The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
45. Luca Menghadiri Babak Semifinal Pertandingan Lia


__ADS_3

Pak Rowin, Bu Judith, dan Nina lantas mendengarkan penjelasan dari Luca mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Begitu mereka memahami situasinya, mereka pun bernafas lega. Setidaknya, bukanlah hal terburuk yang ada di pikiran mereka yang sedang terjadi. Akan tetapi,


“Dengar, Luca, apa yang kamu lakukan itu tetaplah salah. Bahkan di antara hubungan antara laki-laki dan perempuan pun ada batasnya dalam saling memberi hadiah…”


Bu Judith kemudian menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin agar Luca yang polos itu dapat memahaminya bahwa tetap ada batasan jumlah hadiah yang dapat diterima secara wajar walaupun di antara hubungan sesama kekasih sekali pun. Meski pihak yang memberikan sebenarnya sama sekali tidak keberatan karena bagi mereka itu hanya jumlah yang kecil saja.


Luca pada akhirnya tertunduk dan merasa bersalah kemudian berjanji akan membayar kembali sejumlah apa yang diberikan oleh Lia padanya.


Sembari berjanji, Luca memperlihatkan tabungan seratus juta rupiahnya kepada keluarganya yang dia peroleh dari hadiah game dan mengatakan akan menggunakan uang itu untuk membayar kembali Lia sejumlah apa yang dia keluarkan untuk membelanjainya.


Dalam artian lain, Luca lagi-lagi membuat shok keluarga itu.


Interogasi keluarga selesai dan sekarang jam menunjukkan pukul 11.05. Luca memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelaskan apa yang tadi didiskusikan Luca bersama keluarganya kepada Lia.


Dering telepon pun berbunyi di HP Lia. Begitu Lia melihat nama di kontak tersebut, betapa dia tidak percaya. Lia langsung kegirangan lantas segera mengangkat teleponnya.


“Lia, kata keluargaku, tetap jumlah pemberian yang kamu berikan padaku itu terlalu banyak. Aku akan membayarnya kembali, lagian berkatmu yang membantuku soal hadiah game itu, kini kan aku sedang punya banyak uang.”


Tetapi begitu Luca masuk ke inti pembicaraannya, Lia hanya dapat merasa bersalah telah setengah menipu anak polos itu.


“Hehehehehe. Begitu ya. Sudah kuduga.” Jawab Lia seraya memainkan intonasi nada imutnya.


“Lia memang menipuku ya.”


“Mungkin setengah ya. Tetapi yang jelas, tiada yang bisa mengalahkan rasa bahagiaku selain melihat Luca mengenakan barang-barang yang aku berikan. Tidak bisakah aku menikmati kesenangan ini?”


“Lia.” Luca sekali lagi dibuat tak berdaya oleh keimutan Lia yang walau hanya lewat suara sekali pun itu.


“Tapi bagaimana pun itu tetap salah. Aku jadi tidak enak padamu. Rasanya, aku memang perlu menggantinya agar harga diriku sebagai laki-laki tidak hilang.”


Mendengar Luca mengucapkan kalimat seperti itu dengan intonasinya yang khas ala-ala pangeran yang penuh keimutan, Lia tidak dapat menahan antusiasmenya, “Kalau begitu, bagaimana menggantinya dengan bentuk lain saja?” Lia pun melemparkan umpan barunya untuk menggaet Luca.


“Bentuk lain? Apa itu?”


“Bagaimana kalau giliran Luca yang kali ini mengajakku kencan dan membiayai segalanya?”


Ah, jadi kegiatan seperti yang kulakukan dengan Lia barusan arti kata kencan yang dimaksud Egi.


Luca tiba-tiba teringat suatu hal di luar topik pembicaraan lantas terdiam sesaat. Namun diamnya Luca seketika membuat Lia sedih karena merasa ditolak oleh Luca.


“Luca juga tidak harus setuju kok. Kalau agak keberatan, Luca bisa menolak saja.” Ujar Lia dengan ekspresi sedih lewat suaranya.


Begitu Luca menangkap ekspresi sedih itu, dengan cepat Luca menjawab, “Tidak kok, Lia. Kapan pun itu, aku siap kencan bersama Lia.”


“Hehehehehe.” Lia yang senang Luca menerima tawarannya, tak dapat menahan tawa bahagianya.

__ADS_1


Namun, dari balik tawa itu, Luca menangkap sesuatu yang ganjil. Ada sedikit kesedihan dari balik tawa Lia yang lembut itu.


