The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
101. Misteri Kancing Esensi Kenyataan


__ADS_3

Usai dari guild swordsmen aku leveling-up sebentar di quest serigala perak di desa pemula. Setelah mencapai tepat level 25, aku pun segera bergegas beranjak ke Ibukota Allidra Ekin, Kekaisaran Lalania untuk menemui Kak Kaisar.


Alasannya tidak lain adalah soal kekuatan aneh yang dimiliki oleh kancing yang tertancap di dalam dadaku ini.


“Tidak tahu.”


“…?”


“Sudah kubilang aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal kancing itu. Lagipula kancing itu adalah peninggalan sang kaisar pertama dan setelah Beliau wafat, tidak ada lagi yang tahu apa-apa soal kancing itu.”


“Tapi bukankah ini adalah hadiah yang Kak Kaisar berikan padaku? Jadi Kak Kaisar memberikan aku hadiah tanpa tahu bahayanya?”


“Ngomong-ngomong, Dik Luca, bukankah kamu akan segera memasuki makam sang kaisar pertama? Mengapa tidak langsung cari tahu saja melalui bekas peninggalannya di makam?”


Tampaknya, Kak Kaisar dengan licik berusaha lari dari masalah yang dibuatnya. Jadi rasanya, percuma saja untuk mendesaknya lebih jauh lagi.


Aku pada akhirnya pulang dengan tangan hampa tanpa menemukan informasi apa-apa.


Namun di tengah perjalanan, aku berpapasan lagi dengan Kak Virus Lady dan rekannya.


“Yo, Adik Newbie.”


“Kak Virus Lady?”


“Ada apa murung begitu?”


“…”


Aku terdiam karena bingung ingin menjelaskan bagaimana, terutama dengan tingkah Kak Virus Lady sebelumnya yang tampak sangat tertarik dengan hadiah Kak Kaisar padaku sebelumnya itu. Menyerahkan barang berbahaya itu mungkin adalah pilihan yang baik, tetapi jika sampai Kak Virus Lady juga sampai ikut terluka akibat kancingnya, aku… Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


“Apa ini soal kekuatan ajaib kancing itu yang bisa membuka celah dimensi sehingga membawa bencana bagi orang di sekitarmu?”


Aku hanya terdiam, tetapi dengan mudah Kak Virus Lady berhasil menebak pikiranku. Lagipula, jika Kak Virus Lady berkata demikian, apa Kak Virus Lady sebenarnya tahu tentang apa sebenarnya kancing ini?


Aku pun penasaran dan ingin meminta penjelasannya. Akan tetapi sebelum aku sempat berucap, Kak Virus Lady melanjutkan lagi kalimatnya.


“Sebenarnya, kamu sudah mengetahuinya kan, kalau kancing itu tidak membuka celah dimensi secara sembarangan?”


“…?”


Aku hanya terdiam kaget tidak percaya tentang sampai di mana sebenarnya Kak Virus Lady tahu tentang rahasia kancing ini.


Seperti yang dikatakan oleh Kak Virus Lady, sehabis aku menyelesaikan quest serigala perak, aku berkunjung lagi ke bagian terdalam jurang yang dikelilingi oleh tebing tinggi yang penuh dengan serigala perak itu, tempat di mana sebelumnya celah dimensi juga sempat terbuka dan mempertontonkan pemandangan makam Nenek Noni dan cucunya yang menangis penuh penyesalan di atas makam neneknya itu.

__ADS_1


Tetapi pada saat itu, jelas-jelas kancing esensi kenyataan sama sekali tidak teraktifkan, sangat berbeda dengan celah dimensi di dungeon pemula.


Namun, belum sempat aku bertanya alasannya, rekan Kak Virus Lady yang sedari tadi diam saja di belakang menjawabnya duluan,


“Kancing esensi kenyataan bergerak berdasarkan perhitungan keselamatan tuannya. Celah dimensi sebelumnya terbuka karena ada orang yang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan orang yang ditelan oleh dimensi di dalamnya dan ada orang yang cukup kuat pula di sekitarnya yang kebetulan adalah dirinya sendiri yang mampu membasmi segala kejahatan di dalam celah dimensi itu.”


