The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
29 Luca Kasihan pada Senior Angkuh


__ADS_3

“Senior, tadi kamu bilang bahwa benda yang dipakai di luar game tidak akan menghilang meski hancur.  Ya kan?”


“Ya, memang begitu.  Pertandingan e-sport vrmmorpg memang dirancang seperti itu.”  Areka tampak kebingungan dengan pertanyaan Luca tersebut, namun dia hanya menjawabnya apa adanya.


“Kalau begitu, boleh dong jika kuhancurkan perisai yang tampak mahal milik Senior itu.”  Dengan tampang polosnya, Luca pun berujar.


“Kamu mengatakannya ya.  Kamu baru saja mengatakannya!  Tapi perisaiku ini sangatlah kuat bahkan pemain pro saja tak bisa menembusnya!”  Dengan raut wajah yang kesal, Areka pun maju menerjang Luca dengan perisai yang dibanggakannya itu.


“Eh, begitukah?  Kalau begitu takkan jadi kuhancurkan, Senior.”  Ujar Luca tampak licik.


Areka sejenak kebingungan dengan apa maksud ucapan Luca itu, tetapi kemudian dia akhirnya menyadarinya.  Luca tak lagi pada pola menyerangnya seperti di ronde kedua yang menyerang lurus langsung ke arah perisainya, tetapi kali ini dia benar-benar menyerang seperti seorang assassin.


Itu tentu saja karena Luca memanglah seorang assassin, walaupun untuk saat ini, dia masih berstatus apprentice.


Luca menyelinap ke sebelah kiri melalui tangan dominan seniornya yang kidal itu lantas menebas tangan itu hingga putus.  Perisainya pun bergelindingan menarik tangan kirinya yang telah putus itu.


Lalu Areka yang tanpa penjagaan pun dengan mudah ditaklukkan oleh Luca dengan serangan tusukan penghancur tengkorak-nya.


Areka game over untuk yang ketiga kalinya.


“Hahahahahaha.  Apa ini?  Ternyata kamu memang newbie yang sangat hebat, Luca.”  Areka yang terbaring lemah tak berdaya setelah tubuhnya baru saja tere-spawn kembali justru malah terlihat senang setelah Luca mengalahkannya dengan babak belur.


Areka pun log out dan melepas bandonya sehingga kesadarannya pun kembali pada tubuh aslinya.  Luca mengikutinya tak lama setelahnya.

__ADS_1


“Wah, aku kalah dengan babak belur, Luca.  Kamu memang newbie yang luar biasa.  Yosh, sesuai janji taruhan, aku akan menyerahkan tempatku di tim inti klub e-sport sekolah padamu.  Mohon jaga baik-baik ya.”  Areka sama sekali tak tampak kecewa, malahan dia terlihat senang berhasil menggaet Luca bergabung dengan tim e-sport-nya, walaupun harus mengorbankan tempatnya sendiri.


“Tidak, itu tidak perlu, Senior.  Aku tak tertarik.  Asal Senior tidak lagi menghina jerih-payah Kak Nina, itu sudah cukup bagiku.”


Areka pun menatap ke arah Nina yang secara bersamaan kebetulan Nina juga menatap ke arahnya.  Tetapi Areka dengan ekspresi sinis langsung membuang mukanya dari Nina lalu serta-merta langsung kembali ke ekspresi senyum bahagianya pada saat menatap Luca kembali.


“Tidak boleh begitu dong, Luca.  Bukan seperti itu janji taruhannya tadi.”


“Jika Areka menang, maka Luca harus bersedia menjadi asisten serbabisa Areka tanpa dibayar selama setahun penuh.  Tetapi jika Luca yang menang, Areka harus bersedia mundur dari tempatnya sebagai tim inti dalam klub e-sport di sekolah dan menyerahkan tempat tersebut kepada Luca sebagai anggota eksklusif.”


“Namun berhubung Luca sekarang adalah bagian dari sekolah ini, maka ketika Luca yang menang, dia bukan lagi menjadi anggota eksklusif, melainkan anggota resmi tim inti klub e-sport sekolah.”


Areka lantas mengingatkan kembali Luca pada perjanjiannya.


“Geh, kalau begitu, aku masuk sekarang, Senior.”  Luca tampak sangat terpaksa mengatakannya.


“Karena aku sudah memenuhi janjiku untuk masuk anggota klub e-sport sekolah, maka sekarang aku resmi mengumumkan diri untuk keluar lagi dan menyerahkan tempat itu kembali kepada Senior Areka.  Nah, karena semua masalahnya telah beres, kalau begitu, sampai jumpa lagi, Senior.”  Ujar Luca berusaha tenang seraya buru-buru meninggalkan lokasi sebelum Areka berkata macam-macam lagi padanya.


Tetapi tanda x di pelipis Areka keburu terbentuk duluan.  Dia lantas segera menahan pundak Luca untuk pergi.


