The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
165. Skill Bertahan dengan Menyerang


__ADS_3

Siang itu, aku mendapatkan telepon yang tidak disangka-sangka.


Sang penelopon adalah Bu Pelatih dari Klub Silver Hero yang secara mendadak menawariku partner latih tanding yang bagus yang katanya akan lebih hebat lagi dari Senior Asario.


Mendengar itu, tentu saja aku langsung tergiur dan tanpa pikir panjang segera menuju ke sana.


Siapa sangka bahwa orang yang dimaksud Bu Pelatih Riska Angela adalah dirinya sendiri.


“Mengapa? Apa kamu tidak puas dengan Ibu sebagai lawan latih tandingmu?”


“Tidak, bukan begitu, Bu Pelatih.”


Tentu saja aku ragu perihal seorang pelatih tetaplah seorang pelatih yang hanya fokus memperhatikan perkembangan fisik dan skill para anak didikannya. Fisik dan skill mereka sendiri telah memudar, lama terkubur dimakan usia. Justru tidak sopan kalau aku harus melawan pemain yang telah lama memensiunkan diri mereka sendiri itu dari dunia e-sport vrmmorpg.


Tetapi di situlah Lia berbicara,


“Apa aku belum memberitahumu ya, Luca, bahwa aku adalah anak didikan langsung dari mantan battle healer legendaris Angel?”


“Ya, itu rasanya aku pernah mendengarnya dari Kak Yurika.”


“Beliau inilah sang pelatih Angel yang sekarang juga masih mempertahankan peringkat lima-nya sebagai pemain terbaik di The Last Gardenia.”


Seketika aku terkesiap. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa wanita jangkung nan rapuh yang sama sekali tidak memancarkan aura berbahaya di hadapanku ini adalah juga seorang pemain yang sehebat itu.


Mengetahui hal itu, aku tidak ragu-ragu lagi dalam menerima tantangannya.


Namun ketika ronde pertama dimulai, aku bisa langsung merasakan perbedaan gap yang besar di antara kami. Sayangnya, Bu Riska Angela-lah yang jauh di atas.


Permainannya begitu cantik. Dia lembut dalam menyerang menggunakan kepalan tinjunya yang terkesan lemah itu. Namun, tidak seperti tampakannya, tiap tinjuannya itu bisa mendatangkan instant kill.


Hanya dalam sekali hempasan, tanah di sekitar ambruk seketika tersapu oleh tinjuan itu.


Bukan hanya itu saja yang membuat keadaan bagiku memburuk, wanita dewasa di hadapanku ini sama sekali tidak memiliki celah.


Sekarang aku telah percaya bahwa dia adalah guru Lia. Jelas jurus mereka sama bagaikan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tetapi tentu saja, sang guru di hadapanku ini, sangat jauh lebih hebat lagi dari Lia.


Untuk bertahan saja, aku begitu kewalahan.

__ADS_1


“Dengar, Luca. Pertahanan terbaik itu adalah dengan serangan. Terlebih kelasmu itu assassin. Kamu pikir seberapa tenaga assassin dalam bertahan, hah?! Kamu pikir dirimu itu seorang shielder sehingga berada dalam posisi defensif begitu?!”


Seketika aku tersadar oleh perkataan Bu Riska Angela itu. Aku sejak lama telah kalah di kala aku memilih untuk bertahan. Seharusnya aku terus menyerang saja. Dengan demikian, kemungkinan menang akan jauh lebih tinggi.


Dan demikianlah, aku dikalahkan oleh Bu Pelatih Riska Angela di ronde pertama.


Kami sejenak keluar ke dunia nyata lantas aku berupaya mengobrol bersama Beliau.


“Mengapa Bu Pelatih bersedia repot-repot meluangkan waktu Bu Pelatih yang berharga hanya demi menemaniku latih tanding?”


“Kan sudah kubilang sebelumnya, bahwa aku tertarik denganmu yang berhasil menarik perhatian murid favoritku, tidak hanya satu, bahkan kedua-duanya.”


“Ah, Lia dan Senior Asario.”


Terhadap ucapanku itu, Bu Riska Angela tampak mengangguk pelan.


“Keduanya pada dasarnya mirip. Mereka adalah tipe pemain yang egois yang hanya memikirkan diri sendiri untuk berkembang. Berbeda dengan Asario yang menunjukkannya dengan latihan keras, Lia justru menunjukkannya dengan perbuatan seenak hati yang dia lakukan kapan dan di mana pun dia suka tanpa dia mau ada yang melarangnya. Tetapi pada dasarnya mereka berdua sama. Mereka tidak akan pernah tertarik dengan orang lain, kecuali orang itu spesial.”


“Jadi, aku orang spesial itu, Bu Pelatih.”


Bu Riska Angela pun tersenyum kecut pada ucapanku itu. Dia pun melanjutkan,


Seketika Bu Riska Angela yang sedari tadi pandangannya ke depan, menoleh ke arahku.


“Apakah Luca sudah ada kepikiran buat gabung ke klub profesional? Walau tidak mungkin mendaftarkanmu sebagai siswa utuh di SMA Yayasan Eden Cabang Indonesia, kamu bisa menjadi siswa khusus sebagai ajudan Lia. Kebetulan Lia masih punya satu, yakni Andra. Tiap-tiap anak dari status tinggi bisa mengajukan sebanyak dua ajudan. Dengan mendaftar di sekolah itu, aku bisa segera merekomendasikanmu untuk bergabung bersama Klub Silver Hero kami.”


Namun, terhadap pernyataan Bu Riska Angela itu, aku telah lama memutuskan untuk menolak karena niatku takkan goyah lagi.


