The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
97. Leo vs Antonio, Hasil Akhir Pertandingan


__ADS_3

Krein akhirnya kembali ke kesadarannya dan melepaskan bando penghubung kesadaran dunia virtualnya. Begitu dia keluar, apa yang menunggunya adalah…


“Yo, MVP kita sudah tiba.”


“Selamat!”


“Selamat, Kak Krein!”


Tentu saja perayaan dari anggota-anggota setimnya. Berkat Krein yang berhasil mengumpulkan 4 poin tambahan, timnya sudah dipastikan akan melaju ke babak selanjutnya walaupun bukan sebagai tim yang bertahan paling akhir.


Krein bangga akan hal itu. Namun, begitu dia melirik kepada juniornya, Krimson, perasaannya sedikit ambigu.


“Ah, bocah ini pasti merasa sangat bersalah lagi!”


Dia pun menghampirinya lantas mengusap rambutnya yang setajam paku itu.


“Yo, Krimson!”


Melihat sapaan dari senior tertua keduanya itu, Krimson pun menoleh kepadanya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kak Krein, maaf Kak. Aku tidak bisa memenuhi tugasku di tim. Aku jadi malah menjadi beban yang lain di tim.”


Namun sebelum Krein sempat menghibur bocah itu, Ferdi-lah sebagai yang tertua di antara mereka yang duluan menghiburnya.


“Apa yang kamu katakan, Krimson? Berkat keahlianmu yang unik, kita bisa sampai sejauh ini. Tentu saja tidak selamanya kamu akan menjadi penyelamat di tim. Maka percayalah pada rekan se-tim-mu juga.”


Mendengar jawaban dari seniornya itu, Krein tersenyum. Dia lantas menatap lembut ke arah junior imutnya itu.


“Berkat kamu, aku punya keberanian untuk berjuang lebih keras karena aku yakin ada adik juniorku yang perkasa yang dapat meneruskan perjuangan itu di babak selanjutnya. Jadi, ayo semangat, berjuang sampai akhir! Perjalanan kita belum berhenti sampai di sini.”


“Hmm.” Krimson hanya merespon dengan deheman dan anggukan pelan atas ucapan Krein itu seraya memanyunkan mulutnya ke depan. Ekspresi gilanya seperti biasa tampak menghilang dari dirinya kala itu.


Akan tetapi berkat dukungan anggota timnya, Krimson akhirnya bertekad untuk tidak patah semangat dan maju sekali lagi.


“Ternyata benar, aku sangat mengagumi juniorku yang satu ini.” Gumam Krein dalam hatinya.


“Mari berjuang keras untuk pertandingan selanjutnya, para senior, Dik Archer!”


“Hmm. Tentu saja.”


“Ya, ayo berjuang!” Krein pun mengikuti respon Ferdi terhadap pernyataan penuh tekad dari juniornya itu, sementara dua lainnya hanya mengangguk pelan dengan senyuman.


***


Suasana tempat duduk penonton pun semakin meriah. Pertarungan mendekati babak akhir, antara Leo dari Tim Max Squeeze melawan Antonio dari Tim Bougha. Yang lebih menarik adalah siapapun yang kalah pada pertarungan itu, dipastikan tak dapat lagi menyaingi skor Tim Shadow Park dalam hal poin korban sehingga dipastikan akan tersingkir dari ajang bergengsi e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu.


Kedua pemain secara bersama-sama bergerak dengan kecepatan yang di luar batas indera manusia dapat melihatnya. Hal itu menyebabkan penonton kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi di area pertarungan. Baik Leo maupun Antonio telah berada di ranah tingkatan spiritual yang berbeda.

__ADS_1


Tetapi ini tentu saja tidak berlaku untuk sesama pemilik energi spiritual seperti Luca, Luca mampu menyaksikan pertarungan mereka dengan jelas di saat para penonton yang lain hanya bisa melihat pepohonan roboh dengan sendirinya disertai oleh suara tembakan.


***


“Ini pertama kalinya aku harus melawan tikus sialan sampai seserius ini. Kamu tampaknya bukan tikus sembarangan.”


