
Pertandingan pun dimulai antara Rena dan Luca. Tanpa membuang-buang waktu, Rena segera meng-summon beast-nya. Seekor beast yang seukuran harimau namun lebih nampak perawakannya seperti kucing dengan warna hitam yang pekat serta bertaring sangat panjang.
“Pushy, serang!” Perintah Rena kepada beast-nya. Semula beast itu sudah tampak akan bersiap menyerang Luca dengan eraman bernada rendah ala beast-nya. Akan tetapi, sesuatu yang aneh pun terjadi.
“Ada apa, Pushy? Kenapa kamu malah ketakutan begitu?!” Bukannya menyerang Luca, Pushy, sang beast, malah tampak gemetaran ketakutan akan sesuatu lantas bergerak mundur perlahan.
Bahkan di saat Luca baru akan memulai ancang-ancangnya, Pushy lebih memilih untuk meng-unsummon dirinya sendiri.
Luca sendiri tidak mengerti, tetapi kemenangan mutlak sekali lagi buat Luca.
Semua yang menyaksikan pertandingan itu pun menjadi kaget tak percaya. “Apakah newbie itu sebegitu menakutkannya, bahkan insting beast pun sampai dibuat tak berdaya?” Sampai-sampai membuat Robby bergumam terpesona.
Di saat semua orang mengira takkan ada lagi yang berani menantang newbie itu setelah melihat dua kemenangan mutlaknya dalam waktu yang sangat singkat itu, sang penantang ketiga pun datang.
“Wah apa ini? Apa ada cara tanding massal melawan kamu ya, Luca? Hahahahaha. Kalau begitu, aku juga ikutan.” Egi segera mengajukan dirinya sebagai penantang ketiga Luca.
“Iya, boleh saja.” Jawab Luca dan dengan demikian pertandingan ketiga terlaksana antara Luca vs Egi.
Egi berpura-pura. Dia mengatakan seolah-olah baru saja tiba dan menyaksikan ketika pertarungan antara Luca dan Rena berakhir. Namun sebenarnya, Egi selama ini bersembunyi di pojok menyaksikan pertarungan Luca sejak Luca melawan Inggar secara seksama.
“Hehehehehehe. Kamu bodoh banget, Luca. Kamu berani menantangku tanpa tahu kelasku. Aku ini seorang archer. Entahlah kalau kamu saat ini seorang assassin, tetapi saat ini kamu mengganti jobmu menjadi seorang fighter yang paling lemah dengan archer.
“Ditambah stat assassinmu tidak dapat kamu optimalkan dalam wujud seorang fighter. Hehehehehe, ini akan menjadi kemenangan yang mudah bagiku. Dan akhirnya aku akan dapat mengukir namaku di klub bahkan sebelum aku bergabung.”
Egi telah bersiap menyusun rencana liciknya.
Pertandingan antara Luca dan Egi dimulai. Egi memilih arena hutan dengan banyak pohon, memanfaatkan keunggulan kelasnya. Dengan sigap, Egi segera menjaga jarak dari Luca.
“Skill, langkah pencuri.”
Egi menerapkan skill-nya untuk bergerak secara acak dari pohon ke pohon sembari mengeluarkan anak-anak panahnya satu-persatu dengan cepat. Luca menangkis tiap anak panah itu dengan tinjuan pada bagian samping anak panah. Hal itu memungkinkan berkat kemampuan koordinasi yang baik antara penglihatan Luca yang tajam terhadap saraf motoriknya.
__ADS_1
“Ck.” Egi kesal serangannya ditangkis dengan mudah.
Dia pun berhenti di salah satu pohon untuk kali ini mengeluarkan panah sihir dengan atribut api. Berbeda dengan panah biasa, Egi perlu setidaknya 2 detik untuk mengaktivasi skill tersebut.
Namun ketika Egi akan menembakkan panah itu, rupanya Luca telah menghilang dari jarak pandangnya.
“Ah, Luca ke mana?”
“Egi, tahu tidak? Assassin tetaplah seorang assassin.”
Egi terkaget dengan suara bisikan yang tiba-tiba datang dari arah belakangnya. Begitu dia menoleh, rupanya Luca telah berada di sana bersiap menyergapnya, dan “Bang!” Egi terkena bogem mentah dari Luca.
“Gluduk gluduk gluduk.” Egi terpelintir dan berguling-guling jatuh ke tanah lalu game over.
Kemenangan ketiga secara beruntun berhasil diraih oleh Luca.
“Mengapa aku bisa kalah? Mengapa seorang fighter bisa menyergap ke belakangku tanpa aku sadari?” Egi menatap Luca sambil bertanya.
