The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
61. Zombie dan Tanah Kematian (5)


__ADS_3

\=\=\=


Nama: PHILTORY (Lv 40) [Red NPC]


Race: Manusia


Umur: 30 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: necromancer


\=\=\=


Kami menatap baik-baik musuh kami yang ada di depan mata itu. Tiada yang melakukan pergerakan. Semuanya waspada karena siapapun yang melakukan pergerakan pertama, besar kemungkinan akan menjadi yang pertama kalah. Itu semua karena belum ada satu pun baik kami ataupun pihak lawan yang mengetahui kemampuan masing-masing.


Namun, Paman Heisel segera memecah kesunyian itu. Melihat peluang, Paman Heisel segera menggunakan skill sembunyi level tingginya untuk memberikan serangan ultimate secara senyap untuk seketika mengeliminasi target dalam diam.


Dalam sekejap mata, Paman Heisel telah berdiri di belakang, di titik buta dari sang necromancer Philtory. Akan tetapi,


“Clang.” Sesosok makhluk yang tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang Philtory berhasil menangkis serangan ultimate Paman Heisel tersebut.


Paman Heisel segera mundur menjauh begitu serangan dadakan instannya itu gagal membunuh sang target. Kami pun menyaksikan sosok makhluk yang melindungi Philtory itu.


\=\=\=


Nama: Jamer (Lv 99) [Red NPC]

__ADS_1


Race: Manusia


Umur: dead


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: assassin [zombie]


\=\=\=


Aku kenal betul dengan sosok itu. Dialah assassin terkenal dari grup pemberontak yang menjalankan aksinya di Kekaisaran Lalania yang baru-baru ini berhasil dikalahkan oleh kepala night sang putri kerajaan. Dialah sang assassin Jamer.


Dilihat dari levelnya, dia memiliki level yang sama dengan Paman Heisel. Ini seharusnya adalah pertarungan yang mudah karena kami menang jumlah dari mereka. Atau setidaknya itulah yang kupikirkan. Namun, ketika kami akan hendak turut menerjang lawan yang sementara dihadapi oleh Paman Heisel itu, dua sosok raksasa menghalangi kami.


Tanah bergetar diikuti tinjuan maut dari sang raksasa. Aku, Kak Dimitri, dan Kak Keporin pun segera menghindar dari serangan itu. Rupanya, apa yang menyerang kami adalah dua sosok raksasa troll setinggi 3 meter, yang satunya berlevel 43, sementara yang lainnya berlevel 44. Sama dengan sang assassin Jamer, para troll pun tampaknya sudah lama kehilangan hidupnya dan terbangkitkan kembali menjadi zombie.


Kami bertarung dengan support dari Lia yang memberikan kami buff strength dan resistansi terhadap elemen death, sementara Kak Andra memberikan debuff pangacauan indera kepada lawan.


Kak Dimitri bertarung menggunakan dagger, namun bertarung layaknya seorang swordsmen. Sesuai harapan dari sang ksatria Kerajaan Symphonia. Senior Areka mendukungnya pula dengan terampil menerima setiap serangan dari sang monster zombie troll berlevel 44 itu sehingga Kak Dimitri pun dapat berfokus pada serangan.


Namun, di sisi lain, walaupun ada Kak Raia yang mensupport Kak Keporin, tetapi tampaknya sama sekali tidak membantu. Kak Keporin tetap harus berjuang sendiri dalam menyerang dan bertahan. Hal itu karena Kak Raia sama sekali tak mampu menjalankan perannya sebagai seorang shielder dengan baik. Daripada seorang shielder, Kak Raia justru lebih mirip dengan seorang fighter yang berperisai.


Terjadi pertempuran tiga arah, sementara Philtory tampak asyik menyaksikan pertarungan itu dari belakang dengan penuh kenikmatan sambil menyentuh-nyentuh alat di sampingnya itu dengan senangnya.


Hanya aku yang kini dapat bergerak dengan bebas. Aku pun menyelinap di antara pertarungan dua troll raksasa untuk menerjang ke arah Philtory. Sayangnya, Jamer rupanya melihat pergerakanku lantas berniat menghentikanku. Akan tetapi, Paman Heisel sama sekali tak memberikannya celah untuk menganggu pergerakanku itu.


