
“Ah, tak terasa perjalanan dua minggu ke Amerika selesai begitu saja.”
Luca berujar setengah berteriak sembari membaringkan tubuhnya di bangku teras lantai dua yang terhubung dengan lobi hotel tersebut, melepaskan segala penat yang dia rasakan selama dua minggu itu.
Menonton pertandingan e-sport vrmmorpg itu secara live adalah suatu pengalaman yang sangat berharga baginya.
“Tetapi mengapa dadaku rasanya berdegup kencang seperti ini? Rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Apakah ada yang membuatku tidak senang?” Luca jadi mempertanyakan perasaan dirinya sendiri.
“Tak tak tak.”
Tiba-tiba suara langkah kaki membuyarkan Luca dalam lamunannya. Luca pun menatap ke arah sumber suara.
Secara tak diduganya, ternyata itu adalah sang pria cantik dari Tim Lost Child yang menduduki puncak paling tinggi di ajang bergengsi yang baru saja disaksikannya itu.
“Luca? Sedang apa kamu di sini?” Tanya Ecila kepada Luca yang sedang terbaring di bangku umum di teras tanpa perlindungan.
Luca pun bangkit dari tidurnya sembari mengusap air matanya yang tidak sengaja keluar lantaran kantuk itu.
“Ah, Ecila. Justru aku yang harusnya bertanya. Apa yang dilakukan sang juara di hotel tamu malam-malam begini.”
“Tentu saja ya untuk mencari udara segar sehabis bertemu dengan keluarga. Soalnya besok mereka sudah akan kembali ke Kansas. Aku juga berencana akan mengambil cuti sekitar dua mingguan untuk menemani mereka pulang sejenak berkumpul dengan keluarga. Yah, tapi dibilang keluarga, mereka hanyalah pasangan kakek dan nenek yang baik hati yang mau merawatku sejak aku tiba di dunia… ah, maksudku di kota ini.”
“Orang tua kandungmu bagaimana?”
“Sejak pertama mengingat aku sudah tidak mengenal siapa orang tua kandungku.”
“Kalau begitu, nasibku sedikit lebih beruntung darimu ya. Paling tidak aku punya kenangan berharga bersama kedua orang tuaku selama lima tahun.”
Mendengar itu, sang pria cantik pun menatap wajah mungil nan tampan itu.
“Jadi, orang tua Luca juga sudah tidak ada ya?”
“Begitulah.”
“Kalau begitu, kamu pasti lebih sedih dariku perihal sejak awal aku sudah tidak punya orang tua jadi aku sama sekali tidak pernah merasakan kehilangan. Berbeda denganmu, aku pernah dengar dari seniorku bahwa lebih sakit rasanya ketika kita kehilangan seseorang yang kita kenal daripada ketika kita tidak mengenalnya dari awal. Tahu kan istilah lebih baik tidak saling kenal daripada ujung-ujungnya harus melukai dengan perpisahan.”
“Istilah apaan itu, bodoh sekali.”
“Hahahahahaha.”
Tanpa sengaja, Luca pun menoleh ke samping tanpa sadar kalau wajah Ecila sudah berada di posisi yang sangat dekat dengan wajahnya di saat sang pria cantik itu hendak turut duduk di sampingnya.
Wajah Ecila pun seketika memerah begitu jaraknya dengan sang pria tampan Luca hanya kurang dari sejengkal saja.
“Waaaaaaah!” Ecila pun berteriak yang tanpa sadar mengeluarkan suara asli wanitanya sembari segera menjauhkan jaraknya dari wajah penuh godaan dunia itu.
Ya, Ecila sejatinya adalah seorang wanita yang entah dengan alasan apa menyamar menjadi seorang pria.
“Gedubrak.”
Ecila pun terjatuh dengan posisi pantatnya mendarat duluan di lantai.
“Ecila, kamu tidak apa-apa?”
Ecila panik, tetapi dengan sigap, dia segera memperbaiki ekspresinya kembali lantas tiba-tiba bersikap formal kepada Luca.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ah, omong-omong, akankah kamu akan terus menyembunyikan kemampuan hebatmu bermain vrmmorpg itu kepada dunia? Apa kamu sama sekali tidak tertarik mengikuti kompetisi yang sama denganku itu? Tidakkah orang yang kuat sepertimu merasa kesal setelah menonton pertandingan itu karena merasa bisa melakukan yang lebih baik lagi?”
Terhadap pertanyaan Ecila itu, tiba-tiba sesuatu yang mirip sebagai sambaran petir melintas di benak Luca. Akhirnya, Luca tersadar tentang apa perasaan mengganjal yang selama ini dirasakannya.
Keirihatian.
Luca iri kepada para peserta e-sport vrmmorpg yang baru saja ditontonnya karena dapat mengekspresikan dengan bebas perasaan kompetitif dan semangat jiwa muda mereka melalui game.
Dan Luca… ingin melakukan hal yang sama.
Dia juga ingin turut bergabung ke dalam komunitas itu dan ingin melihat sampai di mana dirinya akan berkembang.
“Itu benar, rupanya aku sedang iri ya, Ecila.”
