
Ternyata, di luar dugaan Luca, pemanggilannya ke Kekaisaran Lalania kali ini adalah untuk menerima hadiah tambahan berkat jasanya bersama dengan player S07 dan Virus Lady menghadapi monster Dojoron sehingga mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa warga sipil di ibukota.
“Tapi ngomong-ngomong, dari penjelasan wanderer S07 dan Virus Lady barusan, Dik Luca seharusnya lemah sehingga tidak seharusnya gegabah terjun langsung menghadapi monster itu, tetapi mengapa Dik Luca bersikeras menghadapinya padahal Dik Luca tidak punya kewajiban untuk itu?”
Putri, tidak, Kaisar Cecilia bertanya dengan penuh penasaran kepada Luca sambil menatap pemuda itu dengan wajah yang sangat antusias.
“Karena pada saat itu, hanya aku yang berada di sana yang dapat menyelamatkan para warga sipil. Tentu saja aku yang harus menghadapinya.” Jawab Luca dengan nada pasti seolah tindakannya itu adalah sesuatu yang telah wajar.
“Warga sipil? Hahahahahahahaha.” Sang kaisar tiba-tiba tertawa terbahak-bahak ketika mendengar penjelasan Luca.
“Maafkan ketidaksopananku. Aku tidak bermaksud menertawakan Dik Luca. Ini hanya pertama kalinya aku melihat seorang wanderer yang tidak memanggil kami dengan sebutan NPC dan memandang kami sebelah mata dengan tidak mempedulikan nyawa kami. Sudah kuduga Dik Luca memang spesial setelah menerima laporan misimu sebelumnya.”
Sejak menerima laporan misi Luca, Kaisar Cecilia yang waktu itu masih berstatus sebagai seorang putri kekaisaran, telah menaruh perhatiannya kepada Luca.
Bagaimana tidak, biasanya seorang player hanya akan menjalankan misinya sesuai dengan yang tertulis di permintaan, tidak lebih. Para player telah dikenal di seluruh benua sebagai sosok yang dingin yang memperhitungkan segala tindakan mereka berdasarkan keuntungan.
Maka dari itu, melihat laporan Luca yang justru sampai menuliskan detail yang terjadi sampai pada bukti keterlibatan para dalang di balik layar di kala dia hanya diminta menemukan orang yang mencurigakan yang mungkin bekerjasama dengan Other untuk diselidiki kekaisaran lebih lanjut, mau tidak mau Kaisar Cecilia menaruh perhatiannya kepada sosok pemuda lugu itu.
Dengan wajah keheranan, Luca menatap Kaisar Cecilia. Dia heran mengapa sang kaisar sampai bersikap seperti itu padanya.
“Aku sangat suka dengan pola pikirmu Dik Luca. Kamu benar-benar pahlawan sejati. Rasanya, sepuluh ribu koin emas saja tidak akan cukup sebagai hadiahmu. Adakah sesuatu yang lain yang kau inginkan dariku? Katakan saja. Selama bisa, aku pasti akan mengabulkannya.” Ujar Kaisar Cecilia berusaha menggoda Luca.
Dia sangat penasaran tentang apa yang kira-kira pemuda yang terlihat polos itu akan minta. Uangkah? Harta? Kekuasaan? Atau mungkin wanita? Namun, jika pemuda itu memang sepolos yang dia kira, pasti Luca tidak akan meminta semua itu, melainkan sesuatu seperti perdamaian dunia atau kesejahteraan mayarakat.
“Nah, kira-kira apa yang akan kamu minta, Dik Luca?” Gumam sang kaisar dalam hati dengan sangat penasaran.
__ADS_1
Di lain pihak, Luca bukanlah orang yang menahan diri. Dia adalah tipe orang yang akan mengatakan apa yang dia ingin katakan. Sementara itu, sudah ada yang mengganggu pikiran Luca sejak lama jika berbicara soal Kekaisaran Lalania. Itu adalah mahkota the king of undead yang merupakan kunci untuk ke dungeon legacy of Sultan Lacoza.
Akan tetapi, Makam Sultan Lacoza, tempat di mana dungeon legacy of Sultan Lacoza berada, adalah daerah terbatas yang hanya dapat diakses oleh keluarga kekaisaran atau orang-orang yang diberikan izin oleh mereka untuk masuk. Oleh karena itu, jelas apa yang Luca akan katakan.
“Kalau begitu, bolehkah aku meminta kepada Kak Kaisar untuk diberikan hak akses memasuki makam Sultan Lacoza?” Ujar Luca dengan tampak sangat imut.
Melihat itu, Kaisar Cecilia menjerit kegirangan dalam hati. Ini pertama kalinya ada orang yang berani memanggil kaisar bukan dengan nama Yang Mulia Kaisar, melainkan Kak Kaisar, menggabungkan panggilan santai dengan gelarnya. Mau tidak mau, dia menilai tingkah Luca itu sangatlah imut.
“Kau, dasar wanderer tidak sopan! Beraninya menyebut nama yang mulia kaisar pertama dengan tidak sopan! Juga memanggil yang mulia kaisar kelima dengan panggilan aneh seperti itu!” Namun berbeda dengan sang kaisar, pengawalnya, Hendric Albatarma, justru menilai hal itu sebagai sikap yang kurang ajar.
