The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
212. Ketangguhan sang Pemilik Perisai


__ADS_3

Keadaan seketika terbalik begitu Eren memasuki mode berserknya. Kak Sabrina dan Diana sudah lama game over, Senior Areka dan Kak Yuda terluka parah, sementara aku tak dapat berbuat apa-apa untuk mendekati benih pohon dunia yang mengamuk.


Di kala aku mencoba menganalisis situasi, ulir-ulir yang keluar dari benih pohon dunia mencoba menyerangku. Aku pun terjatuh dari tempat aku bergelantung.


Namun ini gawat. Aku tidak punya cukup waktu untuk menghindari serangan keduanya.


Akan tetapi di saat itu, Kak Yuda segera bangkit lantas menghalau serangan benih pohon dunia itu lalu segera melemparkan aku menjauh dari tempat itu.


Di lain tempat di mana aku tampaknya akan mendarat setelah dilemparkan oleh Kak Yuda, Senior Areka telah menantiku dengan perisainya.


Senior Areka segera menghalangi serangan benih pohon dunia yang hendak menghantam kami.


Namun, kulihat kembali ke tempat itu, pedang Kak Yuda telah patah dan serangan benih pohon dunia telah mengirimnya kembali ke dunia nyata.


“Jangan menyerah, Luca! Kita hanya harus menunggu sampai mode berserk-nya itu berakhir. Tidak ada pemain yang punya batas waktu lama dalam mode berserk dengan kekuatan sebesar itu!”


Senior Areka berteriak kepadaku sembari menghalau serangan benih pohon dunia itu sekuat tenaganya.


“Trarararararang!”


Terdengar suara goresan logam yang sangat keras di mana tampak darah segar mengalir di ujung mulut Senior Areka. Walau demikian, Senior Areka tetap bertahan dengan perisainya.


Kulihatlah suatu keajaiban.


Kancing esensi kenyataan-ku yang seharusnya tak terdaftar di antara kelima barang yang aku masukkan pada pertandingan kali ini karena aku sendiri tak pernah menemukan daftar nama barangnya di inventaris, tiba-tiba bersinar terang. Sinarnya itu secara konstan terasimilasi ke perisai Senior Areka.


Tampak bahwa tiap bagian perisai yang retak segera diperbaiki secara otomatis oleh aliran cahaya kancing esensi kenyataan.


Tetapi ini belum cukup.


Serangan benih pohon dunia tampak belum akan berakhir dengan kecepatan serang yang jauh melebihi kekuatan pemulihan kancing esensi kenyataan.


Di saat itulah aku pun memutuskan. Sebenarnya, ini akan aku jadikan sebagai kartu joker-ku di pertandingan tingkat profesional nanti, makanya sampai sekarang, aku selalu menyembunyikan hal ini dari yang lain.


Tetapi daripada kami kalah di babak ini dan semuanya berakhir sia-sia, aku pun harus membukanya. Tidak. Tidak perlu untuk memperlihatkan semuanya.


“Aura. Kamu mendengarku?”


“Iya, Master.”


“Tolong salurkan kekuatan perisai cahayamu padaku tanpa kamu perlu ke sini.”


“Baik, Master.”


Demikianlah, pertahanan kami pun diperkuat oleh perisai yang keluar lewat cincinku hingga pertahanan kami meningkat berkali-kali lipat. Terlihat kali ini, tiada retak lagi yang perlu dikhawatirkan pada perisai Senior Areka.


‘Dengan begini, kami bisa bertahan pada serangan benih pohon dunia.’ Gumamku dalam hati.


Begitulah hingga akhirnya aku dan Senior Areka dapat bertahan sampai serangan berserk benih pohon dunia itu benar-benar berakhir.


Setelah mode berserk-nya berakhir, tampak bahwa Eren tak lagi memiliki daya untuk bergerak. Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk balik menyerang musuh.

__ADS_1


“Majulah, Luca. Aku serahkan padamu.”


“Baik, Senior.”


