
“Egi! Bersiap-siap menyerang!”
“Ya!”
“Master, apa Anda perlu bantuan?”
“Tidak. Aura, kamu fokus saja pada pertahanan.”
“Traaaaang! Traaaaang! Traaaaang!”
“Cih, para galpagos sialan itu.”
“Kuserahkan yang ada di luar padamu, Aura.”
“Baik, Master.”
Dengan demikian, Aura yang masih dalam wujud kunang-kunangnya itu berfokus pada pertahanan perisainya, mencegah para galpagos lain memasuki area di mana kami berada.
Sementara itu, aku dan Egi berfokus pada satu galpagos berlevel 55 yang sedang menjaga griffon yang dirantai itu.
“Aku akan menyerang duluan, Egi. Kamu tolong support aku dari belakang.”
“Serahkan punggungmu padaku, Luca.”
Aku pun segera berlari menerjang ke arah sang galpagos dengan bersenjatakan dagger taring beracun basilisk-ku. Ini adalah senjata yang tertepat saat ini aku gunakan perihal beast non-elemental seperti galpagos lemah terhadap racun.
“Slash, slash, slash.” Aku menebas beast itu sedikit demi sedikit dan tidak membutuhkan waktu yang lama sampai pengaruh racunnya bekerja di tubuh beast itu.
Tampak galpagos itu mulai kewalahan dan pergerakannya mulai melambat. Kami bertarung di area yang sempit sehingga mutlak penyerang lincah yang membutuhkan area serangan yang luas untuk menyerang seperti galpagos akan dirugikan. Tidak akan butuh waktu lama lagi bagi kami untuk dapat mengalahkan beast monster itu.
Akhirnya, kesempatan yang telah lama kutunggu-tunggu ini akan tiba. Aku akan dapat segera terbebas dari stack di level veteran menengah ini dan memasuki level peringkat tinggi dengan aku mampu mengalahkan monster level tinggi yang ada di hadapanku ini.
Akan tetapi, seketika harapanku itu dikhianati.
“Luca, berlindung!”
“Slash! Duar!”
Egi tiba-tiba saja menembakkan anak panah ultimate skill-nya yang hanya dalam satu kali serangan itu mampu membuat galpagos itu kehilangan hampir semua HP-nya.
‘Cih, Egi sialan!’
Syukurlah, sang monster berlevel tinggi itu masihlah belum tumbang sehingga aku masih punya harapan untuk menjadikannya tumbal kenaikan levelku, atau setidaknya itu yang kupikirkan sampai kulihat sejauh mana serangan Egi menurunkan HP sang monster.
Harapanku telah dikhianati. Dan itu tak lain dan tak bukan adalah Egi sendiri.
\=\=\=
Manual instruction kenaikan level gym
Mengalahkan monster berlevel sama atau lebih tinggi dengan level Anda yang sekarang akan mampu meningkatkan level Anda sampai pada taraf level sesuai level monster yang dikalahkan +1.
Poin experience tertentu dibutuhkan untuk mencapai suatu level. Tentu saja ada batas level yang bisa dicapai dengan poin experience yang kembali pada poin 1 sebelumnya di mana poin experience berlebih akan dibuang.
Mengalahkan monster seperti yang dimaksud pada poin 1 hanya berlaku ketika seorang player memberikan damage terbesar kepada monster dan melakukan the last hit-nya.
Monster yang tidak dalam kondisi optimalnya [monster yang sedang terluka atau monster zombie, undead, dan sejenisnya] tidak dapat dijadikan referensi kenaikan level.
\=\=\=
“Ada apa, Luca? Kenapa monsternya tidak segera dibunuh saja?”
Dan yang paling menyebalkan adalah orangnya sendiri tidak merasa telah melakukan kesalahan sedikit pun padaku.
__ADS_1
“Tidak, Egi. Biar kamu saja yang lakukan. Kamu terlanjur memberikannya damage terbesar. Akan sia-sia jika aku yang melakukan the last hit-nya sehingga kamu tidak akan bisa naik level karenanya.”
“Aku tidak terlalu peduli soal itu sekarang. Soalnya sekarang aku masih di level 41, sedangkan aku sudah mengalahkan monster berlevel 44 sehingga akan aman bagiku untuk naik level sampai level 45.”
“Sudahlah, lakukan saja. Sekarang di game, sangat langka keberadaan monster level tinggi soalnya.”
“Kok kamu terlihat kesal, Luca? Apa jangan-jangan tadi kamu bermaksud menggunakan monster ini untuk naik level? Maaf, karena aku tidak tahu.”
