The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
193. Menyambut Kompetisi Guild Extra


__ADS_3

[POV Nina]


Malam itu, kami menerima undangan dari Luca untuk berkumpul di guild assassin dalam rangka mengadakan pertemuan yang bisa dikatakan perdana untuk guild extra kami, Guild Gubuk Bambu.


Kalau diingat-ingat, kami telah banyak melakukan berbagai macam kegiatan, tetapi aku baru sadar kalau kami belum pernah sekalipun mengadakan pertemuan secara formal. Luca, bocah itu, dia pintar soal bertarung, tetapi terkadang dia terlalu egosentris sehingga kurang memperhatikan masalah-masalah seperti penyatuan kelompok dan sejenisnya melalui pertemuan rutin.


Karena kami belum memiliki bangunan guild resmi, jadilah kami menggunakan salah satu ruangan di salah satu sudut bangunan guild assassin tersebut sebagai markas kami. Aku juga tidak bisa paham mengapa guild assassin yang terkenal kurang ramah terhadap player itu bisa dengan mudahnya mengizinkan Luca menggunakan salah satu ruangan mereka.


Kalau dipikir-pikir, terlalu banyak misteri soal Luca. Dia kikuk dalam berkomunikasi, tetapi entah mengapa dia punya banyak relasi di Gardenia, tidak hanya sebatas pada pada para player saja, melainkan juga dengan para NPC-nya.


Apakah itu karena bakat game-nya yang luar biasa yang menarik tidak hanya para pemain lain untuk memperhatikan dan mendekatinya, tetapi juga termasuk para NPC? Aku juga tidak paham, soalnya aku tidak akan pernah mengalami hal yang seperti itu perihal aku jauh dari kata bakat.


Kami pun memasuki gedung guild assassin dengan perasaan was-was. Bagaimana tidak, guild itu benar-benar memberikan sensasi aneh tersendiri hanya dengan melihat bangunannya dari luar.


Baik aku, Raia, Chika, maupun Andra tampak berjalan dengan penuh kehati-hatian menyusuri sepanjang koridor guild assassin itu. Bagaimana mengatakannya ya, tampaknya semua mata tertuju pada kami. Hanya Lia satu-satunya orang di antara kami yang masih tetap dapat tersenyum seperti biasa di hadapan para mata pembunuh itu.


Aku bahkan merasa, sedikit saja aku lengah, maka kepalaku bisa melayang kapan saja di tangan mereka. Begitulah menakutkannya suasana di guild assassin ini.


“Halo. Apa jangan-jangan kalian temannya Luca?” Tiba-tiba sesosok pria muda yang ramah yang keramahannya tampak tidak cocok dengan suasana guild ini menyapa kami. Rupanya dia adalah seorang NPC.


“I… Iya, benar.” Walau demikian, aku tetap tidak dapat menahan untuk tidak menjawab terbata-bata pertanyaan itu lantaran saking sakitnya punggungku seakan semua pandangan menusuk tajam tepat ke arah belakang punggungku.


NPC itu pun tersenyum seraya memperkenalkan dirinya kepada kami, “Perkenalkan, aku Derickson. Aku bisa dianggap sebagai kakaknya Luca. Aku sudah zzzzzzzzt.”


Dia memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya Luca walaupun aku heran bagaimana Luca mampu mengambil hati seorang NPC sampai NPC itu bisa menganggapnya sangat dekat sampai-sampai di programnya tertanam bahwa Luca telah bagai adiknya sendiri.


Sayangnya di akhir, aku tidak dapat mendengarkan dengan jelas ucapannya itu dan begitu kumelirik dan bertanya kepada Lia yang ada di sampingku, rupanya dia pun mengalami hal yang serupa. Mungkin itu sejenis bug game atau bagaimana, aku pun tidak tahu.


Lagipula jika itu hal yang penting, maka Luca sendiri pasti yang akan memberitahu kepada kami secara langsung.


Kami pun diantar oleh NPC yang bernama Derickson itu ke suatu sudut ruangan. Aku lantas membuka pintu ruangan itu. Ruangannya begitu berantakan yang dipenuhi dengan berbagai komponen mekanik.


