
Pekerjaan anggota klub e-sport vrmmorpg profesional tidak hanya sebatas bermain game dalam turnamen saja. Terkadang, kami juga harus mempromosikan produk dari sponsor. Termasuk hari ini, aku dan tim pergi ke pelosok terpencil tanah air untuk mempromosikan game The Last Gardenia yang merupakan produk game yang saat ini berafiliasi dengan pemerintah.
Masih ada beberapa tempat di tanah air yang saat ini masih belum menjangkau kemajuan zaman game berbasis vrmmorpg tersebut, khususnya di daerah NTT dan Maluku. Termasuk di salah satu daerah di kawasan Maluku saat ini yang sedang kami kunjungi untuk mempromosikan produk virtual.
Antusiasme warga sekitar, khususnya anak-anak dan orang tua rupanya cukup tinggi terhadap game vrmmorpg. Di luar dugaan, justru kalangan anak muda-lah di daerah sini yang jika di tempat lain biasanya paling aktif di game, malah terlihat enggan dengan keberadaan produk virtual tersebut.
Yah apapun itu, tampaknya masih sulit untuk pengembangan game vrmmorpg di sini. Selain karena kekurangan dalam hal sarana dan prasarana, faktor alami alam seperti kurangnya keberadaan partikel psion juga ikut mempengaruhi instabilitas game sehingga masih sulit untuk menerapkan game berbasis vrmmorpg di daerah tersebut.
Di sela-sela waktu kegiatan klub profesional White Star yang sibuk, sembari aku juga tetap harus menjaga kehadiranku di sekolah, aku selalu memanfaatkannya untuk berlatih bersama Kak Silvia.
Setelah aku mengeluhkan masalahku padanya terkait kurangnya imunitasku terhadap racun, Kak Silvia pun memikirkan berbagai cara untuk membantuku. Yah, bukannya aku tidak kebal racun sama sekali. Berkat latihanku bersama Kak Krimson selama ini, aku bisa meningkatkan level ketahanan racunku di skala B-.
Namun, ketahanan itu tetap saja tidak mampu mengatasi skala racun dari guru yang selama ini melatih ketahanan racunku tersebut. Aku butuh tempat pelatihan lain yang dapat membuatku mampu bersaing dengan Kak Krimson. Hutan Alchemist tidak cukup lagi sebagai tempat pelatihan di kala keberadaan monster beracun level tinggi di hutan itu telah sangat sulit untuk ditemukan.
Kak Silvia mulai melatihku dengan mengontrol aliran mana ke daerah hati dan peredaran darah sebagai jalan intoksikasi darurat terhadap racun. Kak Silvia juga melatihku tentang bagaimana mengontrol aura di sekitar tubuhku agar dapat pula melindungiku terhadap segala jenis racun, baik gas, cairan, maupun sejenisnya.
Tidak hanya itu saja, Kak Silvia juga memperkenalkanku dengan game The Ninth Elvendia, suatu series game lebih lawas dari The Last Gardenia. Aku pun belakangan itu, alih-alih bermain game di Gardenia, lebih banyak menghabikan waktuku bersama Kak Silvia di dalam game itu.
Kalau ada yang membuatku khawatir, itu mungkin situasi mengancam yang saat ini masih dialami oleh Kekaisaran Lalania. Tetapi sejak Aura selalu ada di sana menggantikanku untuk berjaga-jaga, jadinya aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Di luar dugaan, game itu sangat menarik, tetapi tentu saja menarik dalam artian yang bukan berarti bisa diperbandingkan dengan The Last Gardenia. Semuanya punya ciri-ciri unik masing-masing yang membuat game-nya menarik. Untuk The Ninth Elvendia sendiri, apa yang membuatnya menarik adalah setting latarnya adalah di dalam dunia yang dipenuhi dengan pepohonan.
Terus, orang-orang di sini juga cukup unik. Mereka semua memiliki tampilan yang sama dengan Kak Silvia dalam wujud game-nya, yakni bertelinga panjang ke samping yang unik.
Sayangnya, di dalam game ini, tidak ada yang namanya job class assassin. Hanya ada empat kelas yang diakui di sini yakni ksatria, bandit, archer, dan summoner, dan karakterku otomatis teralihkan kelas bandit.
Setelah menanyakan kepada Kak Silvia apa itu kelas bandit, rupanya itu adalah suatu kelas yang bertarung dengan menggunakan pisau alih-alih pedang dengan agilitas yang tinggi. Yah, setelah mendengarkan penjelasan dari Kak Silvia, aku pun jadi berpikir bahwa wajar kalau sistem game menyamakan kelas assassin dan bandit, sejak fungsi mereka hampir sama.
Adapun untuk ksatria, rupanya itu sejenis kelas pengguna pedang besar yang lebih mengutamakan bertahan daripada menyerang, kebalikan dari bandit, mirip-mirip dengan gabungan antara swordsman dan shielder-lah jika di Gardenia. Archer jelas. Kemudian untuk summoner, kelas itu kurang lebih fungsinya sama dengan mage yang bisa sekaligus bertindak sebagai tamer maupun alchemist.
