
Ketika aku melihat nama-nama di list peserta yang lolos 15 besar, ada dua nama yang tidak terduga di benakku.
Pertama adalah Eren, sang shielder yang sempat pula berhadapan denganku di kompetisi e-sport vrmmorpg amatir. Namun, dengan melihat performanya selama ini yang mampu menjadi kekuatan utama di tim amatir itu, aku berpikir itu wajar saja jika dia bisa berkembang sampai sejauh ini.
Yang paling tidak terduga dari semua itu adalah Senior Areka. Mungkin inilah yang disebut semut di rumah tetangga terlihat, tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Aku sebelumnya sudah mengira bahwa Senior Areka itu hebat. Tetapi untuk sampai mengalahkan secara beruntun si pengkhianat Lucifer, Danu, ketua tim pengkhianat, Alvian, serta Kak Medina, aku tidak pernah bisa memikirkan itu sebelumnya.
Tidak salah lagi, Senior Areka telah berkembang ke taraf yang membanggakan.
Karena ruang pertarungan virtual dibagi menjadi lebih sedikit, yakni dari empat ruang kini sisa dipakai dua ruangan saja, aku akhirnya mampu melihat pertarungan Senior Areka itu sendiri.
Tetapi sayangnya, lawan yang dipilihnya kali ini adalah si pengkhianat Hermanto yang aku telah pernah saksikan sebelumnya pertandingannya sewaktu dua lawan dua bersama Egi. Itu pun Egi waktu itu sekarat sehingga prinsipnya Senior Areka dikeroyok oleh si pengkhianat Hermanto dan Alika.
Lalu setelah kusaksikan pertandingan Senior Areka tersebut dan membandingkannya dengan pertarungannya yang lalu di babak semifinal pertandingan tim dengan lawan yang sama yakni si Hermanto pengkhianat, aku bisa melihat bahwa gerakan Senior Areka menjadi lebih halus dan dia bisa lebih luwes tanpa merasa malu-malu lagi menggunakan skill the chuni series-nya.
Dalam waktu singkat, Senior Areka menghempaskan perisai Hermanto dengan tumbukan Lutfi lalu segera menghantam Hermanto yang tanpa perisainya itu dengan hantaman yang sangat keras yang membuat Hermanto terpental sangat jauh yang menyebabkan tulang leher dan tulang belakangnya patah sehingga dia pun game over di arena.
Senior Areka benar-benar telah berkembang sangat pesat.
Sayangnya, untuk Eren sendiri, aku tak dapat menyaksikan pertandingannya. Bukannya karena dia bertanding di ruangan lain, melainkan kali ini dia tidak terpilih menjadi lawan oleh satu pun peserta. Yah, itu wajar sejak peringkatnya cukup rendah sehingga poin yang diperoleh untuk mengalahkannya juga terbilang rendah.
Lalu aku?
Aku kembali memilih Kak Mark kali ini sebagai lawanku. Aku harus waspada sejak di pertandingan pemilihan ini, ada aturan tegas dari panitia yang melarang lawan yang sama untuk bertemu dua kali.
Jika kamu tidak mengatur dengan baik siapa lawanmu di setiap pertandingan, maka kemungkinan akan sulit bagimu untuk memperoleh lawan di saat-saat terakhir pertandingan yang akhirnya bisa saja justru kamu kalah, bukan karena tidak mampu mengalahkan lawan, melainkan karena tidak mampu mendapatkan lawan perihal lawan yang tersisa semuanya sudah pernah ditemui.
Begitu aba-aba pertandingan dimulai, aku dan Kak Mark pun segera beradu cepat dan memamerkan teknik-teknik assassin kami.
Terlihat bahwa Kak Mark sudah banyak latihan untuk melawan lawan yang lebih pendek darinya. Aku bisa melihat mungkin dia menggunakan Gajel sebagai referensi lawan latihannya. Walaupun aku tidak bisa membayangkan bagaimana mage sepertinya bisa menggantikan assassin seperti aku dalam simulasi Kak Mark.
Walau demikian, Kak Mark masih menunjukkan kekikukan di beberapa tempat.
__ADS_1
Aku melakukan feint dengan mengincar bagian kiri tubuhnya, tetapi Kak Mark sanggup menghindarinya. Namun siapa sangka bahwa aku akan menendangkan pasir ke arah matanya.
Kak Mark terlihat cukup terganggu dengan itu. Lalu tanpa memberikan kesempatan kepada Kak Mark untuk berpikir, aku segera meninju bawah dagunya ke atas hingga membuat Kak Mark terpental.
