The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
206. Keadaan Sedang Terdesak


__ADS_3

“Duh, mengapa Luca lama sekali? Kita sudah mau berangkat.”


Lia tak dapat menahan rasa frustasinya begitu minus dua jam acara pembukaan turnamen akhir tahun itu, Luca belum juga menampakkan batang hidungnya di gerbang sekolah, padahal bus yang akan mengantar mereka ke lokasi turnamen telah mau berangkat.


“Lia! Lia! Ini gawat! Luca dibawa masuk ke ruang BK!”


“Apa kamu bilang, Egi?! Luca dibawa masuk ke ruang BK?! Sayangku bukanlah anak berandalan yang pantas mendapat binaan.”


Egi pun lantas menceritakan seluk-beluk kejadian, termasuk tentang bagaimana sifat asli sang guru BK yang sangat tidak menyukai dan sering menindas anak-anak dari golongan rendah seperti Luca itu.


Mendengar penjelasan Egi, betapa Lia tak mampu menyembunyikan kemurkaannya lagi.


Dengan amarah, Lia pun berjalan ke ruang guru, tempat di mana sang guru BK itu bersemayam di dalam ruangannya. Andra mencoba mencegah dan berusaha membuatnya untuk tetap tenang, akan tetapi amarah Lia telah terlanjur berada di puncaknya.


Namun ketika Lia sampai di ruang BK, rupanya masalah Luca, telah ada yang menanganinya duluan.


“Bu Astika Nur! Apa-apaan semua ini?! Mengapa Anda malah menghambat atlit sekolah kita yang akan pergi untuk bertanding?!”


“Maaf Pak Kepsek, tetapi bocah ini ketahuan nyontek, jadi saya hanya menjalankan tugas saya dengan berupaya mendisiplinkan dia di ruangan saya.”


“Sudah saya katakan kalau saya tidak pernah nyontek, Bu Guru. Aku mengerjakan soal itu sendiri. Wajar jika soal pilihan ganda dikerjakan, jawabannya bisa sama jika semua menjawab benar. Dan itu bukan berarti salah satu di antara kami menyontek.”


“Kamu masih mengelak ya, padahal buktinya sudah jelas!”


“Lantas saya tanyakan kepada Ibu, di mana bukti yang Ibu katakan jelas itu, Bu? Ibu hanya menyeret saya ke ruangan ini tanpa bukti yang konkrit.”


“Anak kurang ajar ini.”


Sang guru BK, Bu Astika Nur dengan marah mengangkat tangannya hendak menampar Luca, tetapi seketika Bu Sasmi mencegatnya.


“Hentikan itu, Bu! Atau Anda mau kena undang-undang perlindungan anak di bawah umur?”


“Kamu Sasmi sialan pastinya yang telah bicara tidak-tidak ke Pak Kepsek. Tunggu saja balasan dariku. Lagipula anak ini dilindungi oleh komisi perlindungan anak? Anak miskin ini? Hei, dengar Bu. Anak miskin seperti mereka tidak layak mendapatkan perhatian sama sekali.”


“Bu Astika Nur!” Bukan Bu Sasmi, melainkan Pak Kepsek-lah yang telah berteriak.


“Anda saya skors selama 1 minggu dari sekolah! Harap renungkan kesalahan Anda baik-baik!”

__ADS_1


“Tapi Pak Kepsek. Bukan aku, tetapi anak itulah yang harus dihukum.”


“Aku awalnya kasihan padamu karena kata sahabatku, yakni ayahmu, kamu sulit menyesuaikan diri dengan dunia luar karena terkena bullying pas di universitas. Aku kira kamu akan menjadi seorang guru yang baik yang bisa memahami perasaan anak-anak tertindas dengan lebih baik perihal kamu pernah mengalami hal yang sama. Tapi tampaknya aku keliru.”


“Tapi Pak. Anda tidak bisa berbuat seperti ini pada saya. Akan saya laporkan kepada ayah saya, Pak.”


“Ya, sana saja laporkan!” Untuk pertama kalinya, sang Kepsek membentak guru favoritnya itu dengan sangat kasar. Dia pun telah lelah perihal kelakuan sang guru gila.


Satu hal yang Bu Astika Nur tidak sadari. Di belakang, telah muncul sosok anak kesayangan daddy sejati yang kalah jauh darinya. Sosok yang bahkan ketika dia meminta dibelikan pulau terluar Indonesia, dia mendapatkannya dengan mudah dari sang ayah. Dan sosok yang seperti itu kini tengah mengadu ke ayahnya, lantaran kekasihnya telah menerima perlakuan yang tidak layak dari seseorang.


Lia tengah menyusun rencana balas dendamnya kepada sang guru gila.


“Ayah, aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan seseorang.”


Lalu sejak hari itu, tak satupun lagi kabar mengenai guru BK yang terdengar.


Mari kita tinggalkan soal cerita sang guru gila. Singkat cerita, Luca pun segera bergabung dengan tim untuk mengikuti turnamen.


“Luca, semangat!”


Tampak sedikit raut wajah Lia terdistorsi di saat menatap wajah Bu Sasmi. Namun, mari kita kesampingkan dulu cerita yang takkan pernah terjadi perkembangan apa-apa tersebut.


***


Tim e-sport vrmmorpg SMA Pelita Harapan pun menghadiri tempat turnamen. Sungguh tempat turnamen yang meriah. Tetapi berbeda dengan kompetisi awal tahun akademik di mana peserta-nya yang meriah, kali ini penontonnya yang berjibun.


