The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
229. Pertarungan Sepasang Kekasih


__ADS_3

Sesosok gadis manis. Itulah kesan pertama yang terpikir ketika kupertama kali melihat sosok gadis itu.


Namun, belum ada perasaan romantisku kala itu padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai gadis yang imut saja.


Di luar dugaan, gadis itu memberikan aku nomor kontaknya dan di kala aku kesulitan, gadis itulah yang datang untuk menyelamatkan aku. Seketika dari gadis yang bukan siapa-siapa, gadis itu telah menjelma menjadi sosok pahlawan bagiku.


Perlahan setelah itu kami banyak bertemu dan saling mengenal. Aku pun mulai tertarik padanya, pada senyum lembutnya yang senantiasa menenangkan hati ketika kumenatapnya itu.


Entah sejak kapan jantungku mulai berdegup kencang setiap kali melihatnya. Lalu tanpa sadar, aku pun menyadari bahwa aku telah jatuh hati padanya.


Namun, belum sempat aku mengerti apa rasa suka itu, gadis itu telah menyatakan perasaannya duluan padaku. Perlahan, aku mengenal arti kata pacar yang lebih dari sekeluarga itu darinya. Hidupku benar-benar beruntung mampu dicintai oleh gadis yang sebaik itu.


Aku beruntung bertemu dengannya. Aku beruntung telah mencintai dan dicintai oleh orang sebaik Lia.


Dan di sinilah kami dipertemukan saat ini. Di babak penentuan final tentang siapa klub e-sport vrmmorpg profesional terbaik se-Indonesia. Akankah itu aku dengan Klub White Star-ku ataukah itu Lia dengan Klub Silver Hero-nya. Sebentar lagi, semuanya akan ditentukan.


“Pertandingan dimulai.”


Melalui aba-aba dari wasit, kami pun memulai pertandingan. Kami menari seakan mengikuti suatu irama waltz. Tanpa kuduga, Lia telah berkembang pesat sehingga mampu menandingi kecepatan seorang assassin sepertiku.


“Dor, dor, dor.”


Pistol Hero tipe fisik milikku dan Pistol Heoine tipe sihir milik Lia saling membenturkan peluru yang bagai alunan melodi yang mengiringi langkah waltz kami.


Lia menjulurkan tali penjeratnya dengan riangnya. Aku pun menanggapinya dengan melakukan tarian pinball dengan tali penjerat sebagai penopang langkahku.


Aku melangkah dengan niat melingkarkan dagger taring serigala perakku itu tepat ke lehernya. Kulihat Lia tersipu malu lalu membalasnya dengan sambaran tinjuan cintanya tepat ke pipiku.


Aku terpental dua kali karena terhanyut oleh pesonanya, tetapi dengan sigap, aku segera memperbaiki kembali posisiku.


Cahaya terang dari skill suci Lia segera menyusul ke arahku. Aku pun menghalaunya dengan kunai yang kulemparkan. Cahaya terang itu segera ditepis oleh kunai lantas percikan cahaya terang pun berhamburan memberikan kami nuansa yang sangat romantis di tengah arena.


Aku mengitari Lia demi mencari posisi yang pas untuk mengejutkannya. Namun seakan mengerti dengan baik diriku seolah hati kami telah menyatu, tanpa melihat ke belakang, Lia bisa menebak posisiku dengan akurat lantas menembak tepat ke jantungku.


Untunglah aku bisa menghindar dengan melakukan tarik-ulur tali penjerat yang tersisa di arena.


Sayangnya tinjuan cinta Lia kembali mengejarku lantas mengenai batas dinding arena yang menyebabkan tali penjerat itu runtuh lantas aku pun turut jatuh bersamanya.

__ADS_1


Kami berdansa dalam serangan yang harmonis, menikmati pertarungan yang indah itu sebagai kenangan yang manis.


Sayangnya, yang namanya kenangan yang indah, pasti akan selalu ada akhirnya.


Dagger-ku dan tinjuan pun Lia saling beradu cepat sebagai serangan terakhir untuk melesat tepat ke jantung kami masing-masing. Sayangnya, gerakan yang pertama adalah tipuan.


Dari awal bukan jantung Lia yang kuincar, melainkan lehernya. Lia pun tersenyum dengan semburan air merah mengalir terpancar dari balik dagger-ku yang menembus ke dalam kulitnya yang putih.


Kemenangan dalam waltz pun diraih olehku. Namun demikian, cinta kami akan selalu bersinar apapun hasil pertarungan tersebut.


***


“Ck. Semua tim-ku akhirnya kalah. Tidak mengapa, tenang diriku.” Begitu Lia juga akhirnya turut tersingkir dari arena, Asario pun tampak semakin panik.


“Tidak mengapa. Selama aku bisa mengalahkan ketiga pemain mereka yang tersisa.”


Walau demikian, Asario tetap berupaya mempertahankan keadaan mentalnya agar tidak merosot.


Asario segera berjalan ke tengah arena yang tersaji alat penghubung kesadaran virtual itu, menggantikan posisi Lia di sana. Akan tetapi, bukan Lia-lah yang justru disapa oleh Asario, melainkan lawan yang telah mengalahkannya, Luca.


Namun, jawaban tak terduga diberikan oleh Luca.


“Itu pastinya menyenangkan untuk bisa bertarung kembali dengan Senior Asario. Apalagi kali ini merupakan pertandingan resmi. Tapi sayangnya, tampaknya aku masih harus menunggu lebih lama lagi untuk itu.”


