
Semua penonton memiliki raut wajah terdistorsi. Tampak semuanya tersentak kaget perihal seorang assassin yang mereka tonton dari balik layar dunia virtual itu telah men-summon sebuah pedang.
Seorang assassin pengguna pedang adalah suatu kelangkaan atau bahkan belum pernah terjadi di sepanjang sejarah vrmmorpg Indonesia. Walaupun pedang itu ukurannya tidaklah terlalu besar, tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa seorang assassin telah menggunakan pedang, terlebih karakter dari pedang itu adalah pedang suci tipe cahaya, sangat bertolak belakang dengan image seorang assassin yang menyatu pada kegelapan bayangan.
‘Skill: tikaman penghakiman’
Luca, sang assassin pun mengeluarkan ultimate skill-nya. Dengan sekali tusukan, perisai sang shielder SMA Sahabat Hutan seketika pecah berkeping-keping. Lalu dalam satu kali tebasan lanjutan, sang shielder pun segera game over di arena.
“Tampaknya, aku tidak perlu turun tangan membantumu di sini ya, Luca.”
“Aku kalah cepat rupanya dari Senior Areka. Daripada itu, mari kita segera bantu Egi.”
Sang assassin bersama rekan shielder-nya itu pun berlari cepat demi menyelamatkan rekan archer mereka yang masih sementara menghadapi lawan.
“Ukh! Ini menyebalkan. Kemampuan respawn para hamster semakin tidak terkendali saja seiring dengan berkurangnya pemain lawan. Kalau begini, mereka sama saja sebagai satu anggota party. Empat hamster hitam sebagai penyerang, dua hamster putih jantan sebagai tank, serta dua hamster putih betina sebagai healer, dengan leader seorang tamer beast yang memiliki buff luar biasa gila. Apa yang harus kulakukan untuk menghancurkan kombinasi mereka?”
Egi mulai kehilangan stamina dan panik oleh pertarungan yang berkepanjangan itu.
“Tenang, Egi. Kami sudah tiba.”
Wajah Egi pun seketika menjadi cerah kembali begitu mendapati Luca bersama Areka di belakangnya telah tiba untuk mendukungnya.
“Mari kita laksanakan formasi lurus satu arah.”
Dengan aba-aba dari Luca, mereka pun bersiap untuk menyerang.
“Sekarang.”
Luca maju duluan dan dengan cepat menyingkirkan keempat hamster hitam. Disusul oleh Egi di belakangnya yang seketika melayangkan panahnya kepada dua hamster putih jantan.
Keenam beast seketika menghilang dari arena. Namun, serangan mereka tidak berhenti sampai di situ saja, Luca sekali lagi melayangkan skill tebasan lintas dimensinya.
Sesuai dugaan, kedua hamster putih betina-lah yang menggantikan sang tamer terkena serangan. Bagaimana pun, permainan akan segera game over di kala beast tamer-nya yang tersingkir dari arena, sementara jika beast-nya yang terenyahkan, mereka hanya akan segera te-respawn.
Tetapi itu telah cukup membuat sang tamer kehilangan sementara kemampuan buff luar biasanya yang datang dari para hamster putih betina itu.
‘Skill: kesalahan membuat Lutfi marah tak termaafkan, terimalah hukuman cambuk suci’
Sang tamer pun menerima siksaan yang sama dari Areka layaknya rekan assassin-nya. Namun kali ini, tidak hanya sampai di situ saja.
“Hiyaaat!” Luca tiba-tiba melayang di udara dengan sepatu griffon-nya lantas menebas sang tamer.
Siapa yang menduga, itu bukanlah tebasan biasa. Luca tidak lagi menggunakan pedang suci Astaroth-nya, melainkan dagger taring beracun basilisk miliknya dengan racun yang diperkuat oleh sang alchemist Chika.
Penurunan deras HP seketika dialami oleh sang tamer. Tanpa sempat lagi para beast-nya te-respawn ke arena, sang tamer telah game over duluan.
__ADS_1
Kemenangan buat Luca dan timnya dari SMA Pelita Harapan. Dan itu bukanlah kemenangan yang sembarang kemenangan, tetapi mereka telah berhasil mengalahkan sang juara 3 dari turnamen tahun lalu.
Melihat itu, semua penonton merasa tidak percaya. Banyak di antara para penonton yang merasa frustasi. Sayangnya, itu bukanlah semangat tulus mereka dalam mendukung sang mantan juara 3, Tim SMA Sahabat Hutan. Mereka merasa frustasi adalah tidak lain karena uang yang mereka pertaruhkan di bawah nama Tim SMA Sahabat Hutan harus melayang sia-sia begitu saja.