“Sudahlah. Lagian masih banyak monster level tinggi di luar kita sekarang. Kamu kalahkan saja monster itu.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Sraaak!” Sesaat kemudian, terdengar suara tusukan anak panah. Tampaknya, Egi telah menyelesaikan tugasnya itu.
“Wah, Luca, aku langsung naik level ke level 43 lho. Hanya dengan mengalahkan monster itu, aku langsung naik dua level.”
Entah mengapa, mendengar Egi mengatakan itu, ingin rasanya aku menjitak kepalanya.
“Selamat ya, Egi.”
“Terima kasih, Luca. Kamu janganlah putus asa begitu. Lihatlah keluar. Ada banyak sekali monster berlevel lebih tinggi lagi di sana.”
“Iya, iya.” Dengan perasaan kesal dengan kalimat provokasi Egi yang sebenarnya tidak dia ucapkan dengan niat jahat itu, aku pun segera hendak menyelesaikan quest-nya terlebih dahulu sebelum menangkap satu monster galpagos level tinggi untuk menggunakannya naik level.
Aku pun segera membebaskan griffon muda yang sedang terkungkung di dalam rantai itu.
“Kamu juga kasihan ya, griffon muda. Dirantai dan disiksa seperti ini. Mulai sekarang, hiduplah berbahagia di atas langit sana.”
“Crack.” Dengan sabit bulan-ku, dalam sekejap rantai yang membelenggu sang griffon muda tersebut terpatahkan.
Tiada yang menduga bahwa membebaskan griffon muda di saat itu adalah keputusan yang keliru. Seharusnya tidak aku bebaskan dia, setidaknya sampai aku menangkap satu galpagos level tinggi dan mengalahkannya untuk naik level.
Namun sekarang, semua itu telah terlambat.
Sang griffon muda tiba-tiba saja mengepakkan sayapnya ketika terbebas, tampak tak ada tanda-tanda terluka sama sekali setelah sekian lama dirantai.
Dalam sekejap, semua galpagos yang ada di sekitar area itu, disapu bersih oleh wind beam milik griffon muda itu.
“Ini?” Aku berseru tidak percaya.
Namun setelah kuperhatikan status dari griffon itu, aku akhirnya mengerti.
\=\=\=
Nama: Igun (Lv 241)
Ras: griffon
Umur: 70 tahun
\=\=\=
Dia adalah beast bernama. Tentu saja, walau masih muda, dia akan sehebat itu. Tapi walau dibilang masih muda, usia 70 tahun mungkin bisa dikategorikan kakek-kakek bagi ras seperti manusia.
Apapun itu, secercah harapan yang semula membuatku senang, telah dikhianati. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali oleh makhluk tak berdosa bernama Egi dan Igun itu.
Pupus sudahlah harapanku setidaknya saat ini untuk lepas dari level veteran menengah.
Seketika sang griffon muda itu mendekatiku dengan cepatnya.
“Master!”
Melihat pergerakan tiba-tiba sang griffon muda itu yang tampaknya mengancam buatku, Aura pun menjadi khawatir dan segera mengubah bentuknya kembali ke bentuk naga-nya. Melihat Aura yang berubah bentuk dari sosok kunang-kunang menjadi naga emas itu lantas membuat Egi terlihat sangat shok.
Melupakan ekspresi Egi sejenak, sang griffon muda bergerak saking cepatnya sehingga Aura pun gagal menghadangnya ke arahku.
__ADS_1
Namun, sang griffon muda sama sekali tidak memiliki niat jahat. Dia mengusapkan kepalanya yang besar itu ke perutku sehingga aku merasa tergelitik. Mungkin, itu wujud ucapan terima kasihnya karena telah menyelamatkannya dari kekangan para galpagos itu.
Namun, aku heran mengapa beast sekuat Igun ini sejak dari awal bisa dirantai oleh para kawanan galpagos yang tidak ada apa-apanya baginya.
Yah, melupakan itu, aku senang. Walau tidak bisa naik level, semuanya berjalan dengan baik. Tidak hanya itu, aku mendapatkan item yang baik pula, sepatu griffon. Item ini memungkinkanku untuk bisa berlari di atas udara selama 3 menit dengan masa cooldown 5 menit. Tentu saja ini akan sangat baik jika dipadukan dengan skill assassin-ku.
Tidak hanya aku, bahkan Egi sebagai pengeksekusi utama serangan, memperoleh hadiah yang jauh lebih baik, suatu item yang dinamakan sayap angin yang mampu membuatnya terbang cepat selama 3 menit dengan cooldown 5 menit, sama persis dengan sepatu griffon-ku.