“Seperti yang diharapkan dari bangsa Viking, bahasa kalian selalu saja kasar. Tapi yah, itu tidak masalah bagiku. Apa juga gunanya berdebat omong kosong dari orang barbar yang tak tahu etika.”


“Kamu tikus sialan!”


Mendengar Leo merespon ucapannya dengan ejekan, Antonio bertambah marah lantas meningkatkan intensitas serangannya. Tubuhnya bertambah merah seakan seluruh urat syarafnya akan meledak.


“Puak puak puak puak.” Antonio berusaha melayangkan tinjunya ke arah Leo, tetapi Leo selalu sigap menghindarinya sehingga apa yang dikenai oleh tinju maut itu hanyalah udara kosong saja, atau kalau tidak, para pohon yang tidak bersalah.


Yang lebih membuatnya kesal adalah Leo memanfaatkan situasi di sekeliling yang penuh dengan pepohonan sebagai keuntungan perlindungannya sembari menembakkan alat yang disebut pistol itu yang walau ukurannya lebih kecil dari ukuran senjata kedua rekannya yang lain, tapi bongkah logam yang keluar lewat moncongnya, entah mengapa terasa lebih sakit jika terkena di kulitnya.


Tetapi tentu saja, tetap bahkan pelurunya itu tidak dapat sedikit pun melukai kulit Antonio yang keras.


“Bagaimana kalau kau diam sekali saja dan menerima tinjuku? Jangan bilang kau takut? Kau kan seorang pria seharusnya berani menerima adu tinjuan. Jangan hanya bertindak pengecut menggunakan pistol seperti orang lemah.”


Antonio pun dengan setengah bercanda mengucapkannya karena terlalu kesal dengan kelincahan tikus itu.


“Eh, apa untungnya aku menerima itu? Apa kau akan mau memberikan kesempatan padaku memukulmu secara gratis sebanyak tiga kali lebih dulu atau sesuatu, seperti legenda para Viking yang terkenal itu?”


Antonio tiba-tiba menghentikan pengejarannya kepada Leo, “Oho, jadi rupanya kamu tahu juga legenda itu.” Antonio terlihat senang melihat ada orang Amerika yang mengetahui legenda yang berasal dari suku nenek moyangnya.


Dia pun dengan bangga berujar, “Baiklah, kamu boleh menghajarku tiga kali, tetapi sebagai gantinya, aku akan menghajarmu sekali setelah itu. Bagaimana dengan itu?” Ujar Antonio dengan senyum licik di wajahnya, berpikir bahwa apa yang bisa dilakukan oleh makhluk berbadan kecil itu, memukul batu bata saja, pasti membuat tangannya kesakitan.


“Baiklah kalau begitu. Aku mulai pukulan pertama ya.” Ujar Leo dengan santai sembari benar-benar mengayunkan tangan kosongnya yang tanpa senjata ke arah wajah Antonio.


Tetapi di luar dugaan Antonio, naluri bertahan hidupnya bekerja. Dia entah mengapa ketakutan dan menghindari tinju itu.


“Puaaaaaaakh! Baaaang bam bam!”


Matanya seketika membelalak tak percaya.


Dia pada akhirnya bersyukur mempercayai nalurinya itu dengan menghindari serangan itu setelah melihat tanah retak dengan cekungan lubang yang sangat dalam.


Akan tetapi, dengan demikian, Antonio-lah yang justru menelan ludahnya sendiri di hadapan ribuan penonton. Alhasil, justru dirinya-lah yang kini dicerca oleh ribuan penonton.


“Eh, bukannya kamu tadi bilang akan menerima secara gratis tiga tinjuanku? Baru tinjuan pertama saja, kamu sudah menghindar? Di mana harga diri yang katanya dimiliki oleh setiap Viking yang takkan melanggar sumpah pertarungannya?” Leo mengejek.


