The Newbie Is Too Strong

The Newbie Is Too Strong
164. Luca dan Leo Bermain Game The Last Blood


__ADS_3

[POV Leo]


Sejak pengumuman kelulusanku memasuki Akademi Pahlawan Eden tingkat universitas, aku begitu tak dapat menahan rasa gugupku. Tinggal menghitung hari bagiku untuk mulai berkuliah di sana, mengembangkan bakatku, mengabdikannya demi perdamaian dunia.


Di waktu yang tersisa itu, aku pun mengingat kembali suatu sosok tertentu. Adik polos yang berstatus secara resmi sebagai saudara nenekku. Benar-benar aneh, bukan? Mengapa bisa aku memiliki saudara nenek yang lebih muda dariku. Dunia benar-benar sudah terbalik.


Aku hanya dapat bersimpati kepada adik polos itu karena telah memiliki ayah yang bejat yang mau saja menghamili anak di bawah umur ketika usianya telah renta.


Karena aku merasa rindu dengan adik polos itu dan terus terang, dia menjadi salah satu inspirasiku setelah kudengar kabarnya bahwa dia telah mengalahkan Ecila sang juara pertandingan individu e-sport vrmmorpg tingkat internasional di mana aku menjadi salah satu peserta yang gugur di dalamnya dalam suatu pertandingan tidak resmi, aku pun berniat mengunjunginya sebelum aku harus menjalani isolasi di Akademi Pahlawan tersebut.


Sebenarnya tidak hanya adik polos itu, aku juga terkesan pada kemampuan pacarnya, orang yang telah menyingkirkanku dalam kompetisi itu.


Tanpa pikir panjang, aku pun mengurus visa dan segera memesan tiket buat ke Indonesia demi mengunjungi adik polos itu.


Dan di sinilah sekarang aku berada, di Indonesia, tepatnya di Jakarta, ibukota Indonesia.


Kulihatlah Nenek Judith bersama keluarganya termasuk adik polos itu menjemputku ke rumah mereka. Benar-benar suasana keluarga yang begitu hangat.


Singkat cerita, aku pun menginap di rumah keluarga itu, sekamar dengan sang adik polos. Lalu di situlah aku menunjukkannya game favoritku padanya, The Last Blood.


Luca, demikianlah nama sang adik polos itu, tampak sangat tertarik dengan game yang aku bawa itu. Kulihat, dia sampai-sampai membolak-balikkan sampulnya, menelisik ke segala arah tentang apa-apa saja yang tertulis pada sampul game-nya.


Dengan antusias, Luca pun segera mengajakku untuk memainkan permainan tersebut.


Satu hal yang membuat Luca terlihat senang adalah bahwa game itu sama sekali tidak mengenal istilah level. Kamu hanya perlu menguasai kemampuan dan kecepatan gerak avatarmu untuk mengalahkan lawan-lawanmu.


Game itu juga dirancang dengan kualitas grafis yang sangat bagus, bertemakan monster yang menyerang dari celah dimensi di zaman apocalypse di mana ada banyak pilihan senjata yang dapat digunakan mulai dari pistol tempur jarak dekat, senapan jarak menengah, serta snipe jarak jauh.


Kudengar bahwa game ini terinspirasi dari kejadian nyata bencana celah dimensi yang benar-benar sempat terjadi pada tahun 2057 silam di beberapa tempat di dunia termasuk di Amerika. Tentu saja di game, kejadiannya agak dibesar-besarkan untuk tujuan hiburan


Lalu dimulailah permainan tersebut dari pembacaan intro sang AI dari sistem game.


“Dahulu kala bumi adalah tempat hidup yang damai. Tetapi itu semua berakhir begitu saja ketika monster dari celah dimensi menyerang zzzzzzzt”


“Berisik! Bla bla bla bla minggir sana!”


“Ehem! Karena sistem menganggap intro yang kepanjangan membosankan, maka sistem langsung saja pada penyusunan karakter.”


Itu? Apa itu tadi? Bug-kah? Kok tiba-tiba terasa ada yang aneh dengan intro game-nya?


Tetapi ya sudahlah. Itu bukan hal yang penting. Tetapi tampak adik polos kita Luca menanyakan sesuatu yang aneh kepada AI yang bahkan tidak memiliki pemikiran sendiri itu,

__ADS_1


“Kamu? Siapa kamu? Kamu bukan sistem dari game ini kan? Kamu sistem yang sama dengan yang sering mengikutiku di game kan?”


