The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
174-2. Arti dari Seni Assasinasi (2)


__ADS_3

Jika menikam dari belakang tidak memungkinkan, maka aku hanya harus menikamnya dari depan.


Tetapi dengan senjata dagger yang saat ini kupegang, akan sulit bagiku untuk melakukannya. Pedangnya akan dapat segera menjangkauku dan menangkis dagger-ku itu bahkan sebelum aku sempat mendaratkan serangan padanya perihal panjang pedangnya hampir mencapai lima kali panjang dagger-ku.


Perbedaan ukuran panjang serta kekerasan dan ketangguhan, mutlak membuat pedang lebih unggul daripada dagger. Dan itu tidak dapat ditaktisi bagaimana pun caranya. Itulah sebabnya, kami selalu menikam dari belakang alih-alih secara langsung menyerang dari depan perihal kelemahan senjata kami ini.


Tentu saja spesifikasi stat yang rendah di bagian strength dan vitality adalah alasan yang utama, tetapi itu juga adalah fakta seperti yang kusebutkan barusan.


Di saat itulah kuputuskan untuk meng-unsummon dagger taring serigala perak favoritku itu dan menggantinya dengan pedang suci Astaroth.


“Trang trang trang.”


Aku pun memutuskan untuk bertarung secara jujur dan adil di hadapan seorang swordsman dengan beradu pedang. Tentu saja ini bukan keputusan yang bagus sejak dari awal spesifikasi stamina, vitality, dan strength kami sudah berbeda. Dia mutlak lebih unggul dariku dalam segala aspek kecuali agility.


Kondisi Senior Areka juga sudah tampak memprihatinkan di sana. Dia tampak masih berusaha keras untuk bertahan, tetapi aku tahu, dia sudah dari lama telah melewati batas kemampuan fisiknya itu. Dia masih bisa berdiri sampai saat ini hanya karena perihal tekadnya yang kuat.


Aku harus merespon dengan respek terhadap semangat seniorku itu dengan segera mengakhiri pertarungan berlarut-larut ini.


‘Sial! Padahal lawan tidaklah kuat! Tetapi dia licik bagai belut dan selalu saja tahu kapan dan di mana harus menyerang. Andai saja staminaku…’


Seketika aku menghentikan keluhan di hatiku. Lebih dari siapapun, akulah yang paling menyadari bahwa percuma mengeluh hal yang sudah berlalu, terlebih peluang untuk memperbaiki kekeliruan kini terbuka lebar.

__ADS_1


Kami beradu pedang dalam jangka waktu yang lama. Namun sesaat kemudian, di saat kami masih saling bertukar tebasan, tampak sang swordsman lawan tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya sebelum tebasannya sampai ke arahku. Aku pun mengambil peluang itu untuk segera menebasnya yang pertahanannya tiba-tiba terbuka lebar itu. Tanpa perlawanan, dia pun tertebas oleh pedangku dan kalah di arena.


Tidak, itu salah. Sejak awal, akulah yang menaruh jebakan jaring-jaring benang penjerat padanya di saat dia lengah sehingga gerakan tangannya untuk sepersekian detik terkunci sehingga aku mampu memanfaatkan kesempatan sepersekian detik itu untuk mendaratkan serangan tebasan ultimate-ku padanya dengan telak.


Tidak akan pernah ada pertarungan yang jujur dan adil ketika melawan seorang assassin. Statistik strength dan vitality kami lemah sehingga kami menutupi semua itu dengan serangan sembunyi-sembunyi, intrik, jebakan, menikam musuh dari belakang, dan sejenisnya.


Kalian tanya apakah aku malu dengan semua itu?


Jawabannya adalah tidak karena begitulah adanya cara bertahan hidup seorang assassin. Itulah seni beladiri kami yang menyatukan kami sebagai klan pembunuh. Kami akan melakukan segala upaya untuk menyingkirkan lawan-lawan kami, termasuk jika lawan itu jauh lebih kuat dari kami. Jika lawan lebih kuat, maka kami cukup menikamya dari belakang.


Menurutku, itu bukanlah suatu kepengecutan seperti yang selalu dilontarkan oleh Paman Heisel, tetapi itu adalah seni untuk bertahan hidup di dunia yang kejam tempat yang dulu aku tinggali di Gardenia di mana kamu tidak akan hidup jika tidak bertarung, di mana kamu akan ditikam dari belakang jika menunjukkan punggungmu pada orang yang salah.


Dan akhirnya, setelah upaya bertahan sekuat tenaga, Senior Areka tak sanggup lagi bertahan dan game over di arena.


Tetapi Senior Areka telah menjalankan perannya dengan sangat baik. Dia telah menghalau lawan yang lebih kuat darinya sekuat tenaga yang dia bisa sehingga memberikanku waktu yang cukup untuk mengumpulkan poin dengan balik menghancurkan monolith lawan serta mengalahkan musuh-musuh lainnya.


Kini yang tersisa adalah mengalahkan Viandra, sang fighter.


Mata kami dari jauh tertuju satu sama lain. Kontes tatap-menatap terjadi dalam waktu beberapa saat di antara kami.


Aku tentu tidak tahu alasan mengapa dia melakukannya, tetapi mungkin saja alasannya sama denganku yakni untuk mengatur nafas kami kembali sebelum melakukan pertarungan akhir. Bagaimana pun, pertarungan alot oleh lawan yang lebih lemah namun merepotkan telah berlangsung selama lebih dari 27 menit.

__ADS_1


Waktu 30 menit hampir berakhir, namun tentu saja aku tidak perlu khawatir dengan semua itu perihal skor kami telah kembali imbang sehingga pertandingan akan tetap dilanjutkan meski batas waktu 30 menit berakhir sesuai dengan yang tertera di jugnis pertandingan.


Yah, andai saja Senior Areka bisa bertahan 2 menit 42 detik lebih lama darinya, ataukah aku dapat mengalahkan sang swordsman lawan dengan sedikit lebih cepat lantas segera mensupport Senior Areka sebelum perisainya berhasil tertembus oleh Viandra, tentu semuanya akan lebih mudah.


Kami bisa mengakhiri pertandingan dengan kemenangan yang lebih mudah dengan skor 104 vs 103.


Namun kalian bertanya apakah aku benci dengan semua keadaan ini? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Semakin kuat lawannya, maka tentu saja pertandingannya akan semakin menarik buatku.


Dan tampaknya tidak hanya aku saja yang berpikiran demikian. Lawan di sebelah sana tampak tersenyum pula penuh kepuasan seakan memikirkan hal yang sama denganku.


Dalam perasaan yang menggebu-gebu dengan adrenalin yang terasa melonjak itu, kami pun saling memperdekat jarak satu sama lain dan mulai bertarung.


\=\=\=


Skor Sementara Babak Penyisihan Ketiga


SMA Mulya Kasih: 104


SMA Pelita Harapan: 104


\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2