Rekan Kak Virus Lady yang bertelinga panjang ke samping itu terdiam sejenak kemudian menyipitkan matanya lantas menatapku dengan lebih intens lalu lanjut berkata,


“Tetapi di quest terakhir, Dik Luca hanya seorang diri sehingga kancing itu menilai celah dimensi terlalu bahaya untukmu dan memutuskan untuk tidak membukanya.”


Aku terkaget. Darimana keduanya bisa tahu dengan jelas apa yang selama ini kulakukan di game?


Tetapi keterkejutanku itu segera terkonfirmasi sendiri oleh yang bersangkutan.


“Tidak usah kaget begitu. Jelas saja kami tahu karena aku dan Tuan Puteri mengawasimu di dalam game sejak saat itu.”


Aku hanya terdiam, tidak tahu harus memilih kata seperti apa untuk merespon pengakuan kejahatan dari seorang pelaku yang tiba-tiba itu. Yang jelas sekarang, aku entah bagaimana sedikit paham apa yang terjadi. Namun demikian, ini tidak mengubah fakta kalau kancing esensi kenyataan ini tetap berbahaya kalau aku tidak segera mampu mengendalikannya.


Tanpa aku sadari, entah itu Kak Nina ataupun Lia, bisa saja tertelan di dalam celah dimensi karenanya. Aku tidak ingin hal itu sampai terjadi dan bukannya ada orang yang ingin aku selamatkan di sana.


Terlebih, sampai saat ini, batas antara dunia virtual dan realita masih sangat ambigu bagiku. Lihat saja contohnya aku yang terlahir sebagai NPC bisa ke dunia nyata. Atau ambil saja contohnya Aura yang hologramnya bisa ikut terproyeksikan ke dunia nyata secara otomatis.


Bagaimana seandainya jika orang yang aku sayangi tertelan di dalam celah dimensi lantas turut mempengaruhi tubuh aslinya di dunia nyata?


Tidak. Tidak. Aku tidak ingin sampai kemungkinan terburuk itu terjadi.


Benar, bukankah Kak Virus Lady sangat menginginkan kancing ini sebelumnya? Aku bisa memberikannya secara sukarela padanya. Berdasarkan penjelasannya barusan, seharusnya Kak Virus Lady lebih tahu tentang kancing apa ini dan bisa merawatnya dengan lebih baik.


Tetapi perkataan selanjutnya dari kakak bertelinga panjang, menggugurkan harapanku seketika.


“Sayangnya, tidak ada jalan untuk memisahkan kancing itu dari dirimu selain lifespan-mu habis dengan sendirinya.”


Mendengar perkataan kakak bertelinga panjang, mataku langsung terbelalak waspada.


“Apa kalian ingin membunuhku demi merebut kancing itu?”


Sang kakak bertelinga panjang tertawa kecil terhadap pernyataanku itu seraya menjawab, “Hihihihihihihihi. Dik Luca pikir kami orang yang sekejam itu? Lagipula jika itu tujuan kami sedari awal, kami pasti sudah akan membunuhmu duluan tanpa perlu berpanjang-lebar menjelaskan kepadamu seperti ini.”


Perkataan dari kakak bertelinga panjang itu sebenarnya santai-santai saja isinya, tetapi entah mengapa seluruh tubuhku rasanya merinding.


Lalu, Kak Virus Lady angkat bicara lagi, “Lagipula jika seorang player mati, hanya akan terespawn kembali setelah 24 jam. Yang kami maksud itu, lifespawn tubuh aslimu yang terkoneksi dengan tubuh avatar itu.” Ujar Kak Virus Lady sembari menunjuk ke arah tubuhku.


Dengan semakin waspada, aku pun memastikan, “Jadi kalian mengincar untuk membunuh tubuh asliku?”