Aku pun mengucapkan janji itu, meninggalkan Senior Areka di belakang yang juga telah kehilangan dayanya untuk bergerak.


Aku berlari dan berlari hingga akhirnya tiba di dekat musuh.


“Tidak, jangan! Gajel!”


Sampai akhir, sang perisai lawan menunjukkan sikap setia kawannya dengan memeluk Gajel erat segenap perasaannya demi melindungi rekannya itu walau dirinya sendiri telah berada dalam keadaan yang sudah sangat tidak berdaya.


Eren pun menggantikan Gajel terkena tusukan dagger-ku.


Tampak setelah itu, Gajel berupaya mati-matian menyerang dengan mana-nya yang tersisa. Tentu saja, serangannya itu tak lagi berarti bagiku. Suatu serangan yang digencarkan dalam keadaan panik dengan kondisi mana yang hampir habis. Bahkan, assassin pemula pun, mana mungkin akan sanggup terkena oleh serangan yang digencarkan pada kondisi seperti itu.


“Srak.”


Aku pun mengakhiri hidup tubuh avatar Gajel itu dengan menikamnya tepat di jantung.


Kemenangan buat SMA Pelita Harapan. Akhirnya, kami pun berhasil tembus sampai babak semifinal pertandingan.


Sementara itu di sisi lain, kemenangan tim yang lain juga telah ditentukan. Sudah dipastikan bahwa lawan kami selanjutnya di babak semifinal adalah Tim SMA Ayam Jantan, perwakilan pertama dari Pulau Sulawesi yang berhasil mengalahkan Tim SMA Cahaya Persada, perwakilan keempat Pulau Papua di babak 16 besar yang telah mengalahkan tim Viandra di babak pertama.


Setelah itu, turnamen individu untuk kelas fighter dan mage diadakan. Kelas fighter diwakili oleh Kak Raia, sementara kelas mage diwakili oleh Kak Yudishar.


Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menyumbangkan juara buat tim.


Adapun pertandingan Kak Yudishar juga hampir sama, yakni adu impak serangan dengan menyerang suatu target alat pengukur impak serangan. Bahkan jauh lebih buruk dari Kak Raia, Kak Yudishar menempati posisi kedua puluh.


Namun, bukannya kami tidak mempresiksi hal ini perihal latihan e-sport vrmmorpg untuk kedua pulau paling timur itu memang diprioritaskan untuk tiga kelas utama, swordsman, fighter, dan mage. Wajar saja jika mereka unggul di dalam kelas yang mereka kuasai itu. Hanya saja, tadinya aku berharap bahwa akan ada sedikit keajaiban setelah upaya mati-matian Kak Raia dan Kak Yudishar latihan.


\=\=\=


Hasil Sementara Turnamen Akhir Tahun e-sport vrmmorpg



SMA Phoenix 25 poin


SMA Pelita Harapan 21 poin


SMA Cendrawasih 17 poin


SMA Ayam Jantan 15 poin


SMA Yayasan Eden 12 poin


SMA Rumah Kita 7 poin


SMA Cahaya Persada 5 poin

__ADS_1


SMA Butir Kasih 4 poin


SMA Kolam Ikan 4 poin


SMA Sahabat Hutan 4 poin



***


Malam itu, kami kembali mengadakan rapat untuk pertandingan babak semifinal besok.


“Ah, Senior Areka. Kakak baik-baik saja?”


Kulihat Senior Areka tiba-tiba saja hampir terjatuh sehingga aku pun dengan sigap segera menggapainya.


“Tidak apa-apa, Luca. Aku hanya sedikit mengantuk.”


Aku sebenarnya ingin sekali lagi bertanya padanya bahwa apakah kondisinya benar-benar baik-baik saja. Akan tetapi, Lia terlanjur membuka rapatnya. Lagian, entah sejak kapan klub kami benar-benar telah dikuasai oleh Lia seakan sosok pelatih kami benar-benar telah memudar.