Di dalam hutan Elvendia, lebih terdapat banyak tumbuhan beracun yang sangat mematikan daripada di dunia di mana aku berasal. Di sanalah aku dan Kak Silvia lantas banyak berlatih untuk meningkatkan kekebalanku terhadap racun sampai tibanya kompetisi e-sport vrmmorpg profesional tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat dan kini tibalah kompetisi e-sport vrmmorpg profesional yang telah lama kunanti-nantikan tersebut. Walaupun satu klub dapat mengutus maksimal 10 anggota timnya di dalam pertandingan, klub kami, White Star, hanya mengutus 7 pemain saja. Itu tentu saja perihal sampai saat ini, anggota resmi kami hanya ada 7 pemain saja.
Walau demikian, kami tetap dapat dengan mudah menembus babak preliminary blok dan melaju ke pertandingan inti. Itu wajar saja mengingat bahwa kami memang pada dasarnya adalah klub peringkat papan atas.
__ADS_1
Jika dibilang ada lawan yang sulit dihadapi, itu adalah klub peringkat sepuluh, Alpaca Night. Mereka adalah mantan klub delapan besar dua tahun sebelumnya yang tergeser posisinya setelah dikalahkan oleh Klub Joker Hitam. Nasibnya sama seperti kami, klub papan atas yang tidak berhasil menembus babak preliminary di tahun sebelumnya perihal tersingkir oleh klub baru yang dalam kasus kami adalah Klub Silver Hero.
Namun kami masih beruntung perihal dengan rekap tambahan poin dari pertandingan pekanan, posisi kami masih dapat terselematkan di tempat delapan besar.
Walau demikian, mereka bukanlah klub yang mampu membuat kami kerepotan. Itu tentu saja perihal perbedaan kemampuan yang masih sangat jauh di antara kami.
Lawan kami di babak preliminary blok tersebut walaupun semuanya adalah klub lemah, itu cukup membuat kami geleng-geleng kepala perihal aturan lomba yang menggunakan mekanisme royal battle.
Ada lima pertandingan yang diikuti oleh tiap blok yang terdiri dari lima tim peserta. Tiap pertandingan diikuti oleh empat tim di mana setiap tim peserta memiliki empat kali kesempatan untuk bertanding.
Apa yang membuat kami kerepotan adalah sistem pertandingan royal battle membebaskan lawan untuk memilih siapa yang ingin mereka lawan terlebih dahulu, atau istilah kejamnya, siapa yang ingin mereka singkirkan terlebih dahulu.
Sebagai tim papan atas peringkat ketujuh, tentu saja Klub White Star kamilah yang akan menjadi incaran pertama di pertandingan royal battle tersebut. Alhasil, tiap pertandingan, ketiga tim lain yang menjadi lawan kami akan selalu bekerja sama untuk menyingkirkan kami duluan.
Tentu saja tak ada satu pun dari rencana mereka tersebut yang berhasil. Kami mampu menunjukkan siapa bosnya di antara kami dengan perbedaan kekuatan yang jelas. Kami pun dengan mudah masuk delapan besar dan melangkah ke turnamen inti.
Lalu di sinilah aku saat ini.
Kalian bisa tebak di mana?
Yah, kalian pasti tidak ada yang bisa menebaknya. Terus terang saja, sampai sekarang pun aku masih bingung darimana keberanian ini berasal. Aku yang masih awam dengan hubungan ini akhirnya memutuskan untuk lebih menyeriusi perkembangan hubunganku dengan Lia.
Ya, saat ini aku bertamu ke rumah Lia.
“Ck. Dasar anak kurang ajar yang berani menyentuh putriku…”
“Ayah.”
Tatapan tajam Pak Syamsuddin segera diarahkan kepadaku, namun dia segera bersikap lunak begitu Lia mendapatinya. Walau demikian, niat membunuh yang ditujukan Pak Syamsuddin kepadaku tidak reda-reda juga. Aku hanya bisa menyenyuminya saja.
Terus terang, aku tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini. Aku hanya kemari dengan bermodalkan nekat saja, tetapi bukan berarti ada yang bisa aku tanyai perihal itu.
Paman Heisel jelas keluar dari list sejak dia adalah seorang perjaka tua. Kak Derickson walau dia ramah kepada gadis-gadis, gadis-gadis rata-rata hanya menganggapnya saja sebagai teman dan belum ada satu pun di antara mereka yang meliriknya sebagai lawan jenis.
Yah, pada dasarnya aku dikelilingi oleh para pria yang tak berguna soal hubungan asmara. Akibatnya, aku pun kebingungan sekarang di saat aku sendiri yang mencoba menjalin hubungan yang lebih dalam dengan pacarku.