Aku juga sebenarnya juga bingung tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Luca seolah-olah dia dapat berkomunikasi dengan robot. Yah, aku pikir itu hanya bercandaan Luca saja pastinya.


“Sistem AI tidak dapat mendeteksi maksud pertanyaan Anda. Sistem AI telah menyinkronkan tubuh game Anda di Last Gardenia ke sistem game The Last Blood. Senjata Anda secara otomatis dipilih sebagai pistol tempur jarak dekat sebagai senjata yang paling dekat dengan karakter game awal Anda.”


“Selamat menikmati petualangan di kota penuh monster, darah, dan keputusasaan ini.”


Hmm. Setidaknya intro di bagian akhirnya tetap sama seperti biasanya yang menjadi ciri khas dari game The Last Blood ini.


Tetapi apa itu lagi tadi? Aku belum pernah mendengar kalau karakter tubuh game dari perusahaan yang berbeda bisa disinkronkan. Aku memang pernah mendengar kalau seluruh game AD series mulai dari The First Altoria sampai The Last Gardenia bisa disinkronkan, tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau game mereka juga bisa disikronkan dengan game lain di luar perusahaan mereka.


Benar-benar perusahaan game yang hebat dan terus terang, aku mulai tertarik dengan game mereka.


Lalu, Luca pun memulai game tutorialnya di mana aku mengamatinya dari belakang sambil makan pop corn.


Gerakan Luca benar-benar luar biasa. Aku bisa paham bagaimana bisa dia mengalahkan Ecila yang tanpa naga kembarnya di pertarungan tidak resmi itu. Adik polos kita itu benar-benar sangat hebat.


Monster yang kali ini dihadapinya adalah monster laba-laba raksasa.


Bisa dikatakan bahwa monster ini adalah semacam lelucon yang muncul di awal tutorial untuk mengacaukan mental para pemain newbie yang sedari awal memang diciptakan tidak untuk dikalahkan, melainkan sekadar mengukur kemampuan newbie sampai di mana kira-kira dia bisa berkembang demi sistem mampu menyusun skema petualangan dengan level yang tepat untuk mereka.


Tetapi apa yang justru kulihat, bahkan monster yang diciptakan tidak untuk dikalahkan itu, hanya menjadi bulan-bulanan bagi Luca. Aku tak paham bagaimana Luca bisa bergerak selincah itu, menghindari tiap tebasan tajam kaki-kaki laba-laba raksasa tersebut, melompat dan bersalto dengan efisien.


Namun sayangnya, mungkin karena belum terbiasa, Luca sedikit agak kikuk dalam menembak. Namun ujung-ujungnya sang monster pun berhasil dikalahkannya yang lucunya justru Luca mengalahkannya dengan tinju.


Sama sekali takkan ada pemain asli The Last Blood yang akan memikirkan untuk mengalahkan monster menyeramkan seperti itu dengan tinjuannya.


Tetapi ini benar-benar rekor. Baru pertama kali monster itu bisa dikalahkan bahkan dalam waktu yang lebih cepat dari rekorku bertahan melawan monster itu, hanya dalam waktu 7 menit 20 detik. Tetapi entah mengapa ekspresi Luca malah menunjukkan ketidakpuasan ketika dia sudah melakukan yang terbaik seperti itu.


“Kak Leo, aku berhasil mengalahkan monsternya. Tapi terus terang, aku masih agak sulit menggunakan pistol ini.”


“Mau kuajari?”


Dengan percaya diri, aku pun menawari untuk mengajari Luca bagaimana caranya menembak dengan benar menggunakan pistol tempur jarak dekat.


Pertama-tama adalah mencari lawan yang sesuai. Kami pun bergerak dari distrik tutorial A01 ke distrik B36. Di situlah kami bertemu dengan para goblin.


“Dengar, Luca. Bagaimana kamu memperlakukan sebuah pistol, maka begitu pulalah sebuah pistol akan membalas perlakuanmu. Jika kamu memperlakukannya dengan lembut, maka pistol akan membalas perlakuan tersebut dengan lembut pula. Maka menembaklah dengan posisi yang nyaman dengan otot-otot lengan yang tidak terlalu dikeraskan tetapi juga tidak terlalu dikendorkan. Seperti ini.”


