The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
28. Luca Diakui oleh Senior Angkuh


__ADS_3

“Eh, apa yang barusan terjadi?  Areka barusan kalah kan?”


“Itu tidak mungkinlah Areka kalah sama Newbie.”


“Tapi barusan tadi bagaimana?”


“Pasti si newbie berbuat curang.”


“Tapi bagaimana caranya?  Itu jelas-jelas pertarungan yang adil barusan.”


“Kalau tidak, pasti Areka hanya lengah saja dan membiarkan pertahanannya terbuka kan?  Lihat saja, dia minta pertandingan ulang lagi.”


Sontak para penonton riuh menyaksikan kekalahan Areka yang terjadi dalam sekejap itu, terlebih lawannya hanyalah seorang newbie yang bertampang lemah dengan tubuh mungilnya.


“Bukan seperti itu.  Aku mengaku secara resmi telah kalah pada pertandingan barusan dan Luca memang benar-benar telah memenangkan taruhannya.”  Areka pun membuat pernyataan atas protes Nina terhadap ucapannya barusan yang bisa didengarkan oleh seisi podium.


Podium pun bertambah ramai.


“Eh, jadi Areka benar-benar kalah?”


“Bagaimana bisa top number 1 pemain e-sport sekolah kita kalah sama newbie?”


“Tidak mungkin!  Ini pasti akan jadi aib besar buat klub e-sport sekolah kita.”


Mereka pun jadi mempertanyakan kredibilitas klub e-sport sekolah mereka beserta Areka yang berdiri di puncaknya.


“Hah, para rakyat jelata ini benar-benar berisik.  Memangnya kenapa kalau aku kalah sekali atau dua kali.  Itu berarti masih ada yang lebih baik lagi di atasku.  Kenapa mereka semua berekspektasi terlalu tinggi padaku?  Itu membuat kesal saja.”  Areka yang dapat mendengar cercaan mereka dari belakang, tak dapat menahan frustasinya.


Luca turut menyaksikan cercaan parah dari para penonton kepada Areka itu yang malah menghinanya setelah sebelumnya begitu memuja-memujanya hanya dalam satu kali kekalahan.

__ADS_1


“Senior?  Kamu tidak apa-apa?  Karena aku sudah memenangkan taruhannya, tidak apa-apa bagiku untuk bertanding ulang dengan Senior dan aku akan mengalah kali ini demi menjaga nama baik Senior asal Senior mau berjanji tidak memandang rendah Kak Nina lagi.”  Luca yang tak mengerti apa-apa lantas malah menabur garam di atas luka Areka.


Areka tak pernah terlalu memikirkan omongan para penonton itu karena sudah biasa baginya untuk dipuji ketika menang dan dihujat ketika kalah.  Itulah nasib yang selama ini dialaminya sebagai pahlawan di dalam kandang, tetapi pecundang ketika menghadapi 3 besar sekolah elit.


“Kau?!  Apa yang kau tahu aku rasakan?!”  Areka bergejolak marah.  Namun, seketika dia berhenti ketika melihat ekspresi polos Luca.  “Ah, anak ini terlalu polos saja dalam menilai dunia rupanya.  Sama sekali tidak ada niat jahat dalam ucapannya.”


Areka pun menepuk pundak Luca.  “Tidak.  Kau tidak perlu sejauh itu.  Jika tujuanmu adalah untuk menghiburku, maka apa yang barusan kau ucapkan itu, justru membuatku lebih terluka, bocah.”


Areka mencoba jujur pada Luca dan Luca yang pada dasarnya jarang bergaul sehingga kurang mengerti perasaan orang lain hanya menatapnya dalam diam.  Tetapi satu hal yang Luca sadari, dia yakin telah berbuat salah pada Areka.  “Maaf, Senior.”  Luca pun meminta maaf dengan tulus.


Areka tersenyum mendengar perkataan tulus itu.


“Tidak usah pedulikan omongan orang lain.  Kalau kau memang mau mengabulkan permintaanku, maka bertandinglah sekali lagi denganku.  Bisa saja tadi aku lengah dan tidak mengeluarkan kemampuan optimalku.  Aku berjanji di pertandingan kali ini, aku tidak akan lagi mengecewakanmu dengan mengeluarkan kemampuanku yang terbaik sedari awal.  Maka kau juga, keluarkanlah kemampuanmu yang paling maksimal, bocah.”


