The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
194. Kengerian Tersembunyi di Balik Seorang Alchemist Cantik


__ADS_3

Dialah Justice Sword. Pemimpin guild extra Dawn yang awalnya merupakan guild extra terbaik kedua di guild swordsman. Akan tetapi, secara tiba-tiba dia bersama guidd extra-nya ditendang keluar begitu saja oleh sang guild master utama swordsman, Visgore Layete, dari guild itu.


Setelah itu, dia pun mencoba sekuat tenaga mendaftarkan kembali guild extra-nya tersebut ke berbagai tempat agar bisa kembali memperoleh status resminya, mulai dari guild shielder, fighter, bahkan guild scout yang dikatakan sangat mudah pengurusan pendaftarannya tersebut.


Namun demikian, entah karena alasan apa, semua aplikasi pendaftarannya tersebut ditolak mentah-mentah.


Jangankan untuk berkasnya itu disimpan yang sekadar akan melapuk di gudang sebagai bentuk penolakan tidak langsung, baru sekali itu dilihat saja di ruang registrasi oleh para administrator guild masing-masing, ada yang membakarnya, ada yang merobeknya, dan bahkan ada yang sampai tega meludahi berkas itu dan melemparkannya kembali ke wajah sang pemilik.


Justice Sword benar-benar secara tiba-tiba saja berada pada titik terendah dalam hidupnya tanpa adanya pertanda sedikit pun. Tidak, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia sendiri telah menyadari bahwa sejak kapan hal itu terjadi. Itu sejak dia berupaya macam-macam pada newbie assassin tertentu.


Dia diskors dari perusahaannya dan luntang-lantung di jalanan tanpa sedikit pun rasa belas kasihan datang dari sang ayah maupun sang kakak dan adik-adiknya.


Setelah memohon belas kasihan dari sang kakek, barulah dia diberikan modal kembali untuk menebus kesalahannya itu. Dia pun menggunakan sejumlah besar uang dari kakeknya itu untuk menyuap beberapa administrator NPC guild utama alchemist yang memang mudah disuap karena memang tersetting seperti itulah pengaturannya di game.


Akhirnya, kumpulan pemain swordsman itu bisa kembali memperoleh oasis mereka di guild yang justru sama sekali tidak ada kaitannya soal pedang itu. Dari sana, dia akhirnya mampu mereformasi kembali guild extra Dawn-nya itu.


Walaupun tidak sejaya sebelumnya, setidaknya guild extra-nya itu telah kembali cukup terkenal sehingga suntikan dana dari pemerintah pada perusahaan yang dibangunnya di dunia nyata mengalir kembali dengan lancar walaupun dengan frekuensi yang lebih rendah.


Setidaknya, dia kini bisa keluar dari titik terendahnya itu sehingga baik ayah maupun saudara-saudaranya kini dapat melihatnya kembali sebagai seorang manusia.


Namun, di arena luas yang terbuka itu, keringat dingin mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Sumber kemalangan yang menjadikan hidupnya hancur sebelumnya itu kini berada tepat di hadapan matanya.


Dialah Luca sang protagonis kita. Tentu saja Luca tidak tahu-menahu soal semua itu. Itu semua murni kesalahan Justice Sword. Luca hanya terlalu disayangi oleh para NPC yang memiliki kedudukan tinggi yang segera akan marah ketika melihat seseorang menyakitinya.


“Perhatian semua kepada 77 guild master dari berbagai guild extra. Sebentar lagi, royal battle akan segera dimulai. Caranya gampang untuk mengalahkan lawan Anda. Anda cukup menyingkirkannya keluar dari lingkaran arena. Kedelapan guild extra yang guild master-nya mampu bertahan sampai akhir, akan bisa melaju ke babak kompetisi utama. Dengan ini, pertandingan DIMULAI!!!”


Melalui aba-aba dari sang wasit, pertandingan royal battle antara ke-77 guild master itu pun dimulai.


“Hehehehehe. Berani juga kamu tampil di sini ya, Bocah, di tengah-tengah para player yang semuanya berlevel tinggi ini. Yosh, aku memilihmu sebagai lawan yang paling pertama akan kusingkirkan dari arena.”


Demikianlah ucap seseorang berkepala botak dengan mengenakan kacamata rapat yang terlihat agak aneh serta antingnya yang hanya ada di sebelah kanan yang tampak menyeramkan itu.


Justice Sword segera menoleh ke arahnya ketika mendengar suara dari si botak itu yang terlalu berisik menggema di sampingnya. Akan tetapi, dia segera diam-diam kembali menyelinap ke belakang begitu menyaksikan bahwa rupanya pemain yang diprovokasi oleh si botak itu tidak lain adalah sang protagonis kita.


“Hiyaaaat!”


“Clang!”


“Ah.”