Terlebih, Egi pun memperoleh skill ‘panah griffin’. Suatu skill curang yang memungkinkanmu memanah secara liar, tetapi tetap akan mampu mengenai target yang ditetapkannya di mana pun target itu bersembunyi.
***
Di suatu tempat lain,
“Senior, ini?”
“Tenang, Dimas. Mari kita laporkan saja dulu apa adanya semuanya pada para atasan. Biar mereka yang memutuskan.”
“Tapi yah, tak kusangka juga kalau lagi-lagi pemain yang bernama Luca itu yang akan mampu membuka dan menyelesaikan quest tersembunyi ketiga itu.”
\=\=\=
Quest tersembunyi 1: Selamatkan Nenek Noni dan cucunya, diselesaikan oleh player Luca.
Quest tersembunyi 2: Musuh cahaya kuat tak terduga, diselesaikan oleh player Luca dan Mommysuperstar1
Quest tersembunyi 3: Bebaskan calon penguasa angin Igun sang griffon, diselesaikan oleh player Luca dan Tobby111
…
\=\=\=
Di tempat itu, kedua administrator game tersebut hanya dapat terkesima oleh player bernama Luca. Dalam menyelesaikan quest tersembunyi, tidak hanya kemampuan yang dibutuhkan, tetapi keberuntungan tingkat tinggi untuk menemukan quest yang sangat tersembunyi itu juga menjadi syarat mutlak. Dan tidak hanya satu atau dua, melainkan tiga yang ditemukan dan diselesaikan oleh player bernama Luca tersebut.
Tiga dari tiga quest tersembunyi yang telah ditemukan dan diselesaikan, dilakukan oleh player yang sama. Ini tentunya akan sekali lagi mengguncang komunitas e-sport vrmmorpg The Last Gardenia.
***
Setelah itu, aku menenangkan Egi dan memintanya untuk merahasiakan keberadaan Aura kepada yang lain. Dia lantas mengatakan,
“Jadi begitu. Itu sebabnya waktu kamu duel dengan Kak Rena dulu, Pushy, beast Kak Rena ketakutan seperti itu. Jadi dia bukan takut pada dirimu, melainkan pada aura milik Aura, naga beast-mu. Pastinya akan menimbulkan keributan besar jika hal ini sampai diketahui oleh publik perihal kamu akan menjadi dragon tamer kedua setelah Ecila sang juara e-sport vrmmorpg tingkat internasional itu.”
“Oleh karena itu, mohon dirahasiakan ya, Egi.”
“Baik, aku paham. Akan kurahasiakan. Ngomong-ngomong, selain aku, apa ada lagi orang yang tahu soal ini?”
“Itu ada Kak Nina, Kak Raia, Senior Areka, Lia, dan Kak Andra.”
Tentu saja semuanya hanya tahu bahwa Aura adalah pet-ku di game. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa lebih dari itu, Aura juga bisa muncul di dunia nyata dalam bentuk hologram.
“Cukup banyak juga. Bagaimana jika mereka yang justru membocorkannya?”
“Aku percaya pada mereka. Ah, tentu saja aku percaya pada Egi juga.”
“Hmm. Tapi kalau boleh aku bertanya lagi, bukannya kamu seorang assassin? Mengapa sampai bisa punya pet? Kamu kan bukan tamer?”
“Itu karena skill. Hahahahaha.”
Interogasi dari Egi pun berlangsung untuk beberapa saat, tetapi syukurlah bahwa tampaknya dia akan mau merahasiakannya. Yah, sebenarnya tidak akan ada dampak berarti juga secara fisik jika aku ketahuan memiliki Aura.
Toh, suatu saat jika dalam keadaan mendesak, aku akan menggunakannya juga untuk memenangkan Klub White Star-ku. Dan sedari awal, aku juga sudah bertekad menantang Ecila dan the twin dragon-nya melalui suatu pertandingan resmi dengan aku bersama Aura.
Hanya saja, selama mungkin sebelum hari itu tiba, aku ingin tetap itu dirahasiakan agar setidaknya aku bisa lebih lama menikmati hari-hari biasa.
Kupikir setelah itu, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Kami pun segera mengisyaratkan perpisahan kepada Igun walau dia tampak enggan sekali berpisah denganku.
__ADS_1
Namun siapa sangka makhluk kegelapan menjijikkan itu tiba-tiba saja datang ke tempat bahagia itu lantas membuat kekacauan.