The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
230. Perburuan Phineas


__ADS_3

Jauh mengintai di sana, Phineas berdiri sembari menyatukan kedua tangannya di balik badannya sambil menatap dari kejauhan wilayah istana Kekaisaran Lalania tersebut dengan penuh ekspresi tatapan mata kebencian.


Tiba-tiba sesosok pria muda datang untuk menghampirinya.


“Semuanya sudah siap, Tuan Phineas.”


“Oh, jadi kamu rupanya, putra dari Duke Trashio. Kerja bagus. Setelah bantuan dari Kerajaan Melodia itu tiba, kami juga akan segera mempersiapkan diri. Tidak lama lagi, istana kekaisaran yang kokoh itu hanya akan sisa puing-puing belaka dan seluruh keturunan Sultan Lacoza akan lenyap dari muka dunia ini.”


Ujar Phineas tanpa sedikit pun niat menyembunyikan kebencian dari tiap perkataannya.


“Oh, itukah yang kamu rencanakan Necromancer Phineas? Atau… haruskah kamu kupanggil dengan sebutan Kak?”


Mendengar suara yang tidak asing itu, Phineas begitu terkejut perihal setahu dia, pemuda yang memiliki suara seperti itu seharusnya masih sibuk dengan kompetisinya.


“Kamu, bagaimana bisa kemari?” Tanya Phineas tak percaya apakah sosok pemuda yang dia lihat di hadapannya itu apakah benar-benar orang yang dikenalnya atau bukan.


Tapi tak salah lagi. Benar bahwa itu adalah Luca.


“Sejak kejadian penyerangan istana yang terakhir, aku meminta Aura lebih waspada memeriksa lingkungan sekitar istana. Kamu tahu, Aura kini telah mencapai level lebih dari 400, kemampuannya merasakan perubahan mana sekitar sekecil apapun menjadi lebih sensitif. Berkat itulah Aura bisa segera menyadari gerakanmu, Kak Phineas. Berkatnya, tepat setelah usai kompetisi, aku harus segera kemari.”


Tanpa menyadari situasinya, Trashio muda menganggap remeh Luca yang hanya seorang diri itu lantas dia pun menyuruh para anak buah yang datang bersamanya yang jumlahnya hampir mencapai dua puluh itu menyerang Luca secara bersamaan.


“Habisi.” Dalam sebuah kata komando, para prajurit berpenutup wajah hitam itu segera maju bersamaan menyerang Luca.


Akan tetapi, Luca hanya bergerak maju sambil menghindari arah tebasan para pembunuh profesional tersebut dengan ringan sembari membalas serangan dengan cepat yang saking cepatnya, bahkan para prajurit profesional seperti mereka pun sama sekali tidak menyadari akan kematian yang telah menjemput mereka sampai di detik-detik terakhir ajal mereka menjemput.


“Hiii.” Melihat keseraman ekspresi Luca dalam versi rambut hitamnya yang bagaikan prajurit kematian yang membunuh tanpa terlihat bergidik sedikitpun, sang Trashio muda lantas ketakutan sampai-sampai mengeluarkan erangan aneh.


“Kamu… Kamu! Kamu pikir kamu akan selamat setelah melakukan semua ini padaku?!”


“Tentu saja, sejak aku player. Kalau aku mati di dunia ini, aku hanya akan hidup kembali. Berbeda denganmu. Kalau kamu mati, bangkaimu hanya akan dimakan oleh para gagak rakus itu saja. Bagaimana rasanya membayangkan kematian yang ada di depan matamu itu, wahai Tuan Penjahat?”


Luca tersenyum di saat mengucapkan kalimat tersebut, tetapi siapapun yang melihatnya pasti segera mengetahui bahwa apa yang diucapkan Luca itu bukanlah candaan.


“Hiii. Tuan Phineas! Tuan Phineas! Tolong selamatkan saya dari bocah pembunuh itu.”


Melihat ekspresi ketakutan dari sang Trashio muda, Phineas hanya menatapnya dengan lembut lalu sesaat kemudian, pandangannya langsung tertuju kepada Luca.


“Makin hari kamu makin berubah sejak tinggal di dunia nyata. Siapa yang mengajarimu kata-kata kejam seperti itu, adik polosku, Luca?”


“Aku tidak mau mendengar itu dari orang yang berniat melakukan pembunuhan massal sepertimu.”

__ADS_1


Di tengah pembicaraan Luca dan Phineas, tampak Trashio muda berupaya menghubungi bantuan dari Kerajaan Melodia, sayangnya hanya berita negatif yang menunggunya di sana.


“Itu tidak bisa untuk saat ini. Kami juga sedang diserang… Akh!” Lalu komunikasi itu pun terputus begitu saja.


“Itu percuma Tuan Trash, rekan-rekan player-ku yang lain juga telah ikut membantuku mengendalikan penyerangan di tempat lain, di samping pamanku Heisel mengendalikan keadaan di pusat Kerajaan Melodia. Semuanya telah berakhir sekarang.”


“Hiii.”