Akan tetapi, sang Viking hanya dapat mengumpat dalam hati, “Itu karena aku hanya keturunan nenek moyang bangsa Viking, anak sialan! Lagipula tubuh ini hanya karakter game-ku saja. Di dunia nyata, aku juga hanyalah pelajar biasa!”


Antonio mengabaikan ejekan itu dengan malu lantas melanjutkan saja pertempurannya dengan Leo itu dengan menahan rasa malunya dalam suasana diam seribu bahasa.


Pertempuran adu ketahanan antara senjata dan tinjuan pun terjadi untuk waktu yang lama sampai-sampai membuat bosan penonton.

__ADS_1


Namun demikian, senyum licik di wajah Antonio nampak lagi.


“Kena kau, anak sialan!” Gumamnya dalam hati.


Rupanya sedari tadi, Antonio tidak kehilangan fokusnya. Dia sengaja memperhatikan peta di papan game-nya lalu dengan sengaja memukul mundur Leo untuk bergerak ke daerah bebatuan tanpa pohon besar sedikit pun di dekat area itu.


“Kau memakai otak juga ya rupanya, manusia barbar. Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kamu berpikir bisa menangkapku dengan tidak adanya pohon di sekitar?” Leo tidak mengendorkan provokasinya sedikit pun di situasi yang tidak menguntungkan sama sekali fisiknya yang lebih lemah itu.


Akan tetapi, keanehan pun terjadi. Leo sempat bingung mengapa tiba-tiba manusia barbar yang berapi-api ini tidak beraksi sedikit pun pada ejekannya.


Di situlah Leo baru sadar bahwa ada yang salah pada tubuh Antonio.


Urat-urat syarafnya menggeliat seakan tubuhnya akan meledak.


Rupanya, dalam seiring berjalannya waktu, tubuhnya tidak kuat lagi menahan efek kebangkitannya dan Antonio pun terluka secara internal. Apalagi hujaman peluru Leo yang tidak bisa dihindarinya seratus persen, walau segera terbakar oleh efek panas tubuhnya, efeknya masih tersisa untuk dirasakannya memperburuk efek sampingnya itu.


“Ukh.”


Melihat penurunan drastis aliran energi spiritual di tubuh Antonio, tanpa melewatkan kesempatan itu, Leo segera bersalto. Namun kali ini bukan peluru yang dilayangkannya kepada Antonio, melainkan kakinya.


Sebuah sepakan tajam diarahkan Leo tepat mengenai ubun-ubun kepala sebelah kanan milik sang Viking. Sebuah sepakan yang bermomentum yang justru jauh lebih hebat dari peluru-peluru yang ditembakkannya.


Tengkorak itu pun retak.


Retakan pada akhirnya menjalar ke bagian bawah tubuhnya, diperparah oleh efek panas kebangkitannya. Bagai balon yang tak dapat lagi menampung seluruh tumpukan udara yang ada di dalamnya yang tiba-tiba meluas lalu tiba-tiba ditusuk jarum, tubuh Antonio pun meledak, memercikkan darah panas yang menjijikkan.


Antonio gameover.


Pertandingan dimenangkan oleh Leo dari Tim Max Squeeze.


Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa Tim Max Squeeze-lah yang akan mendampingi Tim Shadow Park sebagai tim yang bertahan paling akhir ke putaran babak selanjutnya.


Melihat hasil pertandingan yang spektakuler itu, para penonton pun bertepuk tangan dengan meriah.


\=\=\=


Hasil pertandingan akhir ruang virtual B sesi kedua



Max Squeeze, jumlah korban \= 5, jumlah pemain tersisa \= 1 (lolos ke babak selanjutnya sebagai tim yang bertahan paling akhir)


Shadow Park, jumlah korban \= 7, jumlah pemain tersisa \= 0 (lolos ke babak selanjutnya sebagai tim dengan perolehan jumlah korban terbanyak)


Bougha, jumlah korban \= 6, jumlah pemain tersisa \= 0 (gugur)


Almbolescence, jumlah korban \= 1, jumlah pemain tersisa \= 0 (gugur)

__ADS_1


\=\=\=



__ADS_2