
Lia menegang. Bukan karena sebentar lagi adalah pelaksanaan babak semifinal ajang kompetisi e-sport profesional tingkat nasional yang sangat bergengsi itu, melainkan karena hari ini adalah hari yang spesial bagi dirinya. Luca, orang terkasihnya, akan menonton pertandingannya dari kursi terdepan barisan penonton.
Perasaan campur aduk antara tegang dan eksitasi dirasakan oleh Lia. Dia baru pertama kali merasakan perasaan itu yakni perasaan ketika orang terkasihnya mendukung hobinya. Satu hal, Lia tidak merasa bahwa itu adalah hal yang buruk. Dengan tersenyum, Lia melangkah ke podium bersama anggota tim lainnya.
“Lia, kamu sudah perhatikan baik-baik hasil analisis tim lawan kan?” Asario tiba-tiba bertanya kepada Lia begitu Lia akan melangkah masuk podium.
“Ya. Alpen Sky dan Gold Tree tidak ada apa-apanya. Yang jadi masalah adalah lawan pertama yang akan kita hadapi, Tim Lucifer. Duo swordsmen yang sangat berbakat dengan kombinasi kerjasama yang sangat brilian. Seorang shielder yang dikabarkan tak pernah tertembus lawan kecuali oleh alchemist sang peringkat 1 pada rekornya selama ini.”
“Ditambah fighter yang jeli menjaga sang mage dan sang mage tipe cahaya sendiri yang bisa sihir pemulihan dan meningkatkan buff pemain layaknya kelas cleric tetapi plus memiliki sihir penyerang yang sangat kuat. Sungguh yang diharapkan dari tim peringkat 2 tahun lalu.”
Asario hanya diam mendengarkan ucapan Lia itu tampak tidak senang. Melihat ekspresi sang kapten tim yang kusut itu, Lia pun tersenyum seraya melanjutkan ucapannya, “Tenang saja kok, Kapten. Aku dan Mark pasti akan berhasil menembus fighter lawan dan mengeliminasi mage-nya dengan segera.”
Keempat tim berjalan ke tengah podium sesuai dengan tempat yang telah disediakan lantas mengenakan bando penghubung kesadaran virtual mereka masing-masing. Pertandingan semifinal pertama pun dimulai.
Di sisi ruang virtual A, kedua tim, Tim Lucifer dan Tim Silver Hero langsung saling berlari memperdekat jarak mereka satu sama lain begitu tanda babak semifinal putaran pertama dimulai.
Dialah Medina, sang tamer Silver Hero yang pertama kali menyerang dengan mengendalikan 4 dari kedelapan serigala peraknya untuk menggoyahkan sang shielder lawan.
Hal ini segera direspon oleh majunya sang duo swordsmen lawan menghadapi serangan keempat beast itu. Dua tambahan beast serigala perak masing-masing dari arah kiri dan kanan menyerang masing-masing sang duo swordsmen. Bersamaan dengan itu, Asario maju menerjang duo swordsmen dengan pedang besar berwarna platinumnya yang indah itu.
Para serigala perak dengan cepat dihempaskan, lantas duo swordsmen dengan kombinasi yang indah secara bersamaan menyerang Asario.
Walaupun Asario dikepung oleh dua lawan, serangan pedangnya kuat sehingga mendorong mundur pedang lawan. Mengambil kesempatan, Glen, sang mage, turut menyerang sang duo swordsmen tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi sang shielder pun maju menangkis serangan itu dengan menyerahkan dua ekor beast yang tersisa di belakang pada rekan fighternya.
Melihat keadaan menyulitkan sang fighter, sang mage lawan berhenti sejenak memberikan sihir buff lantas mengeluarkan serangan tembakan cahaya. Dua beast dari Tim Silver Hero berhasil dieliminasi dari pertarungan.
Akan tetapi, mereka melupakan sesuatu. Dua sosok dari Tim Silver Hero telah menghilang. Sang assassin Mark telah menunggu selama ini di belakang bagi sang mage melemahkan defensifnya, dan
“Slash!” Di luar dugaan mereka semua, satu ultimate skill dari seorang assassin berspek strength lemah itu telah cukup membuat sang mage menderita damage yang fatal.
Sang fighter ingin mundur ke belakang untuk menyelamatkan rekannya, akan tetapi Lia telah menunggunya dengan tinjuan dan tendangan tanpa skill aktif. Mengapa Lia tidak memakai skill adalah karena dia memusatkan skill-nya itu pada buff Mark. Itu pulalah yang menyebabkan satu serangan dari Mark telah mampu memberikan damage fatal yang akhirnya mengeliminasi sang mage dari arena.
Kemenangan pertama ternyata diraih oleh Mark atas sang mage lawan tanpa sang mage sempat mengeluarkan ultimate skill-nya yang begitu diagung-agungkan dan ditunggu-tunggu oleh penonton selama ini.
Serangan Lia adalah serangan tanpa skill dari seorang kelas cleric. Otomatis serangan itu tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan sang fighter lawan, tetapi itu telah cukup untuk menyita waktu sang lawan di saat Mark mengeliminasi sang mage.
