The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
222. Mode Castle Defense


__ADS_3

Setelah berembuk sejenak setelah mendengarkan aturan pertandingan dari sang MC, Klub White Star pun menentukan susunan anggota mereka.


\=\=\=


Tim White Star



Brian (ID: BRIANBRIAN)


Malik (ID: MALIKMALIK62)


Luca (ID: LUCA)


Areka (ID: AREKAMALANG)


Egi (ID: TOBBY111)


\=\=\=


“Hei, Senior Areka. Ada sesuatu yang dari dulu ingin kutanyakan padamu yang membuatku begitu penasaran.”


Terhadap pertanyaan Luca itu, Areka pun menelan ludahnya. Dia menatap Luca dengan mata yang bergetar, merasakan penuh kewaspadaan akan jenis pertanyaan seperti apa gerangan yang ingin ditanyakan oleh anak polos yang selalu bersikap serius itu.


“Apa itu, Luca?”


Namun, suasana was-was seketika berubah menjadi kekesalan begitu dia mendengarkan pertanyaan tersebut. Areka sejenak lupa karena Luca belakangan ini bersikap tenang, tetapi dia baru mengingat bahwa sejatinya Luca memang adalah bocah yang kelewat polos dengan mulut yang los.


“Aku begitu penasaran dengan ID game Senior Areka yang AREKAMALANG itu. Soalnya waktu aku tanya Kak Andra mengapa nama ID game-nya Budak Malang karena katanya hidup Kak Andra penuh penderitaan, apa jangan-jangan Kak Areka juga hidup penuh kemalangan?”


Dengan wajah yang polos itu, Luca benar-benar menaruh rasa perhatian yang tulus kepada seniornya. Akan tetapi, itulah yang justru membuat Areka semakin kesal.


“Malang itu kota tempat aku dilahirkan, bukan kata sifat ‘malang’ yang kamu maksud.”


“Eh, jadi Senior Areka dilahirkan di kota yang malang rupanya. Kasihan sekali.”


Mendengar jawaban ngelantur nan polos Luca itu, urat di kepala Areka pun akhirnya putus dan dia pun berteriak,


“Nama kotanya yang Malang, tetapi Kota Malang penuh dengan kebahagiaan… Minta maaf sana sama seluruh warga Kota Malang!!!!!!”


Melupakan lawakan duo kombi itu, Malik menunjukkan keresahannya.


‘Leon, apakah kali ini aku akan sanggup melakukannya?’


Hatinya dipenuhi dengan kegundahan, tetapi wajahnya tampak ceria seperti biasa-biasa saja. Tiada yang menyadari resah di hatinya itu, kecuali Brian.


“Aku memang kurang mengetahui detailnya, Malik. Tetapi aku percaya pada tim kali ini. Apa yang kamu cari mungkin akan tercapai di kesempatan kali ini.”


“Hmm.” Malik pun mengangguk atas pernyataan seniornya itu.

__ADS_1


Setelah mengetahui fakta kelam e-sport vrmmorpg itu setahun atau dua tahun yang lalu dari pengakuan Malik sendiri, betapa Brian tidak bisa mengabaikan perhatiannya kepada juniornya berdasarkan umur tersebut. Brian-lah yang telah menjaga Malik di kala Malik tengah akan tenggelam dalam keputusasaan.


‘Apapun itu, kuharap kau akan tegar menghadapinya, Malik.'


Lalu, para anggota tim White Star mulai memasuki arena quest di dalam ruangan virtual dan game castle defense itu pun dimulai.


***


Castle defense.


Begitu aku mendengarkan metode pertandingan kali ini, betapa aku merasa sangat bersemangat. Betapa tidak. Di dalam game, aku selalu saja disibukkan oleh horde zombie, terima kasih berkat raja di negeri tertentu yang selalu memanfaatkanku bagai budak demi melindungi kekaisarannya. Akibatnya, aku sangat jarang menghadapi monster tipe lain.


