
Luca dan kawan-kawan berjalan-jalan mengelilingi salah satu objek wisata terkenal di kota itu. Walau pada awalnya menolak keras akan ikut karena mempertimbangkan waktu Nina untuk melihat berbagai jenis referensi latihan akan semakin berkurang, Luca terlihat sangat menikmati pemandangan itu.
Luca melihat ke kiri dan ke kanan dengan pandangan yang sangat antusias.
Nina dan Raia tidak memperhatikan hal itu. Mereka sibuk memotret pemandangan sambil berselfie ria dengan kamera yang ada di smartphone mereka.
Hanya Leo-lah yang memperhatikan Luca.
“Hmm, anu, Luca, benar kan?”
Mendengar Leo memanggil namanya, Luca pun berbalik ke arahnya.
“Hmm?”
Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya pertanyaan itu pun keluar dari mulut Leo.
“Aku hanya penasaran saja, apa benar kamu adalah adik dari nenekku? Tak kusangka ayah dari nenekku sangat bejat hingga sampai menikahi seorang wanita muda bahkan sampai melahirkan anak. Kamu, jangan sedih ya mempunyai ayah yang seperti itu. Hidup penuh dengan kesenangan.”
Luca hanya tersenyum. Dia membiarkan kesalahpahaman Leo mengalir begitu saja. Namun, beda halnya jika ayahnya dihina. Luca pun menjawab,
“Ayah adalah orang yang baik kok.”
“Mana ada orang baik yang akan menikahi seorang wanita muda sampai melahirkan anak di saat usianya sudah mencapai 74 tahun?”
Ekspresi Luca datar setelah mendengar ucapan Leo itu. Tidak, dia berupaya menutupi perasaannya yang kompleks. Baginya, ayahnya adalah sosok pria tampan muda yang mengajarkannya banyak hal tentang arti hidup.
Ini semua adalah kesalahan sistem yang mempermainkan penampilan dan ingatan ayah dan ibunya sampai-sampai Leo telah salah paham mengartikan hubungannya dengan neneknya yang sebenarnya adalah saudara kandung.
“Jadi, aku harus memanggilmu apa? Kalau dilihat dari hubungan keluarga, seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan Kakek, tapi lihat, kamu itu lebih muda dua tahun dariku.”
Luca sedikit merinding mendengar di usianya yang masih belia itu, ada orang yang hendak memanggilnya dengan sebutan Kakek. Luca pun dengan cepat mengelak, “Luca saja sudah cukup kok, Kak Leo.”
“Tapi yah, agak aneh juga jika adik dari nenekku memanggilku Kakak. Nina juga, dia kan sepatutnya adalah tanteku, tetapi juga memanggilku dengan sebutan Kakak.”
Berusaha mengelak dari omong kosong Leo itu, Luca pun mengalihkan topik pembicaraan,
“Ngomong-ngomong, Kak Leo adalah petarung yang sangat hebat ya. Aku juga ingin berlatih pistol seperti itu.”
“Hmm, benarkah? Kalau begitu, mau main game The Last Blood bersama?”
__ADS_1
“Tidak, tidak, tidak Kak Leo. Aku saja sudah tidak enak mengambil waktu Kakak untuk jalan-jalan seperti ini di kala Kakak ada pertandingan besok. Aku tidak mungkin mengambil waktu Kakak untuk beristirahat lebih dari ini.”
“Hahahahahahaha.” Leo tertawa terbahak-bahak mendapati ekspresi penolakan Luca yang terlihat sangat lucu itu.
“Tidak kok, Luca. Justru aku senang bisa keluar asrama sebentar untuk jalan-jalan. Jika terus diam di asrama saja, aku hanya bisa terus tegang memikirkan pertandingan besok. Jalan-jalan dengan rileks seperti ini juga untuk kesehatan mentalku guna menghadapi pertandingan besok. Oh iya, kamu juga akan menonton pertandinganku besok kan?”
“Hmm. Aku akan menyempatkan waktu sebisa mungkin Kak. Tapi, kalau itu berbenturan dengan waktu pertandingan Lia, maka aku tidak akan bisa hadir.”
“Oh iya, ngomong-ngomong aku dengar dari Nenek Judith bahwa kalian ke sini karena seorang gadis yang merupakan pacar Luca mengundang kalian kemari sebagai anggota keluarga. Aku sangat penasaran ingin bertemu dengannya.”
Luca seketika tersentak mendengar hal itu.
