
Sejak hari itu, Senior Areka tampak lebih bersemangat lagi. Dia mulai membangun kepercayaan dirinya kembali, terlihat dengan seringnya dia mengajukan tantangan duluan untuk bertarung denganku.
Semuanya berkat skill barunya itu, The Lutfi series yang mirip-mirip dengan Sarwendah series milik Kak Toni. Hanya saja, nama-nama jurusnya agak memalukan sehingga seringkali muka Senior Areka dibuat merah jadinya.
Untuk Senior lain, aku agak segan untuk tiba-tiba mengatakan ‘mari berlatih tanding’ atau ‘mari belajar bersama’ untuk meningkatkan kemampuan mereka. Aku takut bahwa itu malah akan berefek sebaliknya dan mereka akan berprasangka buruk padaku dengan menganggapku sebagai junior yang songong.
Waktu turnamen akhir tahun juga sudah tidak lama lagi sehingga aku harus segera memikirkan solusi agar bagaimana para senior yang lain juga bisa level-up.
Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah membantu para anggota tim yang ada di party-ku. Namun sayangnya untuk mereka pun, tampaknya tidak banyak yang bisa kulakukan.
Chika sibuk latihan membuat ramuan bersama Profesor Bruntall dan kadang-kadang latih tanding dengan Kak Krimson. Pastinya mereka akan lebih mampu membuat Chika level-up ketimbang aku.
Diana pun masih sibuk dalam pelatihan ekstra ketat Tante Deborah. Jadi kupikir untuk Diana pun tidak ada masalah.
Kak Raia daripada latihan jurus baru, dia lebih membutuhkan pengalaman bertarung dan perluasan pemahaman tentang trik licik dalam bertarung. Oleh karena itu, dia akhir-akhir ini lebih sering mengikuti quest gladiator daripada quest biasa. Jadi, tidak ada hal pula untuk saat ini yang dapat kubantukan untuk Kak Raia.
Yang tersisa tinggal Kak Nina. Tetapi belakangan ini, dia tampak kehilangan motivasi. Namun tidak ada hal yang dapat kuperbuat untuk pemain yang kehilangan hasratnya dalam bertarung. Lagipula klub juga hanyalah tempat untuk bersenang-senang saja sehingga tidak ada kewajiban pula bagi Kak Nina latihan sungguh-sungguh jika orangnya sendiri memang tidak punya niat.
Tetapi aku khawatir akan mentalitas Kak Nina belakangan ini. Perihal setahuku dia memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi pemain e-sport vrmmorpg profesional. Namun setelah mengetahui bahwa aku telah bergabung di klub White Star tempat Kak Malik idolanya bernaung, dia jadi kebanyakan mendiamiku.
Aku juga salah karena tidak memberitahunya sedari awal. Tetapi jujur, sama sekali tidak ada niatku untuk menyembunyikan hal ini darinya. Hanya saja, tidak ada momen yang tepat untuk memberitahukan perihal permasalahan ini kepada Kak Nina.
Aku tidak tahu apakah itu ekspresi rasa dikhianatinya ataukah sekadar rasa iri belaka, tetapi yang jelas Kak Nina marah tentang mengapa aku merahasiakan semuanya dari awal padanya. Terus terang, aku merasa sedih akan situasi kami saat ini. Namun saat ini, tiada sesuatu yang dapat kuperbuat.
Aku hanya harus menunggu sampai emosinya reda lalu membicarakan hal ini baik-baik dengannya. Terus terang, Kak Nina adalah sosok kakak yang paling berharga buatku. Dialah yang paling banyak mengajarkanku tentang bagaimana hidup di dunia nyata ini sewaktu awal-awal aku terdampar ke tempat ini.
Melupakan itu semua, kini aku dan Kak Silvia baru saja melaksanakan quest setelah kumengeluh padanya tentang tak bisanya aku menemukan monster level tinggi untuk naik level. Quest kami adalah pemurnian danau di salah satu wilayah Kerajaan Symphonia.
Kak Silvia mencari tahu soal sumber pencemarannya lantas membasminya. Lalu aku berperan dalam memurnikan danau melalui kekuatan pemurnian sabit bulan-ku. Quest dengan mudah dapat kami selesaikan melalui kombinasi keahlian kami.
Pasca quest, kami pun memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mencari monster level tinggi di salah satu spot yang terletak di Kerajaan Symphonia yang dikatakan monster level tinggi sering muncul di sana. Akan tetapi berjam-jam pun dicari, monster level tinggi itu tidak kunjung-kunjung muncul juga.
__ADS_1
Jadilah aku dan Kak Silvia pulang dengan tangan kosong. Tapi salah juga jika mengatakannya seperti itu, perihal quest yang merupakan tujuan awal kami datang ke sana telah terselesaikan dengan baik.
Tiba-tiba di tengah perjalanan kami, masih di wilayah ibukota Kerajaan Symphonia itu, Assor, aku secara kebetulan bertemu dengan Egi. Tidak hanya Egi, ada juga Asti sang fighter serta Zevan sang mage es bersamanya.
“Egi? Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanyaku padanya.
“Itu…” Entah mengapa Egi terlihat hesitasi memberitahuku seakan maling yang baru saja tertangkap basah mencuri.