Tidak butuh waktu lama bagi Justice Sword untuk menyadari bahwa suara berisik dari pemain botak itu telah menghilang. Dia tidak perlu lagi melihat ke belakang untuk mengamati sendiri apa yang terjadi. Dia telah bisa menyimpulkan sendiri di otaknya dan kesimpulan itu benar adanya.


Si botak menjadi orang yang pertama kali tersingkirkan dari arena oleh sang protagonis kita.

__ADS_1


Seiring dengan semakin sedikitnya pemain yang tersisa di arena, Justice Sword pun semakin gugup. Dia begitu ketakutan kalau-kalau sampai Luca menotice keberadaannya.


Namun, tidak butuh waktu lama agar itu benar-benar terjadi. Ketika pemain di arena tersisa tinggal dua puluh-an, Luca pun akhirnya bisa menatap langsung ke arah mata sang guild master extra Dawn tersebut.


Kakinya gemetar. Dia tak dapat menghindari untuk mengingat trauma masa-masa keterpurukannya itu karena salah bermain dengan pemain yang bernama Luca tersebut. Akan tetapi di luar dugaannya. Luca hanya melewati pandangannya saja tanpa berbuat apa-apa padanya. Dia hanya kembali membantai lawan yang ada di dekatnya.


Di situlah dia baru tersadar, “Ah, benar juga. Luca sama sekali belum pernah mengenalku.”


Pada saat itulah kepercayaan dirinya bangkit kembali setelah sadar bahwa lehernya baru saja terselamatkan. Di detik-detik akhir itu, dia kemudian mulai turut menggugurkan lawan-lawannya satu-persatu dari arena dan peserta guild extra delapan besar akhirnya ditentukan.


\=\=\=


APRIL – SWORDSMAN


DAWN – ALCHEMIST


FILANTROPI – SHIELDER


GUBUK BAMBU – ASSASSIN


HIGH – FIGHTER


JALAN KEBENARAN – SWORDSMAN


KHALIA – SWORDSMAN


***


“Luca, selamat. Sudah kuduga Luca-ku sayang memang hebat.”


“Yo, selamat, Guild Master.”


Begitu aku turun dari arena, Lia dan Kak Andra tidak henti-hentinya menyelamati aku. Di belakang, aku pun dapat melihat sambutan hangat dari Kak Nina, Kak Raia, dan Chika. Jika ada yang kusedihkan saat ini, sayangnya sampai akhir, Diana tetap tidak bisa bergabung bersama kami karena padatnya jadwal latihannya bersama Tante Deborah.


Tetapi itu tidak masalah. Aku telah bertekad akan menghadiahi Diana sebagai hadiah kelulusannya dari pelatihan neraka Tante Deborah itu melalui piala kemenangan kami di turnamen guild extra kali ini.


Aku telah melakukan bagianku. Kini sepenuhnya tergantung dari kerjasama tim dalam memperoleh kemenangan. Yah, tapi dibilang kerjasama tim, pertandingan babak utamanya tetap dilaksanakan secara sendiri-sendiri juga sih yang dihitung berdasarkan jumlah poin kemenangan anggota.


Lawan pertama kami di turnamen utama babak pertama ini adalah guild extra Filantropi di bawah naungan guild utama Shielder. Inilah kesempatan kami untuk membawa nama baik guild utama assassin kami sebagai guild extra pertama dan satu-satunya sampai saat ini yang didirikan di sana dengan meraih kemenangan beruntun.


Karena ketiadaan pemain newbie di guild kami, kami pun harus menyerah pada pertandingan putaran pertama dan skor pertandingan dengan cepat mengalir menjadi 1 – 0 dengan keunggulan guild extra Filantropi.


Kemudian sebagai peserta pada babak putaran kedua yang mewakili tim kami sebagai pemain veteran pemula adalah Chika. Lawannya, sesuai dengan guild utama di mana mereka bernaung, adalah seorang shielder.

__ADS_1


Dalam sekejap pertandingan pun dimulai.


“Hei, wanita yang kurus lemah! Jika tidak mau tersakiti, segera menyerah saja.”


Baru pertandingan dimulai, tahu-tahu Chika telah diremehkan duluan oleh lawan. Yang aku herankan, tidak pernahkan shielder lawan itu menyadari fakta bahwa rata-rata magician yang hebat itu justru bertubuh kecil?


Seorang alchemist juga bisa dikategorikan sebagai seorang magician, jadi daripada mempertimbangkan bentuk fisiknya, seharusnya dia lebih memperhatikan aliran mana di sekitar tubuhnya itu untuk menilai kemampuannya. Sampai-sampai aku meragukan jangan-jangan lawan sama sekali tidak mempunyai pengalaman bertarung yang cukup.


