The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
44. Luca si Anak Beruntung


__ADS_3

Kesenangan antara Lia dan Luca pun berlanjut sehabis makan malam itu. Lia membawa Luca berkeliling mall lantas membelikannya pakaian-pakaian dan aksesori yang mahal. Tentu saja Luca menolaknya karena biar bagaimana pun, tak enak baginya untuk membuat Lia melakukan hal yang sampai seperti itu kepada dirinya.


Akan tetapi rajukan dan rayuan Lia yang mengatasnamakan identitasnya sebagai pacar Luca dengan raut wajah yang tampak begitu memelas, membuat Luca tersipu dan tak dapat menahan perasaannya bahwa gadis di hadapannya itu sungguh imut. Luca pun menyetujuinya.


Sampailah Luca pada suatu toko elektronik yang tanpa Luca ketahui bahwa sebenarnya toko itu di bawah naungan perusahaan ayah Lia.


Seluruh penjaga toko langsung pangling dan sontak akan menunjukkan rasa hormat mereka begitu melihat anak tunggal sang pemilik perusahaan berkunjung ke toko mereka.


Akan tetapi, aba-aba Lia membuat semua mengerti bahwa Lia ingin merahasiakan identitasnya kepada teman yang saat ini ada di sampingnya seperti yang sudah-sudah dia lakukan.


Perhatian Luca seketika tertarik pada suatu undian berhadiah dari toko tersebut. Penjaga toko yang bertugas menjaga stan itu pun memberikan instruksinya.


Selamat datang Pelanggan yang kami hormati. Dalam memperingati ulang tahun toko kami yang kedua puluh, kami memberikan kesempatan bagi setiap pengunjung toko untuk memutar slot undian kami.


Ada sekitar sepuluh ribu bola di dalamnya. Tersisa sekitar 44 bola bronze yang berhadiah voucher diskon 10 % maksimal seratus ribu rupiah pada pembelian produk apapun di toko kami. Ada sembilan bola silver bernomor 2 sampai dengan 10 yang masing-masing berhadiah menarik. Kemudian ada 1 bola emas yang berhadiah paket gratis jalan-jalan keliling eropa untuk dua orang selama 2 minggu penuh sebagai hadiah utamanya.


Nah silakan Pelanggan yang terhormat untuk memutar slotnya. Saat ini, belum ada satu pun pelanggan yang memperoleh hadiah utamanya. Semoga Anda-lah yang akan pertama kali mendapatkannya.


“Lia, apakah kamu ingin mencobanya lebih dulu?” Tanya Luca kepada Lia.


Lia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan undian itu perihal perusahaan itu adalah perusahaan milik ayahnya. Namun, demi menjaga identitasnya tidak terbongkar oleh Luca, dia mencobanya dengan berusaha terlihat senang.


Sesuai dugaan, Lia hanya memperoleh bola dengan peluang terbanyak, yakni bola biasa.


Setelah Lia, kini giliran Luca yang memutar slot.


“Kalau Luca, ingin hadiah yang mana?” Tanya Lia penasaran.

__ADS_1


“Hmm. Mungkin hadiah yang nomor 4.”


“Eh? Bukan hadiah yang nomor 1?”


“Aku sebenarnya belum terlalu mengenal dunia ini, jadi untuk bepergian keluar negeri, itu agak…”


Jadi begitu. Luca adalah seorang anak rumahan. Pantas saja aku tidak pernah sekalipun melihat wajahnya yang ganteng ini padahal selama ini tinggal di dekatku.


Lia pun jadi salah paham mengartikan ucapan Luca itu dengan mengira dirinya sebagai seseorang yang cenderung mengurung diri di dalam rumahnya ketimbang jalan-jalan, padahal sejatinya maksud Luca, dia benar-benar baru mengenal dunia ini perihal selama ini dia tinggal di dalam dunia game, Gardenia.


“Ketimbang hadiah utamanya, aku lebih cenderung ingin alat itu saja agar kita bisa lebih mudah saling menghubungi kan, Lia?”


Seketika hati Lia terpesona oleh gombalan Luca itu walaupun itu hanyalah dalam khayalan Lia belaka karena sejatinya, maksud Luca adalah dalam arti harfiah dan bukan dari segi romantisme sama sekali.