Zevan-lah yang menjawab,
“Kami akan mengikuti quest berburu Galpagos, Luca. Baru-baru ini di internet kan ramai dibicarakan bahwa jikalau beruntung, kita akan dapat menemukan quest tersembunyi ‘keputusasaan Griffon’ di tengah-tengah quest berburu Galpagos ini. Yang lebih penting lagi adalah bahwa quest tersembunyi itu katanya dibatasi hanya untuk pemain di bawah level 50 saja. Bagaimana? Keren kan? Ini kesempatan kita para newbie untuk bersinar. Hehehehehehe.”
“Eh, benarkah? Bolehkah aku juga ikut? Kalau soal mencari quest tersembunyi, aku ahlinya lho. Sudah dua kali soalnya aku menemukannya secara kebetulan.” Aku menampilkan tampilan teramahku kepada mereka dengan senyum yang terbaik pula, berharap bisa diizinkan bergabung dengan party mereka.
Yah, bukan apa-apa. Hanya saja, aku merasa senang jika diizinkan bergabung dengan party bersama teman-teman.
“Semua orang juga tahu. Dua dari 33 quest tersembunyi yang ada, semuanya ditemukan oleh pemain yang sama, dan tidak hanya itu, mereka ditemukan oleh seorang newbie. Beritanya sudah dari dulu gempar di komunitas Gardenia.”
“Kalau begitu, mohon bantuannya ya, Luca. Yuk gabung bersama.”
“Zevan!”
Egi tiba-tiba menatap Zevan dengan pandangan kesal penuh arti. Entah mengapa aku merasa bahwa Egi merasa tidak enak jika aku bergabung dengan party-nya. Tetapi karena baik Zevan maupun Asti terlanjur menyambutku dengan penuh antusias, maka tidak ada peluang bagiku lagi untuk menarik kembali ucapanku.
Jadilah aku bergabung bersama party mereka.
“Kalau begitu, biarkan aku juga ikut bergabung ya, adik sekalian.”
Tidak, tepatnya kami berdua. Kak Silvia juga akhirnya turut bergabung ke party setelah meminta bergabung dan langsung diizinkan begitu saja oleh Egi.
“S07!” Mereka pun, sama seperti Senior Areka, rupanya juga terkejut ketika mengetahui identitas Kak Silvia yang sebenarnya.
__ADS_1
Party beranggotakan lima orang itu pun mulai memasuki area quest perburuan Galpagos. Tampaknya Egi benar-benar memikirkan anggotanya sewaktu membentuk party. Egi dan Zevan sebagai penyerang utama jarak jauh, mulai menembaki monster Galpagos yang menyerupai bentuk elang itu yang sedang terbang dengan kecepatan tinggi masing-masing dengan jurus panah dan tusukan es mereka.
Kemudian Asti sebagai seorang fighter berperan dalam melindungi kedua penyerang jarak jauh di dalam party-nya tersebut.
Kak Silvia yang juga seorang archer segera pula memposisikan dirinya sebagai penyerang utama jarak jauh, menembaki para Galpagos yang berkeliaran di langit. Sungguh player yang berlevel 105 itu memang beda. Tembakannya begitu efisien, kuat, dan akurat. Dalam sekali tembakan, dia bisa mengeliminasi sepuluh, tidak, mungkin dua puluh atau lebih Galpagos dalam waktu yang bersamaan.
Sampai-sampai hal itu membuat Egi seketika menganga tidak percaya akan kehebatan player berperingkat dua di game The Last Gardenia itu.
Kini tersisa aku yang bingung untuk melakukan apa. Sekarang aku paham mengapa Egi terlihat enggan untuk mengajakku ke party-nya. Sebagai seorang assassin, aku tidak punya skill serangan jarak jauh. Aku pula tidak bisa bergerak seperti Asti yang seorang fighter yang mampu melindungi rekan-rekannya dari serangan jarak dekat.
Aku baru tersadar bahwa aku benar-benar tidak berguna di dalam party ini.
Namun seketika aku mengingat kembali gelar yang baru saja aku dapatkan, ‘sang komandan’.
Walau skill-nya disebut ‘sang komandan’, skill ini punya rahasia tertentu. Dengan perlakuan tertentu, seorang komandan bisa difungsikan sebagai pemandu sorak. Ya, suatu efek buff dari kata-kata melalui skill ini.
“Ayo, Egi, Kak Silvia, Asti, Zevan, kalian pasti bisa! Semangat! Ayo, pantang menyerah! Tunjukkan kehebatan kalian!”
Dari seorang petarung, aku pun berubah posisi menjadi pemandu sorak.
Tetapi itu tidak sia-sia dan tampaknya rekan-rekanku yang lain juga segera menyadari perubahan signifikan yang terjadi di tubuh mereka itu.
“Jadi ini efek gelar barumu ya, Luca?” Ujar Kak Silvia yang akhirnya menyadarkan mereka apa yang sebenarnya terjadi.
Melalui medium suaraku yang dibarengi kepercayaan kuat mereka terhadapku, gelar ini mampu memberikan efek buff pada serangan dan pertahanan rekan setim ke taraf maksimal.
Aku pun akhirnya menemukan peranku di dalam party ini.
“Sudah kuduga, kamu memang rival yang tepat buatku, Luca. Kamu selalu saja kembali menjadi lebih kuat dengan berbagai skill yang aneh-aneh. Bagaimana bisa aku tidak salut padamu.” Begitulah ucapan Egi.
Tampaknya kepercayaannya padaku telah kembali ke taraf maksimal pula.
__ADS_1
Semuanya sampai detik itu berjalan baik-baik saja. Tetapi mengapa secara tiba-tiba, peristiwa naas itu sekali lagi terjadi padaku?