__ADS_1
“Eh, apa yang sedang kamu omongkan?”
“Tahun depan! Tahun depan aku akan juga mengikuti kompetisi ini! Aku akan memilih tim terbaikku lantas mengalahkanmu beserta Tim Lost Child-mu itu. Jadi kamu persiapkanlah dirimu dengan baik bersama timmu di tahun depan karena aku dan timku-lah yang akan mengalahkanmu saat itu!”
Ecila pun tersenyum atas ujaran tekad Luca yang jujur itu yang diucapkannya dengan suara keras nan penuh semangat.
‘Selamat berjuang, Luca.” Ujar sang wanita yang menyamar sebagai laki-laki itu dengan ekspresi lembut di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun mulai mengobrol ngalor-ngidul sampai tengah larut malam.
Saat itu, Luca belum tahu saja arti dari kata selingkuh. Selingkuh bisa bermula dari pandangan mata yang berlanjut ke mulut, lalu jatuh ke hati.
Ataukah kita tidak bisa menyebut itu sebagai selingkuh karena pada prinsipnya Luca pada saat itu belum mengetahui jenis kelamin Ecila yang sebenarnya.
***
Di ruangan itu, seorang pria muda sedang menangis, mengeluarkan segala penat di hatinya. Tampak seorang pria muda lainnya berusaha untuk menghibur pemuda itu.
“Tenanglah, Asario. Sisanya, mari kita berdoa saja agar hasilnya bisa baik.”
“Bagaimana bisa hasilnya baik, Glen?! Tahun ini adalah kesempatan terakhirku, tetapi aku mengacaukan segalanya. Dari awal kamu sudah tahu kan, bahwa mereka sama sekali tidak ingin melihatku. Dan kini aku malah memperparahnya dengan memperkuat argumen penolakan mereka melalui kekalahanku yang sangat memalukan. Lihat saja komentar para komentator itu!”
“Tetapi kan tidak hanya kamu, Fotio juga tidak bisa berbuat apa-apa melawan player itu.”
“Mengapa aku harus membandingkan diriku dengan orang lain?! Jika aku kalah, itu hanya berarti aku kurang baik saja!”
“Asario, tenanglah.”
Ekspresi yang penuh amarah itu pun berubah menjadi kesenduan. Dengan ekspresi yang dalam, Asario pun lanjut berkata,
“Glen, kamu memang orangnya sangat baik. Dan aku sebagai sahabat justru memanfaatkan kebaikanmu itu dan membawamu ikut terjerumus bersamaku. Aku memang sahabat yang buruk.”
“Kamu bicara apa sih, Asario. Jika ini tentang aku yang menolak memasuki Akademi Pahlawan Eden, itu karena mentalku saja yang kurang kuat untuk mengorbankan diriku menghadapi para monster di celah dunia. Keputusanku itu tidak ada kaitannya denganmu.”
“Lantas, jika aku lulus dan terpilih menjadi murid Akademi Eden tiga tahun lalu, apa kamu tetap akan menolak untuk mendaftar?”
“Kenapa kamu diam?! Jadi benar kan?! Pada dasarnya, akulah yang menjerumuskanmu menjadi orang yang gagal sepertiku! Hiks hiks…”
Seketika kemarahan itu mencuat lagi. Namun lama-kelamaan, daripada perasaan amarah, rasa tidak berguna lebih membelenggu hati pemuda itu. Dia pun kembali menangis tersedu-sedu.
“Asario.”
Glen pun tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia lantas hanya memeluk pemuda yang sedang rapuh itu dengan erat membiarkannya menumpahkan segala kesedihannya lewat tangisan.
***
Dalam suasana hening malam itu, seorang pria paruh baya melangkahkan kakinya memasuki suatu ruangan.
Rupanya, dia adalah sang boss sekretaris wanita cantik yang selama ini mengawasi jalannya pertandingan dari balik layar.
Dan orang yang ditemuinya di ruangan itu, rupanya adalah seorang nenek tua yang sangat berkelas. Dialah Millie, kakak kandung Luca, asli secara biologis, sekaligus nenek dari player Leo dari Tim Max Squeeze.
Pria paruh baya itu pun membungkuk dengan sopan di hadapan sang nenek tua. Setelah sang nenek tua memberi isyarat, barulah sang pria itu bangun dari bungkukannya.
“Aku telah menerima data dari para petinggi. Sepuluh peserta telah dipilih sebagai calon mahasiswa baru di Akademi Pahlawan Eden Tingkat Universitas. Aku sendiri telah sepakat dengan keputusan itu, tetapi apa ini benar-benar tidak apa-apa, Ketua, kita mengecualikan Asario dari list itu ketika banyak pula dari kalangan akademi yang hadir pada pertandingan itu memberikan dukungan padanya?”
Mendengar ucapan sang pria paruh baya, Millie yang telah berada di usianya yang senja itu membaringkan tubuhnya di sandaran sofa dengan ekspresi lelah di wajahnya.
“Apa boleh buat. Sebagus apapun seseorang dalam game, semuanya akan percuma jika tingkat sinkronisasi ke tubuh aslinya rendah. Keahlian yang mereka terapkan di dalam game, tidak akan sanggup mereka praktikkan di dunia nyata.”