Aku pun melangkah maju tanpa gangguan sang assassin Jamer menerjang target. Namun, belum sampai aku melayangkan satu tebasan pun kepada Philtory, puluhan zombie tiba-tiba terbangkitkan di sekitarnya. Ada beraneka ragam jenis zombie mulai dari manusia sampai dengan monster berlevel rendah seperti goblin dan kobold. Tetapi, itu tidak ada apa-apanya buatku. Dengan mudah aku menghabisi mereka dengan tebasan dagger-ku ini.

__ADS_1


Akan tetapi, kulihatlah salah satu di antara jibunan para monster zombie itu. Satu di antara mereka rupanya tercampur oleh seekor Cerberus, chimera berkepala tiga dengan kepala anjing yang tiap kepala masing-masing mampu mengeluarkan jurus elemen api, angin, dan petir. Untunglah, level dari Cerberus tidaklah terlalu tinggi, yakni berlevel 25.


“Slash, slash, slash.” Aku menebas jibunan monster zombie itu dengan daggerku di area titik lemah mereka, kobold di jantung, sementara goblin di kepala. Lalu tiba-tiba sambaran petir mengarah kepadaku. Aku berhasil menghindarinya dengan sangat baik.


“Luca!”


Tetapi di saat itulah, aku mendengar suara teriakan Lia. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi kulihat Lia berlari ke arahku. Lalu tiba-tiba, aku merasakan tubuhku tertarik oleh sesuatu.


Oh tidak. Ini adalah alat aneh yang menyerupai altar tadi. Tidak hanya aku, Lia yang mendekatiku juga ikut tersedot ke dalamnya. Ini tidak baik. Aku harus segera melepaskan diri dari jeratan ini lalu turut menyelamatkan Lia. Jika tidak, kami akan tersedot ke dalam.


Namun, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Sebuah lubang hitam yang muncul dari alat aneh itu pun menyedotku bersama Lia ke dalamnya.


Lantas jika aku dan Lia tersedot, apa yang akan terjadi kiranya? Lagipula, ini bukan tubuh nyata kami. Akankah tubuh avatar kami ini tiba-tiba akan muncul di dunia nyata layaknya sewaktu aku tersedot di langit Kerajaan Symphonia tempo lalu? Itu pastinya akan aneh jika tubuh nyata dan tubuh avatar berada dalam satu dimensi yang sama.


Rupanya, bukanlah hal seperti di dalam benakku itu yang terjadi. Tetapi sesuatu yang justru lebih mengerikan. Aku dan Lia terdampar ke dalam suatu kegelapan lalu di ujung kegelapan itu, aku melihat sesuatu yang hijau bersinar.


Tidak, itu bukan sinar, melainkan suatu kabut hijau beracun yang siap disemburkan oleh sang monster jahat, naga hijau.


“Mengapa naga hijau bisa ada di sini? Bukankah naga adalah makhluk mitos yang hanya ada dalam legenda?” Pikirku dalam hati dalam kepasrahan.


Tetapi seketika, aku bisa merasakan tubuhku kembali dapat bergerak. Aku pun segera merangkul Lia untuk menyelamatkannya. Namun rupanya juga sudah terlambat, sang monster terlanjur menyemburkan kabut beracunnya dan sekian milisekon lagi akan mencapai kami.


Setidaknya, itulah yang kupikirkan. Tetapi mukjizat kemudian terjadi. Suatu berkas sinar kuning yang tampak di dalamnya dua tatapan mata sekuning emas menatap kami, tiba-tiba melayangkan cakarnya. Semula aku mengira bahwa itu adalah serangan yang juga mengincar kami. Akan tetapi, serangan cakar emas itu melewati kami begitu saja lantas membentur ke suatu tempat kosong.


Secara tiba-tiba, dari tempat kosong itu muncul retakan. Tidak ada kaca atau pun benda lain di sana, hanya ada kekosongan. Namun demikian itu retak. Ya, tidak salah lagi, itu adalah retakan dimensi.


Aku pun kehilangan kesadaran beberapa saat. Tahu-tahu aku sadar, Lia telah berada di dalam pelukanku yang tampak juga mulai kembali kesadarannya dan kami telah kembali berada di tempat asal kami semula.

__ADS_1


Dalam hati aku berpikir, apa sebenarnya sosok yang menyelamatkanku itu? Tetapi tampaknya itu bukan waktu yang tepat memikirkannya. Jibunan zombie dengan dipimpin oleh seekor cerberus telah siap menerjang kembali ke arah kami.


__ADS_2