
Lia mengajak Luca ke salah satu restoran paling mewah di Kota Jakarta tersebut.
“Lia, tunggu. Tampaknya ini bukan tempat yang layak aku kunjungi. Lihat saja, aku hanya mengenakan seragam SMA yang kumal.” Luca terlihat tidak enak begitu Lia mengajaknya ke tempat di mana penuh orang-orang berpakaian glamour di mana dirinya sendiri mengenakan pakaian SMA-nya yang apa adanya.
“Luca, bagiku saat ini, kamu sudah sangat tampan kok. Siapa yang berani mengataimu kumal, akan siap-siap berhadapan denganku.” Jawab Lia sembari tersenyum cerah.
Melihat wajah Lia dari balik sinar matahari senja yang cerah kala itu yang membuat gadis itu sekilas tampak bersinar indah nak bidadari dari surga membuat Luca tersipu lantas tanpa sengaja memalingkan wajahnya dari Lia.
“Hmm? Ada apa, Luca?”
Jantung Luca tiba-tiba menunjukkan debaran yang kencang sewaktu Lia mendekatkan wajahnya dengan jarak kurang dari 10 cm ke wajah Luca. Dia pun dengan malu berujar, “Aku tidak punya uang untuk makan malam di restoran semewah ini, Lia.”
Namun Luca bukan malu karena tidak punya uang, melainkan gadis di hadapan Luca saat itu saja yang terlalu mempesona.
Lia tersenyum mendapati ekspresi imut Luca itu.
“Tenang saja. Hari ini, aku yang traktir Luca kok.”
Mendengar hal itu, Luca kelabakan, “Eh? Tidak boleh begitu, Lia. Kata Paman Heisel, kita tidak boleh menerima kebaikan orang lain secara cuma-cuma. Hanya keluarga saja yang boleh melakukannya.”
Mulut Lia langsung maju beberapa senti kemudian dengan merajuk, dia berujar kepada Luca, “Kalau begitu, kita cukup jadi keluarga saja kan? Bagaimana kalau Luca jadi pacarku saja?”
“Pacar? Apa itu pacar?” Tanya Luca polos.
Sambil tersenyum, Lia hanya menjawab pertanyaan Luca seolah sudah paham Luca yang belum mengenal baik dunia itu akan bereaksi seperti itu secara natural, “Hmm. Pacar itu adalah bagian dari keluarga kita yang punya hak istimewa untuk mengajak kita makan malam, beli pakaian bersama, nonton di bioskop, jalan-jalan, dan kegiatan-kegiatan lainnya hanya berduaan saja.”
Mendengar jawaban Lia itu, muka Luca memerah, “Hanya berduaan terus saja bersama dengan Lia?”
“Atau apakah Luca tidak suka berduaan denganku?”
Terhadap pertanyaan Lia yang terakhir itu, Luca bereaksi keras dengan menggelengkan kepalanya.
Dengan malu-malu, Luca menjawab, “Mana mungkin seperti itu. Malahan, justru sebaliknya. Aku akan sangat senang.”
__ADS_1
“Kalau begitu, sudah diputuskan ya, kalau mulai hari ini, Luca adalah pacar Lia.”
“Hmm.” Dengan malu-malu, Luca hanya menjawab singkat. Dia tak berani menatap wajah Lia saat ini yang menurutnya sangat cantik itu yang bisa membuat jantung Luca meledak kapan saja.
Mendapati pemuda itu tampak telah takluk tak berkata-kata lagi, Lia segera menyeretnya masuk ke dalam restoran. Tanpa menahan diri, Lia segera memesan makanan terenak yang dia bisa kepada pelayan untuk mereka berdua.
“Apa benar tak apa-apa aku diajak makan makanan enak seperti ini, Lia?”
“Tentu saja. Karena sekarang aku adalah pacar Luca.”
“Tetapi kok rasanya ada yang ganjil. Rasanya aku hanya mengambil untung dari Lia.”
Lia menggelengkan kepalanya, “Hmm. Aku sekarang justru sangat bahagia kok, bisa makan malam berdua dengan pacarku yang sangat kucintai saat ini.” Lia kini tidak menahan diri lagi untuk memanggil Luca dengan sebutan pacar.
Luca menerima semua itu saja tanpa sama sekali dia mengenal konsep dunia. Tetapi yang jelas, Lia telah berhasil dengan sukses mendapatkan Luca, si anak polos kita, dengan keagresifannya.
“Ngomong-ngomong, Lia, mengapa kamu cepat sekali sampainya? Padahal belum lima menit tadi aku meneleponmu.”