Pertandingan berlanjut antara dua lawan satu, adu tinju antara sang cleric Lia dan sang fighter lawan dengan dukungan sang assassin Mark di sekitarnya. Dengan adanya Mark, sang fighter tidak dapat memfokuskan perhatiannya seratus persen kepada Lia. Hal itulah yang menyebabkan Lia dapat mengimbangi sang fighter sementara dengan tinjunya yang diperkuat oleh latihan dan bukan oleh skill.
Sang shielder ingin ikut membantu, akan tetapi sang mage dari Silver Hero itu, Glen, telah menyiapkan ancang-ancangnya kapan saja sang shielder dari Tim Lucifer itu lengah.
Di luar dugaan, Lia bertarung dengan tinjunya yang kali ini dia tidak perkuat dengan sihir, namun apa yang menjadi fokusnya ada di tempat lain. Dia segera mengaktifkan skill buff gerak cepat-nya terfokus pada Asario yang membuat Asario seketika bergerak cepat memotong leher kedua swordsmen.
Duo swordsmen yang tidak sempat mengantisipasi serangan itu karena terlalu berfokus pada serangan di depan sehingga tidak memperhatikan gerakan Lia di belakang, akhirnya harus menelan pahit kekalahan.
Tereliminasinya 3 anggota dari pemenang kedua turnamen tahun lalu itu yang hanya dalam waktu singkat lantas membuat penonton bertambah riuh atas perkembangan yang tak terduga ini. Tim yang diharapkan memenangkan babak semifinal putaran pertama ini justru menjadi tim yang mengalami kekurangan anggota terbanyak sampai saat ini.
__ADS_1
Tersisa sang shielder dan sang fighter lawan. Lia dan Medina segera mundur jauh di belakang untuk menyimpan stamina mereka karena masih tersisa satu tim lawan yang mungkin akan segera langsung mereka hadapi siapapun tim pemenang di ruang virtual B tersebut.
Asario pun maju menyerang shielder yang dikatakan terkuat se-Indonesia itu. Perisai besar dan pedang besar bertubrukan berkali-kali menimbulkan bunyi harmoni statis yang seakan memberikan nuansa gladiator abad pertengahan. Suara logam dan logam bertumbukan terdengar untuk sesaat.
“”Samadi, menghindar!” Didi, sang shielder lawan segera berteriak begitu mendapati Glen akan mengeluarkan ultimate skill-nya. Fokusnya masih tajam melihat situasi.
Namun, bola api besar terlanjur ditembakkan menghantam mereka, tetapi untungnya kedua pemain tersisa dari Tim Lucifer itu dapat selamat berkat gerak cepat mereka beberapa milisekon.
Akan tetapi, Didi akhirnya lengah. Dia melupakan keberadaan seorang pemain yang siap mengintai di belakang.
“Slash.” Dengan ultimate skill yang sudah lewat masa cooldown itu, Mark mendapatkan mangsa keduanya.
“Cih! Di mana-mana memang assassin itu hanya pecundang. Beraninya hanya menyerang di belakang dengan kekuatannya yang lemah itu.” Seraya Didi mengucapkan kalimat itu, dia pun menjadi orang yang keempat tereleminasi dari timnya.
Di bangku penonton, tampak jelas wajah kesal Luca di kala Didi mengatakan kalimat itu.
Mark-lah yang telah menghabisi Didi, sang shielder terbaik se-Indonesia itu, tetapi tentu saja itu semua juga berkat kombinasi serangan Asarion dan Glen yang membuat shielder terbaik se-Indonesia itu kehilangan ketenangannya di saat-saat terakhir dengan memfokuskan perisainya untuk pendaratan sehingga lengah akan gerak cepat sang assassin Mark yang juga diperkuat oleh buff Lia datang ke arahnya sembari menebas lehernya.
Sisa Samadi, sang fighter, yang tersisa di timnya. Dia berharap setidaknya walaupun timnya itu kalah, timnya minimal mampu mengalahkan satu lawan agar tidak sampai mendarat di posisi terakhir di antara delapan besar lantaran mendapatkan nol poin karena tidak bisa mengalahkan tim lawan mereka satu pun.
Jika demikian, itu pastinya akan menjadi kekalahan yang sangat memalukan bagi mantan peraih juara 2 kompetisi e-sport profesional tahun lalu itu.
Sang fighter, Samadi, pun berlari mengincar Mark yang telah kehilangan keseimbangan untuk sementara pasca impak serangannya terhadap Didi, sang shielder.
__ADS_1
Namun, harapannya itu pun dikhianati. Dengan tubuh swordsmennya yang seharusnya hanya memiliki agility di peringkat B, Asario mampu bergerak selincah assassin, dengan cepat telah berada di hadapan Samadi lantas menusuk tubuhnya dari samping kemudian mengangkat tubuh virtualnya yang telah tak bergerak itu tinggi-tinggi seolah menandakan kemenangannya sebelum sempat Samadi menyentuh sehelai rambut pun dari Mark.
Pertarungan di ruang virtual A pun berakhir dengan kemenangan mutlak Tim Silver Hero tanpa ada satu pun dari anggota mereka yang tereliminasi. Di barisan penonton, Luca menyaksikan akhir pertandingan di ruang virtual A itu dengan kagum.