The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
184. Arti Kerjasama Tim, Sosok Senior Seorang Areka


__ADS_3

“Kak Silvia!!! Kak Agnes!!!”


Aku berteriak putus asa mencari keberadaan Kak Silvia dan Kak Agnes yang tiba-tiba saja menghilang di kala kami sementara harus menghadapi ratusan living armor.


“Itu percuma kamu berteriak, Luca. Tampaknya mereka telah dibawa ke tempat lain.”


Aku seketika panik. Aku sama sekali tidak menduga situasi seperti ini akan terjadi. Hal itu ditambah ketika aku mengingat kembali pemberitahuan sistem tentang begitu bahayanya tempat ini karena luka yang dialami di sini kemungkinan bisa tertransfer ke tubuh fisik kami di dunia nyata.


‘Aura? Aura, apa kamu bisa mendengarku?’


Aku segera berkomunikasi dengan Aura lewat telepati sebagai jaga-jaga. Jika akan ada masalah di tempat ini, aku bisa segera membawa Senior Areka pergi bersamaku melalui skill instant change-ku bersama Aura.


Namun, di situlah aku tersadar bahwa sejak tadi, komunikasiku dengan Aura juga telah terputus. Tidak hanya itu saja. Bahkan sistem pun tidak lagi menunjukkan tanda-tanda keberadaannya sejak suara itu muncul, seperti bahwa waktu itu sendiri telah dibekukan di dalam dungeon ini.


“Luca? Luca, tenanglah. Panik tidak akan membantu kita sama sekali.”


“Aku tidak panik, Senior! Tapi…”


Perkataan Senior Areka tiba-tiba membuyarkanku dalam lamunanku. Aku berusaha menyembunyikannya, tapi memang seperti apa yang dikatakan oleh Senior Areka, aku tak dapat menutupi kepanikanku betapa pun aku menyangkal itu.


“Justru sikap seperti itu yang kumaksud, Luca. Sudah kubilang, tenanglah terlebih dahulu. Aku juga paham bagaimana bahayanya situasi kita saat ini perihal peringatan sistem itu. Tetapi bagaimana pun kita harus tetap tenang perihal dengan berpikir tenanglah, kita bisa menemukan solusi terhadap masalah dengan lebih mudah.”


Seketika perkataan Senior Areka itu menyadarkanku. Benar katanya bahwa panik sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah.


“Mungkin selama kita menelusuri area dungeon lebih dalam, kita akan bertemu kembali dengan mereka. Bukankah mereka player yang kuat? Mereka takkan semudah itu untuk kalah. Malahan daripada mengkhawatirkan mereka, kita harus lebih khawatir pada diri kita sendiri saat ini. Bagaimana kita akan sanggup menghadapi ratusan living-living armor ini.”


’Daripada mereka, aku lebih mengkhawatirkan Senior.’ Tapi kuputuskan untuk tidak mengucapkan pikiranku itu.


Aku tidak buang-buang waktu lagi dan segera menggunakan skill pasif berpikir cepat-ku untuk menemukan solusi terhadap masalah yang sedang kami hadapi itu.


“Ck. Tidak ada pilihan lain kalau begitu. Apa Senior Areka bisa sihir?”


“Tidak.”


Namun aku hanya bisa mendesah dalam hati. Bagaimana kami akan bisa keluar dari situasi yang berbahaya ini? Ada ratusan living armor yang menyerang sedangkan tak satu pun dari kami yang ahli sihir.


Dengan berat hati, aku pun mengutarakan solusi satu-satunya yang bisa aku pikirkan, “Kalau begitu, masalah penyerangan specter, serahkan saja padaku, Senior. Senior Areka bertugas untuk mengunci pergerakan living armor-nya.”

__ADS_1


“Apa kamu bisa sihir, Luca?”


“Tidak sehebat itu, tapi kalau hanya sebatas menembakkan aura, aku sudah cukup belajar dari Senior Asario.”


“Senior Asario dari Tim Silver Hero? Kapan kalian dekat?”


“Tidak usah perhatikan detailnya. Mohon kerjasamanya saja, Senior.”


“Oke. Baiklah, Luca. Serahkan masalah living armornya padaku.”


