The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
150. Sesuatu yang Memiliki Kemiripan


__ADS_3

Kulihat Kak Krimson bicara sebentar dengan Profesor Bruntall lantas mengajak Chika ke suatu ruangan.


Ketika aku menanyakan apakah boleh ikut melihat-lihat bersama mereka, Kak Krimson mencegat aku dengan alasan ruangan tersebut mungkin tidak sesuai dengan kelas lain selain alchemist.


Tinggallah aku berdua di ruangan bersama dengan sang profesor.


Kulihat sang profesor tampak mengamati aku dengan penasaran. Melihat tingkahnya itu, aku hanya tersenyum canggung padanya.


Di tengah kesunyian tanpa suara yang hanya ada kegiatan saling tatap itu, sang profesor pun tampak sedikit kurang nyaman hingga memulai obrolan.


“Kamu temannya, Nak Krimson?”


“Iya Kek, kami sempat menjalankan misi bersama sebanyak tiga kali.”


“Oho.”


Sang profesor tampak berdehem dan sekali lagi mengamati aku dengan penasaran. Karena merasa penasaran mengapa sang profesor bertingkah demikian, aku pun bertanya.


“Apa ada sesuatu yang salah denganku, Kek?”


“Oho, maafkan atas ketidaksopanan orang tua ini, Nak Luca. Kakek hanya sedikit penasaran, kamu cukup mirip dengan orang panutan Kakek sewaktu kecil.”


“Siapa Kek?”


“Tuan Lacoza.”


“Maksud Kakek Sultan Lacoza, kaisar pertama Kekaisaran Lalania?”


“Oho, walaupun kamu tinggal di daerah bebas, rupanya kamu mengenal sosok legenda dari negeri di utara itu dengan baik.”


“Hehehehehehehe.” Aku hanya tertawa kecut karena tidak bisa bilang bahwa mungkin perihal dia merasakan kefamiliaran terhadap aku dan Sultan Lacoza adalah karena artifak langka warisan Sultan Lacoza yang sementara bersemayam di dadaku ini.


Sejenak kemudian, Kak Krimson bersama Chika yang kembali dengan muka semakin bertambah merah tiba di ruangan.


Kak Krimson menyenyumi aku sejenak lantas dia kembali berbicara sesuatu kepada Profesor Bruntall.


Setelah itu, Kak Krimson pun mengatakan padaku bahwa barang sebentar lagi telah siap dikepak dan kami akan segera berangkat.


Setelah meminta izin kepada Profesor Bruntall, kami bertiga pun pamit untuk menuju ke tempat pengepakan barang.

__ADS_1


@@@


Satu hal yang tidak diketahui Luca bahwa mengapa Profesor Bruntall merasakan sosok yang familiar dirinya itu terhadap sosok Sultan Lacoza adalah bukan karena artifak di dalam dadanya.


@@@


Kami bertiga pun berjalan. Kulihat muka Chika masih tampak seperti tomat masak. Bukannya aku curiga pada Kak Krimson perihal aku yakin dia adalah orang yang baik, tetapi untuk menenangkan hatiku dari berpikir yang tidak-tidak saja padanya, aku pun menanyakan rasa penasaranku itu.


Aku mengambil celah di kala Kak Krimson melangkah sedikit ke depan lebih jauh dari Chika.


“Kak Krimson.” Bisikku padanya sembari menutupi mulutku dengan tanganku agar gerakan mulutku sama sekali tidak terbaca oleh orang yang melihatnya di belakang, tipikal gerakan drama-drama cengeng Indonesia yang sering aku tonton tiap pagi di hari libur itu.


“Ya, Luca. Ada apa?”


“Apa mungkin Kak Krimson melakukan sesuatu pada Chika sebelum aku datang tadi?”


“Tidak ada. Aku hanya merequest pertemanan kepadanya lalu diterima. Lantas dia bertanya apa aku Krimsonalc yang terkenal di TV sebagai ace tim juara tahun lalu kompetisi e-sport vrmmorpg, lalu aku jawab iya. Setelah itu, kamu datang. Hanya itu saja.”


“Hmm. Benar juga ya. Kak Krimson artinya hanya melakukan pembicaraan yang biasa saja dengan Chika dan tak melakukan apa-apa padanya. Jadi apa tingkah aneh Chika itu karena dia sakit?”


“Eh? Memang Chika sakit? Aku sama sekali tidak menyadarinya.”


Namun, ketika aku menanyakannya apakah dia butuh istirahat karena aku melihat pipinya sangat merah, Chika dengan tegas menolak dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Terus terang, aku suka semangatnya. Walau anak itu sakit, dia tetap semangat menjalankan quest-nya.


Setelah kupikir-pikir karena ini tubuh avatarnya, rasanya tidak masalah saja membiarkannya untuk saat ini. Toh jika sakitnya sudah cukup parah dinilai oleh sistem, Chika akan otomatis dipaksa log out sendiri oleh sistem.


Kami pun berjalan hingga akhirnya tiba di tangga di mana tadi kami gunakan untuk naik. Terus terang melelahkan untuk naik sampai ke lantai delapan, tetapi beda halnya dengan turun. Kami tidak melawan gravitasi kali ini.


