
“Aku baik-baik saja. Jadi tidak usah mengkhawatirkan aku. Kalian kan tahu sendiri bahwa aku bukanlah tipe orang yang tidak enakan. Aku akan mengatakan tidak jika memang benar-benar tidak sanggup. Lebih penting daripada itu, bagaimana dengan kamu, Yuda? Kamu kan juga ada turnamen individu besok. Apa kamu tidak akan kelelahan dengan juga akan mengikuti turnamen tim ini? Mengingat kamu baru-baru saja mengikuti turnamen tim di babak quarter final.”
“Aku juga baik-baik saja kok, Areka.”
Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Senior Areka dalam rapat kemarin. Jadilah hari ini tim kami mengutus aku, Egi, Senior Areka, Kak Yuda, dan Chika dalam turnamen tim babak semifinal ini.
“Bersiap…Mulai!”
Demikianlah, aba-aba pertandingan dari wasit mengawali pertandingan kami melawan Tim SMA Ayam Jantan.
Chika pun segera menjalankan taktik yang kami rencanakan dengan menyebarkan asap penghalang pandangan.
Berdasarkan analisa Lia, kerjasama tim lawan memang sangat bagus, tetapi ada kasus di mana didapati bahwa kerjasama tim mereka terlalu memperhatikan indera visual satu sama lain sehingga jika indera visual tersebut dihalangi, maka kemungkinan kerjasama tim mereka akan segera ambruk.
“Teman-teman! Waspada! Musuh bisa saja mengintai di belakang kita!”
Begitulah salah seorang di antara mereka yang kemungkinan adalah kapten tim-nya berteriak.
Namun, aku bukan assassin biasa. Sangat jarang ada pemain yang mampu menyadari serangan dadakanku terutama di awal pertandingan.
“Slash.”
“Akh.”
Aku pun berhasil mengeliminasi cleric mereka yang merupakan fondasi tim dari Tim SMA Ayam Jantan itu yang menyebabkan mereka menjadi lawan yang sangat sulit untuk dikalahkan.
Walau demikian, sesuai yang diharapkan dari sang mantan juara dua pada turnamen akhir tahun di tahun lalu, mereka tetap sangat kuat dan tangguh walau tanpa dukungan buff cleric mereka.
Kami pun mengambil taktik memisahkan lawan untuk menjadi pertandingan individu. Senior Areka menghadapi sang shielder, Kak Yuda menghadapi sang swordsman, Egi menghadapi sang mage, sementara aku menghadapi fighter mereka di mana Chika di belakang menunggu lawan menunjukkan celah untuk melakukan serangan dadakan.
“Buak, trak, trak.”
Sekarang aku paham setelah melihatnya secara langsung. Gerakan lawan benar-benar sangat efisien. Pastinya ini berasal dari latihan keras selama bertahun-tahun. Aku akui bahwa anak luar pulau memang benar-benar tangguh, terutama yang dari timur.
Namun demikian, aku juga tidak kalah tangguhnya dari mereka. Gerakan fighter cukup cepat, ditambah serangan mereka sangat kuat. Mustahil seorang assassin bisa mengalahkan mereka dalam pertarungan jarak dekat dengan cara biasa.
Aku pun menggunakan dagger taring beracun basilisk-ku untuk menghadapinya.
“Buak, trak, trak.”
Pertarungan berlangsung dengan stagnan untuk sementara waktu.
“Wuuuush.”
Kadang-kadang, panah crossbow dari Chika datang untuk mendukungku. Sayangnya, sang fighter lawan juga mampu menghindari setiap serangan anak panah Chika tersebut.
“Ukh! Bau ini…”
Kulihatlah panah yang ditembakkan Chika. Itu adalah bau busuk buah melon neraka.
Jika saja itu berhasil menggores sedikit kulit lawan, maka bisa dipastikan kekalahan lawan. Sayangnya itu semua percuma jika tak berhasil menggoresnya.
Padahal sudah beberapa menit setelah asap dialirkan yang seharusnya memberikan tim lawan debuff penurunan stamina yang cukup besar, tetapi tampak mereka semua baik-baik saja. Inikah kekuatan dari anak daerah? Satu kata untuk mereka, fantastic.
__ADS_1
Aku telah bertarung cukup lama dengan sang fighter lawan, namun belum ada tanda-tanda dia mengendorkan pertahanannya sedikit pun. Kalau begini, akan sulit bagiku untuk mengambil celah dalam melakukan serangan mematikan dadakan.
“Ukh!”
“Akh!”
Aku tidak tahu detilnya, tetapi tampak Senior Areka telah berhasil mengalahkan sang shielder lawan. Namun sayangnya, beberapa saat setelah itu, Egi ikut gugur di tangan sang mage. Senior Areka pun menggantikan Egi melawan sang mage lawan.
“Sial! Padahal aku pemegang nomor satu. Tetapi beberapa kali ini, aku selalu kalah selangkah dari Senior Areka.”
Aku berteriak marah akan ketidakbecusanku sendiri.
“Buak, trak, trak.”
Aku melawan dengan segenap tenaga sang fighter lawan. Namun mungkin karena dia menyadarinya, sang fighter itu berhasil menghindari dengan baik untuk tidak terluka dari dagger-ku yang sangat beracun ini.
‘Skill: tebasan pangkal paha’
“Trang.”
‘Skill: tikaman penghakiman’
“Buak.”
Apapun jurus yang kukeluarkan, sang fighter lawan mampu bertahan dengan baik.
Tapi kami punya keunggulan di arena yang penuh kabut ini.
“Kak Yuda, tampaknya kita harus memasuki rencana tahap kedua.”