Bertarung antarsesama pemain dan monster jelas berbeda. Ada nuansa ketegangan tersendiri yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata di saat kamu melawan monster. Itulah sensasi yang selama ini kurindukan dan tak kusangka hal itu justru akan segera aku peroleh di sini.


Betapa hatiku berdebar-debar penuh harap-harap cemas.


Namun, ketika gelombang monster pertama muncul, bagaikan tersambar sapi Pak Ucok, aku harus menahan sakit perihal rasa kecewa sekali lagi datang melanda. Itu adalah horde zombie. Lagi-lagi dan lagi-lagi itu adalah zombie.


“Areka bertahan! Egi, kamu bantu aku menyupport dari belakang! Malik, kamu pimpin Luca menyerang dari tengah! Pastikan prioritaskan keselamatan!”


“Baik.”


“Baik.”


“Baik.”


“Baik.”


Aku dan Kak Malik menerobos ke tengah-tengah kerumunan monster zombie itu lantas mengenyahkan mereka satu-persatu. Terima kasih berkat gerakan mereka yang lambat, Senior Areka tak sekalipun kebagian peran kali ini dalam gelombang monster perihal tak ada satupun dari horde zombie yang dapat melewati belakang kami.


Di samping itu, support sihir api Kak Brian serta panah griffin Egi yang bisa dia tembakkan sebanyak 4 anak panah setiap kali tembakan yang mampu mengejar sasaran secara akurat di manapun musuh bersembunyi, benar-benar sangat membantu kami dalam melenyapkan para zombie itu.


Terutama sihir api Kak Brian, skill-nya benar-benar bukan sembarangan. Horde zombie berisikan seratus lebih zombie yang berkumpul dalam suatu jarak dekat, dibakar sampai musnah hanya dalam satu kali serangan.


Dalam waktu singkat, horde zombie dapat kami atasi dan kami pun menuntaskan gelombang monster yang pertama.


Kemudian, tidak lama setelah gelombang pertama menghilang, gelombang monster yang kedua muncul. Itu adalah gerombolan goblin.


Lagi-lagi, monster yang merepotkan ketika dalam bentuk gerombolan muncul.


Bagaimana tidak. Goblin adalah tipe monster yang memiliki regenerasi sel yang sangat cepat. Bagaimanapun, jika mereka hanya dilukai tanpa dibunuh dalam sekali serangan, separah apapun luka yang mereka alami, mereka hanya akan sembuh dalam waktu sekejap.


Terima kasih setidaknya mereka lemah sehingga gampang untuk dibunuh, jadi itu akan mampu menutupi kesulitan yang dihadapi dari regenerasi super cepat mereka.


Namun ketika kumelirik ke belakang, rupanya di sana juga ada hobgoblin, goblin shaman, dan terlebih-lebih muncul penampakan goblin king.


Ini benar-benar akan menjadi super dan super, bahkan ekstra super merepotkan.


Berbeda dengan goblin biasa, hobgoblin memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dengan fisik yang lebih kuat. Walau demikian, kemampuan regenerasinya tetap super cepat.

__ADS_1


Ditambah dengan keberadaan goblin shaman yang memberikan gerombolan buff ketahanan sihir, terlebih-lebih dengan keberadaan goblin king yang turut menambah buff moral mereka sepuluh kali lipat, mereka telah berubah menjadi gerombolan monster yang sangat mematikan.


Bagaimana tim kami akan sanggup menghadapi gerombolan ini?


Tetapi, berkat Kak Malik yang sama sekali tidak menunjukkan kegentaran, hal itu pun turut memberikanku semangat.


Tarian pedang es Kak Malik seketika membekukan seluruh goblin yang ada di sekitarnya, lantas dalam serangan keduanya, es yang memerangkap para goblin yang membeku itu pecah bersama dengan isi yang ada di dalamnya.


Perihal gerakan mereka yang lincah, beberapa goblin biasa berhasil melewati area yang dijaga olehku dan Kak Malik. Syukurlah di belakang, ada Senior Areka yang menjaga pertahanan dinding kastil.


