
Luca menatap sekeliling dengan wajah keheranan. Semua hal di sekelilingnya kecuali para pemain di anggota party-nya telah membeku bersama dengan waktu, termasuk pamannya, Heisel, juga Keporin dan Dimitri.
“Ada apa ini?” Luca bertanya-tanya.
“Tidakkah sebelumnya kamu juga pernah mengalaminya?” Areka membalas pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.
Di saat itulah Lia turut menambahkan, “Sepertinya waktu larangan bermain game anak di bawah umur telah tiba. Tetapi lupakan itu, Luca! Apa yang mau kamu coba lakukan tadi? Mengapa kamu terlihat mau menerobos markas musuh sendirian dengan ceroboh?!”
Luca terkaku tidak bisa menjawab. Dia seakan telah kedapatan melakukan sesuatu yang buruk di hadapan Lia. Dan ketika Luca siap untuk membuka mulutnya kembali untuk menjawab,
“Fwuuuush.”
Mereka berlima telah dikeluarkan secara paksa dari dalam game.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, Luca telah kembali berada di dalam tubuh nyatanya. Seiring dengan kembalinya akal sehat di pikirannya, Luca menemukan bahwa Areka tengah memarahi Raia yang ada di sampingnya.
“Hei, bocah, kamu itu kan shielder, tetapi apa-apaan dengan gaya bertarungmu itu?! Mengapa kamu justru bertarung seperti seorang DPS?! Shielder itu seharusnya berdiri kokoh di hadapan musuh sebagai benteng…”
Tampak Areka memarahi Raia karena merasa tidak puas dengan gaya bertarung Raia yang ceroboh itu. Luca kelihatan enggan menanggapinya karena dia pun telah pernah melihat sendiri gaya bertarung Raia yang ceroboh itu sewaktu membentuk party pertamanya dan membenarkan dalam hati umpatan Areka yang ditujukannya kepada Raia itu.
Namun sesaat kemudian, pandangan Areka seketika tertuju kepada Luca yang baru saja kembali ke kesadarannya. Luca pun bergidik.
“Dan kamu juga, Luca! Mengapa kamu tiba-tiba bergerak menerjang ribuan zombie itu?! Jika bukan karena larangan main game anak di bawah umur yang menghentikan langkahmu, kamu pasti sudah dibabat habis oleh para zombie itu. Tidakkah kamu paham arti dari kata strategi?! Padahal kita sudah mendiskusikannya sebelumnya…”
Ceramah panjang Areka pun beralih dari Raia kepada Luca. Luca terpaksa harus mendengarkan kuliah panjang Areka itu selama beberapa waktu.
__ADS_1
.
.
.
Areka, Luca, dan Raia berjalan keluar warnet dalam diam. Tiba-tiba, Areka memecah kesunyian.
“Hei, Luca. Mengapa kamu tiba-tiba tak sabaran begitu?”
Luca terdiam beberapa saat sebelum akhirnya sepatah kata bisa keluar dari mulutnya.
“Aku sedih, Senior. Necromancer itu membunuh warga desa, tapi bahkan aku tak bisa membalaskan dendam mereka. Necromancer itu kabur begitu saja dari hadapanku, jadi tanpa pikir panjang, aku pun mengejarnya.”
“Mengapa sampai segitunya, lagian itu semua kan hanya NPC…” Areka tak melanjutkan lagi apa yang hendak diucapkannya begitu melihat ekspresi Luca berubah sedih walaupun dalam hati Areka, dia masih mempertanyakan mengapa Luca sangat menyayangi sesuatu yang baginya tak lebih dari program komputer itu.
“Kuyakin, para pemain lain akan segera tiba di tempat itu mengingat munculnya quest utama di sana. Paling tidak, desa akan tetap aman walaupun kita tak ada di sana.”
“Yah, apapun itu, malam ini, kalian berdua istirahat saja di rumahku. Kita hanya punya waktu delapan jam untuk beristirahat. Akan sia-sia kalau kita berpisah lantas ke rumah masing-masing. Lagipula di rumahku ada cukup set game, jadi besok kita pakai saja peralatan di rumahku untuk login kembali.”
Luca dan Raia mengiyakan ajakan Areka itu.
“Kalau begitu, aku hubungi supirku dulu untuk mengantar kita ke rumah.”
Akan tetapi, begitu supir Areka tiba dengan mobil yang walaupun tak semewah mobil Lia, tetapi telah cukup mewah mempertimbangkan rerata pendapatan kapita penduduk Indonesia itu, Luca dan Raia dengan jujur menampakkan ekspresi kagum sekaligus tak percaya mereka. Rasa kagum dan tak percaya itu semakin menjadi-jadi begitu mereka tiba di rumah Areka yang di luar dugaan sangat mewah.