Tanpa sadar, sudut bibir Luca tersungging, “Memang seperti itulah seharusnya keasyikan pertarungan.”  Luca tersenyum senang dengan adrenalin yang menggebu-gebu.


Ronde kedua pun bersiap dimulai.  Sebelum pertandingan dimulai, sekali lagi wasit memberikan arahannya.


“Sepakat.”


“Tidak ada masalah.”


Kedua pemain pun menjawab dengan yakin perkataan wasit pertandingan.


Lalu dengan aba-aba dari wasit, “Bersiap… Mulai!”  Pertandingan ronde kedua pun dimulai.


Kali ini, Luca meng-summon salah satu senjata dagger ciptaan baru-nya, dagger taring serigala perak level tinggi, dengan daya serang 55, hampir dua kali lebih kuat dari daya serang dagger Luca yang sebelumnya.


“Hei, bocah.  Jangan bilang kamu akan mengeluarkan jurus berbahaya itu lagi padaku.  Cukup sekali saja aku dibuat ketakukan setengah mati akannya, diserang di bagian yang aneh seperti itu.  Takkan lagi kubiarkan pertahananku lengah.”

__ADS_1


Namun, di luar dugaan Areka, rupanya Luca justru mengeluarkan jurus tusukan penghancur tengkoraknya mengarah langsung pada perisainya.


“Hei, apa yang kau lakukan, bocah?  Kau mengeluarkan banyak MP-mu secara sia-sia begitu dengan mengeluarkan jurus pamungkasmu hanya untuk menyerang perisaiku?  Jangan bilang kamu pikir perisaiku ini akan retak dengan serangan pamungkas seseorang dari kelas assassin, terlebih masih apprentice yang belum menerima latihan yang layak…”


Tapi bagaikan jinx, hal itu benar-benar terjadi.  Perisai seorang shielder retak oleh serangan pemain dari kelas penyerang lemah seperti assassin, terlebih yang masih berstatus newbie tersebut.  Tidak, bukan hanya retak, tetapi malah hancur.


“Apa?  Kok bisa?”


Tanpa sempat lagi memperbaiki posisinya setelah goyah akibat momentum ketika perisainya hancur, Areka harus menerima serangan tusukan penghancur tengkorak dari Luca.  Kali ini, datang secara langsung dari arah depan.


Areka pun game over.


Sesaat, Areka melongo takjub tak percaya.


“Tidak.  Ini terlalu luar biasa!  Newbie itu justru jauh lebih hebat dari bayanganku.  Bocah, ayo bertanding ulang sekali lagi.”  Areka sekali lagi meminta pertandingan ulang.


“Tapi Areka, perisai latihanmu sudah hancur begitu…”  Tampak Yudishar ingin menghentikan Areka yang terlihat terlalu menggebu-gebu.


“Ah, aku minta maaf, Senior, karena telah menghancurkan perisaimu.”  Luca yang baru tersadar telah menghancurkan perisai Seniornya, lantas turut meminta maaf.


“Ah, tidak apa-apa, Luca.  Lagian ini di luar game.  Barang yang hancur di luar game takkan hilang dan akan kembali lagi begitu kita connect ke game.  Lagipula aku masih punya ini.”


Areka pun segera mengeluarkan perisai lainnya setelah tere-spawn lantas kembali menantang Luca.


Namun, mulut Yudishar terlihat menganga, tidak, tidak hanya Yudishar saja, tetapi juga Nina, Raia, dan hampir sebagian besar penonton terlihat kaget begitu Areka mengeluarkan perisainya itu.


Mengapa semua orang kaget, karena itu adalah perisai andalan Areka yang selalu digunakannya setiap kali mengikuti perlombaan e-sport resmi mewakili sekolah.  Perisai yang selalu mengantarkannya menjadi salah satu pemain e-sport terbaik di pertandingan tingkat SMA.  Perisai yang sama sekali hampir tidak pernah digunakan Areka di luar pertandingan resmi karena sebegitu sayangnya Areka pada perisainya itu yang membuatnya tak ingin sampai lecet.


Perisai yang dia keluarkan di luar pertandingan resmi hanya ketika dia menghadapi lawan yang benar-benar diakuinya.  Itu berarti, Areka saat ini benar-benar mengakui sang newbie yang ada di hadapannya itu sebagai lawan yang hebat.

__ADS_1


“Nah, sekarang, bocah, mari kita mulai pertandingan ronde ketiga kita.  Kali ini, kau tidak akan bisa lagi mengalahkanku.”  Ujar Areka dengan penuh percaya diri.


__ADS_2