“Itu, aku juga sepakat, Ketua. Lantas bagaimana dengan Fotio, Carlsen, dan Wu Heitian? Penampilan mereka memang buruk selama pertandingan, tetapi mereka punya potensi dan tahun ini adalah masa-masa puncak usia mereka…”
Millie segera mengangkat tangannya sebagai isyarat agar sang pria paruh baya itu segera diam saja.
Millie pun berbicara,
“Mereka masih punya waktu satu tahun, terlebih, mereka akan lebih terbebani secara mental jika kita memilih mereka di tahun ini ketika penampilan mereka buruk. Biarkan mereka lebih berkembang lagi di tahun depan.”
Nenek tua itu lantas terdiam sejenak sembari kembali menegakkan posisi duduknya.
__ADS_1
“Terlebih, seperti yang kamu bilang tersebut, kita tidak boleh mengabaikan para peserta yang berpotensi yang telah berada pada kesempatan tahun terakhirnya di tahun ini. Rasanya, ini telah menjadi keputusan yang tepat meloloskan sepuluh kandidat ini.”
Lantas Millie pun membuang dokumen di atas mejanya yang berisi list nama-nama itu, nama-nama yang lolos sebagai calon mahasiswa baru Akademi Eden Tingkat Universitas.
\=\=\=
Goruth (Amerika Serikat, 17 tahun)
Kalora (Amerika Serikat, 17 tahun)
Pei Yu (China, 18 tahun)
Omiros (Prussia Atlantic, 18 tahun)
Dennis (Prussia Atlantic, 17 tahun)
Park Moontae (Semenanjung Korea, 18 tahun)
Toni (Indonesia, 17 tahun)
Austin (Inggris, 18 tahun)
Sergei (Selandia Baru, 18 tahun)
Leo (Amerika Serikat, 17 tahun)
\=\=\=
“Lebih penting daripada itu, bagaimana dengan dua peserta delapan besar yang di atas 18 tahun? Apa mereka ingin menggunakan hak mereka untuk mengajukan diri sebagai kandidat melalui jalur gold card?” Sang nenek tua itu pun kembali bertanya kepada sang pria paruh baya.
“Sayangnya, pengaruh kita belum merambah sampai ke selatan benua termasuk Brazilia sehingga Ethan termasuk outsider yang tidak mengerti apa-apa soal itu. Jadi dia sama sekali tidak mengajukan diri.”
“Oh, itu sayang sekali. Karena kemalasan kita mengembangkan sayap kita, sebuah berlian kasar di selatan benua pun terpaksa terkubur untuk selamanya.”
Millie mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
“Ini tugas pihak pengembang untuk semakin memperluas pengaruh kita agar semakin banyak dalam menemukan berlian kasar tepat di masa-masa puncak pertumbuhan emas mereka.”
Terjadi diam sejenak di ruangan, sebelum Millie akhirnya kembali membuka suara.
“Jadi, bagaimana dengan peserta satunya.”
“Oh, Raihan, umur 25 tahun. Ini berarti kesempatan terakhirnya tahun ini mengikuti pertandingan e-sport. Pria itu sudah sedang sementara menantang siswa akademi tingkat sekolah menengah atas tahun ketiga yang berada di peringkat terakhir untuk merebut tempatnya memasuki akademi tingkat universitas.”
“Dan hasilnya?”
“Yah, itu sudah pasti kan.”
***
Di arena itu, Raihan tampak sedang bertarung melawan pemuda yang terlihat masih sangat belia. Tetapi terlihat keanehan, baik Raihan maupun pemuda itu tidak sedang bertarung di dalam game, tetapi lewat tubuh asli mereka.
Dialah sang lawan yang saat ini menduduki peringkat ke-90, alias peringkat terakhir dari siswa akademi tingkat SMA yang sebentar lagi akan beralih status memasuki tingkat universitas. Tidak, itu belum tentu. Itu hanya terjadi, jika dia bisa berhasil mempertahankan tempatnya yang ingin direbut oleh Raihan.
Seorang siswa belia itu tampaknya adalah seorang fighter. Tampak sekilas akan sulit bagi seorang fighter untuk melawan seorang shielder yang pertahanannya kokoh.
Namun, semuanya terjawab seketika. Hanya butuh waktu 10 detik dengan delapan kombo gerakan bagi sang siswa belia mengalahkan Raihan.
Demikianlah perbedaan kekuatan yang sangat mencolok antara siswa yang terlatih dengan orang biasa yang hanya berkembang secara otodidak lewat game. Bahkan siswa terburuk di akademi mampu mengalahkan sang juara 3 kompetisi e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu.
Dengan demikian, pupuslah sudah impian Raihan menjadi salah satu mahasiswa akademi pahlawan bergengsi itu. Dia telah gagal memanfaatkan kesempatan terakhirnya itu dan takkan ada lagi kesempatan di tahun-tahun mendatang sejak dirinya sudah harus pensiun di perhelatan e-sport vrmmorpg perihal umur.
...Ark 1 The Rising of The Newbie berakhir...
...Beralih ke ark 2...
__ADS_1