
Tim Lucifer dan Shadow Park. Keduanya tidak salah lagi adalah tim tangguh yang sampai dua tahun lalu masih selalu memperebutkan posisi peringkat satu dan dua di kompetisi. Kini, mereka justru harus memperebutkan satu tempat tersisa di semifinal pelaksanaan kompetisi tersebut.
Di Shadow Park, ada Kak Krimson. Sang alchemist ahli racun yang merupakan murid langsung dari Profesor Crevon de Lowrence, NPC terhebat di bidang penelitian racun yang juga merupakan kepala sekolah Akademi Sihir Negeri Nostalgia sekaligus salah satu di antara delapan kursi pemimpin Negeri tersebut.
Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan Tim Lucifer, satu di antara tiga tim pendahulu kompetisi e-sport vrmmorpg selain Tim White Star dan Circle Tower. Walaupun klub tersebut telah dilemahkan sejak dicurinya duo swordsman hebat mereka oleh Tim Clock Tower, mereka masih mempunyai shielder hebat, yakni player Didi.
Semuanya belum pasti. Kedua klub bisa saja menang, tetapi bisa juga kalah. Akan tetapi, kompetisi yang bertemakan castle defense tentu saja pastinya akan lebih menguntungkan Tim Lucifer ketimbang Tim Shadow Park yang walaupun keempat pemain lain mereka tangguh, pemain shielder mereka sendiri masih di tingkat menengah.
Lalu, hasil kedua tim pun ditampilkan di layar.
\=\=
Klub Lucifer, jumlah pemain bertahan \= 2, waktu penyelesaian 48 menit 14 detik 21 milisekon
Klub Shadow Park, jumlah pemain bertahan \= 5, waktu penyelesaian 51 menit 0 detik 77 milisekon
\=\=\=
Tim Lucifer menang dari segi waktu penyelesaian, akan tetapi Tim Shadow Park-lah yang keseluruhan anggotanya mampu bertahan sampai akhir. Dan ketika perolehan skor dijumlahkan…
Tim Shadow Park rupanya menang tipis dari Tim Lucifer.
Dengan demikian, ditetapkanlah bahwa peraih posisi keempat yang turut melaju ke babak semifinal adalah Klub Shadow Park.
***
Hari demi hari berganti dan aku terus melatih diriku demi persiapan kompetisi di babak semifinal. Jika semuanya berjalan dengan lancar dan kami dapat lolos ke babak final, sudah dipastikan bahwa kami-lah satu di antara dua tim yang akan mewakili Indonesia ke pertandingan tingkat internasional.
Lawan kami selanjutnya di babak semifinal telah ditetapkan yakni Klub Clock Tower. Klub licik yang menjadi penyebab kemerosotan klub-klub perintis vrmmorpg termasuk klub kami. Satu-satunya klub yang tidak bisa aku maafkan.
Lalu, hari kompetisi pun tiba. Kompetisi dilaksanakan dengan tema survival.
Para pemain akan dikirimkan ke lokasi acak ke dalam arena seluas 25 kilometer persegi di mana segala device komunikasi dibatasi. Mendengar itu, betapa aku senang bahwa ini adalah keuntungan bagi tim kami, sejak dengan kemampuan Aura yang disamarkan sebagai kemampuanku, aku bisa tetap berkomunikasi dengan yang lain walaupun tanpa device dengan telepati.
\=\=\=
Klub White Star
Malik (swordsman)
Brian (mage)
Luca (assassin)
Areka (shielder)
Egi (archer)
Vs
__ADS_1
Klub Clock Tower
Alvian (swordsman)
Hari (swordsman)
Danu (swordsman)
Hermanto (shielder)
Alika (cleric)
\=\=\=
Dengan aba-aba dari MC pertandingan, kami pun mulai ditransfer ke area acak, lantas kompetisi dimulai.
***
Secara kebetulan, Egi dan Areka tersummon ke arena yang berdekatan. Luca lalu mengarahkan mereka untuk bertemu duluan.
