
Malam sebelumnya di hari pertandingan babak ketika individu.
Lia dan Medina yang kebetulan sekamar dan bersiap akan beristirahat, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seseorang berpakaian serba-hitam dari balik jendela kamar mereka yang padahal terletak di lantai 4 gedung asrama itu.
Namun sebelum sempat Medina berteriak, Lia cekatan menghentikannya dengan membekap mulut wanita itu.
Lia pun sambil berujar,
“Luca? Apa itu kamu?”
Sosok berpakaian hitam dengan rambut emasnya yang bercampur hitam dan dengan tinggi badan yang di bawah rata-rata itu pun mulai membuka kain yang menutupi wajahnya.
“Lia, maaf mengganggumu malam-malam. Aku hanya khawatir setelah membaca pesanmu barusan.”
Lia hanya tertunduk mendengar itu.
“Apa kamu sangat mengkhawatirkan lawan pertandinganmu besok?”
Sekali lagi Lia hanya terdiam.
“Kalau begitu, ikut aku. Ayo kita main game malam ini.”
“Eh, itu tidak boleh, adik kecil. Ngomong-ngomong, siapa dia, Lia? Apa jangan-jangan dia anak SD? SMP? Apa dia adikmu? Apa jangan-jangan ayahmu selama ini punya anak rahasia dengan wanita barat?”
Luca yang kesal dengan pertanyaan tidak sopan Medina itu pun menjawab dengan tegas, “Aku pacarnya Lia dan aku ini seumuran Lia. Lagipula, aku tidak hanya sekadar mengajak Lia bermain-main saja. Aku bisa mengcopy gaya bertarung orang yang akan dihadapi Lia besok sehingga Lia bisa menyusun strategi untuk menghadapinya besok.”
“Eh, itu tidak mungkin Adik Kec… Pacarnya Lia?” Medina segera memutar perkataannya begitu melihat perubahan ekspresi di wajah Luca yang seketika menunjukkan kekesalan.
“Lagian lawan Lia besok itu adalah assassin veteran yang sudah 3 kali ikut kompetisi tingkat internasional ini, terlebih dia masuk delapan besar tahun lalu di babak pertandingan individu. Orang amatir sepertimu mana mungkin bisa meniru gerakannya… Aaaaaaakh!”
Medina pun terkaget seketika begitu Luca dengan cepat telah berada di belakangnya sembari menodongkan pisau ke lehernya.
“Bagaimana bisa kamu bergerak seperti itu?! Lagipula kita kan sedang bukan di dalam game?! Apa… Siapa sebenarnya kamu?!”
“Aku bukan siapa-siapa kok, Kak Medina. Aku hanya seseorang yang mengkhawatirkan pacarnya saja. Bagaimana Lia, mau latih tanding denganku di game?”
“Hmm.” Lia hanya mengangguk dalam diam.
Tidak, wanita itu tersipu malu. Dia senang karena justru menganggap ini sebagai ajakan kencan seorang pacar di waktu yang tak terduga.
Lia tak tahu saja bahwa Luca serius akan perkataannya, di kala dirinya sendiri sudah pasrah dengan hasil pertandingannya besok karena tim manajemen-nya saja sudah memutuskan bahwa tidak ada jalan bagi Lia untuk bisa menang melawan Goruth besok.
Tim manajemen-nya sendiri sudah mengabaikan Lia dan berfokus seratus persen untuk kemenangan Asario seorang.
“Tok tok tok tok.”
Tiba-tiba suara gedoran keras pintu mengagetkan mereka.
__ADS_1
“Hei, Medina, ada apa?! Mengapa kamu berteriak?! Apa kamu baik-baik saja?!
“Senior Medina, Senior baik-baik saja kan? Toni bilang merasakan kehadiran penyusup di asrama.”
Itu adalah suara Asario dan Mark. Mereka mengkhwatirkan keadaan kedua pemain inti wanita mereka setelah mendengarkan suara teriakan Medina dari luar.
“Ah, aku baik-baik saja. Aku hanya kaget melihat tikus besar.”
“Apa? Bagaimana bisa ada tikus besar di kamar asrama yang seharusnya bersih…”
Luca pun membawa Lia keluar lewat jendela di tengah-tengah keributan itu.
***
Latih tanding mereka pun dimulai.
“Slash.” Dalam sekejap, Luca telah berada di belakang Lia sembari menodongkan pisaunya.
Gerakan sama persis seperti yang dilakukan dengan tubuh asli Luca kepada Medina barusan.
“Luca? Bagaimana kamu bisa bergerak selincah itu? Tidak hanya itu, kamu juga selincah itu dengan tubuh nyata kamu.”