Pertanyaan Luca yang terakhir langsung membuat Lia menelan ludah.
“Kok masih memanggilku dengan nama sih. Yayang Lia. Mulai sekarang, kamu harus memanggilku dengan sebutan Yayang Lia.”
“Yayang Lia?”
“Yup. Itu sebutan istimewa kepada pacar kita, Yayang Luca.” Tetapi di akhir kalimatnya itu, Lia sendiri yang tampak malu mengatakannya.
“Maaf Luca. Sebaiknya untuk saat ini, kita tetap memanggil nama saja.”
“Hmm.” Lia berperang sendiri dengan hati nuraninya sementara Luca tampak tidak mengerti dengan semua itu dan hanya mengiyakannya saja.
Tetapi yang jelas, Lia dengan sukses mengalihkan perhatian Luca terhadap pertanyaannya yang terakhir itu.
Berbicara soal Lia. Dia punya kebiasaan yang aneh.
__ADS_1
Sebagai seorang putri tunggal seorang konglomerat di salah satu perusahaan smartphone ternama di tingkat dunia, Lia harus senantiasa menjaga citranya di publik. Tetapi itu bukan berarti bahwa keluarganya mendesaknya untuk itu. Sebaliknya, ayah dan ibunya justru sangat mencintainya dan membiarkan Lia melakukan apapun yang diinginkannya.
Tetapi tanggapan lingkungan sekitar tetap tidak memungkinkan Lia untuk tidak menjaga image-nya, terlebih dengan harapan orang-orang pada dirinya sebagai sang putri cantik dari keluarga konglomerat. Jadilah Lia harus menjaga image-nya itu setiap saat dan hal itu terkadang sangat membuatnya lelah.
Jadilah pertandingan e-sport sebagai ajang pelepas stress baginya.
Tetapi belakangan ini, Lia juga telah memperoleh suatu hobi yang aneh lagi untuk melepaskan stres-nya itu, yakni dengan melihat setiap hari wajah seseorang tertentu yang entah mengapa setiap melihat wajahnya itu, perasaannya langsung adem seakan seluruh perasaan stress-nya itu menguap begitu saja ke udara.
Ya, jadilah selama beberapa hari ini, sejak pertemuan mereka 3 hari yang lalu, Lia selalu memandangi Luca dari jauh di jarak pandang yang cukup jauh dengan menggunakan teropong khususnya sehingga bahkan naluri tajam assassin Luca tidak dapat menangkap pengawasan Lia.
Tentu saja karena Luca tidak tahu, artinya itu masih dalam taraf aman yang tidak melanggar hukum… mungkin.
Makan malam tiba dan Lia pun menyaksikan bagaimana asyiknya Luca menyantap makanannya. Melihat kebahagiaan kecil Luca itu saja telah cukup membuat Lia turut bahagia.
Setelah makan malam itu, barulah Lia membantu masalah Luca dengan menghubungi admin AD corporation, perusahaan pencipta game The Last Gardenia tersebut. Luca tidak menemukan kontak admin di buku panduan karena kontak tersebut diselipkan bersama kartu garansi game-nya yang disimpan terpisah oleh Nina.
Telepon tersambung dari telepon Lia dan Luca pun mulai menceritakan masalahnya kepada admin.
“Ah, apa jangan-jangan orang yang berbicara saat ini adalah pemilik akun bernama Luca ya?”
“Iya, benar.” Jawab Luca singkat.
“Wah, aku tidak menyangka bisa berbicara scara langsung denganmu. Terus terang saja, aku kagum banget sama kamu sewaktu melihat penampilanmu…”
Alih-alih segera mejawab masalah Luca, sang admin malah tampak sibuk memuji bakat cemerlang Luca. Setelah hampir 10 menit sang admin berbicara di mana semuanya adalah pembicaraan yang tak lepas dari pujiannya terhadap Luca, barulah sang admin menjawab inti pertanyaan Luca.
“Kalau masalah itu, Dik Luca tidak usah khawatir. Persoalan hadiah dari fake quest-nya memang juga bagian dari hadiah quest tersembunyi yang Dik Luca baru selesaikan. Omong-omong selamat karena baru saja menyelesaikan quest tersembunyi yang kedua. Wah, itu…”
“Jadi hadiah uang seratus jutanya benaran untuk saya, Mbak Karina?” Luca segera memotong pembicaraan Karina sebelum admin cerewet itu berceloteh panjang lebar lagi.
“Tentu saja.”
Setelah mendengar jawaban dari Karina, barulah akhirnya Luca bernafas lega.
__ADS_1