The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
223. Monster yang Paling Tidak Disenangi Luca


__ADS_3

“Ck.”


Tanpa sadar, aku mendecakkan lidahku. Bagaimana tidak. Lawan yang berikutnya muncul adalah tipe monster yang paling tidak cocok dengan assassin.


Klan raksasa.


Tipe monster yang memiliki strength yang luar biasa ditambah oleh kulit mereka yang sangat keras. Betapapun aku memikirkannya, di level tubuh avatarku yang sekarang ini, aku tak dapat mengalahkan mereka dalam waktu yang singkat.


Jika saja ini adalah pertarungan yang mengabaikan soal waktu, aku tentu takkan mungkin sepanik ini. Namun, kali ini berbeda. Jika seandainya kedelapan tim peserta kompetisi mampu menyelesaikan ketiga-tiga quest-nya, maka keempat tim di antara delapan yang akan terpilih adalah tim yang mampu menyelesaikan quest dengan waktu yang tersingkat.


Ingin rasanya aku bertukar dengan tubuh nyataku. Mungkin terdengar lucu, tetapi tubuh nyataku jauh lebih kuat daripada tubuh avatarku perihal pada awalnya aku memanglah berasal dari dunia dalam game itu. Yah, mungkin jika kalian mengistilahkannya, keberadaan sepertiku banyak disebut sebagai NPC oleh kalangan manusia di dunia ini.


Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memaksimalkan keunggulanku saja untuk mengalahkan lawan dalam ranah kemampuanku dan menyerahkan sisanya kepada anggota timku yang lain?


Butuh bagiku untuk menggorok sampai tiga kali ke bagian yang sama di bagian kulit terlunak monster itu untuk mampu memberikan serangan yang fatal. Terlebih lagi jika itu di bagian yang lebih keras, mungkin butuh bagiku sepuluh atau dua puluh kali irisan. Apa boleh buat, sejak assassin di dalam game memang dirancang memiliki strength yang inferior dibandingkan dengan class swordsman sebagai bayaran agility mereka yang gesit.


Namun, rupanya kekhawatiranku itu adalah suatu hal yang tidak perlu.


Begitu aku menyadari, tahu-tahu Kak Malik sudah melayangkan aura es-nya dan langsung membekukan 5 ekor monster klan raksasa yang dilanjutkan oleh jurus api luar biasa oleh Kak Brian.


Kombinasi serangan Kak Malik dan Kak Brian yang memanfaatkan perbedaan suhu drastis dengan cepat meretakkan kulit monster klan raksasa yang keras itu lantas menghancurkan tubuhnya yang seketika menghilangkan mereka dari arena.


Tidak hanya mereka saja. Walau serangannya lebih lambat dari serangan kombinasi Kak Malik dan Kak Brian, Senior Areka mampu melubangi tubuh monster klan raksasa yang sangat keras itu melalui bantuan roh perisainya, Lutfi.


Aku kemudian bertemu tatapan mata dengan Egi. Kami berdua pun saling mengangguk. Walau dengan tanpa kata-kata, hati kami seakan selaras untuk mengisyaratkan tentang apa yang harus kami lakukan selanjutnya.


Serangan kami berdua jauh kurang efektif dibandingkan dengan Senior Areka dan duo Kak Malik dan Kak Brian sehingga daripada berfokus mengalahkan monster di mana kami hanya bisa mengalahkan sedikit, kami berdua pun memutuskan untuk berperan sebagai support untuk mengefisienkan jalannya pertarungan agar waktu penyelesaian quest kami dapat lebih singkat.


Egi berfokus untuk memanah bagian kaki para monster klan raksasa itu untuk menghambat laju pergerakan mereka. Begitu pula aku. Aku bergerak melukai urat nadi di pergelangan kaki para monster di mana aku sanggup untuk melakukannya dalam kecepatan 4 monster perdetiknya.

__ADS_1


Walau luka itu tidaklah dalam karena aku memprioritaskan kecepatan, hal itu telah sangat cukup untuk menghambat laju pergerakan para monster.