Walaupun aku harus menangis setelah memutuskan ini karena sekali lagi harus membuka kartu joker yang berharga yang aku persiapkan untuk turnamen profesional, tetapi itu tidak menjadi masalah lagi. Mungkin sudah saatnya, sedikit demi sedikit aku menunjukkan kemampuan Aura kepada dunia.
Kali ini kemampuan telepati. Berkatnya, kami unggul dari segi komunikasi di dalam pertarungan yang indera visualnya terhalangi tersebut.
‘Skill: tebasan lintas dimensi’
Aku melakukan taktik yang sama di kala aku melukai Jamer pada saat melawan Paman Heisel sebelumnya.
Aku tampak akan melukai sang fighter lawan sehingga dia pun menerawang ke segala arah untuk mendeteksi anomali arah datangnya seranganku. Tetapi dia tak dapat menemukannya sama sekali.
Itu jelas saja karena memang dia bukanlah target seranganku.
“Akh!”
Itu adalah sang swordsman lawan yang sedang dihadapi oleh Kak Yuda. Aku berhasil mengenainya dengan telak.
Lalu dalam satu kali serangan tambahan dari Kak Yuda, swordsman itu pun segera turut game over di arena.
Tanpa buang-buang waktu, Kak Yuda segera menggencarkan serangan ke lawan fighter yang sedang aku hadapi. Suatu serangan yang tidak diduga sehingga dia sedikit terlambat untuk menghindar. Namun demikian, dia tetap mampu untuk menghindarinya dengan baik.
Tapi, bagaimana caranya dia bisa segera mendeteksi serangan itu? Apakah itu dari aura killing intent-nya? Rasanya tidak demikian. Jikalau memang begitu, dia pasti tidak akan melakukan kesalahan dengan terlambat sekian milisekon dalam menghindari serangan tersebut.
Aku pun kembali menganalisis situasi dan di situlah aku menyadari dari mana sang fighter lawan mampu menghindari tiap seranganku dengan baik dan kali ini mampu menghindari dengan baik pula serangan dadakan dari Kak Yuda.
__ADS_1
Pandangan mata. Tampaknya, dia memiliki kelebihan mata yang tajam untuk mengamati setiap detail kecil pergerakan mata lawan untuk memprediksi arah serangan mereka.
Aku memang pernah mendengar dari Paman Heisel bahwa ada beberapa fighter yang dilatih untuk bertempur seperti itu. Tetapi karena kupikir bahwa itu adalah sesuatu yang mustahil, maka aku mengabaikannya saja dan menganggap itu sebagai cerita kosong orang mabuk.
Bagaimana tidak. Bagaimana kita bisa berkonsentrasi pada jurus kita sendiri di kala alih-alih pergerakan badan mereka, kita malah harus memperhatikan bagian yang sangat kecil seperti pergerakan mata.
Keahlian Kak Keporin dalam memprediksi gerakan lawan melalui bahasa tubuh mereka malah sekarang terdengar lebih masuk akal daripada semua ini.
Namun, jika ini benar, aku bisa memanfaatkannya.
“Chika, aku punya rencana. Bersiap-siaplah menyerang pada koordinat yang kutunjukkan.”
“Aku mengerti, Luca.”
Sungguh cooldown serangan yang menyebalkan. Aku pun terpaksa mengganti senjataku dengan yang paling besar sekaligus yang paling malas aku gunakan dalam serangan cepat ini. Sabit bulan tercinta-ku yang telah lama tidak aku temui lagi.
‘Skill: tebasan kilat sabit’
Itu adalah skill yang mendistorsi ruangan sesaat. Namun, berbeda dengan tebasan lintas dimensi, serangan itu sama sekali tidak melintasi dimensi. Serangan itu hanya menyerang mirip dengan prinsip gabungan antara boomerang dan rudal. Hanya saja, untuk jeda sesaat, serangan itu akan tampak menghilang di tengah-tengah sebelum mengenai lawan.
Aku pun mulai menjalankan trik-ku. Aku dengan sengaja memalingkan bola hitam mata-ku ke arah lain dari arah sebenarnya akan muncul serangan sabit bulanku itu.
Sesuai dugaan, sang fighter terpancing. Dia menoleh ke arah di mana pandangan mataku melirik.
Ternyata, dugaanku tepat. Dia memprediksi serangan lawan berdasarkan arah pandangan mata lawan mereka sendiri.
“Aaaakh!”
Akhirnya, setelah bertarung cukup lama, aku berhasil mendaratkan satu serangan ultimate-ku kepada sang fighter lawan.
Serangan itu tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Panah crossbow milik Chika yang mengandung melon neraka yang terinfeksi bakteri histeria varian 707 telah menunggu untuk menginfeksi luka yang dibuatnya.
“Ukh!”
Sayangnya, hal yang tak diduga pun terjadi.
“Aaaaakh!”
“Chika!”
Sang mage berhasil memperoleh posisi Chika dari serangannya yang terakhir lantas dengan sigap mengeliminasinya.
Asap hitam menghilang. Aku, Senior Areka, dan Kak Yuda pun kembali berkumpul bersama.
Hal yang sama berlaku untuk dua pemain lawan yang tersisa.
“Baso, kamu terlalu ceroboh. Sudah kubilang untuk selalu waspada dengan serangan anak panah alchemist itu.”
“Maafkan aku, Sese. Tapi bukankah berkat aku sebagai umpan, kamu akhirnya berhasil menemukan posisinya?”
“Ini dan itu adalah hal lain. Sudahlah, minum saja obat pemurnian ini.”
Lalu di luar dugaan, setelah meminum obat pemurnian itu, sang fighter lawan benar-benar mampu sembuh dari gejala infeksi bakteri histeria varian 707 tersebut.
__ADS_1
Sang mage lawan rupanya juga bukan lawan yang sembarangan.