“Skill: takutlah akan cahaya, Lutfi yang tampan akan membutakanmu dengan keindahannya”


Para goblin seketika lenyap oleh duri-duri cahaya yang menyebar dari balik perisai Senior Areka.


Ketika para goblin berada pada jarak dekat, akhirnya efek buff dari shaman dan king pun berkurang sehingga jurus Kak Brian dan Egi kali ini kembali efektif menghabisi mereka.


Melihat anggota tim-ku yang setangguh itu menjaga lini belakang, aku pun tak usah khawatir lagi dalam menyerang sesuka hatiku.


Dengan skill assassin-ku, aku diam-diam menggorok leher para goblin shaman, lawan yang keberadaannya paling merepotkan di antara yang lain, namun sekaligus juga paling mudah dibasmi oleh tipe penyerang sembunyi-sembunyi sepertiku.


Berkat mulai menghilangnya para goblin shaman di bawah assassinasi-ku, jurus Kak Brian dan Egi juga kembali efektif untuk menghadapi gerombolan goblin pada jarak yang jauh. Formasi kami pun dengan itu menjadi semakin solid.


Beberapa hobgoblin tampak berupaya melayangkan tinjuannya padaku. Tetapi tentu saja, dengan gerakan mereka yang lambat perihal ukuran tubuh mereka yang jauh lebih besar dari goblin biasa, mereka tak mungkin berhasil melayangkan tinjuan itu padaku.


Sebagai tindakan balasan, aku pun turut menggorok leher mereka satu-persatu.


Namun, begitu goblin king yang maju, aku segera menarik diri untuk mundur. Bukannya aku takut atau tidak sanggup mengalahkannya. Bagaimanapun, ini adalah kerjasama tim dan dibutuhkan waktu mengalahkan monster seminimal mungkin untuk memenangkan kompetisi ini.


Jadi aku pun menyerahkan lawan yang paling besar dan kuat itu kepada ahlinya, yang lebih mampu mengalahkan sang monster dengan lebih cepat, dialah sang swordsman aura es, Kak Malik.


Kak Malik segera merentangkan pedangnya tinggi-tinggi ke atas tampak siap mengayunkannya dengan segenap tenaganya. Lalu dalam sekali tebasan,


‘skill: bunga es’


Es seketika menjalar dari pedang Kak Malik menuju kepada sang goblin king. Tampak beberapa hobgoblin maupun goblin biasa berupaya untuk mencegah jalur es, tetapi saking lemahnya mereka di hadapan skill ultimate Kak Malik itu, aliran es hanya melewati mereka begitu saja seakan bukan apa-apa seraya turut membekukan sepanjang jalan para goblin yang menghalanginya tersebut.


Es mengalir dengan cepat lantas segera mencapai goblin king yang dimulai dari ujung kakinya lantas menjalar naik sampai ke ujung kepalanya, membekukannya dengan sempurna dalam bentuk menyerupai kuncup bunga.


Kemudian, ketika Kak Malik menarik skillnya itu, bunga es yang awalnya terlihat menguncup yang menyelubungi seluruh tubuh goblin king seketika mekar seraya mencabik-cabik tubuh sang goblin king di dalam.


Es pun kemudian pecah membentuk butiran-butiran es yang berkilau indah, bercampur dengan warna hijau yang cemerlang yang tidak lain merupakan warna darah dari sang goblin king.


***


Dengan kalahnya sang goblin king, moral para goblin lain segera menurun drastis sehingga Luca dan anggota timnya yang lain pun dapat mengalahkan para gerombolan yang tersisa itu dengan sangat mudah.


Tidak lama kemudian, gelombang kedua monster pun berakhir yang dilanjutkan oleh gelombang yang ketiga. Akan tetapi, melihat gelombang monster yang ketiga sekaligus yang terakhir itu, entah mengapa mata Luca seketika membelalak.


__ADS_1


__ADS_2