The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
124. Antara Pacar dan Keluarga, Lia vs Leo


__ADS_3

...\=\=\= ...


...Lia – Silver Hero – Indonesia – The Last Gardenia...


...Vs...


...Leo – Max Squeeze – Amerika Serikat – The Last Blood...


...\=\=\= ...


“Di sudut kiri, ada kontestan Lia dari Tim Silver Hero, Indonesia.”


“Di sudut kanan, ada kontestan Leo dari Tim Max Squeeze, Amerika.”


Suara antusias dari MC pertandingan seketika membuat riuh suasana panggung. Kedua pemain pun segera mengoneksikan tubuh mereka ke tubuh avatar mereka di dalam game.


Kedua pemain pun saling berhadap-hadapan.


Mereka adalah pemain yang saling mengenal satu sama lain. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang saling berbicara saat itu. Kedua belah pihak saling mengerti bahwa demi menghargai tekad satu sama lain, maka tidak perlu ada lagi pembicaraan di antara mereka.


Mereka berdua akan sama-sama berjuang sekuat tenaga untuk meraih kemenangan tanpa satu pun dipengaruhi oleh perasaan pribadi.


Dengan aba-aba dari wasit pertandingan, kedua pemain pun mulai bergerak saling menyerang satu sama lain.


Lia bergerak dengan tinju dan pistol sihir heroine di tangannya, sementara Leo tampak memiliki pola serangan yang hampir mirip dengan Lia, kecuali dia lebih aktif menggerakkan kakinya ketimbang tinjunya.


Benturan demi benturan tinjuan dan tendangan, tembakan demi tembakan peluru sihir dan peluru fisik pun saling beradu satu sama lain. Tampak benar semangat kedua pemain.


Hingga sampai pada Leo mengaktifkan skill rage of bullet-nya, Lia pun tampak mulai terdorong.


“Lia, semangatlah!” Gumam Luca dalam hati dari balik bangku penonton yang menyaksikan pertandingan itu.


Seakan perasaan Luca sampai padanya, muncul kekuatan misterius secara tiba-tiba di dalam diri Lia. Wanita itu pun tak menyerah dan segera mengaktifkan skill pakaian silat Evony-nya. Dia pun sedikit demi sedikit dapat mengimbangi kecepatan dan impak peluru dalam skill rage of bullet milik Leo itu.


“Dor dor dor dor dor.” Lia melayangkan tembakannya ke udara melintas melewati Leo begitu saja.


Namun Leo telah melihat skill ini di pertandingan Lia sebelumnya hingga dia pun tidak lengah. Itu adalah peluru yang bisa kembali.


Berkat inderanya yang meningkat tajam berkat skillnya, dengan mudah Leo menghindari serangan peluru-peluru sihir boomerang milik Lia.


Lalu kini giliran Leo yang menembak.

__ADS_1


Tetapi kali ini bukan peluru biasa. Itu adalah peluru yang dilapisi oleh elemen angin dan ketiadaan.


Namun, Lia pun sudah pernah melihat skill Leo itu sebelumnya.


Lia seketika tahu bahwa pertahanan sihir di sekujur tubuhnya akan sia-sia jika terkena peluru-peluru itu.


Namun, peluru-peluru itu cukup cepat dan banyak jumlahnya untuk dihindari dengan sempurna oleh Lia, terima kasih berkat peningkatan kemampuannya oleh skill rage of bullet milik Leo.


Untuk peluru yang tidak bisa dihindarinya itu, Lia pun melayangkan tinjunya, tinju yang murni kekuatan fisik yang diperkuat oleh pakaian silat Evony.


Tetapi bagaimana pun, Lia adalah seorang cleric, bukan seorang fighter murni. Akibatnya, impak serangan itu cukup memberikan damage yang fatal padanya.


Melihat kesempatan itu, Leo pun mendekat untuk menyerang. Tetapi itu adalah kesalahan.


Ya, Lia bukan seorang fighter, melainkan seorang cleric. Dengan cepat, luka-luka di tinjunya segera sembuh berkat aura penyembuhan sucinya.


Lia segera menyambut serangan Leo itu dengan bogeman mentah.


Leo pun terlempar sampai ke batas dinding arena.


Serangan Lia tidak sampai di situ saja.


Lia segera balik maju menyerang Leo.


“Apakah hanya segini semangatmu, Leo! Sadarlah! Satu-satunya harapan tim sisa dirimu seorang!” Gumam Leo pada dirinya sendiri untuk membakar semangat di dalam benaknya sendiri.


“Hiyaaaat!”


Kini giliran Leo yang balik menendang Lia dengan tendangan mautnya.


Di detik-detik terakhir, Lia mampu menangkis tendangan itu dengan aura perlindungan sihirnya.