“Aku tak menyangka apa yang kukhawatirkan benar-benar terjadi.” Tiba-tiba suara seseorang yang Luca telah kenal dengan baik terdengar dari arah belakangnya.
Begitu Luca menoleh, didapatinya Areka yang terlihat kesal padanya. Di sampingnya juga ada Yudishar yang terlihat memegangi jidatnya dengan pusing.
“Tak kusangka kamu benar-benar melakukannya di hari pertama kamu resmi bergabung, Luca.” Ujar Yudishar dengan wajah pucat itu.
“Ah haah.” Tampak Areka menghela nafas. “Karena sudah jadi seperti ini, ayo kita lanjutkan saja. Ayo kita mulai ronde keempat kita dengan job fightermu itu, Luca.”
“Hei, kamu juga, Areka! Apa yang kamu katakan?! Kita seharusnya menghentikan mereka, bukannya malah ikut-ikutan.” Yudishar terlihat berusaha membantah. “Oh ayolah, Yudishar. Semuanya sudah terlanjur seperti ini, satu lagi ronde tidak masalah kan?” Namun Areka tak mendengarkannya.
“Maaf, Senior. Dengan kerendahan hati, aku terpaksa menolak.” Tetapi di luar dugaan, justru Luca-lah yang menolak tawaran itu sendiri.
“Oi, oi. Jangan bilang kamu takut menghadapiku karena job-mu itu. Kalau begitu tidak masalah jika kamu mengganti job assassin sekarang.”
__ADS_1
“Kalau begitu, bisa sih…” “Luca!” Ketika Luca mengiyakan, Yudishar langsung panik kembali.
“Hmm. Jadi kamu masih menganggapku lawan yang hebat rupanya ya sehingga tidak berani menghadapiku di luar job yang kamu kuasai.” Terdengar nuansa kebanggaan sendiri di perkataan Areka sewaktu dia mengatakannya.
Tetapi kebanggaan itu tidak bertahan lama, “Tidak, tidak, bukan begitu, Senior. Hanya saja, batas uji coba gratis job lain cuma sampai tiga kali saja. Lebih dari itu, harus berbayar 50 koin rupiah setiap digunakan. Menurutku, memanglah game yang terbaik dinikmati itu ketika tidak mengeluarkan uang sepeser pun.” Rupanya, alasan Luca hanyalah soal finansial belaka.
Ekspresi bangga Areka seketika berubah menjadi kekesalan, “Baiklah, aku-lah yang akan membayar biayanya. Jadi Luca, ayo…”
“Prak!” Belum sempat Areka menyelesaikan ucapannya, sebuah buku tiba-tiba dipukulkan tepat di tengah-tengah tempurung kepalanya itu.
“Apa yang dilakukan oleh anak yang bukan klub di sini. Sana minggir.” Ternyata pelakunya adalah seorang pria paruh baya yang terlihat berkelas, namun dengan tampang menyeramkan.
“Pelatih?” Ujar Areka dengan ekspresi yang sangat patut dikasihani.
“Sana, sana. Kamu pergi sana. Kamu bukan lagi anggota klub, jadi buat apa kamu kemari.”
“Baik, pelatih.” Dengan tertunduk kecewa, Areka menuruti perkataan mantan pelatihnya itu lantas meninggalkan area klub.
“Kalau begitu, aku permisi juga.” Egi segera hendak menyusul Areka.
“Hei, Anak Muda. Siapa namamu?” Namun Egi terhenti sesaat oleh pertanyaan pelatih tersebut.
“Egi, Pak.” Jawab Egi pelan dengan cara bicara yang sopan tak seperti biasanya, tampak jelas mencoba menjaga citranya di hadapan calon pelatihnya itu.
“Egi ya. Nak Egi, kamu berencana ingin mendaftar ke klub e-sport kami?”
“Rencananya begitu, Pak.”
“Kalau begitu bagus.” Seraya mengatakan itu, Pak Syarifuddin, pelatih klub e-sport SMA Pelita Harapan itu, melambaikan tangannya sebagai isyarat bahwa Egi telah boleh pergi dari hadapannya sekarang.
Egi pun pergi, dan kini pandangan sang pelatih yang tajam itu tertuju pada pemuda mungil yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Gluk.” Tanpa sadar Luca menelan ludahnya. Padahal selama ini dia telah menghadapi intimidasi dari berbagai jenis monster selama hidup di Gardenia, tetapi entah mengapa, jauh dibandingkan dengan para monster itu, pelatih yang berdiri di hadapan Luca saat ini lebih menakutkan.