Namun tiba-tiba ada sesuatu yang tampak mengalihkan perhatianku. Aku pun menatap ke arah datangnya hawa aneh itu. Itu berasal dari bangunan terpisah jauh di barat sana, sebuah gubuk hitam legam yang hanya tampak sepetak dan cuma berlantai satu, tetapi mampu terlihat jelas karena warnanya yang tidak biasa itu dari lantai paling atas gedung ini.


Tetapi tiba-tiba, aku pun merasakan keanehan di kepalaku. Aku mendadak pusing. Seketika itu pula bahkan koneksiku dengan Aura terasa terputus.


Keanehan terjadi tidak sampai di situ saja, selain Kak Krimson dan Chika, semua orang yang ada di gedung itu tiba-tiba berubah menjadi suatu sosok monster yang menyeramkan.


Aku bahkan tidak bisa mengendalikan kepanikanku lagi. Terdengar jelas suaraku sendiri yang berteriak ketakutan sampai-sampai aku salah menginjak tangga dan hampir saja terjun berguling pada tangga.


Syukurlah bisa kurasakan sebuah tangan menggapaiku hingga tidak terjatuh. Itu adalah tangan Kak Krimson. Kak Krimson dan Chika pun tampak berupaya sekuat tenaga mereka menenangkan aku.

__ADS_1


Setelah Chika tampak mengalirkan mana-nya padaku yang berelemen air itu, aku pun mulai merasakan tenang. Kulihatlah kembali di sekelilingku. Monster-monster yang tadinya membuat aku ketakutan setengah mati telah menghilang, digantikan kembali dengan para petugas official menara sihir yang non-player.


Itu bukanlah monster seperti orc atau undead, monster umum yang telah biasa kulihat di Gardenia, tetapi lebih menyeramkan lagi. Mungkin jika di dunia nyata, daripada diistilahkan sebagai monster, makhluk ini mungkin lebih mendekati apa yang orang sebut sebagai hantu atau setan.


“Luca, kamu kenapa?”


“Hahahahaha. Tidak apa-apa kok, Kak Krimson. Mungkin hanya sedikit lelah.”


“Kalau begini, bukan Chika yang seharusnya log out, tapi kamu, Luca.”


“Hehehehehehe. Maaf, Kak.”


Mana mungkin aku bisa bilang kepada mereka berdua bahwa aku baru saja melihat setan.


Aku pun karena penasaran, menanyakan perihal bangunan hitam legam yang aneh itu tepat sebelum aku mengalami reaksi aneh tersebut.


“Ck.” Tetapi entah mengapa, Kak Krimson malah mendecakkan lidahnya.


“Sebaiknya, kamu jangan pernah sekali pun dekat-dekat dengan mereka, Luca. Entah ini hanya rumor atau fakta, tapi banyak kabar yang beredar kalau para dark mage itu mengadakan kontak dengan para iblis dari dunia lain.”


“Tidak ada satu pun player dark mage baik di game atau pun di dunia nyata yang terlihat seperti orang normal. Mereka semua tampak menakutkan.”


Setidaknya, aku bisa menangkap jawaban pertanyaanku itu dari peringatan Kak Krimson. Bangunan hitam legam itu adalah milik para dark mage.


Aku memang pernah mendengar desas-desus dari para player, bahkan di awal kemunculan mereka di Gardenia sewaktu aku masih berstatus NPC bahwa sangat jarang player yang ingin memainkan kelas dark mage.


Tentu saja waktu itu aku belum bisa memahami istilah-istilah aneh yang mereka katakan. Hanya setelah aku menjadi player dan menelisik kembali ke dalam kata-kata mereka, aku baru memahaminya.


Dan kalau pun ada, mereka adalah orang-orang yang aneh sehingga keberadaan mereka pun dikucilkan dan bahkan hmpir tak terlihat sama sekali baik itu di guild mage sendiri.


Aku dengar sebagian besar dari mereka memang mengungsi ke Negeri Nostalgia ini. Tak kusangka ketika aku di sini, aku bisa melihat sendiri sarang mereka itu.


Mengabaikan hal yang tak penting itu, kami pun tiba di tempat pengepakan barang. Sayangnya, barangnya telah dikepak rapi dalam suatu kotak kayu kokoh, ada juga yang dikepak dalam suatu kotak termos, sehingga aku pun tidak bisa melihat isi di dalamnya.


Aku sebenarnya sangat penasaran tentang seperti apa ramuan yang bisa menumbuhkan bulu, membunuh kutu, atau mengobati kulit kudis itu. Bukan apa-apa sih. Aku hanya sangat penasaran.


Aku berharap pada serah terima barang di Kerajaan Doremi nanti, setidaknya sekali aku bisa mengintip sendiri seperti apa bentuk isi ramuannya.


Lalu kereta kuda pun berangkat dengan dikawal oleh para petualang tingkat tinggi dan para NPC mumpuni. Aku sendiri bersama Kak Krimson dan Chika, berada di kereta kuda paling tengah, kereta kuda kelima, satu-satunya kereta kuda yang mengangkut bukan kotak kayu, melainkan kotak termos yang tampak betul menjaga suhu ramuan yang ada di dalamnya, menjaga ramuan-ramuan itu.

__ADS_1


Waktu itu, kami sama sekali belum pernah menduga bahwa bahaya besar telah menanti kami di depan.


__ADS_2