“Mungkin bergabung dengan tim di sini yang telah menjuarai turnamen e-sport vrmmorpg tingkat internasional adalah tawaran yang menggiurkan. Tetapi sudah ada Kak Mark di tim ini. Keberadaanku tidak lagi diperlukan. Aku butuh tim di mana keberadaanku dibutuhkan dan aku telah memutuskan tim itu.”


“Tim mana?” Dengan rasa penasaran, Bu Riska Angela pun bertanya.


“Klub White Star.”


Setelah mendengar jawaban mantap dari lisanku itu, Bu Riska Angela tampak manut-manut. Dia awalnya terlihat kecewa, namun sesaat kemudian senyum cerah kembali bersinar di wajahnya.


“Yah, aku sebenarnya ingin memilikimu. Tetapi sebagai lawan, kamu tidak buruk juga. Keberadaanmu akan meningkatkan potensi para anak didikku. Tetapi, Luca… mengapa kamu malah memilih Klub White Star? Klub itu kan sekarang…”

__ADS_1


Terlihat Bu Riska Angela ragu di tengah perkataannya sehingga segera menghentikan ucapannya itu.


Melihat ekspresiku yang kosong karena tak tahu maksud ucapannya itu, Bu Riska Angela segera mengerti lantas melanjutkan kembali ucapannya, tetapi tampaknya bukan ucapan yang awalnya ingin dikatakannya.


“Yah, Klub White Star juga bukanlah klub yang buruk. Di sana juga ada pemain berbakat seperti Malik dan Brian. Aku juga jauh dari lubuk hatiku yang terdalam berharap agar mereka bisa segera menyelesaikan masalah internal mereka.”


Tampaknya ada sesuatu masalah yang saat ini terjadi di Klub White Star. Namun, aku yang bahkan belum menjadi siapa-siapa mereka, jangankan ikut campur, menanyakannya secara langsung saja pastinya akan dinilai tidak sopan.


Namun, apapun itu masalahnya, seperti yang Bu Riska Angela katakan barusan, agar kiranya dapat mereka atasi dengan baik.


Tetapi untuk jaga-jaga, nanti aku coba cari tahu saja lewat Kak Kirana.


Waktu istirahat usai dan latih tanding di ronde kedua pun dimulai. Berkat latih tanding bersama Bu Riska Angela, aku lebih memahami konsep bertahan dengan menyerang yang tentu saja sangat bermanfaat bagiku yang seorang assassin ini yang memiliki defensif sangat lemah.


Ada beberapa trik yang aku tiru dari Beliau tentang bagaimana mengarahkan senjata lawan ke titik hindar sembari menyerang memanfaatkan titik buta serta penguncian gerakan lawan.


Hari itu, setelah tiga ronde, aku memutuskan untuk mengakhiri latih tanding itu karena juga mempertimbangkan stamina Bu Riska Angela yang sudah berada di usia tengah tiga puluh-an-nya itu. Walau berusaha dia tutupi, tetapi terlihat dia sudah sangat ngos-ngosan.


Aku suka dengan semangat Beliau, tetapi aku tidak ingin Beliau memaksakan diri. Jadi aku pun beralasan bahwa ada kegiatan yang mendesak hari ini sehingga tidak bisa lagi melanjutkan latih tandingnya.


Walaupun aku memang ada kegiatan usai ini, yakni pelatihan bareng Kak Silvia, tetapi itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang mendesak sekarang sehingga jika saja stamina Bu Riska Angela terlihat baik, mungkin aku akan tetap tinggal di tempat ini untuk melanjutkan latih tanding bersama Beliau.


Latih tanding pun berakhir dengan skor 3 – 0. Tentu saja itu kekalahan telak buatku. Rupanya sosok veteran tingkat tinggi seperti Bu Riska Angela masih sangat jauh dari jangkauanku.


Masih banyak yang perlu aku pelajari lagi di dunia ini karena masih banyak pemain di luar sana yang jauh lebih tangguh dariku, termasuk wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku saat ini.


Tetapi untuk saat ini, aku telah puas belajar skill bertahan dengan menyerang dari Beliau.


Aku pun hendak pulang kala itu, tetapi secara tiba-tiba, Bu Riska Angela kembali menyapaku lagi.


“Apa kamu juga sering latih tanding dengan Syarifuddin, Luca?”


“Tidak, mengapa Bu Pelatih? Apa Beliau juga orang yang hebat?”


“Apa yang kamu katakan? Dia itu mantan tanker nomor satu di tim Ibu dulu, sang tanker tak tertembus, SIN. Kamu melihat sendiri rangkingnya di The Last Gardenia kan? Dia masih bertahan sampai saat ini di peringkat 4 tepat di atas Ibu. Selain 3 murid jenius dari Amerika itu, tiada lagi yang dapat mengalahkan skor game Syarifuddin.”


Secara tiba-tiba, satu lagi informasi mengejutkan harus dicerna oleh otakku. Tak kusangka bahwa guru yang lisannya tak lepas dari angka-angka itu setiap kali mengajar di kelas adalah juga seorang mantan pemain profesional berprestasi cemerlang di bidang e-sport vrmmorpg.

__ADS_1


Pantas saja Pak Kepsek sangat merekomendasikan Beliau sebagai pelatih klub kami, meskipun keputusannya itu sangat ditentang oleh sang guru BK galak yang sangat dekat dengan Pak Kepsek.


Entah mengapa tiba-tiba muncul niat di hatiku, betapa aku menginginkan latih tanding bersama Beliau.


__ADS_2