“Apakah Lia sedang ada masalah?” Untuk memastikannya, Luca pun bertanya.


“Eh? Apakah aku yang habis menangis terdengar jelas ya lewat suaraku?”


Ucapan Lia yang mengatakan dirinya habis menangis, membuat hati polos pemuda itu semakin bergidik, tak tega pada Lia. Luca pun kembali bertanya, “Kalau boleh, bisakah aku turut mendengarkan curhatan masalah Lia?”


‘Hahahahahaha. Bukan masalah yang penting kok, Luca.” Namun ketika Lia berujar selanjutnya, nada suaranya terdengar lebih rendah dan sendu sehingga orang yang tidak mengenal Lia dengan baik pun dapat segera mengetahui ada yang sedang tidak beres pada gadis yang satu itu, “Hanya saja, ayah dan ibuku sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis sehingga tidak bisa menghadiri pertandingan semifinal timku besok.”


“Kalau begitu biar aku saja yang hadir menggantikan mereka. Lia sendiri yang bilang kan kalau aku adalah bagian dari keluarga Lia.”


Kata-kata Luca itu seketika mengobati perasaan hampa Lia yang selama ini hanya dimanja secara materi oleh orang tuanya. Tanpa sadar, sudut bibir Lia tersenyum.


“Karena Luca yang bersikeras, maka baiklah. Pokoknya Luca harus benar-benar menyemangatiku dengan penuh semangat ya dari balik bangku penonton.”


Setelah menerima telepon dari Luca, entah mengapa perasaan Lia yang tadinya penuh kekalutan, berubah begitu saja menjadi euforia kebahagiaan seakan kesedihan yang dia rasakan tadi hanyalah lelucon semata.


Luca pun mengakhiri panggilan itu dengan perasaan yang bahagia pula. Tidak ada cukup waktu lagi untuk bermain game. Luca pun hanya segera menyelesaikan PR sekolahnya lalu beranjak tidur.


Luca lagi-lagi tidak menyadarinya, ada sesosok makhluk dengan mata kuningnya yang menyala yang sejak kemarin malam mengawasi Luca dari balik lemari.


Hari esok pun tiba. Sepulang sekolah, sebuah mobil Lamborgini mewah milik keluarga Lia menjemput Luca menuju ke pertandingan putaran semifinal pertandingan e-sport tingkat nasional itu.


Aturannya sebenarnya cukup simpel. Ada 4 tim pemain yang masing-masing terbagi menjadi dua tim di ruang virtual A dan ruang virtual B. Masing-masing tim di ruang virtual tersebut, kemudian saling bertarung hingga hanya tersisa satu tim saja. Anggota tim pemenang yang tersisa di masing-masing ruang virtual A dan B lantas saling berhadapan hingga menyisakan satu tim sebagai pemenang.


Hmm. Tetapi ini bisa menjadi pertarungan yang tidak adil jika kebetulan satu tim di ruangan yang satu memiliki gap kemampuan yang besar sedangkan di ruangan yang lain memiliki gap yang kecil. Tim dengan gap kemampuan yang kecil akan dirugikan untuk bertarung sampai titik darah penghabisan sehingga akan mudah dikalahkan oleh tim yang datang setelahnya yang belum mengeluarkan seluruh tenaga mereka.


Bagaikan komentator yang handal, Luca menganalisis pertandingan.


Ruang virtual A


Tim Lucifer (peringkat II tahun lalu)



Hari (swordsmen)


Danu (swordsmen)


Didi (shielder)


Samadi (fighter)


Alvin (mage)

__ADS_1


Vs


Tim Silver Hero (pendatang baru)


Asario (swordsmen)


Glen (mage)


Medina (tamer)


Mark (assassin)


Lia (cleric)


Ruang virtual B


Tim Alpen Sky (peringkat IV tahun lalu)


Tatang (swordsmen)


Elkin (mage)


Dina (archer)


Rudi (shielder)


Aliya (cleric)


Vs


Tim Gold Tree (peringat VII tahun lalu)


Rossi (swordsmen)


Mamang (shielder)


Aldo (tamer)


Jatmika (fighter)


Retno (cleric)


Layar kemudian memunculkan nama-nama pemain dan pertandingan babak pertama semifinal kejuaran e-sport tingkat nasional itu siap dimulai.


__ADS_1


__ADS_2