Demikianlah akhirnya kerjasama putus asa dalam menghadapi ratusan living armor yang dirasuki specter antara aku dan Senior Areka dimulai.


Dengan perisainya, Senior Areka membentur living armor lantas mengunci pergerakannya untuk sesaat. Aku yang telah mensummon kembali senjata sabit bulan-ku setelah sekian lama tidak pernah kupakai lagi, mulai menembakkan aura-ku melalui ujung sabit bulan.


Seketika tebasan aura-ku mengenai dengan akurat tubuh astral tiap specter yang ditahan oleh Senior Areka. Specter yang dikalahkan pun menjadi sumber tenaga sabit bulan-ku untuk digunakan menyerang specter yang lain. Begitulah siklus terus berjalan di mana dengan itu, aku bisa menghemat mana-ku ke taraf minimal yang memang hanya bisa kutarik sedikit untuk saat ini dari sungai mana di dalam tubuhku perihal kemampuanku yang masih awam.


Kami berjuang setengah putus asa, namun tetap dengan penuh semangat, menghabisi satu-persatu monster-monster living armor tersebut. Dimulai dari satu, berlanjut dua, sepuluh, lima puluh, seratus, dan seterusnya hingga tanpa sadar living armor di dungeon itu hampir terkalahkan semuanya.


Sama sekali tak kusangka bahwa aku dan Senior Areka akan mampu bertahan sejauh itu. Atau inikah barangkali yang disebut sebagai tenaga terpendam dari orang yang terdesak kematian?


Setelah beberapa saat, semua living armor yang dirasuki specter pun menghilang. Semuanya telah berhasil kami kalahkan.


“Bagus! Sangat luar biasa! Sesuai yang diharapkan dari sang pemegang kunci pilihan Master Lacoza. Sekarang tugas kalian, berjalanlah terus ke arah kanan sampai kalian mendapati anak tangga kembali untuk turun. Telusurilah anak tangga itu untuk sampai pada ujian yang selanjutnya.”


“Kamu pikir kami akan menuruti perkataanmu begitu saja?! Siapa kamu sebenarnya, hah?!” Aku berteriak marah kepada sosok angkuh yang terlihat sedang puas memainkan perasaan kami itu.


“Itu tentu saja terserah kalian. Tetapi apa kalian tidak khawatir terhadap nasib kedua player rekan kalian yang lain? Tentu saja kamu sudah tahu bahwa luka yang kalian alami selama berada di dungeon ini bisa tersalurkan ke tubuh nyata kalian sampai pada taraf tertentu.”


“Kamu!”


“Tenanglah, Luca. Jangan biarkan amarah menguasai rasionalitas kamu. Untuk saat ini, mari kita ikuti saja perkataannya.”


Jika bukan karena Senior Areka yang menghentikan langkahku, mungkin aku sudah akan meledak di tempat itu. Aku paling membenci tindakan pengecut yang bahkan tega menjadikan orang lain sebagai sandera demi menggapai tujuannya.


Karena tidak ada pilihan lain, kami pun menyusuri jalan sesuai dengan yang diarahkan oleh suara misterius itu. Ketika kami mendapati tangga untuk turun, kami lantas menuruninya. Kami lanjut berjalan hingga pada akhirnya kami sampai pada ujung ruangan.


Di situ, aku bisa melihat sebuah altar besar di tengah ruangan.

__ADS_1


Namun, ketika aku menoleh ke atas, betapa kagetnya aku karena mendapati sosok Kak Silvia dan Kak Agnes yang tengah terantai tidak berdaya dengan mulut dibekap berada di dalam suatu kurungan yang terbuat dari logam yang sangat kuat, bahkan melebihi kerasnya logam mythril, logam adamantium.


“Kak Silvia! Kak Agnes! Kalian baik-baik saja?!”


Tentu saja mereka tak dapat menjawab perihal mulut mereka yang dibekap. Mereka hanya menunjukkan ekspresi yang seakan mengatakan ‘tidak usah mengkhawatirkan kami, cukup khawatirkan diri kalian saja dulu’.


Begitu aku hendak mencoba melepaskan Kak Silvia dan Kak Agnes dari dalam kurungan, dari altar itu pun keluar empat ekor monster raksasa dengan ukuran dua kali tinggi manusia normal.


