The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
197. Babu Serbabisa, Scout dari Sudut Pandang Diana


__ADS_3

[POV Diana]


‘Skill: area detection’


“Ah, di sana! Ketemu kau, tupai menyebalkan! Hiyaaaat!”


“Clang.”


“Apa? Meleset lagi?!”


“Dasar bodoh! Sudah kubilang berkali-kali, perkirakan motion dari tupainya! Kamu pikir akan ada makhluk hidup yang hanya diam saja saat terancam bahaya?! Pikirkan segala kemungkinannya!”


“Maaf, Master.”


“Hah! Sebagai hukumannya, lakukan hand jump sebanyak seratus kali lagi!”


“Baik, Master.”


Begitulah kerasnya keseharian pelatihan yang aku jalani bersama Guild Master Scout. Awalnya kukira, scout itu hanyalah sekadar kelas yang berfungsi sebagai pengintai garis depan saja. Akan tetapi, rupanya aku keliru.


Kelas scout itu adalah kelas serbabisa, tidak, tepatnya babu serbabisa.


Kami harus menyiapkan segala sesuatunya di lapangan dengan lebih awal dan matang dibandingkan dengan anggota party yang lain, mulai dari pemasangan jebakan, mengidentifikasi area apakah bebas dari jebakan musuh, memprediksi treat baik dari monster maupun alam itu sendiri, menemukan lokasi istirahat terdekat dan tempat adanya sumber daya pemulihan mana maupun health, serta masih banyak lagi tugas-tugas babu yang harus dilakukan.


“Ah, pelatihannya begitu melelahkan.”


Aku tanpa sadar mengeluh di tengah jeda istirahat itu. Pelatihan selama 8 jam non-stop tiap hari dengan hanya ada 3 kali jeda istirahat, itupun hanya selama tidak lebih dari 10 menit. Sungguh, benar-benar pelatihan yang melelahkan.


Namun, itu tidak sepenuhnya tidak menyenangkan. Suatu hari Master memujiku,


“Kamu sudah berkembang dengan baik, Diana. Kini, kamu bukan lagi belatung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kini kamu sudah layak menjadi kecoak yang bisa survive di tengah situasi ekstrim. Bagaimana pun, kamu masih lemah dari segi kekuatan sehingga kamu masih harus banyak berlatih, setidaknya sampai kamu dapat lebih kuat daripada ayam.”


Entah mengapa, perasaanku senang mendengar pujian yang mungkin bagi sebagian orang akan merasa ambigu apakah itu memang benar-benar pujian atau hinaan. Yang jelas, perasaanku senang karena kerja kerasku terasa dihargai dan itu sudah cukup bagiku.


Tentu saja tidak hanya itu saja. Kini skill deteksi-ku sudah berkembang sangat jauh pesat. Walaupun radius deteksi-ku tidak berkembang di angka 2 km, namun kini aku telah dapat membedakan posisi objek sampai ke ranah 20 cm.


Ya, aku kini bisa mendeteksi posisi hewan kecil lincah semisal tupai dengan sangat baik. Namun, untuk hewan semisal semut maupun hewan lain seukurannya seperti yang bisa dilakukan oleh Kak Andra, aku masih perlu banyak-banyak berlatih lagi.

__ADS_1


Akan tetapi, walau skill pendeteksian-ku sudah meningkat ke taraf yang aku sendiri bisa untuk membanggakannya, termasuk skill memasang jebakan, penerawangan jarak jauh, dan berbagai skill tipe support lain khas scout, aku masih lemah dalam hal agility yang seharusnya menjadi syarat wajib seorang scout.


Tidak hanya itu, kekuatan seranganku juga masihlah sangat lemah. Walaupun pada dasarnya kekuatan serang scout itu memang lemah, tapi aku bisa merasakannya sendiri bahwa kekuatan serangku sendiri malah masih jauh lebih lemah dari nilai rata-rata yang memang sudah lemah itu.


Masih banyak hal yang mesti aku benahi untuk memperbaiki kekuranganku. Tetapi, aku bisa merasakan bahwa pelatihan tiap hari bersama Master benar-benar sedikit demi sedikit memperbaiki kekuranganku tersebut.


Namun hari ini, tiba-tiba Master mengatakan hal itu kepadaku,


“Maafkan aku, Diana. Untuk beberapa hari ke depan, aku tidak akan bisa melatihmu dulu perihal aku harus pergi menjalani misi jangka panjang.”


Aku kecewa. Tapi tentu saja tak kutunjukkan raut wajah kecewaku itu di hadapan Master. Justru di saat-saat seperti ini, aku benar-benar harus menunjukkan sikap sebagai murid yang baik dengan mengantarnya melalui senyuman.


“Hati-hati di jalan, Master.” Ujarku dengan senyuman. Namun, rasa sedih perpisahan yang walaupun itu hanya untuk sementara benar-benar tak dapat terhindarkan.


Tetapi aku tetap kuat.


Tiada yang dapat kulakukan soal misi milik Master. Akan tetapi setidaknya dari tempat yang jauh ini, aku bisa mendoakan keselamatannya berharap semoga story developer dari pihak pengembang game tidak berbuat macam-macam pada alur story Guild Master Scout, Deborah Briar dan memulangkannya kembali padaku dengan selamat.


Soalnya, sosok NPC Deborah Briar telah menjadi salah satu sosok penting yang menempati relung hatiku, mengabaikan dia nyata ataukah tidak.