“Mau ke mana junior Luca-ku tersayang ini ingin pergi?”  Ujar Areka kepada Luca berusaha tersenyum dengan urat pelipis yang tampak.


“Jadi, karena aku tidak ada lagi sangkut pautnya dengan Senior, aku ingin pergi saja.”

__ADS_1


“Luca, tahu tidak kalau ada larangan keluar-masuk klub ekskul sekolah selama sebulan?  Jadi karena kamu sudah resmi masuk klub e-sport sekolah, maka minimal kamu harus bertahan di sana selama sebulan.”  Ujar Areka sekali lagi kepada Luca dengan tersenyum, tetapi wajahnya terlihat menyeramkan.


Luca pun kalah pada intimidasi Areka yang memaksa dan akhirnya menyerah juga pada kemauan keras Areka tersebut.


“Apaan tadi itu?  Masak anggota klub e-sport sekolah yang bergengsi kalah sama newbie yang baru level 6.  Trus dia bilang tadi bahwa The Last Gardenia adalah vrmmorpg pertamanya.  Itu berarti pengalamannya kan baru kurang dari sebulan?”


“Memalukan!  Kalah sama newbie yang baru main vrmmorpg.  Pantas saja sekolah kita tidak pernah masuk 3 besar di pertandingan e-sport tingkat SMA.  Tahu-tahunya semua anggotanya payah-payah.  Percuma dana besar pengembangan sekolah diucurkan buat mereka.  Mereka seharusnya tak berhak menerima dana itu sepeser pun.”


“Hah?  Seperti ini bakat anggota klub yang menerima ucuran dana terbesar dari sekolah?  Bukannya si Areka itu yang terbaik sekarang di klubnya ya?  Itu berarti anggota lainnya lebih ampas dong.  Klub karate kita saja yang banyak prestasinya tidak menerima dana sebesar itu dari sekolah.  Jelas-jelas ada kolusi di sini!”


“Iya, dikirain dulu si Areka itu hebat.  Lihat saja tingkah angkuhnya.  Nyatanya kemampuannya ampas.  Ck ck.”


Seketika terdengar hinaan dari para penonton yang melihat Areka kalah.  Areka mampu mendengar dengan baik hinaan itu.  Namun Areka hanya terdiam tampak berusaha menahan ekspresinya, mengabaikan hinaan tersebut.


Luca baru pertama kali menyaksikan pemandangan yang seperti itu.  Karena di dunia asalnya, yang lemah hanya akan selalu menuruti yang kuat.  Tidak pernah sekalipun di dunianya Luca melihat yang lemah menghina yang kuat seperti di tempat tinggalnya yang sekarang ini.


Jika itu semisal Paman Heisel di dunianya dulu yang dihina seperti itu, tentu para penghina yang lemah itu sudah bermandikan darah segar oleh dagger pamannya yang tajam.  Tetapi Luca telah tahu dari Judith sebelumnya bahwa ada hukum di dunia ini yang melarang pembunuhan sembarangan, padahal Luca yakin bahwa orang yang melukai orang lain dengan lidahnya juga pantas untuk dieksekusi.


Luca pun hanya menepuk punggung seniornya itu sebagai isyarat menyemangatinya.  Tetapi sikap Luca itu malah membuat urat di pelipis Areka semakin nampak.  “Hah, apa kamu baru saja mengasihaniku, bocah?!”  Areka pun berujar kepada Luca dengan kesal.


Jauh di antara kerumunan penonton di sana, rupanya masih ada yang benar-benar memahami bahwa bukan Areka yang lemah, melainkan sang newbie-lah yang terlalu overpower.  Mereka pun jadi tertarik dengan sosok yang bernama Luca tersebut.


Salah satu di antaranya adalah Egi yang kebetulan adalah teman sekelas Luca di mana sebenarnya Egi adalah pemain e-sport yang berbakat.  Belum ada yang mengetahui saat ini bahwa Egi sebenarnya berasal dari klub e-sport di SMP yang memenangkan juara satu umum tingkat SMP tahun lalu yang mana Egi adalah salah satu di antara sepuluh pemain intinya hanya saja jarang dimainkan.

__ADS_1


Itu karena dunia e-sport saat ini, khususnya di tingkat pelajar SMP dan SMA di Indonesia, banyak yang terlalu mengagung-agungkan shielder sehingga terlalu meremehkan keberadaan archer yang lemah dalam serangan jarak dekat, di samping serangan jarak jauhnya pun dengan mudah dapat dihentikan oleh shielder.


Kemudian satunya lagi yang menotice bakat Luca adalah wakil kepala sekolah muda di sekolah Luca yang sekaligus merangkap sebagai pelatih klub e-sport di sekolah tersebut.  Dialah Pak Syarifuddin.


__ADS_2