
Suara riuh seperti besi-besi bertumbukan dapat terdengar jelas dari luar pintu ruangan. Mendengar itu, Yudishar masuk ke dalam ruangan dan mendapati rupanya suara itu berasal dari komputer latihan di mana Areka terduduk di depannya. Dia melihat ke dalam layar dan rupanya Areka tengah dalam petandingan virtualnya melawan doppelganger Luca.
Dia dapat dengan jelas melihat sekali lagi kekalahan Areka yang memalukan pada layar.
“Ukh, padahal di ronde ke-18 aku sudah berhasil mengalahkan data anak itu sekali, tetapi mengapa aku kalah lagi dua kali berturut-turut padahal aku sudah mempelajari datanya berkali-kali.” Keluh Areka kesal sambil menghempaskan bando penghubung kesadaran virtualnya.
“Bukankah kau berlatih terlalu keras belakangan ini, Areka?” Yudishar yang khawatir akan sifat workaholic temannya itu lantas menasihatinya. Akan tetapi, Areka hanya menghela nafas panjang. “Itu sudah wajar kan melihat bagaimana reaksi penonton kemarin. Jika aku tidak berusaha keras, maka aku tidak akan memenuhi ekspektasi semuanya dan hanya akan berakhir diejek seperti kemarin.”
“Itu, mereka semua tidak tahu saja karena belum pernah merasakannya secara langsung, tetapi kami semua sebagai pemain e-sport tahu kok, Areka, ini semua bukan karena kau yang lemah, tapi karena Luca saja yang terlalu hebat!”
“Tidak, kau salah, Yudishar. Andai saja kemampuanku bisa lebih baik, maka pastinya aku lebih bisa memperlihatkan potensi Luca kepada semua orang. Orang-orang pastinya akan lebih cenderung menceritakan kehebatan Luca daripada kekalahanku. Namun aku masih terlalu lemah. Aku sama sekali tidak bisa mengimbangi kecepatan gerak Luca yang luar biasa. Akulah yang telah menutup kesempatan potensi Luca bisa disaksikan oleh semua orang.”
“Areka…” Ujar Yudishar sembari menatap wajah Areka dengan simpati.
“Kamu tidak perlu menatapku dengan wajah kasihan seperti itu. Bukannya aku sedih atau bagaimana. Justru keberadaan Luca membuatku tersadar bahwa kemampuanku memanglah belum seberapa sehingga aku harus terus berlatih untuk meningkatkannya. Terima kasih berkat Luca, aku sedikit mengerti tentang poin-poin lemahku yang harus kuperbaiki.”
Yudishar akhirnya tersenyum setelah mendapati bahwa ternyata api semangat sahabatnya itu memanglah belum redup.
“Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana dengan Luca?” Tanya Areka kembali pada Yudishar.
“Ah, kudengar pelatih meminta untuk bertemu dengannya hari ini di klub.”
“Begitukah? Aku harap Luca tidak akan berbuat sesuatu yang buruk yang membuat anak-anak lain di klub akan merundungnya.”
“Eih, kamu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, Areka. Mana mungkin anak baik seperti Luca berbuat sesuatu yang membuat orang marah di pertemuan pertama mereka.”
Namun faktanya, apa yang dianggap tidak mungkin oleh Yudishar itulah yang kini telah terjadi.
__ADS_1
Nama: LUCA (Lv 10)
Pekerjaan: Assassin [apprentice] --> Fighter [temporary]
Di arena telah bersiap di sudut kiri ada Luca,
Nama: PSYTHOLETH (Lv 33)
Pekerjaan: Fighter
Dan di sudut kanan ada Inggar.
Satu keunggulan di saat pemain belum membuka kunci kedua level mereka di level 10, yakni mereka masih bisa dengan bebas mengganti job mereka untuk sementara tanpa penalti penurunan level sebagai ajang uji coba perkenalan job-job lain sebelum memastikan dengan yakin apakah job yang mereka pilih saat ini adalah telah yang terbaik untuk mereka geluti sampai akhir permainan.
Dan di sinilah Luca sesuai janjinya, bertarung melawan Inggar dengan sementara waktu mengganti jobnya menjadi fighter.
Yurika, Robby, dan Danang, seorang lagi yang berpipi chubby di antara mereka, bertindak sebagai wasit pertandingan.
Adu tinju seketika terjadi di antara Inggar dan Luca. Di luar dugaan, justru Inggar yang memang berspesialisasi di job fighter-lah yang justru terpukul mundur oleh seseorang yang aslinya berasal dari kelas assassin dengan stat strength yang rendah.
“Apa? Mengapa aku kalah dalam adu kekuatan?” Ujar Inggar tak percaya.