Di waktu istirahat pelatihan yang entah sampai kapan itu, aku pun melaporkan segalanya kepada guild master-ku yang telah memperkenalkan aku pada sosok NPC hebat seperti Master. Sang guild master pun, Luca, teman seangkatan-ku yang polos, namun di satu sisi dia bisa menjadi sangat serius untuk suatu hal yang bahkan tidak dianggap penting oleh orang lain, menyambutku dengan hangat.


Berdasarkan pernyataan Luca, mereka sedang menyelidiki keanehan pergerakan monster di Kerajaan Melodia. Tampaknya, alur story utama game sekarang memasuki cerita di mana kekacauan di antara tiga kerajaan yakni Kekaisaran Lalania, Kerajaan Symphonia, dan Kerajaan Melodia akan segera terjadi.


Aku pun dibawanya ke suatu ruangan sepi. Aku sempat berpikiran buruk padanya yang sampai membuat aku merasa bersalah setelahnya karena telah memikirkan hal tak senonoh tersebut. Luca memang terlihat polos dan baik hati dari luar, tetapi siapa yang tahu kalau ternyata itu hanya topeng semata, perihal terkadang dia selalu melakukan hal-hal yang mencurigakan tanpa sepengetahuan yang lain. Itulah yang membuatku sedikit meragukannya.


Tetapi apa yang ada di dalam ruangan justru adalah sambutan hangat dari kelima anggota guild extra lain yang ternyata telah sejak dari tadi menunggu kepulanganku setelah mereka tahu aku akan segera pulang melalui Luca yang aku hubungi sebelumnya.


‘Maaf, Luca, telah berpikiran yang tidak-tidak soalmu.’ Aku pun hanya dapat meminta maaf secara internal dalam hati pada pemuda polos itu.


Kulihatlah pula bersama mereka sosok piala kemenangan turnamen guild extra tersebut. Tanpa sepengetahuanku, rupanya guild extra tempat aku berada telah tumbuh sekuat itu sampai bisa menjadi guild nomor satu di game The Last Gardenia ini. Yah, walau itu hanya sekadar kompetisi kecil-kecilan antarguild extra yang tidak melibatkan para ranker yang lebih memilih untuk hidup sendiri di dalam game.


Bagaimana pun, aku senang akan prestasi mereka, walau aku tidak dapat menyembunyikan bahwa aku sedikit iri karena tidak dapat turut berkontribusi dalam turnamen tersebut.


“Oh iya, teman-teman. Karena Diana sudah ikut bergabung bersama kita, mulai hari ini tim newbie akan memulai pelatihan kerjasama tim. Kak Andra, Lia, mohon supportnya juga ya.”


Luca tiba-tiba saja berbicara seperti itu.

__ADS_1


“Tenang saja, Luca. Aku dan Andra akan memastikan bahwa kalian berlima akan menjadi tim yang terkompak.”


Begitu pulalah ujar Lia disertai dengan senyuman. Bagaimana tidak aku merasakan goosebumps karenanya.


“Oh iya, dalam waktu tiga hari lagi, Kak Keporin, Kak Dimitri, Kak Blanche, Kak Derickson, dan Kak Heine telah berjanji akan menjadi lawan latih tanding kita. Jadi sebelum itu, mari berlatih sekuat tenaga sampai tetes terakhir keringat kita.”


“Yosh.”


“Yosh.”


“Yosh.”


Informasi yang mendadak seperti itu, tiba-tiba saja disampaikan oleh Luca seakan bukan apa-apa dengan penuh semangat. Tidak hanya dia yang bersemangat, tetapi juga Kak Nina. Kak Raia, dan bahkan Chika turut bersemangat bersamanya dengan perkembangan alur yang tiba-tiba itu.


Tapi tunggu dulu, rasanya ada yang salah.


“Anu, Luca. Jangan-jangan Keporin, Dimitri, dan Derickson yang kamu maksud itu adalah the main NPC yang terlibat pada jalur cerita utama di game?”


“Hmm. Itu benar.”


Apa-apaan yang guild master kita ini baru saja bicarakan?! Entahlah siapa itu Blanche ataukah Heine yang sepengetahuanku hanyalah NPC tipe non-kombatan, tetapi beda halnya dengan Keporin, Dimitri, dan Derickson. Mereka adalah barisan NPC tingkat tinggi yang memiliki kekuatan over power.


Apakah Luca benar-benar berpikir bahwa party yang dibentuk oleh pemain newbie seperti kami ini bisa mengalahkan barisan NPC hebat seperti mereka? Jangankah latih tanding, kita hanya akan menjadi sandbag bagi mereka.


Namun karena baik sang guild master termasuk para anggota yang lain sudah terlanjur sangat bersemangat, aku hanya dapat berbaur dalam suasana itu dan memutuskan untuk melakukan yang terbaik pula bersama mereka.


Tetapi lebih dari apapun, aku juga penasaran, sampai di mana diriku ini dan tim telah berkembang dan sampai sejauh apa kami akan bisa bertahan melawan barisan NPC prominen itu.


“Mari kawan-kawan kita incar kemenangan.”


“Yosh.”


“Yosh.”


“Yosh.”


Tetapi tampaknya, alih-alih memikirkan sampai sejauh apa kami bisa bertahan, mereka semua benar-benar percaya bisa menang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala karenanya. Entah aku harus takjub atau merasa kasihan kepada kepolosan sang guild master.

__ADS_1


Namun karena mereka tiba-tiba saja melihatku seakan juga menunggu tekad dariku, dengan malu-malu, aku pun turut berucap,


“Y… Yosh.”


__ADS_2