“Senior Areka.”
“Yo, Egi.”
“Bagaimana, Senior Areka. Apa Senior percaya diri bisa menang?”
“Hahahahahaha. Bagaimana newbie seperti kita ini bisa sepercaya diri itu, Egi. Kita lakukan yang terbaik saja agar tidak mengecewakan Luca dan yang lain.”
“Hahahahaha. Benar juga. Mengapa bocah itu sangat terobsesi dengan kompetisi dan menang ya.”
“Hahahahaha.”
Demikianlah obrolan ngalor-ngidul di antara senior dan junior itu berlangsung untuk sesaat.
Akan tetapi tiba-tiba saja sebuah cahaya datang dengan kecepatan yang sangat cepat lantas menyambar mereka. Sayangnya, Areka terlambat bertahan. Untungnya, dia masih dapat menyelamatkan dirinya itu di detik-detik terakhir. Namun, Egi terkena serangan itu secara telak.
“Egi!”
“Hah? Inikah pemain shielder yang menggantikan posisiku di Tim White Star? Wah, benar-benar lemah!”
“Itu memang karena mereka lemah, Kak. Tetapi lebih daripada itu, Kakaklah yang terlalu hebat sehingga takkan mungkin ada shielder lain yang bisa menggantikan posisi Kakak.”
“Hahahahahaha. Itu benar juga, Alika. Tapi yah, mengapa sampai sekarang si Didi itu masih saja dijuluki shielder paling berbakat. Harusnya aku kan yang dijuluki seperti itu.”
“Mereka telah kalah di babak delapan besar. Pastinya tidak lama lagi, dengan famor Klub Clock Tower, Kakak akan bisa menggantikan posisi player Didi itu dengan segera, Kak.”
“Hmm. Kamu benar juga. Rupanya keputusanku untuk keluar dari klub sampah itu memang tepat. Aku hanya akan membusuk menjadi sampah layaknya mereka jika terus bertahan di klub. Lihatlah anggota baru mereka, bahkan sama sekali tidak layak.”
Mendengarkan celotehan yang memprovokasi dari kedua orang itu, Areka tak sanggup lagi untuk menahan kesabarannya. Dia pun berteriak, “Kalian siapa?!”
“Oh iya, waktu pertandingan klub kita waktu itu, kedua orang ini belum ada di tim ya, rupanya. Perkenalkan, aku Hermanto, seseorang yang kelak akan dijuluki sebagai shielder paling berbakat.”
__ADS_1
“Dan namaku, Alika, kekasih setia Kak Hermanto.” Dengan sigap sang wanita cleric di samping player Hermanto itu turut memperkenalkan dirinya.
Mata Hermanto memelintir aneh atas ucapan Alika itu seakan hendak mengoreksinya, namun pada akhirnya dia biarkan saja wanita pengikutnya itu memperoleh kesenangannya sendiri dengan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya.
“Jadi begitu rupanya, kalianlah para pengkhianat itu.”
Sesuai perkataan Areka, merekalah dua di antara ketiga pengkhianat yang kabur dengan membocorkan informasi rahasia dari Klub White Star ke klub Clock Tower setelah diiming-imingi prestige yang menggiurkan, Hermanto sang shielder serta Alika sang cleric.
“Jangan salah paham. Aku hanya mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Jika saja Klub White Star dapat membantuku mengembangkan karir-ku, maka aku takkan mungkin mengkhianati mereka dan mengibaskan ekorku ke Klub Clock Tower. Lihat saja tahun lalu, dengan bodohnya klub itu tersingkir di babak penyisihan oleh klub baru.”
“Bukannya kamu juga salah satu pemain yang menyumbang kekalahan di tim saat itu?! Kamu dikalahkan dengan mudah oleh assassin dari Tim Silver Hero itu. Lagian, kalau mau keluar, keluar saja. Tetapi ngapain kamu juga turut membocorkan rahasia tim kepada mereka?!”