Wajar dia tak percaya hal barusan karena walaupun seorang pemain mengganti sementara job di masa apprentice-nya, stat-nya tetap akan mengikuti stat job aslinya. Stat tidaklah semata-mata terkait dengan nilai saja, tetapi juga dengan kelas.
Semisal assassin dengan stat strength 40 barulah seimbang kekuatannya dengan seorang fighter berstat strength 10. Begitu pula sebaliknya, seorang fighter membutuhkan setidaknya stat agility 20 baru akan bisa menyeimbangi kelincahan seorang assassin berstat agility 10.
Begitulah, tiap kelas dalam vrmmorpg dirancang dengan keunikan stat-nya masing-masing. Tetapi tampak itu tak berlaku bagi Luca. Dia yang saat ini hanya memiliki strength sebesar 16, mampu mengalahkan sang fighter Inggar dalam adu kekuatan yang saat ini memiliki stat strength hampir tiga kali lipat dari besar punya Luca.
__ADS_1
“Kamu?! Dasar sial!” Inggar mengumpat tampak kehilangan ketenangannya. Namun, belum sempat dia memperbaiki ancang-ancangnya kembali, dengan kegesitan yang luar biasa Luca itu, dia mendekat ke Inggar hanya dalam waktu beberapa milisekon lantas menghantam Inggar yang tanpa pertahanan itu hingga terpental keluar arena.
Kemenangan mutlak diraih oleh Luca.
“Apa ini? Mengapa kamu bisa memiliki kekuatan tinju sekuat itu?! Bukankah kamu bilang tadi bahwa kelasmu itu assassin?!” Inggar tak dapat menahan rasa frustasinya.
“Iya, benar seperti itu kok, Senior. Senior kan bisa lihat sendiri.” Ujar Luca sembari menunjuk papan status untuk dilihat pemain lain yang ada di atas kepalanya.
“Lalu mengapa aku bisa kalah saat adu kekuatan denganmu?! Kamu bukannya seperti Lia yang menggunakan aliran mana di tinjumu.”
“Hmm.” Luca tampak berpikir sebelum menjelaskan.
“Ada yang namanya pemusatan kekuatan di mana kita memfokuskan seluruh tenaga kita hanya di satu titik tubuh kita sehingga akan memberikan impak yang lebih besar sehingga walaupun dengan tenaga yang lebih lemah, kita bisa mengalahkan lawan yang sangat jauh lebih kuat di atas kita. Tentu saja seperti yang kukatakan tadi, ini semua diperoleh dari latihan.”
“Apa?” Inggar spontan berujar karena bingung dengan penjelasan Luca.
“Apa yang mau aku katakan, Senior. Stat di game itu hanya sekadar angka saja. Tentu saja semakin tinggi nilainya akan mencerminkan bahwa pemain semakin kuat. Tetapi itu bukan segalanya. Bagaiamana pun juga, pengalaman bertarunglah yang paling diperlukan.”
Inggar tak lagi dapat berkata apa-apa. Dia baru saja mengakui bahwa newbie di hadapannya itu memang bukan orang sembarangan. Kekuatan bertarung yang selama ini dibangga-banggakannya, tiada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya. Dia kini berhasil mengalahkan rekor Areka sebagai lawan tercepat yang dikalahkan oleh Luca dalam waktu kurang dari 3 detik saja.
“Bagaimana dengan Senior yang lain? Siapa lagi yang ingin menantangku selanjutnya?” Luca lanjut berujar sembari memandangi ketiga senior yang tadinya menjadi juri.
Tampak semuanya menggelengkan tangan atau kepala mereka sebagai isyarat tolakan. Mereka semua telah ciut duluan di hadapan kekuatan overpower sang newbie.
Namun, tiada satu pun di antara mereka yang tahu bahwa sang newbie melakukan semua itu lantasan rasa amarah sesaatnya di saat dia mendengar Lia dihina. Yah, tentu saja sewaktu Yurika mengatakan itu, dia tidak serius mengatakannya. Dia hanya sekadar berujar sebagai ekspresi inferioritasnya akan keberadaan sosok cleric yang jauh lebih hebat di atasnya dengan umur yang jauh lebih muda darinya.
Setelah Luca menyadari bahwa para seniornya akhirnya paham bahwa nilai stat tidak semata-mata menunjukkan hebatnya seorang pemain, Luca pun tersenyum puas.
__ADS_1
“Hei, Adik Junior, bagaimana jika selanjutnya melawanku?”
Di luar dugaan, masih ada ternyata di antara para senior yang belum surut tekadnya mengalahkan Luca setelah menyaksikan pertarungan overpower-nya barusan. Dia adalah Rena, seorang tamer dari tim cadangan di klub e-sport sekolah Luca, sekolah Pelita Harapan.