
Sang dukun tampak mengitari sekeliling Luca dengan antusias. Secara tiba-tiba, sang dukun mendekatkan wajahnya ke wajah Luca begitu saja hingga hanya berjarak kurang dari satu sentimeter. Luca sama sekali tidak menduga hal itu dan lantas kaget dan hanya bisa mematung.
“Hmm. Wajahmu benar-benar membuatku merasa nostalgia.” Ujar sang dukun seraya menampakkan senyum di bibirnya disertai raut mata ramah. Hanya saja topeng putih bercorak aneh yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas seperti apa aslinya ekspresinya itu.
Dengan kecepatan yang bahkan sampai-sampai membuat Luca tak mampu meresponnya, dia seketika mendaratkan tangannya ke rambut Luca lantas memain-mainkan rambut pemuda polos itu.
“Tapi kenapa kamu mengubah warna rambutmu? Tidakkah kamu pikir warna rambut ini indah?” Ujar sang dukun seraya menunjuk ke arah rambutnya sendiri.
“Siapa kamu?” Pada akhirnya, Luca pun dapat berkomentar sementara Aura sedari tadi di belakangnya sudah akan mengamuk jika bukan Luca yang menghalaunya.
“Aku? Aku Phineas.”
“Aku tak pernah mengenal nama itu. Lagipula, mengapa kamu bisa kenal denganku bahkan tahu warna rambut asliku?” Ujar Luca dengan tidak menurunkan kewaspadaannya.
“Kenapa ya kira-kira? Menurutmu kenapa?” Sosok yang memperkenalkan dirinya sebagai Phineas itu dengan tersenyum nakal hanya memainkan pertanyaan Luca.
Terjadi diam sesaat di antara mereka berdua. Luca mengamati baik-baik sosok yang ada di hadapannya itu dengan sangat waspada karena papan game menunjukkan namanya sebagai,
\=\=\=
Nama: PHINEAS (Lv 185)
Race: manusia
Umur: error
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: king of necromancer
\=\=\=
Luca pun kembali mengingat bahwa sebelum kematian Philtory, salah satu necromancer penyebab bencana zombie di desa Kaukau yang baru-baru saja dilawannya beberapa waktu lalu, dia sempat menggumamkan nama Phineas.
“Hahahahahahaha. Tidak lama lagi. Tidak lama lagi! Tuan Phineas akan datang dan menelan kalian semua dengan para mayat hidupnya. Bersenang-senanglah kalian semua para manusia hingga saat itu tiba. Nikmatilah dunia cermin yang penuh dengan kepalsuan ini selama kalian bisa!”
Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan oleh Philtory di akhir hayatnya. Dengan kecocokan job-nya sebagai king of necromancer, mau tidak mau Luca jadi menduga kalau orang di hadapannya inilah yang dimaksud oleh Philtory dapat menelan semua makhluk hidup dengan pasukan mayat hidupnya.
Ditambah, ras-nya adalah manusia, tetapi levelnya melampaui 99, ini jelas-jelas aneh.
Luca baru-baru ini menyadarinya setelah belajar sedikit mengenai konsep level yang dipelajarinya dari buku pedoman vrmmorpg milik Nina. Konsep level tidak jauh beda dengan konsep kualitas umur dari suatu makhluk hidup.
Setiap makhluk hidup di dunia ini, punya batas umur tertentu. Batas umur itu dapat dicirikan dengan batas level yang dimiliki oleh suatu makhluk hidup. Manusia yang dapat hidup maksimal 100 tahun, hanya dapat meningkatkan levelnya sampai 99 saja, seperti pamannya, Heisel, yang telah berada di puncak levelnya.
__ADS_1
Begitu pula ras lain seperti orc, hanya dapat mencapai sampai level 199. Ras elf dengan level 499, ras draconoid dengan level 999, serta ras naga dengan level 9999.
Tetapi Phineas yang identitas masih diakui oleh sistem sebagai manusia itu telah mencapai level 185 yang jelas tidak mungkin dicapai oleh ras manusia. Terlebih, penunjukan umurnya yang error. Jelas-jelas orang yang ada di hadapan Luca saat ini sangatlah misterius yang otomatis sangat berbahaya.
Luca tak boleh sedetik pun menurunkan kewaspadaannya di hadapan orang seperti itu.
Namun, begitu kontes tatap antara Luca dan Phineas berlangsung, tiba-tiba saja tanah di sekitar mereka bergetar dan terdengar teriakan orang-orang panik dari keramaian.
Luca pun berlari untuk memantau keadaan itu.
Betapa kagetnya Luca ketika mendapati monster berkepala sapi dengan badan seorang pria manusia kekar yang tingginya jauh melebihi tinggi rata-rata manusia, mengamuk di tengah ibukota.
“Oi, Phineas! Apa ini semua ulahmu?” Ujar Luca pada sosok makhluk di belakangnya.
“Aku memang berniat menyerang ibukota. Tetapi sayangnya, itu bukan salah satu dari anak buahku.”
“Apa maksudmu?” Luca yang tidak percaya dengan omong kosong itu, lantas semakin menatap tajam Phineas dengan tatapan kebencian.
“Yah, sebagai pemilik kekuatan spiritual, tentunya kamu bisa membedakan mana energi yang berasal dari mana mati dan mana yang berasal dari iblis. Pokoknya, hari ini aku hanya berniat menyapamu saja. Mari kita bermain kapan-kapan.”
Dalam sekejap di hadapan mata Luca sendiri, Phineas pun menghilang begitu saja nak asap.