“Bang bang bang.”

__ADS_1


Lalu masing-masing satu peluru pistolku mengenai tiap kepala sang goblin hingga berlubang.


“Bagaimana? Mudah kan?”


“Ho.” Terlihat jelas wajah penuh antusias dari adik polos kita itu.


Namun, aku sama sekali tidak menyangka. Hanya dalam satu gerakan contohan, Luca mampu mempraktikkan skill menembak yang kuperagakan itu dengan sangat baik.


Setelah itu, kami pun bergerak ke distrik B89, tempat di mana banyak monster gurita yang gesit bersembunyi di dalam suatu gedung bekas laboratorium.


“Dengar, Luca. Bergerak, entah itu berlari atau melompat, sembari menembakkan peluru dari pistol tidak sesulit yang kamu bayangkan. Kamu hanya harus memastikan pengaruh eksternal tambahan pada alur gerak peluru pistol.”


“Yang paling penting, adalah kemampuan mata menilai situasi dan fokus pada target, selebihnya biarkan instingmu bekerja seperti bagaimana kamu hendak melempar buah mangga supaya jatuh dari pohonnya yang ditutupi oleh dedaunan rindang.”


“Seperti ini.”


Aku pun mempraktikkan ucapanku itu dengan berlari sembari menghindari serangan tentakel dari monster lalu bersalto ke atasnya lantas menembak bagian-bagian vital dari sang monster. Dalam sekejap, aku mengalahkan monster itu.


Kini giliran Luca yang mempraktikkannya. Dan sekali lagi, adik polos kita itu menampilkan pertunjukan yang membuatku sangat terkejut.


Dia bahkan lebih gesit dalam gerak menghindar dan bersalto ketimbang gerakan yang kutunjukkan padanya. Lalu dia pun mulai menembak tiap bagian vital dari sang monster. Sayangnya ada 3 peluru yang meleset sehingga dia lebih lambat dalam menghabisi monster itu.


Ketika aku mengajaknya pergi untuk ke tur selanjutnya, Luca tiba-tiba berujar,


“Sekali lagi!” Tampaknya dia tidak puas dengan hasil itu dan ingin mengulangi lagi.


Kali ini hanya ada satu peluru yang meleset sehingga dia dapat dengan cepat menyelesaikan monsternya. Tetapi itu tetap tidak membuat Luca puas dan kembali Luca mencari monster yang sama.


Pada akhirnya, di giliran ketiga, barulah dia dengan sempurna mengalahkan sang monster tanpa ada peluru yang meleset.


Tapi tampaknya itu tetap tidak membuat Luca puas. Barulah setelah dia mengulangi yang keempat dan kelima kalinya lantas berhasil pula mengalahkan sang monster tanpa ada peluru yang meleset, dia puas dan akhirnya memutuskan untuk bergerak maju mencari lawan monster lain yang jauh lebih tangguh.


Begitulah tur terus dilanjutkan dan itu semakin membuatku terpana ketika melihat perkembangan signifikan Luca dalam skill menembak yang di luar batas normal. Sungguh, seberapa jauh anak ini akan berkembang.


Melihat Luca yang seperti itu, aku pun akhirnya juga ikut termotivasi. Aku pun akan belajar dengan giat selama berada di Akademi Pahlawan Eden, menguasai berbagai teknik-teknik pertempuran, tidak hanya terbatas pada skill yang berhubungan dengan tembak-menembak saja, tetapi begitu pula terhadap skill-skill lainnya, demi menjadi pahlawan seutuhnya.


Seperti Luca yang awalnya hanya ahli dagger, tetapi kini bisa pula menggunakan pistol, aku pun akan sama. Lepas dari akademi, aku pasti juga akan bisa menggunakan senjata lain selain pistol dan dagger yang kukuasai.


Menjadi pahlawan all-rounder, tampaknya menarik juga.


Tetapi tentu saja aku paham bahwa lebih utama mengembangkan bakat yang memang sudah ada sebagai spesialisasi kita di samping menambahkannya dengan skill-skill lain yang mendukung.

__ADS_1


Terima kasih, Luca. Berkat pertemuan denganmu hari ini, kini perasaan yang tampak mengganjal di hatiku perlahan mulai sirna. Aku telah siap memasuki Akademi Pahlawan.


__ADS_2