“Luar biasa. Tanpa kusadari, kamu rupanya sudah berkembang sejauh ini, Luca. Kamu bukan lagi bocah individualis yang hanya memikirkan diri sendiri. Kini kamu juga telah mengerti bagaimana caranya memikirkan strategi dengan mempercayai rekan-rekanmu demi memaksimalkan kesuksesan misi. Aku salut padamu. Kamu rupanya telah dewasa, adikku Luca.”


“Terima kasih atas sanjungannya. Karena rekan-rekanku di tempat lain telah memenuhi janjinya, kini giliranku untuk memenuhi janjiku… membunuh kalian berdua.”


“Hiii. Mana mau aku mati di tempat ini. Kamulah yang harus mati, bocah cebol sialan!”


Dengan panik, sang Trashio muda mengarahkan pisaunya ke arah Luca demi mampu menyelamatkan diri. Sayangnya, itu adalah serangan yang sangat kikuk di mana terlihat bahwa betapa sang Trashio muda menyia-nyiakan waktunya selama ini untuk latihan menggunakan senjata.


Tanpa berupaya menghindari pisau yang takkan mungkin mengenainya itu, Luca hanya melangkah maju seperti biasa lantas menancapkan dagger taring serigala peraknya itu tepat ke jantung sang Trashio muda.


Setelah sang Trashio muda meregang nyawa, arah pandangan mata Luca kini tertuju kepada Phineas.


“Kini giliran kamu, Kak. Sayang sekali, padahal betapa aku ingin kita menjadi keluarga yang seutuhnya. Sayangnya, aku harus mengambil nyawamu di sini saat ini demi perdamaian benua.”


Akan tetapi, hal yang tidak diduga-duga lantas tiba-tiba terjadi.


Lebih dari sepuluh zombie dalam sekejap terbangkitkan yang mengitari sekeliling Luca sembari Phineas berlari ke arahnya.


Luca pun mengira bahwa Phineas akan menyerangnya, tetapi daripada perasaan amarah, justru ekspresi kekhawatiranlah yang bisa Luca lihat di wajahnya.


Luca sejenak jadi kebingungan dengan maksud semua itu.


Akan tetapi, tidak butuh waktu dua detik sampai semuanya jelas.


Sesosok cepat menyambar Luca dalam kecepatan yang bahkan inderanya yang peka tak mampu mendeteksinya. Syukurlah, para zombie Phineas menghalangi serangan itu sehingga Luca bisa terselamatkan sesaat.


\=\=\=


Nama: Aeghter (Level 420)


Race: Orc tipe chimera


Umur: 107 tahun

__ADS_1


Jenis kelamin: jantan


Status: terpapar pure dark energy


\=\=\=


“Akh!”


Luca terhempas.


“Luca!”


Akan tetapi, Phineas bisa tepat waktu menggapainya sehingga tidak terjadi luka fatal pada tubuh bocah itu.


Luca pun mengamati dengan baik sosok makhluk yang menyerangnya tersebut. Rupanya, itu adalah sang monster chimera bersayap yang sempat dia lawan sebelumnya di Hutan Kerajaan Doremi.


Tetapi ini aneh, baru setahun lebih waktu dunia nyata seingat Luca waktu dia terakhir kali bertemu dengannya, monster itu telah meningkat levelnya sampai empat kali lipat, terlebih dengan kemunculan status aneh pada monster demon tersebut.


Terpapar pure dark energy.


“Luca! Luca! Kamu baik-baik saja?!”


“Kak Phineas?! Apa yang Kakak lakukan? Mengapa Kakak justru menyelamatkanku?! Bukankah baru saja tadi aku hendak membunuh Kakak? Atau jangan-jangan, ini juga salah satu skema dari Kakak ya untuk mengelabuiku? Monster itu juga rupanya rekan Kakak.”


“Tenang, Luca. Lari dari sini. Pokoknya jangan sampai kamu terkena serangan dari demon itu.”


“Kenapa? Lagian ini bukan tubuh asliku. Aku hanya akan game over jika kalah. Itu pun, ada gelar wanderer sejati-ku yang membuatku tidak bisa game over.”


“Demon itu beda, Luca. Sekali kau terluka dan game over karenanya, maka jiwamu akan selamanya terperangkap di dalam kegelapan.”


“Apa?”


Seakan tanpa memberi kesempatan mereka berdua mengobrol selama pertarungan, dengan kecepatan yang bahkan tak bisa ditangkap oleh indera penglihatan Luca yang tajam, Aeghter, sang demon, begitu saja ada di hadapan mereka berdua lantas bersiap mencakar Luca.


Akan tetapi, justru Phineas-lah yang mengorbankan dirinya menggantikan Luca terkena serangan tersebut.


Level Phineas melampaui level yang diizinkan untuk manusia normal. Tetapi bahkan dengan level yang seperti itu, tetap saja masih kalah jauh dari sang demon yang terpapar pure dark energy tersebut sehingga seketika dalam satu kali tebasan itu, HP Phineas langsung mencapai nol begitu saja.


“Kak Phineas!!!”


Teriak Luca pada Phineas yang telah berada dalam kondisi sekaratnya.

__ADS_1


__ADS_2