Yah, tentu saja aku tidak membenci semua itu. Berkat Lia, kami dapat dengan mudah memperoleh data lawan, tidak hanya yang selama pertandingan, namun pertandingan-pertandingan yang sebelumnya pula.


Lia menyajikan kami perbandingan statistik kemampuan kami terhadap lawan, mengungkapkan kelemahan, serta dengan optimal memanfaatkan kelebihan kami dalam menghadapi lawan.


Tidak salah lagi, Lia adalah ahli strategi yang ulung. Justru yang ada, aku iri dengan keahlian Lia yang mampu menyusun strategi seperti itu. Andai aku juga mampu berpikir sepertinya, tidak hanya berfokus pada diriku saja, tetapi juga pada rekan dan lawan, aku pasti bisa menjadi petarung yang lebih andal. Dari sini aku semakin menyadari bahwa betapa aku ini terlalu egosentris.


Bahkan, aku sampai takut bahwa apa jadinya nanti ketika tiba saat aku dan Lia akan dipertemukan di kompetisi resmi tahun depan, ketika Klub White Star harus menghadapi Klub Silver Hero dalam pertandingan puncak.


Namun, mari kita abaikan masa depan yang masih sangat jauh itu. Aku, tidak, maksudku kami harus berfokus terlebih dahulu pada masa kini.


“Tim SMA Ayam Jantan adalah tim yang lebih berfokus pada kemampuan fisik dibandingkan dengan memanfaatkan trik. Walau demikian, mereka mampu berkoordinasi dengan baik antara satu pemain dengan pemain yang lainnya. Selama ini, mereka hanya selalu mengandalkan kombinasi tim inti mereka untuk bertanding, jadi mari berpikir bahwa di babak semifinal besok, mereka kemungkinan akan melakukan hal yang sama.”


“Seorang swordsman, fighter, shielder, mage, dan cleric. Susunan timnya pun benar-benar standar, tetapi itu justru yang membuat mereka berbahaya. Mereka bisa selalu menjuarai juara dua kompetisi ini walau dengan susunan tim yang standar itu. Berdasarkan penyelidikan, ini didasarkan dengan kerjasama tim mereka yang baik di samping pergerakan tiap individu benar-benar efisien tanpa celah sedikit pun.”


Begitulah ucap Lia sembari mempertontonkan kami beberapa pertandingan Tim SMA Ayam Jantan, mulai dari rekam pertandingan mereka di turnamen tahun ini, termasuk rekam-rekam pertandingan mereka sebelumnya.


Satu yang bisa aku katakan. Mereka benar-benar kuat. Aku percaya diri mampu mengalahkan mereka semua seorang diri jika menggunakan tubuh asliku, akan tetapi aku pun tidak yakin dengan tubuh avatarku yang masih di level 48 ini, apakah bisa melakukan hal yang sama.


“Untuk susunan pemain berdasarkan pertimbangan yang paling cocok untuk pertandingan besok, mereka adalah Luca, Egi, Senior Areka, Senior Yuda, dan mari kita tidak memakai cleric lagi kali ini yang digantikan oleh alchemist, Chika. Chika, kamu sanggup kan untuk turut berperan sebagai healer?”


“Siap, Lia. Serahkan masalah health rekan-rekan tim pada ramuanku.”


“Tunggu sebentar, Dek Lia.”


Kak Yurika bersuara. Di saat kukira dia akan menyuarakan protesnya karena tidak dipilih bermain, justru yang dilakukannya adalam meminta pertimbangan Lia akan kondisi kesehatan rekannya.


“Tidakkah menurutmu kita terlalu memforsir stamina Areka? Dia telah bermain di seluruh pertandingan selama 3 hari berturut-turut. Ditambah besok kan dia juga harus mengikuti pertandingan individu.”


Ucapan Kak Yurika seketika membuka mataku. Benar katanya, kondisi Senior Areka sekarang sedang tidak baik-baik saja.


__ADS_1


__ADS_2