“Treketek ketek ketek.” Bola pun bergelinding. Di luar dugaan, bola yang keluar memang bola silver bernomor 4 dengan hadiah smartphone model terkini saat ini.


Di belakang Luca, Lia pun mengode sang penjaga stan undian dengan jempol terangkat dan kedipan manis di mata kanannya sebagai simbol kerja bagus sang penjaga stan itu, mengira itu semua adalah bagian dari rencananya untuk menyenangkan hati sang putri.


Namun ternyata, yang terjadi barusan memanglah murni keberuntungan Luca tanpa ada campur tangan siapa pun, tapi marilah hal itu menjadi hal yang nantinya Lia akan ketahui sendiri di belakang layar. Yang jelas, anak baik hati dan penyayang memanglah harus selalu beruntung.


Karena sudah memiliki HP, kini Lia mengajak Luca membeli kartu sim telepon lantas mengklaim haknya sebagai orang nomor 1 yang ada di kontak Luca.


Setelah itu, mereka pun pergi ke kantor bank online yang buka selama 24 jam untuk membuka rekening lantas mentransfer hadiah di akun game Luca itu pada rekening tersebut. Beruntungnya, Bu Judith waktu itu telah mendaftarkan Luca ID sehingga tak ada kendala selama prosesnya berlangsung.


Jadilah Luca memperoleh rekening dengan nilai tabungan di dalamnya sebesar seratus juta rupiah.


Pukul 22.05, Lia berpisah dengan Luca setelah mengantar Luca ke rumahnya dengan menggunakan mobil mewah keluarganya.

__ADS_1


Tanpa Luca ketahui, pada saat itu di rumahnya, baik Pak Rowin, Bu judith, maupun termasuk Nina sudah sementara penuh khawatir akibat mengkhawatirkan dirinya yang belum pulang-pulang juga bahkan setelah larut malam seperti ini.


Begitu terdengar suara mobil melintas di jalan depan pagar rumah mereka yang tidak biasanya terdengar itu, sontak ketiga anggota keluarga itu berlarian keluar, khawatir kalau-kalau itu adalah mobil polisi yang membawa berita buruk tentang Luca.


Begitu jantung mereka tak tahan dibuat cemas olehnya. Dengan perasaan was-was itu, mereka bertiga pun menuju pintu gerbang rumah mereka.


Namun, apa yang menunggu mereka ternyata adalah suatu pemandangan yang membuat shok dalam artian lain.


Luca keluar dari mobil mewah Lamborgini merek terbaru dan tercanggih sembari di tangannya penuh dengan tas belanjaan.


Tak terlihat jelas, tetapi dari jauh Pak Rowin, Bu Judith, dan Nina mampu menyaksikan Luca menyalami tangan seorang wanita yang terlihat dari kuku-kukunya yang lentik itu sambil tersenyum cerah.


Hanya ada satu di pikiran Bu Judith saat itu, “Sejak kapan aku mengajari anak yang polos itu menjadi seorang gigolo.”


Dengan mulut yang menganga, mereka pun menatap Luca yang berjalan menuju ke dalam rumah dengan pandangan tak percaya terhadap apa yang mereka lihat.


Luca hanya menunduk sembari memberi salam kepada mereka lantas segera memasuki rumah tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Pak Rowin, Bu Judith dan Nina pun hanya bisa mematung dengan mulut menganga dibuatnya.


Namun, sesaat kemudian,


“Luca! Apa yang sudah kamu lakukan?!” Nina-lah yang pertama kali memecah kesunyian itu.


“Eh? Aku hanya baru jalan-jalan sama pacarku saja kok, Kak Nina, sambil melakukan ini itu. Apa jangan-jangan aku sudah berbuat salah?” Jawab Luca polos dengan berbagai barang belanjaan mewah di tangannya, mulai dari pakaian, sepatu, tas, topi, bahkan sampai beberapa jenis alat elektronik.


Mendengar jawaban Luca itu, tiada satupun lagi yang sanggup berkomentar. Kacamata Pak Rowin pecah, Bu Judith tersungkur tak berdaya ke tanah seraya terdengar menggumamkan sesuatu, sementara Nina terlihat tak lagi bergerak seolah terpetrifikasi.


Semuanya telah salah paham kepada kepolosan Luca yang tak mengerti maksud ini itu di dunianya yang baru.

__ADS_1


__ADS_2