\=\=\=
Nama: Dojoron (Lv 132)
Umur: 150 tahun
Jenis kelamin: Jantan
Status: terkontaminasi dark energy
\=\=\=
“Huh, kutu sialan itu. Beraninya menggunakan energi kegelapan di hadapan Aura yang penuh keanggunan ini.” Teriak Aura marah dengan gigi-giginya menggerutu.
Luca hanya mengabaikan teriakan marah Aura itu karena dirinya sementara fokus memperhatikan dengan seksama status sang monster. Luca pun akhirnya menyadari bahwa perkataan Phineas barusan adalah kebenaran. Bukan death energy yang sedang mengontaminasi sang monster, melainkan dark energy.
“Tetapi apa ini? Monster ini bernama? Terlebih dengan level segitu. Mampukah aku melawannya?”
Monster bernama. Berbeda dengan monster biasa, monster bernama memiliki mana yang lebih stabil dengan pikiran yang berkembang mendekati kecerdasan manusia sehingga akan menjadi lawan yang lebih sulit dibandingkan monster biasa. Jika dibandingkan dengan angka, maka tingkat kesulitan menghadapi antara monster biasa dan monster bernama adalah 1 banding 20 sampai 30.
Terlebih dengan kontaminasi dark energy, monster itu saat ini sedang dalam mode berserk-nya. Monster itu jelas bukan lawan yang bisa ditangani oleh Luca meski dengan menggunakan tubuh aslinya sekarang.
__ADS_1
“Master, izinkan aku untuk mencincang-cincang daging kutu sialan itu.” Ujar Aura dengan badannya yang chubby-chubby imut itu yang hanya baru setinggi 30 cm setelah meningkat ke level 25.
Luca hanya mengabaikannya dalam helaan nafas.
Tetapi di luar itu, semangat Aura menggapai dirinya. Ini bukan bagian dari misi Luca. Tidak ada kewajiban bagi Luca menghadapi sang monster. Akan tetapi, hanya dirinya-lah yang saat ini ada di tempat kejadian. Pasukan kekaisaran dan para player yang menerima misi masih sementara dalam perjalanan ke tempat itu. Dan selama jeda itu, bisa saja puluhan bahkan ratusan nyawa warga sipil melayang kapan saja di tempat itu.
“Lagipula ini bukanlah tubuh asliku. Aku hanya akan gameover jika tewas. Tidak ada salahnya aku membuat monster itu sibuk sampai bala bantuan tiba.”
Luca yang tak bisa mengabaikan hati nuraninya pun memutuskan untuk menjadi tameng bagi para warga sipil selama dalam proses melarikan diri dari amukan sang monster. Sekali lagi bagi Luca, mereka bukanlah NPC yang sekadar program komputer, melainkan manusia nyata yang punya keinginan dan cita-cita sendiri.
“Aura, fokus dalam pemberian buff strengthening padaku.” Ujar Luca dengan mata yang tertuju lurus kepada sang monster.
Awalnya, Aura terlihat enggan karena juga ingin menghadapi monster secara langsung. Tetapi Luca tahu betul bahwa monster berbahaya di hadapannya itu bukanlah lawan yang bisa dihadapi oleh Aura. Jika dirinya yang kalah lantas gameover, dia bisa segera dibangkitkan. Tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan Aura jika sampai pet-nya itu yang tewas.
Oleh karena itu, Luca pun bersikeras agar Aura tidak ikut menyerang secara langsung pada sang monster dan cukup fokus sebagai support saja. Hal itu karena Luca tak ingin merasakan lagi yang namanya kehilangan keluarga.
Sebagai pet Luca, perasaan itu tersinkronisasi dengan baik di benak Aura. Oleh karena itu, Aura paham betul apa yang dirasakan oleh masternya dan akhirnya menuruti saja keinginan Luca itu.
Luca pun maju menerjang sang monster. Sang monster merespon dengan melayangkan kapak besar yang menjadi senjatanya itu di hadapan serangga pengganggu yang menghalangi kesenangannya dalam membantai.
Luca hanya bisa menghindari serangan itu. Ayunan kapak itu terlalu kuat bagi senjata terkuatnya saat ini yakni dagger taring serigala perak untuk bisa menahannya. Dia pun tak yakin bisa menggunakan sabit bulannya dalam kondisi saat ini sambil menghindari serangan ayunan kapak sang monster yang sangat cepat dan kuat itu.
Sabit bulan tentunya adalah senjata yang paling tepat digunakan oleh Luca saat ini karena dapat menyerap elemen dark dan death menjadi kekuatannya. Akan tetapi penggunaan senjata itu akan menurunkan kelincahan gerakannya yang berakibat fatal pada penurunan evade.
Tentu ini adalah kelemahan fatal mengingat sangat cepat dan kuatnya serangan monster itu. Menggunakan dagger taring serigala perak di situasi saat ini masih merupakan pilihan yang lebih baik.
“Ah.”
Namun seketika, Luca mengingat kembali bahwa dia masih memiliki satu lagi senjata yang lebih tepat digunakan pada keadaan sekarang yakni senjata yang diperolehnya ketika menyelesaikan quest dungeon pemula, belati elemental cahaya.
\=\=\=
Nama item: belati elemental cahaya
Elemen: light
Rank: Rare
Durabilitas: 3000
Strength: 40
Efek: menetralisir death dan dark energy, 10 % kemungkinan mengangkat kutukan necromancy dan iblis
__ADS_1
\=\=\=
“Belati ini memang jauh lebih lemah daripada dagger taring serigala perak, tetapi efeknya cocok untuk digunakan seperti keadaan sekarang ini.” Dengan resolusi, Luca pun bersiap untuk melakukan serangan balik.