Tetapi daripada itu, lebih banyak lagi penonton yang bersorak-sorai akan kemunculan kuda hitam baru secara tiba-tiba di arena yang berhasil menyingkirkan sang juara 3 tersebut.
@@@
Sungguh kemenangan yang tidak mudah. Sesuai harapan dari mantan juara 3 turnamen tahun lalu. Andai saja mereka menggunakan kemampuan mereka yang maksimal, alih-alih meremehkan kami dan malah menurunkan dua newbie mereka, siapa yang tahu akan seperti apa jadinya hasil pertandingan. Yah, walaupun aku tentu saja tetap yakin sih bahwa tim kami tetap akan keluar sebagai pemenangnya walau akan sedikit lebih sulit.
Lebih daripada itu, pertandingan di ruangan kami telah selesai dan kini kami sementara menunggu para anggota grup pengintai kami untuk berkumpul agar dapat sama-sama menyaksikan penampilan Chika, Diana, dan Kak Nina dalam turnamen individu mereka yang sebentar lagi akan diselenggarakan.
Tidak butuh waktu lama bagi tim pertama tiba, yakni tim yang dibentuk antara Lia dan Asti, menyusul di belakang mereka secara berturut-turut ada tim Kak Andra-Zevan serta tim Kak Shea-Evan.
“Bagaimana pertandingan yang lain, Lia?”
Aku mencoba bertanya pada Lia. Namun, Kak Andra-lah yang akhirnya menjawab pertanyaanku itu.
“Tim perwakilan pertama Papua, peraih juara 1 tahun lalu, Tim SMA Phoenix, benar-benar bukan tim yang sembarangan. Mereka benar-benar tampak seperti penjelmaan muda Tim Shadow Park. Rupanya mereka memiliki alchemist berbakat selain Krimson di SMA itu.”
Informasi tambahan pun segera datang dari Kak Shea, “Begitu halnya sang juara 2 tahun lalu, perwakilan pertama Pulau Sulawesi itu, Tim SMA Ayam Jantan. Walau susunan mereka standar, tetapi masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang di luar batas.”
“Kadang yang susunannya standar itu yang justru berbahaya. Mereka tidak perlu menang lewat trik karena mereka telah sangat percaya diri pada kemampuan mereka.”
“Ya, begitulah, Asti. Bahkan tidak hanya sekadar hebat saja, melainkan sangat sangat sangat super duper hebat. Kalau kamu sendiri, bagaimana hasil pengintaianmu terhadap SMA Yayasan Eden dan SMA Puncak Bakti?”
“Ya, mereka berdua sama-sama lolos. Tidak hanya itu, kemampuan mereka jauh bertambah hebat, tidak bisa lagi dibandingkan di saat mereka mengikuti kompetisi awal tahun akademik waktu itu.”
“Oh iya, ngomong-ngomong, hanya ada 4 sekolah rupanya ya dari Area Pusat yang tampaknya lolos ke putaran penyisihan kedua.”
Aku segera terkejut oleh informasi tiba-tiba yang diberikan oleh Evan itu. Karena sepengetahuanku, ada dua sekolah lagi di Area Pusat selain kami dan kedua sekolah yang disebutkan di atas yang bisa dikategorikan sebagai sekolah berbakat, yakni SMA Mulya Kasih dan SMA Angkasa Jaya.
Namun, kalau melihat perkembangan statistik setiap anggota mereka, itu pastilah SMA Mulya kasih yang lolos yang kesemua anggota tim utamanya berada pada pengawalan tim profesional Joker Hitam.
Dengan penasaran, aku pun bertanya, “Apa tim yang lolos itu SMA Mulya Kasih, Evan?”
Begitu aku terkejut ketika Evan menggelengkan kepalanya pertanda jawaban negatif.
“Viandra dan rekan-rekannya memang sangat hebat, namun mereka yang sehebat itu pun tak mampu berkutik di hadapan perwakilan keempat Pulau Papua.”
Bukan perwakilan pertama atau kedua, melainkan perwakilan keempat yang telah mengalahkan tim hebat seperti mereka? Tim yang kesemua anggotanya merupakan hasil binaan tim profesional peringkat kedelapan di Indonesia itu? Jika perwakilan keempat mereka saja sudah sehebat itu, apa tah lagi dengan perwakilan ketiga, kedua, terlebih-lebih perwakilan pertama Pulau Papua, SMA Phoenix, sekolah tempat di mana Kak Krimson bernaung itu.
“Kalau begitu, SMA Angkasa Jaya ya yang lolos?”
“Tidak, bukan mereka juga. Mereka pun dengan mudah dikalahkan oleh perwakilan kedua Pulau Sulawesi.”