Ketika aku melihat jauh di belakang ruangan, aku akhirnya bisa melihat Luca. Dia mengenakan kacamata khas mekanik dan tampak begitu serius dalam mengerjakan pekerjaannya.


Sekilas, entah mengapa aku melihat Luca sangat tampan dengan setelan mekanik seperti itu. Nuansanya agak berbeda dengan di dunia nyata karena di dalam game, rambut Luca hitam seutuhnya. Perbedaan warna rambut itu sendiri entah mengapa memberikan kesan ala-ala pangeran dark kepada anak yang sebenarnya polos itu.


“Ah, Kak Nina, Lia, Kak Raia, Kak Andra, juga Chika, selamat datang. Mulai sekarang, ini ruangan guild kita. Hehehehehehe. Kak Derickson, terima kasih telah mengantar Kak Nina dan kawan-kawan kemari.”


“Tidak masalah, Luca. Kalau begitu, aku kembali kerja dulu ya. Silakan nikmati waktu ngobrol santai kalian bersama. Katakan saja padaku apapun kalau kalian membutuhkan sesuatu.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, NPC yang bernama Derickson itu meninggalkan kami berlima bersama Luca di ruangan. Entah mengapa alur pembicaraan NPC itu dengan Luca terlihat begitu natural seakan-akan dia adalah juga seorang player sama seperti kami. Aku entah harus salut atau geleng-geleng kepala terhadap kemampuan komunikasi khusus Luca yang aneh itu yang di luar dugaan sangat klop dengan frekuensi pikiran para NPC.


Andai saja dia juga bisa menerapkan itu terhadap orang nyata, tentu aku tidak akan lagi terlalu mengkhawatirkannya. Nyatanya, teman Luca sampai saat ini masih bisa dihitung jari. Itu pun semuanya tak terlepas dari anggota klub. Bahkan di kelasnya saja, dia hanya bisa akrab dengan Egi dan dua anak culun lain di kelompoknya saja.


Melupakan itu, aku berjalan hati-hati mendekati Luca karena mengkhawatirkan sesuatu setelah melihat keadaan sekeliling.


Aku pun berbicara kepadanya, “Apa tidak apa-apa ini menjadi ruangan guild kita, Luca? Ini tampak seperti ruangan mekanik anggota guild di sini.”


“Hahahahaha. Tidak apa-apa kok, Kak Nina. Sejak awal, ini memang sudah menjadi ruanganku.”


“Kamu berkata seolah kamu sudah tinggal di ruangan ini selama sepuluh tahun lebih padahal dua bulan saja belum cukup kamu resmi bergabung di guild ini.”


“Hahahahahaha. Benar juga ya, Kak Nina. Oh iya, Kak Raia, Chika, senjata kalian sudah jadi aku modifikasi. Coba kalian lihat dulu. Ini guntlet berduri milik Kak Raia, sementara ini crossbow untuk Chika.”


“Wah, terima kasih, Luca. Crossbow-nya jadi lebih ringan dan lebih mudah diisi dengan anak panah.”


Chika berujar dengan riangnya.


“Hahahahahaha. Wah, ini sangat keren, Luca. Sesuai banget dengan style-ku.”


“Swush, swush, swush.”


“Lebih penting dari itu, Luca. Jadi apa tujuanmu tiba-tiba mengumpulkan anggota? Tidak biasanya kamu mengadakan meeting anggota guild seperti ini.”


“Oh? Jadi Kak Derickson belum bilang ya, Kak Nina?”


Begitulah ujar Luca sembari terlihat dia merogoh sesuatu di saku celananya.


“Tada!”


“Hmm?”


Luca mengeluarkan sebuah kertas kusut dari saku celananya. Aku, Lia, dan beberapa anggota yang lain di belakang pun membaca isi kertas itu dengan seksama.


“KOMPETISI GUILD EXTRA BAGIAN 2”


“Luca, ini?”


“Ya, karena kita punya waktu luang dan persyaratan memenuhi, guild kita juga akan mengikuti kompetisi guild extra kali ini. Sayang sekali kita tidak dapat mengikuti kompetisi guild extra yang pertama karena dibutuhkan minimum 20 anggota. Tapi kali ini, tidak ada persyaratan jumlah minimum anggota yang spesifik. Itu berarti guild kita yang hanya beranggotakan 7 pemain juga bisa mengikutinya.”