Lalu dengan paduan jurus tali penjerat dan kunai-ku, Kak Mark mulai terpojok hingga akhirnya terpental dan tak lagi mampu bergerak ketika terkena bom yang aku sembunyikan di beberapa bagian tali penjeratku.
Begitulah akhirnya aku mengalahkan Kak Mark di dalam pertarungan.
\=\=\=
Peserta 4 besar sementara
Malik (White Star) 481 poin
Luca (White Star) 439 poin
Krimson (Shadow Park) 345 poin
\=\=\=
Di pertarungan selanjutnya, aku memilih Kak Ferdi sebagai lawan bertandingku. Sebenarnya sejak di putaran sebelumnya aku mengincarnya, hanya saja karena Kak Malik memilihnya duluan, niatku pun harus ditunda sebanyak satu putaran.
Jika berbicara soal pertandingan konvensional, fighter adalah tipe lawan yang paling buruk untuk assassin sejak mereka telah terbiasa mengalami luka fatal sehingga biasanya akan sulit untuk menganggu mereka dalam serangan sembunyi-sembunyi.
Namun mengambil referensi dengan pertandingan melawan Viandra sebelumnya, akan efektif untuk mengalahkan lawan tipe fighter seperti ini dengan racun untuk melemahkan fisik mereka terlebih dahulu sebelum melakukan serangan habis-habisan.
Akan tetapi, aku sedikit ragu sejak dia adalah rekan Kak Krimson yang ahli racun. Mungkin saja dia telah banyak memiliki kekebalan terhadap racun melihat kembali referensi pertarungan Kak Ferdi sebelumnya di babak semifinal melawan Tim Silver Hero.
Dia dapat bertahan walau setengah bernyawa menghisap racun gas dari Kak Krimson.
__ADS_1
Dengan waspada, aku menyusun baik-baik strategiku dengan menaruh racun yang bisa menyerap secara perlahan di kulit pada setiap permukaan tali penjerat dan kunaiku.
Serangan kuawali dengan mengulur waktu sambil menjaga jarak dari Kak Ferdi sembari menunggu racunnya bekerja.
Akan tetapi, Kak Ferdi segera mampu mendekatkan jarak di antara kami dengan segera menerjang masuk melewati jeratan-jeratan tali penjeratku dengan impak badannya yang sangat luar biasa.
Aku menundukkan badan menghindari tinjuan mautnya itu sembari melarikan diri melewati daerah di antara dua celah kakinya. Aku berusaha mengurungnya dengan tali-tali penjeratku yang semakin dilawan maka ikatannya akan semakin kencang.
Namun terlihat jelas perbedaan kekuatannya dengan Viandra. Kak Ferdi berada di tingkatan yang lain. Justru, tali penjeratkulah yang dengan mudahnya terputus yang bagai benang rapuh.
Di saat terdesak, aku pun mensummon sabit bulan-ku menggantikan dagger taring beracun basilisk yang sebelumnya kugunakan. Hal itu kulakukan karena menurut penilaianku, menghadapi lawan sealot Kak Ferdi adalah harus mengutamakan defensifitas. Di situlah sabit bulan tepat digunakan karena dapat berfungsi sebagai alat penyerang sekaligus pertahanan.
Akhirnya, karena terbatas oleh waktu, stamina Kak Ferdi-lah yang duluan mengendur, terima kasih berkat pengaruh racunku yang walau lambat, tetapi akhirnya bekerja. Goresan demi goresan sabit bulan-ku pun semakin menyita staminanya.
Sayangnya sampai akhir, aku gagal melayangkan satu pun ultimate skill padanya. Kak Ferdi roboh duluan karena kehabisan stamina perihal racunku.
Mungkin akan banyak penonton yang sedikit kecewa oleh akhir pertandingan kami yang terkesan antiklimaks. Tetapi sejak itu adalah hasil dari pemikiran strategi yang berusaha kupersiapkan dengan matang, tidak salahnya juga untuk memuji diriku sendiri bahwa itu juga adalah tidak salah lagi kemenanganku perihal aku mempersiapkan pertandingan dengan lebih matang ketimbang dirinya.
\=\=\=
Peserta 4 besar sementara
Malik (White Star) 523 poin
Luca (White Star) 470 poin
Lia (Silver Hero) 399 poin
Asario (Silver Hero) 310 poin
\=\=\=
__ADS_1