__ADS_1
Namun, di kala suasana dingin terjadi di antara aku dan ayah Lia, sesosok nenek keluar dari kamar.
“Ah, ada tamu yang imut hari ini rupanya. Apa jangan-jangan dia pacar imut yang kamu bicarakan, Lia?”
“Hmm.” Lia mengiyakan sembari mengangguk dengan muka yang memerah.
Aku yang takut bertingkah salah pun hanya bisa sok sibuk dengan memandangi sepatuku sendiri.
Begitu sang nenek menatap langsung ke wajahku, dengan berusaha terlihat sesopan mungkin, aku pun menyapanya, “Halo, Nek.”
“Hmm? Kamu terlihat sangat mirip dengan Kakak Tampan yang kukenal.”
“Kakak Tampan?”
“Iya, dia adalah seorang kakak babak hati yang sebenarnya tidak ada hubungan darah dengan Nenek, tetapi Kakak Tampan itulah yang merawat dan membiayai biaya rumah sakit Nenek ketika Nenek dirawat di rumah sakit. Andai aku tidak mengenali semua anak dan cucu Kakak Tampan sampai sekarang, aku pasti sudah salah mengiramu sebagai salah satu dari cucunya itu. Ngomong-ngomong siapa namamu, Nak?”
“Luca Dewantara, Nek.”
“Bahkan nama belakangmu juga sama sepertinya. Jadi di mana keluargamu sekarang berada, Nak?”
Seketika sang Nenek menanyakan hal itu, hatiku sedikit perih dan ketakutan. Aku hanyalah anak yatim piatu yang saat ini diasuh oleh kerabat jauh. Aku tidak punya apa-apa yang dapat membuat Lia bangga kepadaku atau aku bisa berdiri dengan percaya diri sebagai pasangan Lia yang cantik, kaya, dan berasal dari keluarga berada.
Bagaimana seandainya Nenek tahu bahwa aku bukanlah siapa-siapa? Aku hanyalah seonggok sampah yang tidak punya nilai di dunia ini? Akankah dia memisahkanku dengan Lia dengan penghinaan? Jika itu terjadi, akankah hatiku yang serapuh kaca dapat menerimanya dengan lapang dada? Memikirkan itu, membuatku sangat ketakutan.
Tetapi, tidak ada gunanya menyembunyikannya. Aku pun menjawab pertanyaan sang Nenek dengan jujur tanpa menyembunyikan apapun tentang asal-usulku, kecuali untuk hal yang diminta Tante Judith untuk rahasiakan perihal aku yang berasal dari dunia game.
Juga, hal absurd yang akan menyebabkan orang lain salah paham bahwa aku gila jika menceritakannya, perihal aku adalah seorang doppelganger yang berasal dari dunia cermin, keberadaan yang asalnya bukan dari dimensi ini.
Begitu aku menceritakan tentang asal-usulku yang sampai sebatas yang dapat diterima oleh akal sehat manusia normal, berkebalikan dari apa yang kubayangkan yang awalnya kukira sang Nenek akan menyebutku tidak tahu diri telah berani menyentuh cucunya, Nenek Amanda, nenek baik hati milik Lia itu, justru menitihkan air mata iba padaku lantas memelukku dengan erat.
“Tenang saja, Nak. Dunia ini masih penuh dengan kebaikan selama kamu bisa lebih membuka mata. Hidup kamu mungkin sulit. Banyak orang jahat yang akan menghinamu. Tapi percayalah bahwa kamu dapat bertahan. Nenek juga dulunya adalah seorang yatim piatu, bahkan lebih berat lagi dari kamu karena Nenek tidak punya kerabat.”
“Tapi berkat Kakak Tampan yang menguatkan Nenek, Nenek bisa tetap hidup bahagia hingga ada keluarga baik yang akhirnya mengadopsi Nenek.”
“Bagaimanapun, status Nenek hanyalah anak adopsi saja. Anak Nenek, Syamsuddin, juga banyak mengalami kesulitan di keluarga karena itu. Tapi lihatlah sekarang dia, Nak. Dia telah sukses dan mampu menafkahi hidupnya sendiri lantas berkeluarga dan punya anak. Jadi, jangan pernah menyerah pada kehidupan.”
__ADS_1
Sentuhan lembut Nenek Amanda sejenak menghangatkan hatiku. Lia beruntung punya seorang nenek yang baik hati.
Merasakan itu, hatiku penuh rasa sakit bahwa aku masih menyembunyikan rahasia besar dari mereka, perihal aku yang seorang NPC itu. Tetapi bagaimanakah caraku mengungkapkan hal seabsurd itu pada mereka? Tidak, lebih dari itu, apakah keberadaanku memang bisakah diterima di dunia ini? Apakah aku juga bisa dikategorikan manusia dari perspektif dunia ini atau aku tak beda dari karakter game, manga, novel, atau anime lainnya menurut perspekstif dunia itu?