“Mengapa? Kita kan bisa bertarung setelah aku memenangkan babak ini?”


“Hah.” Luca mendesah seakan menampakkan isyarat ekspresi ‘apa yang dikatakan orang ini’.


“Senior, lawan Senior selanjutnya itu Kak Malik.”


“Hmm. Lantas? Bukankah dia hanya cecunguk lemah yang dengan mudahnya kami kalahkan tahun lalu?”


“Senior telah salah paham sedikit sesuatu di sini. Tahun lalu tim Senior bisa mengalahkan Tim White Star karena Kak Malik dan Kak Brian tidak kebagian tempat untuk bertanding. Kak Malik itu kuat lho, Senior. Sangat jauh lebih kuat dari Senior. Bahkan, aku sendiri saja, masih ragu untuk bisa mengalahkannya.”


“Apa? Apa yang…”


Sayangnya, Luca segera berbalik setelah mengatakan hal tersebut setelah seniornya Malik juga telah turut sampai ke tempat itu untuk menggantikan posisi Luca.

__ADS_1


Melihat Asario yang menatap Luca dengan ekspresi tercengang terhadap apa yang baru saja dikatakannya, Malik yang sebagai objek pembicaraan mereka, hanya dapat menyenyumi Asario dengan menjaga penampilannya yang setulus mungkin.


“Mohon bantuannya, Dik Asario.”


“Ya.”


Jawab Asario dengan menjaga sikap hormatnya kepada orang yang lebih tua darinya itu. Namun tatapan matanya tetap menunjukkan ketidakpercayaan akan perkataan Luca yang terlalu memandang tinggi Malik tersebut.


Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim manajemennya, Malik memang adalah pemain swordsman yang hebat, akan tetapi prestasinya biasa-biasa saja. Dalam game The Last Gardenia pun, dia hanya pernah sekali masuk dua puluh besar di tahun lalu dan setelah itu tak pernah lagi hinggap di posisi tersebut sampai saat ini.


Dalam pertandingan individu, dia memang selalu mewakili timnya dalam festival pertarungan penyambutan peserta final lantas memenangkannya. Itu pun karena ketiadaan pemain hebat seperti dirinya untuk menyaingi Malik dalam pertandingan itu.


Dalam debutnya tahun lalu, timnya memang tak pernah sekalipun berhadapan dengan Tim White Star di turnamen pekanan sebab Tim Silver Hero baru saja terbentuk mendekati pelaksanaan pertandingan utama. Itu pun di pertandingan utama, memang benar adanya bahwa Malik sama sekali tak memiliki kesempatan melawan mereka.


Justru dia terlalu pasif karena ketika menghadapi Tim Wolf Fang dan Tim Passionate pun, dirinya tidak turut serta sejak timnya sudah menang duluan sebelum dirinya sempat bertarung sebagai pemain kelima.


Satu yang memang disangsikan oleh tim manajemennya yakni tentang kemenangan Tim White Star tujuh tahun silam yang tiba-tiba saja menggantikan posisi Shadow Park sebagai klub terbaik saat itu. Ditambah dengan terpilihnya Malik serta seorang rekannya sebagai 32 peserta yang berhak mengikuti turnamen individu pada tingkat internasional.


Awalnya mereka mengira bahwa itu adalah kesalahan panitia sesaat semata perihal setelah itu Malik menunjukkan kemerosotan prestasi dan tak pernah menonjol lagi sejak kepergian rekan yang menemaninya yang bernama Leon itu dari timnya.


Tim manajemen Asario pun menelisik kembali tiap pertandingan Malik saat itu, tetapi kesimpulan mereka semua sama, Malik hanya beruntung karena telah ditarik oleh pemain yang bernama Leon itu ke tempat yang lebih tinggi dari yang seharusnya bisa diraihnya.


Akan tetapi setelah mendengar penialian tinggi kepada Malik dari Luca tersebut, Asario pun menjadi was-was. Jauh di lubuk hatinya, Asario lebih mempercayai penilaian Luca dari siapapun ahli di tim manajemennya tersebut.


Dan ternyata, firasat Asario tepat.


Padahal Asario telah menyerang dengan sangat baik dengan menjaga fokusnya dan tetap tidak lengah terhadap pertahanannya. Namun, berapa kali pun dia menyerang dan menyerang, dia selalu saja gagal menyentuh secuil pun tubuh Malik. Bagaikan apa yang diserangnya itu adalah sebuah tembok yang begitu kokoh yang tak mungkin dirubuhkan.


Apa yang membuatnya kesal adalah lawan yang dihadapinya itu sama sekali tidak pernah bergidik seakan meremehkannya.


“Kamu seperti kata Luca memang adalah pemain yang hebat, Dik Asario. Tetapi trikmu masih terlalu simpel dan impak seranganmu masih terlalu lemah. Kamu masih harus banyak belajar.”


Lalu setelah mengatakan itu, dengan mudah Malik menembus pertahanan Asario yang telah dijaganya dengan ketat itu lantas Asario pun segera kalah dalam pertandingan.


Dengan kalahnya Asario sebagai peserta terakhir bertahan di klubnya, pemenang pertandingan klub e-sport vrmmorpg tingkat profesional se-Indonesia itu akhirnya ditentukan. Mereka adalah Klub White Star.


Kemenangan Klub White Star pun lantas disambut dengan meriah oleh sorak-sorai penonton.

__ADS_1


__ADS_2