Malam itu, jadilah Luca dan Raia menginap di rumah senior mereka yang pemarah itu.
***
Pagi pun tak terasa tiba dan kini waktunya mereka lagi untuk login ke dalam vrmmorpg The Last Gardenia itu.
__ADS_1
Dengan rasa cemas, aku login kembali ke dalam game. Satu harapanku, semoga Paman Heisel, Kak Keporin, serta yang lainnya yang ada di desa itu semuanya baik-baik saja.
Rupanya, apa yang dikatakan Senior Areka benar adanya. Begitu aku tiba kembali ke tempat ini, tempat ini telah dipenuhi oleh pemain lain untuk mengikuti quest utama.
Dapat terihat barisan tim shielder, tim archer, tim mage, dan tim support dari atas benteng untuk menekan laju para zombie, sementara para swordsmen, assassin, fighter, dan beast para tamer bertarung di garis depan.
Untuk sementara, aku tak lagi perlu mengkhawatirkan tentang keamanan desa. Aku pun segera mengunjungi pusat medis di desa setelah menerima kabar dari Lia bahwa Paman Heisel dan lainnya sementara dirawat di sana pasca pertempuran.
Aku sempat panik karena mengira Paman Heisel terluka parah, tetapi setelah Lia memberitahuku bahwa ketiganya hanya mengalami luka-luka kecil saja yang daripada luka fisik, mereka lebih menderita keletihan, aku pun bernafas lega.
“Bagaimana, Luca? Aku sudah menemukan lokasi sang necromancer di tanah kematian. Apa kita harus mengejarnya sekarang atau menunggu ketiga NPC yang membantumu sembuh dulu?” Seseorang menepuk pundakku dari belakang lantas bertanya. Dialah Kak Andra.
“Tidak. Kami baik-baik saja. Karena kalian semua sudah lengkap, kita berangkat saja.” Paman Heisel-kah yang mengonfirmasi pertanyaan dari Kak Andra tersebut.
Kulihat, tidak hanya Paman Heisel saja, tetapi juga Kak Keporin dan Kak Dimitri telah bangkit dari tempat tidur mareka dalam keadaan segar-bugar. Kami pun memutuskan untuk berangkat tanpa membuang waktu lagi.
Kami pun membentuk formasi dalam menerobos pertahanan jibunan zombie yang ada di depan menghalangi jalan kami. Senior Areka di sayap kiri dan Kak Raia di sayap kanan menghempaskan para zombie yang hendak menyerang kami ke samping, sementara Paman Heisel yang ada di barisan party paling depan, seketika membunuh para zombie yang berlari meliar hendak menerkam kami dengan jalan menusuk dan menebas mereka.
Aku ada di barisan paling belakang mengawasi pertahanan barisan belakang party, sementara Kak Dimitri di sisi kiri dan Kak Keporin di sisi kanan. Lia dan Kak Andra sebagai tim support ada di tengah-tengah sembari menjalankan tugas mereka masing-masing di mana Lia mendukung dengan buff pelindung dari elemen death sekaligus peningkatan strength, sementara Kak Andra fokus dalam mentracking necromancer itu.
Tepat ketika kami berjalan sekitar 800 meter dari benteng yang memisahkan desa dengan tanah kematian, kami pun akhirnya menemukan necromancer itu. Di sampingnya terdapat altar aneh dengan energi yang tidak mengenakkan, mana mati.
Aku hendak segera menerjang ke arahnya, tetapi Paman Heisel segera menghentikanku karena melihat sesuatu yang mencurigakan itu di sampingnya.
“Itu perobek dimensi. Kalian masih ingat kan dengan kejadian langit pecah beberapa waktu silam di Kerajaan Symphonia? Itu semua dipicu oleh alat seperti itu.” Komentar yang tak terduga pun keluar dari mulut Kak Dimitri.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang kejadian itu karena aku adalah salah satu korban dari kejadian tersebut yang membuatku terdampar ke dunia nyata.
Akan tetapi sang necromancer jahat Philtory pun mengeluarkan pernyataan yang membuat baik aku maupun yang lain tersentak kaget.
“Kita semua sudah terlalu lama hidup dalam dunia cermin. Apa gunanya menikmati dunia bayangan di kala dunia asli kita telah hancur sedikit demi sedikit tertelan kegelapan? Bukankah sudah saatnya kita bangun dengan menanggalkan dunia cermin tersebut?!"
__ADS_1