__ADS_1


Mendengar pernyataanku itu, mereka berdua semakin cengengesan. Melihat dari ekspresinya, nampaknya tidak seperti itu yang mereka inginkan. Tetapi bukannya aku juga salah untuk menanyakan hal demikian karena adalah hal yang wajar untuk memperhatikan keselamatan nyawa sendiri.


Dalam keadaan air mata yang masih basah karena habis tertawa, kakak bertelinga panjang melanjutkan penjelasannya,


“Tidak. Kiks.. Bukan seperti itu, kiks… Dik Luca. Lagipula jika koneksi tubuh aslimu diputus secara paksa kepada tubuh avatarmu, kiks… maka kancing itu hanya akan rusak. Jadi kamu kiks… tidak perlu khawatir kalau ada yang mengincarmu di dunia nyata lantaran mengincar kancing itu. Kiksihihihihi.”


Tampak jelas bahwa kakak bertelinga panjang berusaha menahan tawanya sambil menjelaskan.


“Kancing itu hanya akan terputus koneksinya jika lifespawn-mu habis secara alami karena usia seperti halnya bagaimana dulu kancing itu terlepas dari Sultan Lacoza, sang kaisar pertama.” Kak Virus Lady pun menambahkan. Tetapi ada apa dengan senyumannya itu?


Tampak kakak bertelinga panjang berjalan mendekat ke arahku. Aku waspada walaupun aku sadar jika dari jarak sedekat ini, bagaimana bisa aku kabur dari kejaran seorang player berlevel 105.


“Yang paling penting masalahnya sekarang adalah bagaimana mengendalikan kancing esensi kenyataan di dalam dirimu itu agar tidak meliar sampai kamu bisa mengendalikan kekuatan spiritualmu seutuhnya.”


Ujar kakak bertelinga panjang kepadaku, lalu diapun mengaktifkan skillnya.


“Skill: Innocent Prison.”


Seketika mata kakak bertelinga panjang memerah yang dibarengi oleh dadaku yang terasa panas.


Aku merasakan kesakitan untuk beberapa waktu. Lalu ketika rasa sakit itu reda, kakak bertelinga panjang kembali berujar,


“Bagaimana sekarang, Dik Luca? Kamu juga bisa merasakannya kan, bahwa kancing di dalam dadamu itu tidak lagi meliar?”


Aku pun mengonsentrasikan pikiranku jauh ke dalam dadaku. Tetapi apa ini? Sebuah cahaya putih terkurung dalam sebuah penjara perak berbentuk kotak yang sangat kokoh. Cahaya itu menangis.


Lalu aku pun berupaya untuk menenangkan cahaya itu.


“Yosh, yosh, anak baik, anak baik, tidak usah menangis. Kakak ada di sini bersamamu.”


“Ngiing.”


Tampak cahaya itu merespon ucapanku dan setelah mendengarkan ucapanku itu, diapun terlihat tidak sedih lagi.


“Sekarang mari bertemu di dunia nyata untuk melatih kekuatan spiritualmu itu.”


Ucapan kakak bertelinga panjang itu tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku. Tetapi apa? Bertemu di dunia nyata?


Dengan ragu-ragu dan mempertimbangkan segala aspeknya, tampaknya kakak bertelinga panjang ini bukanlah tante-tante genit seperti yang dideskripsikan oleh Kak Nina jadi akan aman-aman saja.


Lalu seketika aku menoleh ke arah Kak Virus Lady, masih dengan senyumnya yang penuh maksud terselubung itu.


Aku pun sadar bahwa hal itu tidak berlaku buat Kak Virus Lady. Aku harus waspada padanya. Dia kakak yang berbahaya.

__ADS_1


Namun demikian, aku pada akhirnya tetap setuju akan permintaan kakak bertelinga panjang itu karena lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.


Setelah itu, kami pun berpisah dan janjian akan segera ketemu di dunia nyata jika ada waktu setelahnya.


__ADS_2