Dan di saat itu pula, skill rage of bullet Leo pun berakhir. Akan tetapi berbeda dengan Lia, Lia seketika mampu menyembuhkan dirinya sendiri melalui pistol sihirnya.


Pertandingan pun sesaat dilanjutkan dengan adu tinjuan dan tendangan diselingi saling tukar tembakan satu sama lain.


Kedua pemain sama-sama berbakat. Gaya bertarung mereka pun cukup mirip dengan memadukan antara pistol dan silat.


Mereka berdua punya skill yang prominen yang pantas membawa mereka ke posisi puncak. Namun pada suatu titik, semuanya pun ditentukan oleh perbedaan stamina.


Leo kehabisan stamina duluan karena efek pembuatan peluru berlapis mana-nya cukup menguras mana-nya itu, sementara peluru sihir Lia hanya perlu mengorbankan sedikit mana. Gerakan serangan Leo pun cukup brutal dan tidak efisien sehingga banyak membuang-buang tenaga yang tidak perlu.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Lia. Di bawah bimbingan sang battle healer Angel, Lia belajar bagaimana cara bertarung yang efisien dengan menghemat tenaga.


Seorang healer adalah benteng harapan terakhir para anggota party-nya yang terluka, maka seorang healer sama sekali tidak boleh terluka dan kehabisan stamina. Seorang healer harus sigap dalam melihat keadaan sekitar.


Daripada fokus mengalahkan musuh dengan serangan overpower, seorang healer harus lebih memilih berlatih menghindari serangan untuk menghemat stamina. Perbedaan pola pikir itulah yang kini membuat Lia lebih unggul di atas Leo.


Karena sudah tak berdaya lagi dengan stamina yang terkuras yang mungkin juga disebabkan oleh keadaan mentalnya yang terlalu menggebu-gebu untuk menang sehingga tidak stabil, Leo pun berhasil dikalahkan oleh Lia dalam satu impak tinjuan penutup.


Lia menang atas Leo di babak kedua pertandingan individu sesi pertama itu.


***


Lia menang di pertandingan pertama.


Setelah itu, satu-persatu pemain kuat lainnya menang di pertandingan.


Sesuai dugaan, Goruth dari Tim Lost Child menang di pertandingan kedua yang berarti dia yang nantinya akan menjadi lawan Lia selanjutnya.


Sayangnya di pertandingan kelima, Kak Toni kalah atas seorang pemain bernama Omiros dari Tim Goliath.


Kak Toni telah berusaha mengaktifkan skill hipnotisasinya, skill iri hati Sarwendah. Namun di luar dugaan, Omiros memiliki kekuatan mental yang kuat sehingga skill hipnotisasi itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.


Kemudian ketika Omiros balik menyerang melalui skill petir-nya yang tiba-tiba menghujam dari atas langit, Kak Toni tak dapat menangkisnya walau dia sudah mengaktifkan skill kerakusan Sarwendah-nya.


Alhasil, perisai ularnya hancur dan dia pun gameover dari arena.


Semuanya berjalan sesuai dugaanku dan mungkin juga bagi para penonton yang lain.


Tetapi di pertandingan ke-19, pemain favorit ke-13 berhasil dikalahkan oleh archer dari Tim Goliath. Dia adalah seorang pemain pedang panjang tipis mirip pedang samurai dari suatu negara kecil yang disebut Kamerun.


Jika dipikirkan secara logika, tidak ada peluang seorang archer dapat mengalahkan seorang pemain pedang dalam pertempuran jarak dekat. Namun rupanya, archer dari Tim Goliath ini berbeda.


Begitu sang pemain pedang datang menyerang, alih-alih mengeluarkan panahnya, dia menangkis serangan lawannya dengan kedua dagger di tangannya. Sang archer pun bertarung dengan menggunakan dagger itu alih-alih dengan panah.


Di luar dugaan, sang archer lumayan terampil menggunakan dagger bahkan sampai pada akhirnya mampu mengungguli kemampuan pedang sang pemain favorit ketiga belas itu dan bisa sampai memenangkan pertandingan.


Lalu ada pula pertandingan menarik antara sang pemegang favorit kedelapan yang rupanya tidak lain adalah sang shielder hebat dari negara Buginesia itu yang juga menerapkan game The Last Gardenia sebagai basis game-nya.


Lawannya adalah salah satu anggota Metamorphosis pengguna kapak bernama Connor.


Bagaimana pun Connor melayangkan kapaknya kepada perisai lawan, perisai itu sama sekali tidak pernah goyah. Sampai pada masa ketika staminanya habis, sang shielder hebat, Raihan, balik menyerang dengan membenturkan perisainya ke lawan.

__ADS_1


Dalam satu hujaman, lawan terpental lantas bersimbah darah lalu gameover dari pertandingan.


__ADS_2