Ataukah itu hanya akting untuk menurunkan kewaspadaan Chika saja dengan berpura-pura bodoh? Ataukah dia tertipu dengan crossbow yang dibawa oleh Chika sehingga mengiranya sebagai seorang archer?


Tidak, tidak, itu mana mungkin. Melihat kumpulan ramuan di ikat pinggangnya saja, sudah menampakkan dengan jelas kelas Chika yang sesungguhnya. Lagian seorang alchemist membawa senjata tempur bukan lagi hal yang tidak lumrah. Ambil saja contoh dari Kak Krimson, pemain profesional dari Klub Shadow Park itu.


Singkat cerita, Chika pun mengeluarkan semacam beberapa bentuk dedaunan kering kemudian ditiupnya hingga berhamburan ke udara.


“Hahahahahaha. Apa ini? Semacam ramuan blindness kah? Tidak tahukah kamu, cantik, bahwa seorang shielder itu memiliki indera keenam yang baik? Hanya dengan membatasi indera penglihatan kami, tidak akan membatasi pergerakan kami karena kami bahkan bisa melihat tanpa menggunakan mata. Hiyaaat!”


Dia terang-terangan memanggil Chika dengan sebutan cantik. Ini pertama kalinya aku mendengarkan Chika dipuji seperti itu. Tetapi kalau jika diperhatikan dengan seksama jika Chika melepas kacamatanya dan mengurai rambutnya, dia memang agak cantik juga.


Tidak, tanpa aku sadari, karakter game Chika memang berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih cantik sejak menjadi murid langsung dari Profesor Bruntall. Atau apakah di dunia nyata dia bertambah cantik juga ya? Mungkin ya, tetapi aku hanya selalu sekilas melihatnya, jadi aku juga kurang yakin.


O walah, omongan tidak penting apa yang aku lanturkan ini. Mari kembali fokus ke tema saja.


Sang shielder, walau dengan indera penglihatannya yang terhalangi, tampak tetap mengangkat perisainya dengan tekad sekuat baja hendak menyerang… Ataukah tidak. Gerakannya terhenti seketika di tengah-tengah.


“Ah, apa ini? Kulitku kenapa meleleh?! Aaaaaakkkkh!”


Dari awal, sang shielder itu telah salah di saat memilih menerima serbuk yang datang dari seorang alchemist itu alih-alih menghindarinya. Tampaknya dia lupa bahwa lawannya adalah seorang alchemist dan bukannya mage. Seharusnya dia sadar bahwa alchemist itu berspesialisasi dalam hal ramuan yang salah satunya adalah racun.


Dia seharusnya sadar bahwa apapun yang dikeluarkan oleh seorang alchemist itu tidak mungkin ramuan sesederhana membutakan pandangan lawan. Untuk apa juga seorang alchemist melakukannya sebab mereka bukannya punya keahlian serangan lanjutan jika itu memang hanya sekadar serangan pendukung seperti itu.


Tentu saja setiap ramuan yang dikeluarkan oleh seorang alchemist ketika bertarung one on one itu adalah serangan fatal yang mematikan karena itulah keahlian mereka.


Jangan bilang sang shielder berpikir kalau Chika hanya berniat membutakannya saja lantas menyerang pertahanannya dengan panah crossbow-nya itu. Yang benar saja! Mana mungkin sekadar panah crossbow milik non-petarung seperti kelas alchemist akan efisien untuk menembus perisai kokoh sang shielder??? Apalagi datang dari arah depan??? Apa shielder lawan itu benar-benar sama sekali tidak pernah memikirkannya???


Satu hal yang bisa kukatakan, pemain shielder lawan itu sama sekali tidak memiliki pengalaman bertarung yang cukup. Dia masih harus banyak belajar.


“Itu adalah daun kering Kamelia yang dicampurkan dengan racun basilisk yang sangat asam yang seketika bisa melelehkan kulit.”


“Apa?! Jadi ini bukan sekadar ramuan penghalang penglihatan saja?! Lantas mengapa kulitmu bisa baik-baik saja, penyihir?!”


“Itu karena aku mengoleskan antidote-nya di sekujur tubuhku, tetapi tampaknya aku tidak perlu menjelaskan detailnya itu kan, Kakak Perisai yang kasar?”


“Sial. Aaakkkkh!”

__ADS_1


Begitulah ujar Chika yang dari seorang gadis cantik, posisinya dengan cepat berubah menjadi seorang penyihir di hati sang Kakak Shielder yang kasar sembari melambaikan tangannya dengan senyuman ke arah Kakak Shielder yang game over seketika perihal kulit dan tulang-tulangnya yang meleleh.


Seperti kata Chika, itu adalah ramuan yang dibuatnya berbasiskan empedu basilisk yang sebelumnya aku kalahkan itu. Benar kata pepatah bahwa senjata alkimia sangatlah menakutkan.


__ADS_2