The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
176-1. Sang Envy Mage (1)


__ADS_3

[POV Gajel]


Ah, hari-hari yang sungguh melelahkan. Daripada pelatihan neraka sebelumnya, aku masih jauh lebih membenci keadaan yang sekarang ini. Tidak ada latihan, tetapi selalu saja ada evaluasi menjengkelkan pasca pertandingan dari sang pelatih.


Padahal kami sudah berjuang keras di pertandingan bahkan kini kami telah masuk ke babak quarter final, tetapi Bu Angel masih saja terus-terusan mengkritik kami dengan pedas.


Mengapa Beliau begitu lihai dalam melihat kesalahan sekecil apapun yang kami buat? Bahkan aku sama sekali tidak menyadari hal tersebut sampai Bu Angel sendiri yang mengumumkannya.


Seperti halnya pada babak penyisihan ketiga tadi sewaktu melawan SMA Karya Bangsa, padahal aku hanya terlambat 0,6 detik saja dalam melafalkan mantra sihir dari waktu ideal yang diharapkan, yang padahal hasil serangannya tetap mengenai lawan swordsman yang sementara berlari kencang ke arah formasi tim, dengan cukup telak, tetapi Bu Angel tetap saja bisa menyadari kesalahan sekecil itu lantas mendikte dengan menyalahkan aku melalui seribu bahasa.


Entahlah. Apa dia memiliki mata dewa atau bagaimana kali ya, aku juga tak tahu, mungkin lebih tepat, aku tak ingin lagi memikirkannya.


Yang jelas, hasil di tim kami telah cukup baik sampai sejauh ini dan kini saatnya mengistirahatkan tubuhku yang lelah sejenak ke dunia kapuk.


.

__ADS_1


.


.


Pagi pun tiba. Kami kembali berangkat dari asrama menuju ke tempat pertandingan. Walaupun pertandingan dimulai pukul 10 pagi, namun mempertimbangkan jalanan Jakarta yang begitu macet karena kepadatan penduduknya, kami akhirnya memilih untuk mulai berangkat pada pukul 7.15.


Aku heran mengapa jalanan Jakarta masih saja macet seakan-akan musibah tahun 2058 yang menelan korban kematian seperenam penduduk Kota Jakarta itu bagaikan omong kosong belaka.


Sesampainya di tempat turnamen, wajah yang pertama kali kulihat menonjol lagi-lagi si Livitch itu, pengkhianat SMA Yayasan Eden.


Walaupun dia memang tak dapat lagi mewakili sekolah kami untuk mengikuti kompetisi e-sport vrmmorpg amatir tingkat SMA ini perihal pencapaian prestasinya di tingkat dunia itu, tetapi bukan berarti dia dapat berpindah SMA begitu saja dan tiba-tiba saja masuk ke SMA Pelita Harapan.


Aku akui memang dia sedikit ganteng dan dia cukup hebat sebagai atlit vrmmorpg amatir, tetapi pastinya berita mengenai dia selebihnya hanya dibesar-besarkan saja. Aku yakin jika dia melawanku, dia akan segera tepar dalam waktu kurang dari 3 detik setelah merasakan serangan ultimate sihir tier empat-ku.


Aku bisa yakin seratus persen bahwa kehebatannya yang dilebih-lebihkan itu ada sangkut pautnya dari permainan di belakang layar dari tukang rekayasa si Livitch itu. Perihal jika dia memang atlit yang hebat, dia pasti sudah diterima bersekolah di SMA elit semisal SMA Puncak Bakti atau minimal SMA Angkasa Jaya atau SMA Mulia Karsa.

__ADS_1


Nyatanya dia hanya pecundang, makanya hanya bisa bersekolah di sekolah level menengah banteran SMA Pelita Harapan itu.


Aku sudah tahu sejak dia masuk ke SMA kami bahwa si Livith itu memang memiliki karakter yang agak aneh, tetapi untuk berpikir dia bisa sampai segitunya tergila-gila dengan seorang pria sampai-sampai nekat pindah sekolah demi bersamanya, bukankah dia sudah terlalu gila? Entah apa yang ada di pikiran si Livitch itu.


Bahkan Senior Asario saja gagal dalam mendisiplinkannya. Dia bahkan tidak segan-segan melayangkan kata-kata kasar kepada Senior Asario yang dihormati oleh semua atlit vrmmorpg SMA Yayasan Eden itu.


Kalau mengingat kembali bagaimana dia minggu lalu mengatakan hal yang sekasar itu kepada Senior Asario hanya karena Senior Asario hendak mencegatnya untuk pindah sekolah, aku benar-benar tidak bisa memaafkan perbuatan si Livitch itu.


Seketika si Livitch itu menoleh ke arahku.


Oh, tidak. Bahkan sebelum aku sempat membalikkan pandangan-ku lantas berpura-pura tidak melihatnya, matanya sudah sampai duluan menatapku.


“Ah, halo, Lia. Sedang apa? Sedang menonton pertandingan ya? Hahahahaha.”


Sapaku padanya mencoba untuk bersikap ramah. Bagaimana pun, aku tidak ingin sampai berurusan dengan ayahnya yang jauh lebih menyebalkan itu jika dia sampai mengadu padanya bahwa aku telah mengabaikannya dan tidak memberinya salam. Setidaknya aku harus berpura-pura ramah di hadapan gadis gila ini.

__ADS_1


“Ah, Senior Gajel. Ya, apa kabar juga.”


Ujarnya singkat dengan nada angkuh sembari mengangkat tangan lantas menjentikkan jari-jemarinya seolah berbicara dengan seorang pelayan rendahan. Lalu setelah itu, dia langsung saja berbalik, kembali berbicara dengan para kenalan barunya di SMA Pelita Harapan, seolah aku ini hanya seonggok sampah tak berarti baginya.


__ADS_2