“Ada kalanya manusia bisa menerapkan gerakan yang ada di dalam game dengan tubuh nyata mereka.”
“Ah, konsep sinkronisasi ya. Aku juga sudah pernah dengar itu. Tapi aku tetap tidak percaya bahwa ada orang yang benar-benar bisa melakukan gerakan di dalam game seperti itu di dunia nyata.”
“Tapi tim manajemen-ku saja sudah mengatakan bahwa tidak ada peluang bagi aku bisa menang.”
“Apa Lia baik-baik saja dengan itu?”
Lia lama diam sebelum pada akhirnya dia menjawab, “Aku ingin menunjukkan kemampuan terbaikku.” Jawab wanita itu sembari tersenyum lembut ke arah Luca.
“Tapi tak kusangka pacarku justru lebih hebat dariku.”
Mendengar ucapan wanita imut itu, Luca hanya balas tersenyum seraya berkata, “Semangatlah Lia. Kuyakin kamu ada peluang mengalahkan Goruth selama kamu mempelajari dengan baik apa yang aku ajarkan padamu malam ini. Ini terkait dengan kebiasaan fatal Goruth…”
“Dor dor.”
“Slash, trang trang.”
Lalu latih tanding di antara sepasang kekasih itu pun berlanjut.
.
.
.
__ADS_1
“Sayangnya kita hanya bisa main game sampai jam 12 saja. Benar-benar larangan waktu main game bagi anak di bawah umur itu cukup merepotkan.”
“Hehehehehehehehe.” Lia hanya tertawa sembari mendengarkan dengan tulus keluh-kesah pacarnya itu.
Begitu hendak mereka akan meninggalkan pusat game di hotel tamu keluarga, mereka pun bertemu dengan sosok yang tidak diduga-duganya.
“Kak Leo?”
“Yo, Luca. Sebenarnya, malam ini aku hanya ingin pamit padamu sebelum pulang ke rumah. Aku bertanya dan Nina bilang kamu ada di sini, makanya aku kemari. Aku tidak menduga rupanya kalian sedang kencan.”
“Kencan apanya? Kami sedang latih tanding.”
Leo hanya mengabaikan perkataan Luca itu lantas menatap lurus ke arah Lia.
“Lia, kalau tidak salah namamu kan?”
“Iya.”
“Besok, lawanmu adalah Goruth. Kamu harus hati-hati. Dia tidak hanya hebat dalam seni assasinasi, tetapi juga mulutnya itu pandai membuat orang kesal lantas memanfaatkannya untuk keuntungan pertarungannya. Apapun yang terjadi, jangan sampai termakan oleh provokasinya besok.”
Lia hanya menatap dalam diam ke arah Leo yang memberikannya nasihat itu.
“Sebenarnya, aku sendiri yang ingin memberikannya pelajaran atas perbuatan yang dilakukannya pada rekan setim-ku tahun lalu. Tetapi kini aku telah kalah. Makanya tekad-ku ini akan kuwariskan padamu, player Lia.”
Lia pun mengangguk dengan yakin seakan menerima tekad kuat dari Leo itu.
“Tapi bukankah masih ada tahun depan, Kak Leo? Kak Leo kan masih bisa berusaha tahun depan lagi?”
Terhadap pertanyaan Luca itu, Leo hanya tersenyum kecut.
“Sayangnya, baik aku atau dia mungkin tidak akan ada lagi di arena ini tahun depan.”
“Eh, mengapa? Bukankah batas umur untuk ikut lomba ini 25 tahun kan, Kak Leo? Umur Kakak dan Goruth kan sama-sama masih 17 tahun? Kenapa tidak bisa ikut lomba lagi?”
Kali ini, Leo hanya memilih diam dalam senyum kecut terhadap pertanyaan Luca itu.
“Yang paling penting, semangatlah, Player Lia!” Ujar Leo seraya berbalik menatap Lia.
Tiada ekspresi lain di balik wajah player wanita itu selain sebuah ekspresi kesungguhan.
***
Dan di sinilah saat ini, player wanita itu menghadapi musuh yang sangat tangguh, seorang assassin dari Tim Lost Child bernama Goruth.
Dalam sekejap mata, Goruth telah menghilang dari hadapan Lia dan berada di belakangnya, bersiap untuk menggorok lehernya.
Akan tetapi dengan sigap, Lia menjerat assassin itu dengan benang-benang tipis yang terbuat dari sihir sucinya tersebut sebelum sempat mendekatinya lebih dekat.
__ADS_1
Itu adalah jurus baru Lia.