__ADS_1


“Tunggu, tunggu, Luca. Apa semua akan main?”


Entah mengapa setelah mendengar ucapanku itu, ekspresi Luca agak sedikit terlihat pahit. Namun, aku bisa segera mengerti mengapa.


“Itu, mungkin Kak Nina kali ini tidak akan ikut main karena akan bertindak sebagai manajer kami bersama Lia.”


“Mengapa kamu tiba-tiba memiliki tampang yang kusut begitu, Luca? Jangan-jangan kamu mengira aku sedih karena tidak turut bermain? Aku senang kok bisa turut terlibat walau sebagai manajer.”


“Maafkan aku, Kak Nina, di kompetisi ini, aku berfokus dulu untuk mengembangkan kemampuan bertarung Kak Raia dan Chika.”


“Sudah kubilang tidak apa-apa kok.”


Walau mengatakan itu, perasaanku sebenarnya agak sedikit terluka. Bahkan, walau tak diucapkannya, mungkin Luca pun telah berpikir bahwa aku tidak berbakat.


Namun ketika aku mengingat kepribadiannya, aku segera menyadari bahwa mana mungkin itu seperti itu. Pasti apa yang diucapkannya itu memanglah yang dimaksudkannya. Begitulah tipikal anak polos seperti Luca.


“Lantas, bagaimana aturan perlombaannya, Luca?” Ujar Lia sembari tersenyum ramah menatap ke wajahku.


Untunglah Lia segera menyela pembicaraan itu yang sedikit saja hampir kehilangan momentum mood-nya.


“Etto. Di babak kualifikasi, semua guild master maju ke arena kemudian diadakan kompetisi survival di mana delapan guild extra yang guild masternya sanggup bertahan sampai akhir di arena akan melaju ke babak selanjutnya.”


“Memangnya berapa guild extra yang akan ikut, Luca?”


“Jika semua guild extra akan turut serta, itu artinya ada sekitar 85 guild.”


“Banyak juga. Apa arenanya cukup luas untuk menampung 85 pemain ya?”


“Hahahahahaha. Pastinya, panitia game juga telah memikirkan itu, Lia. Yang jelas, untuk babak kualifikasi, serahkan saja padaku. Kemudian untuk babak selanjut-selanjutnya, diadakan pertandingan one on one di antara kelima pemain anggota masing-masing guild.”


“Kecuali guild master, pemainnya dikategorikan berdasarkan level-nya. Newbie, veteran pemula, veteran menengah, dan veteran tingkat tinggi. Kemudian sebagai anggota kelima adalah tidak lain guild master-nya sendiri.”


“Karena kita tidak punya pemain newbie di guild kita, maka kita akan pass untuk pertandingan pertamanya. Untuk pemain veteran pemula aku percayakan kepada Chika, untuk veteran menengah kepada Kak Raia, dan untuk veteran tingkat tinggi aku serahkan kepada Kak Andra. Kemudian aku sebagai guild master yang akan menjadi pemain kelimanya, sementara Kak Nina dan Lia akan bertugas sebagai pemandu sorak sekaligus manajer di tim.”


“Sayangnya, kita akan kehilangan poin di setiap pertandingan pertama karena ketiadaan pemain newbie. Namun asalkan pertandingan lain masih bisa kita menangkan, kita akan tetap bisa keluar sebagai pemenang dengan skor 4-1.”


“Tentu saja untuk masuk ke pertandingan utama, kita harus berhasil dulu tembus dari babak penyisihannya. Tetapi untuk itu, serahkan saja padaku. Aku yakin aku akan bisa menembusnya. Bagaimana semuanya? Apa kalian semua bersemangat?”


“Yosh.” Kami semua pun menyatu-padukan tangan kami lantas bersorak menyambut kompetisi guild extra ini dengan penuh semangat.

__ADS_1


Sayangnya, Diana masih berada pada pelatihan intensifnya bersama Guild Master Scout. Jika tidak, dia pun pasti bisa bergabung dalam acara yang penuh kemeriahan ini.


__ADS_2