“Shut!”
Hermanto tiba-tiba saja bergerak cepat dengan perisainya, menghantam Areka. Akan tetapi, Areka mampu bertahan dengan baik dengan perisainya pula walau agak terhempas sedikit ke belakang.
“Aku kalah karena kesalahan strategi pelatihnya yang ampas! Aku ini player yang hebat. Jika diarahkan dengan tepat, pasti aku akan sanggup mengalahkan mereka! Dan soal mencuri data itu, apa boleh buat perihal itu syarat dari klub agar aku bisa bergabung.”
“Hmm. Kamu dan klubmu itu sama-sama bejatnya.”
“Trang, trang, trang.”
Pertarungan adu perisai pun terjadi di antara kedua shielder itu, sang mantan vs pendatang baru dari Klub White Star. Sayangnya, Areka-lah yang terpojok sejak sang shielder lawan memiliki keuntungan buff dari cleric yang bersamanya.
“Lihatlah betapa lemahnya dirimu. Rekanmu saja tidak dapat kamu lindungi.”
Terlihat di dekat pertarungan itu, sosok Egi yang menggeliat-geliat. Tampak walau terkena serangan tadi, walau terluka fatal, Egi tetap mampu bertahan di arena.
“Trang, trang, trang.”
Hermanto menyerang, akan tetapi Areka lebih memilih untuk menangkisnya alih-alih menghindar perihal dia sedang berupaya melindungi Egi yang ada di belakangnya.
“Kamu berniat melindungi rekan setim-mu yang sudah terluka parah seperti itu? Buat apa? Bukannya dia masih bisa bertarung dan membalikkan keadaan lagi. Tidakkah lebih efisien bagimu untuk meninggalkannya saja agar kamu bisa lebih memfokuskan seranganmu pada musuh?”
“Itu…”
Sejenak, Areka pun dibuat ragu oleh perkataan Hermanto itu. Logikanya jelas sependapat dengan pendapat yang diutarakan oleh Hermanto tersebut, sejak ini hanyalah game yang jika Egi game over, bukan berarti sesuatu yang buruk akan terjadi pada tubuh aslinya.
“Hahahahahaha. Kamu rupanya juga memikirkan itu ya. Hanya segini saja rupanya kesetiakawanan dari klub sampah itu. Hahahahaha. Benar, tinggalkan saja rekan yang terluka yang tidak ada lagi gunanya. Tetapi jika begitu, kamu… tidak jauh bedanya denganku, hanya shielder picik yang berupaya mencari peluang terbaik. Kamu pun pasti mendaftar ke klub sampah itu karena tidak ada piihan lain, bukan?”
Tentu saja apa yang dikatakan oleh Hermanto itu keliru sejak banyak tawaran yang datang dari klub papan atas lain yang menawari Areka untuk bergabung bersama mereka, termasuk Klub Clock Tower sendiri. Hanya saja, sang senior Luca itu memantapkan hatinya sendiri untuk bergabung di klub di mana Luca turut bergabung.
Jelas Areka bukan sampah seperti yang dikatakan oleh Hermanto. Dia walaupun pemarah dan terkadang agak mengesalkan, namun dia adalah tipe pemain yang selalu memperhatikan keadaan rekan-rekannya dan tanpa pamrih akan membantunya.
Tetapi mendengar hinaan Hermanto yang seperti itu, ada seakan sesuatu yang mengganjal yang dirasakan di batin Areka seolah Hermanto telah menyentuh bagian tersensitif dari diri Areka itu. Betapa Areka tidak dapat menahan rasa amarahnya lagi. Bukan kepada Hermanto, melainkan pada dirinya sendiri yang sempat berpikir untuk meninggalkan rekannya yang terluka tersebut.
“Ujung-ujungnya, aku hanyalah tipe sampah yang sama denganmu ya. Hahahaha. Kurasa itu tepat juga.”
Areka tertawa, tetapi pandangan matanya kosong.
__ADS_1