Namun sang kaisar segera menatap tajam ke arah Hendric lalu seketika Hendric pun menciut nyalinya.
“Baiklah. Tentu saja. Itu bukan sesuatu yang sulit. Tetapi kalau boleh aku tahu, untuk apa Dik Luca ingin mengakses tempat itu? Setahuku di situ sudah tidak ada apa-apa yang bisa menjadi barang berharga karena semuanya sudah diamankan oleh pihak kekaisaran.” Sekali lagi dengan penasaran, sang kaisar bertanya.
Seketika itu Kaisar Cecilia segera memahami apa yang terjadi. Jika yang berbicara tentang misi itu adalah seorang wanderer yang tidak tercatat di salah satu arsip mana pun di berbagai guild, hanya ada satu kesimpulan, hal ini pasti berkaitan dengan sosok misterius abstrak yang selama ini berada di belakang layar menyebabkan perubahan drastis di benua Astrovia itu.
Kaisar Cecilia tidak tahu pasti apa itu. Yang jelas itu bukanlah sosok yang bisa dijangkau oleh otak seorang manusia pribumi sepertinya, di mana sosok itu selama ini telah mengendalikan para wanderer dalam menyebabkan perubahan besar ke benua itu.
Karena itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik, maka tidak ada salahnya untuk menerimanya saja sehingga para pribumi termasuk Kaisar Cecilia pun memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa.
Dialah sosok sistem yang dimaksud oleh Kaisar Cecilia.
“Begitu rupanya. Baiklah, atas nama kaisar, aku memberikanmu izin untuk mengakses makam yang mulia kaisar pertama.”
“Terima kasih, Kak Kaisar.” Jawab Luca dengan senyum yang bersinar.
__ADS_1
Tetapi dengan keadaan itu, Kaisar Cecilia menjadi tidak puas. Apa yang diminta Luca bukanlah sesuatu yang menunjukkan keserakahannya seperti kekuasaan, harta, atau wanita, maupun juga bukan sesuatu yang menunjukkan kedermawanannya seperti permintaan kesejahteraan atau kedamaian warga. Kaisar Cecilia pun menjadi ambigu tentang ada di sisi mana Luca.
Kaisar Cecilia benar-benar penasaran untuk menyingkap orang seperti apa Luca yang sebenarnya. Dengan demikian, dia bisa memutuskan akankah menjadikan pemuda yang terlihat polos itu sebagai calon sekutunya ataukah tidak.
Lalu Kaisar Cecilia pun memutuskan,
“Tapi rasanya hal itu masih kurang sebagai hadiah. Ah, bagaimana kalau item itu, ‘kancing esensi kenyataan’? Pengawal, tolong ambilkan itemnya di gudang!”
Terhadap keputusan Kaisar Cecilia itu, para pejabat kekaisaran yang juga kebetulan berada di tempat itu serta-merta memprotesnya tentang ketidakpatutan memberikan harta berharga kekaisaran begitu saja kepada orang luar.
Namun, sang kaisar baru, Kaisar Cecilia segera menampik hal itu dengan menyebutkan kembali prestasi Luca yang tak bisa dibantah oleh siapapun. Di samping itu, menurut Kaisar Cecilia, item itu bukanlah item yang terlalu berharga pula karena tak bisa dimanfaatkan oleh orang secara sembarangan kecuali orang yang diakui oleh item itu sendiri.
Namun sayangnya, item itu hanya akan mengakui seseorang yang benar-benar berjiwa tulus tanpa keserakahan di dalam dirinya. Orang serakah seperti dirinya otomatis tidak akan pernah bisa menggunakan item itu.
Jika Luca memang sosok sejati seorang pahlawan, maka seharusnya item itu akan mengakuinya dan dia akan memberikannya secara sukarela untuk menarik sekutu orang yang berharga seperti itu.
Walaupun jika nantinya Luca tidak cocok, item itu akan dengan segera melukainya lantas Luca pasti secara langsung akan menolak hadiah itu dan mengembalikannya kembali kepada kekaisaran. Dan jika itu terjadi, Kaisar Cecilia akan segera memutuskan hubungan dengannya di mana dia akan juga memperoleh kembali item itu.
Jadi sama sekali tidak ada kerugian dalam keputusannya membawa keluar item itu di sini.
Lagipula, Kaisar Cecilia selama ini sangat penasaran tentang apa efek sebenarnya dari item itu karena selama ini belum ada yang berhasil mengungkap misterinya perihal belum ada satupun orang yang bisa membuka kekuatan yang sebenarnya dari item itu sejak Kaisar Pertama Lacoza sebagai pemilik pertama item itu mengembuskan nafas terakhirnya.
Hanya ada teks lampau yang mengatakan bahwa ‘kancing esensi kenyataan’ dapat mengungkap kenyataan yang tersembunyi. Benar-benar tidak ada keterangan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dari ungkapan teks tersebut.
Di kala Kaisar Cecilia terbenam dalam lamunannya sendiri, beberapa saat kemudian item yang dimaksud pun tiba.
__ADS_1