Sisanya, kini aku serahkan kepada ketiga senior hebat itu dalam mengeksekusi serangan ultimate-nya demi mengeliminasi para monster.


Inilah yang namanya kerjasama tim. Tidak selamanya aku harus berada dalam posisi yang menonjol sebagai penyerang utama. Sebagai anggota tim yang baik, aku harus menyesuaikan peranku di tempat di mana itu paling dibutuhkan oleh tim.


Oh iya, kalau mengingat peran dasar seorang assassin di aturan party standar berdasarkan baik dari buku pedoman Kak Derickson maupun dari buku pedoman Kak Nina, assassin memanglah pada awalnya merupakan support penyerang belakang. Saking selalu bersemangatnya aku dalam menyerang, hingga tanpa sadar selalu menonjolkan diri, aku sampai lupa akan fakta itu.


Kalau Paman Heisel sampai tahu hal ini, dia pasti akan segera memarahiku lagi perihal aku selalu melupakan prinsip seorang assassin untuk tidak menonjolkan diri dalam pertarungan. Yah apa boleh buat, perihal semenjak aku mengenal tubuh avatar di dalam game itu, pertarungan jadi terasa menyenangkan buatku. Bagaimana tidak, soalnya jika kita tewas di dalam game, kita tidak akan tewas dalam artian sebenarnya.


Banzai buat tubuh abadi!


Melupakan pembicaraan yang tidak penting itu, aku sebenarnya yakin-yakin saja bisa mengalahkan para monster itu jika diminta. Hanya saja, sebagai assassin dengan keterbatasan strength, mungkin waktu yang dibutuhkannya akan agak lama. Dengan berperan sebagai support yang menghambat pergerakan lawan sehingga tim pembasmi dapat lebih mudah dalam menjalankan perannya, aku bisa membantu formasi tim menjadi lebih efisien.


40 menit 35 detik 11 milisekon, tim kami, Tim White Star mampu menyelesaikan quest castle defense tanpa ada masalah. Bukan waktu yang singkat, tetapi aku rasa itu sudah merupakan jumlah waktu yang cukup baik mengingat quest-nya tidaklah mudah.


Kini sisa menyamakan skor dengan tim lain saja. Betapa aku harap-harap cemas, berharap bahwa dengan skor itu, kami dapat menjadi yang terbaik.


Sebagai tim peringkat delapan sekaligus yang gugur paling pertama, rupanya itu adalah Klub Golden Tree yang hanya bisa menyelesaikan quest pertama saja dan gugur di quest kedua.


Setelah melihat komposisi pemain mereka yang tidak memiliki assassin sepertiku atau minimal swordsman bertalenta yang mampu bergerak cepat, aku pikir itu wajar saja mereka kalah perihal kunci untuk menyelesaikan quest kedua ini adalah menyingkirkan terlebih dahulu goblin shaman yang menyebabkan serangan sihir jarak jauh menjadi tidak efektif.


Bisa saja jika pemain menyerang mereka dengan panah fisik atau maju secara langsung dengan pedang atau tombak, akan tetapi jumlah monster yang banyak serta kemampuan regenerasi mereka yang luar biasa cepat yang hanya akan bangkit kembali sesekarat apapun keadaannya, mutlak itu hanya akan menghabiskan stamina pemain saja yang lambat laun keadaan akan segera berbalik begitu stamina sang pemain habis.


Di peringkat ketujuh, rupanya ada Klub Alpen Sky. Sama halnya dengan Klub Golden Tree, mereka berhasil menyelesaikan quest pertama tanpa masalah, tetapi gugur di quest kedua-nya. Mungkin alasannya sama, ketiadaan assassin atau swordsman beragility hebat.


Inilah lemahnya pemikiran para e-sport vrmmorpg mania Indonesia di era sekarang ini yang terlalu memandang rendah keberadaan kelas assassin di tim yang dikatakan hanya mampu bersembunyi sembari menyerang dari belakang. Akan tetapi ketika tertangkap basah, mereka tidak ada apa-apanya dan dengan mudah dihabisi.