Itu rupanya adalah minotaur. Namun setelah kuperhatikan lagi dengan seksama, rupanya aku kurang tepat. Itu memang minotaur, tetapi tepatnya itu hanyalah zombie-nya, minotaur zombie.


‘Mengapa lagi-lagi yang keluar monster zombie?!!!’


Aku hanya dapat berteriak secara internal dalam hati. Seakan dikutuk oleh necromancer, monster yang sejauh ini selalu kuhadapi tak lepas dari monster bertipe kematian, atau kadang-kadang yang bertipe kegelapan yang mirip-mirip dengan monster bertipe kematian tersebut.


Masih mending jika lawanku adalah monster bertipe kegelapan karena walau menjijikkan, mengalahkan mereka tetap dapat meningkatkan level. Namun berbeda dengan monster bertipe kematian, sudah menjijikkan, monster itu pun sama sekali tidak bisa digunakan untuk menaikkan level.


Yah, tentu saja untuk poin experience masih ada. Tetapi apa gunanya poin experience bagiku itu sekarang ketika saat ini levelku benar-benar telah mentok dengan poin experience yang full? Mendapatkan poin experience lagi hanya akan terbuang sia-sia.


Betapa aku sangat kecewa. Jika diibaratkan, ini seperti Tante Judith menghidangkan aku makanan berbau daging panggang harum dengan sajian berwarna coklat khas daging sapi yang lezat, tetapi ketika kukunyah makanan itu, itu rupanya hanyalah tempe yang diolah menyerupai bentuk daging.


Tetapi mau tidak mau, kami harus melewati tantangan ini.


“Senior Areka akan mengatasi dua minotaur zombie di sebelah kiri, sementara aku akan menghadapi dua sisanya di kanan. Walaupun minotaur zombie itu berlevel 78, bagaimana pun dia adalah zombie sehingga estimasi kekuatannya palingan hanya setengahnya di level 39. Kita sama-sama berada level 48 sehingga seharusnya tidak akan sulit untuk menghadapinya.”


“Apa yang kamu katakan, Luca? Kita adalah party. Kita seharusnya bekerjasama. Aku akan menahan pergerakan minotaurnya seperti ketika menghadapi living armor tadi. Kamu yang akan mengeksekusi serangan terakhirnya.”


“Tetapi aku akan lebih nyaman bergerak sendiri mengalahkan musuh. Aku bukan seorang swordsman soalnya, tetapi assassin yang punya skill stealth dengan agility yang cepat.”


“Walau begitu, staminamu akan cepat terkuras jika terus-terusan bergerak liar seperti itu. Kita masih perlu untuk menyimpan banyak stamina karena kita belum tahu sampai kapan quest ini akan berakhir. Sekali-kali, percayalah seniormu. Aku ini juga termasuk senior yang bisa Luca andalkan.”


Setelah kupikir-pikir perkataan Senior Areka ada benarnya juga. Malahan, aku seketika tersadar betapa egoisnya aku di dalam pertarungan. Aku bukannya selalu tidak mampu bekerja sama dengan baik di tim, hanya saja aku cenderung bergerak sendiri walau di dalam tim.


Aku dengan cepat mampu menyesuaikan pergerakan dengan tim dadakan dalam suatu quest dadakan yang tiba-tiba kuterima, tetapi itu hanya sekadar untuk tidak menganggu pergerakan satu sama lain. Bagaikan bagaimana mempertahankan n+n di matematika dengan mencegah munculnya faktor pengurang yang tidak perlu ketimbang aku berpikir untuk menjadikannya nxn walaupun sebagai akibatnya akan muncul sedikit defisit dari faktor pengurang efisiensi.


Yah, aku egois. Itu sebabnya pula aku lebih sering bergerak sendiri dalam menyelesaikan misi atau jika memang diperlukan membentuk party, aku hanya akan selalu bersama Kak Keporin.


Jika tidak dibutuhkan hal mendesak untuk membentuk party di saat keadaan genting, maka aku takkan pernah meminta orang lain duluan untuk membentuk party denganku.

__ADS_1


Oleh karena itu, perkataan Senior Areka bagaikan menamparku karena betapa kurangnya aku dalam memahami arti pentingnya kerjasama tim itu.


__ADS_2