Luca sampai kapan pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Alasannya jelas. Leo adalah pemuda yang sangat tampan dengan rambut pirang dengan sedikit warna hitam bercampur di dalamnya, persis dengan rambut Luca. Terlebih, dengan tingginya yang ideal untuk menjadi pujaan di hati para wanita yang sangat berbanding terbalik dengan tubuh Luca yang pendek itu.
Luca takut kalau sampai Lia kepincut oleh pemuda tampan yang ada di hadapannya ini.
Dia pun menjawab dengan enggan, “Sayangnya, pelatih dan senior Lia agak ketat, Kak Leo. Mereka tidak mengizinkan sedikit pun kunjungan dari orang luar.”
Lalu nama pelatih Riska Angela dan Senior Asario pun dijual oleh Luca demi mencegah pertemuan itu.
***
Nina dan Raia pun hendak bergegas kembali ke kamar hotel karena sangat kelelahan. Akan tetapi, sang mentor Luca segera menghalangi para muridnya yang bandel itu.
“Kak Nina, Kak Raia, jalan-jalannya menyenangkan kan?”
“Ya, ten… tentu saja.”
“Itu… itu benar sangat menyenangkan. Hahahahahahaha.”
Nina dan Raia menjawab dengan keringat dingin karena seolah bisa membaca isi hati Luca.
“Kalau begitu, bukankah sekarang waktu yang tepat untuk mulai latihan lagi?” Ujar Luca seraya tersenyum ramah.
Namun di mata Nina dan Raia, itu adalah senyum iblis yang sangat menakutkan.
“Tidak, setidaknya biarkan aku mandi dulu sehabis berkeringat.”
__ADS_1
“Bantal! Aku ingin menyentuh bantal!”
Luca mengabaikan jeritan putus asa mereka lantas menyeret Nina dan Raia ke ruangan latihan.
***
Sesampainya di dalam game The Last Gardenia, mereka berfokus untuk peningkatan level Nina agar turut mencapai level 10 di dungeon pemula.
Sehabis Nina turut mencapai level 10, Luca pun mengantarkan mereka satu-persatu di guild mereka masing-masing untuk merequest ujian pendewasaan.
Di luar dugaan, baik Nina maupun Raia sama-sama memperoleh quest ujian pendewasaan yang bersifat individu.
Nina harus membasmi 100 ekor monster tikus gunung di gunung yang ada di perbatasan utara desa pemula, sementara Raia harus mengikuti turnamen gladiator dan memenangkan pertarungan di tempat itu sebanyak 10 kali kemenangan.
Karena baik quest Nina maupun quest Raia sama sekali tidak ada penalti gagal dan batas waktu di mana Nina bisa kapan saja beristirahat dalam pelaksanaan quest-nya di tengah-tengah pelaksanaan, yang jelas dia mencapai target 100 ekor monster tikus gunung, sementara begitu pula Raia yang tidak penting berapa banyak kali dia akan kalah pada prosesnya, yang jelas total kemenangannya nanti adalah sebanyak 10 kali, Luca pun tidak perlu mengkhawatirkan mereka.
Dengan perasaan ringan, Luca pun meninggalkan mereka seharian itu untuk menjalankan ujian pendewasaan mereka secara terpisah. Tidak ada yang bisa Luca lakukan berhubung anggota party dilarang mendekat selama pelaksanaan ujian itu.
Luca pun menuju guild-nya demi merequest ujian pemantapan-nya sendiri demi segera dapat memasuki level veteran menengah.
“Apa ini tidak salah, Kak Heine? Mengapa ujian pemantapannya terdengar aneh begini?”
“Ini tidak mungkin salah, Luca. Memang ujian itulah yang muncul dari bola kristalnya.”
“Dasar sistem sialan!” Luca pun mengutuk secara internal sang sistem terkutuk itu.
...\=\=\=...
...Quest Ujian Pemantapan Player “LUCA”...
...Menjadi abdi setia Kaisar Cecilia dari Kekaisaran Lalania sampai mencapai level veteran tingkat tinggi...
...\=\=\= ...
“Ck. Ujian pemantapan seperti apa ini? Bahkan tidak jelas syarat penyelesaian quest-nya. Apa aku harus menjalani quest ini bahkan sampai bertahun-tahun, terjebak di level rendah ini?” Luca mengumpat dalam hati.
Tetapi pada akhirnya, dia menyerah untuk memikirkannya dan menerima nasibnya yang dikiranya sial itu begitu saja. Dengan langkah yang berat, dia pun beranjak ke Ibukota Allidra Ekin demi menemui sang kaisar yang dimaksud.
Satu hal yang tak diketahui Luca, itu bukanlah suatu kesialan, melainkan keuntungan besar yang nantinya akan mendatangkan kecemburuan besar bagi para player lain.
__ADS_1