragu dengan ucapanku dan memutuskan untuk memeriksanya sendiri.


Tetapi entah mengapa setelah membaca pembacaan skala dari alat itu, mata Kak Silvia seketika terbelalak. Tetapi tampak Kak Silvia berupaya sekuat tenaga menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu. Yah, palingan juga bukan apa-apa.


Namun, pelatihan kami setelah itu, bukan lagi meditasi, tetapi pertarungan langsung. Masalahnya, ini bukan pertarungan lewat game, tetapi pertarungan lewat tubuh asli.


Aku sempat mengkhawatirkan apa kondisi Kak Silvia akan baik-baik saja karena begini-begini, tubuh fisikku entah mengapa sudah meningkat saja ke level 72. Tetapi rupanya, kekhawatiranku adalah hal yang percuma. Aku sampai lupa bahwa kak Silvia juga adalah berasal dari keturunan seni bela diri.


Namun, ada yang sedikit rumit dalam pelatihan itu. Kak Silvia senantiasa mengingatkanku untuk menyerang dengan menerapkan aura menggunakan mana yang telah berhasil kukumpulkan ke tubuhku. Dan terus terang, itu sangat sulit.


__ADS_1


__ADS_2