Di samping karena turnamen diselenggarakan di tempat yang enam kali lipat lebih besar daripada sewaktu kompetisi awal tahun akademik, kali ini peserta tidak hanya berasal dari area jawa bagian barat saja, melainkan melibatkan seluruh pelosok pulau yang ada di nusantara. Oleh karena itu, supporter yang hadir pun mutlak lebih banyak.


Masing-masing dari area pulau yang terdiri Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, serta Jawa Bagian Tengah dan Timur plus Nusa Tenggara dan Bali yang disingkat sebagai Area Tenggara, mengutus keempat tim perwakilan mereka. Dengan ditambah kedua belas perwakilan dari Area Pusat yakni yang masuk ke dalam kawasan jawa bagian barat, total peserta jadi berjumlah 32 tim saja.


Wajar jika justru pesertanya yang terlihat sepi. Walaupun lebih sepi, ini jelas turnamen yang lebih bergengsi ketimbang kompetisi awal tahun akademik perihal pesertanya yang benar-benar tersebar dari seluruh pelosok negeri.


Turnamen pun dibuka dengan ditandai penyerahan piala bergilir oleh tim sang juara pertama tahun lalu, yakni SMA Phoenix, perwakilan pertama dari Pulau Papua, yang tidak lain juga merupakan sekolah dari sang alchemist terkenal dari Shadow Park, Krimson.


Lalu, dengan berakhirnya upacara pembukaan, turnamen yang dinanti-nantikan itu pun dimulai.


Sistem pertandingan turnamen akhir tahun ini lebih sederhana daripada kompetisi awal tahun akademik kerena hanya berupa pertandingan 5 on 5 di antara kedua sekolah melalui skema sistem gugur hingga pada akhirnya ditemukan sang pemenang setelah lima kali pertandingan.

__ADS_1


Lalu sebagai lawan Tim SMA Pelita Harapan di putaran pertama ini adalah tidak lain Tim SMA Sahabat Hutan, perwakilan pertama Pulau Kalimantan, sekaligus peraih juara tiga di kompetisi akhir tahun di tahun sebelumnya.


Namun, Tim SMA Pelita Harapan sama sekali tidak menduganya. Entah mereka harus marah atau bersyukur karena ini, perihal Tim SMA Sahabat Hutan justru mengutus dua newbie mereka di posisi penyerang jarak dekat dan support mereka.


Tim SMA Pelita Harapan mutlak benar-benar telah diremehkan oleh sang tim juara III tahun lalu itu.


“Ayo, Luca. Mari buat mereka menyesal karena telah meremehkan kita.”


“Aku sepakat, Senior. Mari kita habisi mereka.”


Dengan aba-aba dari wasit, pertandingan dimulai.


Kembali ke hari sebelumnya, “Kemudian strateginya adalah berpusatkan pada tarian assassin di dalam api berkobar milik Senior Yudishar dengan support panah Egi yang bisa mengejar segalanya walau di tengah kobaran api tersebut. Kemudian Senior Areka berfokus melindungi Senior Yurika yang berfokus pada pemberian buff.”


Begitu aba-aba pertandingan dimulai, Yudishar segera mengeluarkan skill kobaran apinya di mana Luca menari di dalamnya. Tim SMA Sahabat Hutan pun memperketat pertahanan mereka sembari keempat hamster hitam milik sang tamer berhasil melewati kobaran api Yudishar lantas berlari ke arah sang pemberi buff, Yurika.


“Lia, apa tidak apa-apa aku menunjukkan skill lintas dimensi-ku di sini? Kurasa untuk mengalahkan mereka, ini saatnya aku harus mengeluarkan salah satu kartuku yang tersembunyi.”


“Mendengar itu, seakan kamu masih punya banyak kartu as tersembunyi, Yayang Luca. Apa kamu tidak khawatir kalau aku mengetahui semuanya? Perihal walau kita teman sekarang, kita adalah calon lawan potensial di turnamen profesional. Ehem, mengabaikan itu, aku percaya pada keputusan Luca.”


Di tengah kobaran api itu, Luca mengeluarkan serangan tebasan lintas dimensinya untuk mengacaukan lawan seketika dengan segera mengeliminasi sang tamer yang menjadi pusat formasi lawan.


Akan tetapi di luar dugaannya, dua hamster putih yang bertindak sebagai sub tank segera menyadari serangan itu lantas berkorban menggantikan masternya terkena serangan.


Ultimate skill Luca, tebasan lintas dimensi, yang telah disembunyikannya selama ini untuk menjadi senjata rahasianya di waktu-waktu krusial, telah dipatahkan begitu saja oleh Tim SMA Sahabat Hutan.


Seakan memperburuk keadaan, sang assassin lawan telah bertukar posisi dengan salah satu hamster hitam. Areka berupaya mencegatnya, namun sayangnya gagal.


Dengan cepat, sang assassin pun melewati Areka lantas menggorok leher Yurika. Yurika, sang cleric dari Tim SMA Pelita Harapan menjadi peserta pertama yang tersingkir dari arena.


Luca kesal. Namun dia sama sekali tidak menurunkan ketenangannya. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengeliminasi sang tamer perihal posisi party mereka saat ini sedang tidak stabil-stabilnya.


Kobaran api Yudishar di samping membutakan juga telah membuat debuff stamina pada mereka di mana dua dari tiga posisi sub tank lawan telah tereliminasi di arena. Luca cukup mengalihkan perhatian sang shielder lawan lantas menyingkirkan newbie fighter untuk segera menggapai sang tamer.


Namun, harapannya itu seketika dikhianati ketika dua hamster putih sub tank milik sang tamer telah te-respawn begitu saja ke arena.


Luca telah melupakan fakta bahwa semakin lemah monsternya, maka akan semakin cepat pula mereka te-respawn.

__ADS_1


__ADS_2