__ADS_1
“Lantas siapa?”
“SMA Mulia Karsa. Aku juga tidak tahu detailnya. Hei, Zevan. Kamu dan Kak Andra kan yang menontonnya langsung? Bagaimana sebenarnya keadaan pertandingan di sana.”
Terhadap pertanyaan kakak kembarnya itu, Zevan hanya menggelengkan kepala lantas menjawab pelan.
“Mereka lolos hanya karena tim lawan mereka berasal dari Area Tenggara yang lemah. Kakak bisa lihat sendiri kan bahwa semua perwakilan Area Tenggara telah tereliminasi dari putaran pertama persoalan mereka semua itu lemah. Bisa dibilang, lolosnya SMA Mulia Karsa itu murni karena keberuntungan.”
Di tengah diskusi yang semakin memanas itu, Lia-lah yang tiba-tiba menghentikan situasi tegang tersebut.
“Sudah, sudah. Tidak ada gunanya untuk membicarakan itu saat ini. Mari kita bahas itu saja pada saat pulang nanti. Sekarang, mari kita fokus untuk mendukung rekan se-tim kita saja yang akan segera bertanding di pertandingan individu sebentar lagi.”
Lia benar. Percuma untuk membicarakan Tim SMA Phoenix, Ayam Jantan, Yayasan Eden, Puncak Bakti, dan semua lawan-lawan kuat untuk saat ini. Kami harus berkonsentrasi terlebih dahulu pada lawan yang ada di depan mata. Itu pun juga menunggu nanti perihal pertandingan Chika sebentar lagi akan dimulai.
“Yo, Luca. Lama tidak jumpa.”
“Ah, Kak Krimson?”
Seorang senior berambut paku tiba-tiba berjalan menghampiriku, tetapi dia bukanlah seorang senior dari sekolahku, melainkan dari sekolah salah satu calon lawan potensial, tim SMA peraih juara 1 di tahun sebelumnya itu, SMA Phoenix.
“Kakak ke sini untuk menonton teman Kakak juga ya untuk bertanding?”
“Ya, begitulah. Dia adalah juniorku di SMA yang seusia denganmu dan Chika sekaligus sama-sama murid didikan langsung sang ahli rancun dari Negeri Nostalgia, sang kepala sekolah Nostalgia, Crevon de Lowrence. Sayangnya dia hanya menikmati game sebagai hobi saja dan sama sekali tidak memiliki niat untuk bergabung dengan Shadow Park.”
“Begitukah?”
“Ini pasti akan menjadi pertandingan yang seru antara murid langsung Profesor Bruntall melawan murid langsung Profesor Crevon. Siapa kiranya di antara mereka yang lebih kuat?”
“Menurut Kak Krimson siapa?”
“Yah, itu tergantung temanya juga sih. Jika itu tentang potion, maka pasti Chika-lah yang akan menang, tetapi jika itu tentang poison, maka juniorku-lah yang akan menang.”
Yah, pendapat Kak Krimson itu bukannya tidak berdasar sih. Chika sebenarnya tipe alchemist all rounder, hanya saja gurunya, Profesor Bruntall, berspesifikasi pada obat-obatan. Wajar jika pengetahuannya mengenai racun jadi jauh lebih sedikit, walau sebenarnya itu telah sangat mendukung tim.
Lihat saja, kami sebelumnya berhasil mengalahkan tamer lawan, terima kasih salah satunya berkat racun buatan Chika.
Lalu ketika pengumuman lomba disampaikan,
“Monster Loudly Bear adalah monster yang agresif, tetapi kulit bagian kaki belakangnya sangat bermanfaat untuk dibuat tas elastis. Akan tetapi, ketika monster dalam keadaan emosi dalam kematiannya, mutlak kulitnya akan berkontraksi bahkan setelah kematiannya sehingga kulit kaki bagian belakangnya itu tak lagi dapat digunakan.”
“Satu-satunya cara untuk memperoleh bagian itu dengan kualitas terbaik adalah membunuh monster dalam keadaan sedamai mungkin, salah satunya adalah dengan racun. Tetapi jika salah dalam memilih racun, monster hanya akan mati dalam keadaan tersakiti dan hasilnya akan sama saja. Semakin lama proses pembunuhan monster pun, semakin tidak baik hasil produknya.”
“Tema kali ini adalah bagaimana membuat racun yang mampu membuat instant kill secepat mungkin pada monster Loudly Bear, bahkan tanpa sang monster tersebut sanggup sadari bahwa dirinya telah mati.”
Seakan mengkhianati harapanku, tema kali ini rupanya tentang racun.
__ADS_1