Itu tentu tidak salah. Akan tetapi dalam kerjasama tim, keberadaan mereka tentu diperlukan terutama untuk mengeliminasi anggota lawan yang bertanggung jawab sebagai support yang biasanya lemah, tetapi kehadirannya akan meningkatkan kemampuan lawan lain menjadi berkali-kali lipat berkat kemampuan buff mereka.

__ADS_1


Tiada yang mampu dengan mudahnya menembus pertahanan belakang musuh selain dari kelas assassin.


Yah, tentu saja aku adalah pengecualian karena walaupun kelasku assassin, aku mampu untuk bertarung satu lawan satu dengan seorang swordsman lantas mengalahkannya. Ujung-ujungnya semuanya kembali kepada bakat alami dan sejauh apa perjuangan kita untuk berlatih meningkatkan batasan fisik kita.


Lanjut di peringkat keenam, ternyata itu adalah Klub Joker Hitam, tempat di mana Viandra bernaung.


Klub Joker Hitam mampu menyelesaikan quest pertama dan kedua, sayangnya, mereka terhambat di quest ketiga.


Untuk menyelesaikan quest ketiga, dibutuhkan pengalih perhatian yang baik atau mungkin tameng yang mampu menahan serangan klan raksasa yang super dahsyat itu di samping keberadaan pemain, mungkin dari kelas mage atau swordsman, yang mampu memberikan serangan fatal penghabisan yang mampu menembus kulit super keras dari sang monster klan raksasa.


Setelah menelisik ke pemain Klub Joker Hitam, tampak tidak ada anggota yang memenuhi semua syarat formasi itu. Semuanya hanyalah penyerang kelas menengah, termasuk Viandra, yang walaupun tinjuannya itu adalah sesuatu, tetapi itu tentu saja tidak cukup memberikan efek luka fatal pada monster klan raksasa yang ber-vitality tinggi. Sementara itu, rekan shielder mereka pun tampak belum terlalu terampil. Wajar saja jika mereka tereliminasi di quest ketiga.


Suasana pun semakin tegang perihal tersisa lima klub di podium dan hanya akan ada 4 tempat untuk memasuki babak semifinal.


Di luar dugaan, kini MC justru mengumumkan dari peringkat atas.


Peringkat 1: Klub Silver Hero, jumlah pemain bertahan \= 5, waktu 30 menit 5 detik 87 milisekon


Peringkat 2: Klub White Star, jumlah pemain bertahan \= 5, waktu 40 menit 35 detik 11 milisekon


Peringkat 3: Klub Clock Tower, jumlah pemain bertahan \= 5, waktu 41 menit 59 detik 97 milisekon


Nasib kami pun ditentukan. Kami berhasil melaju ke babak semifinal yang sayangnya hanya berada di peringkat kedua, terpaut selisih waktu yang cukup jauh dari Klub Silver Hero, sang peraih juara satu tahun lalu tersebut.


Satu-satunya perbedaan kami adalah keberadaan pemain pemberi buff mereka, sang cleric Lia. Dengan adanya pemberi buff, stamina dan kekuatan pemain tentunya akan meningkat berkali-kali lipat.


Apakah keputusanku tadi untuk masih menyembunyikan keberadaan Aura sampai saat ini keliru ya? Kurasa tidak, perihal terbukti kami masih mampu lolos ke babak selanjutnya walau tanpa buff itu.


Dengan demikian, kini tersisa dua tim yang masih harus menunggu keputusannya.

__ADS_1


Satunya adalah Klub Lucifer sang klub tua yang didirikan pada tahun-tahun awal dimulainya kompetisi e-sport vrmmorpg sama dengan klub kami.


Sedangkan satunya lagi adalah Klub Shadow Park, klub peraih juara satu sebanyak 7 kali, tetapi sayangnya di tahun lalu harus puas sebagai klub peringkat dua setelah dikalahkan oleh Silver Hero.


__ADS_2